
“Kenapa hanya diam saja? Apa tidak
merasa bersalah telah membuat suami cemas?” Al masih mencerca banyak pertanyaan
pada Ajeng, tapi ajeng hanya bisa memejamkan matanya karena jika di buka
matanya akan berkunang-kunang dan semuanya terasa berputar.
Lukman yang telah memasukkan motor
ke dalam garasi dan melihat al yang sedang memarahi ajeng, Lukman pun jadi merasa kasihan, apalagi bagaimana
keadaan ajeng tadi begitu lemas. Sepertinya Al terlalu di butakan dengan
kemarahannya sehingga tidak bisa melihat keadaan Ajeng. Tidak biasanya al
bersikap seperti itu, biasanya ia sangat tenang tapi kali ini ia kehilangan
ketenangannya.
“Mas Al …., maaf jika saya ikut
campur!”
“astagfirullah …!” Al menghembuskan
nafasnya mencoba mengendalikan emosinya. “ Ada apa Man?”
“Sepertinya bukan waktunya marah
sama mbak Ajeng mas, mbak ajeng …!” belum sampai selesai ucapan Lukman, tubuh
Ajeng akhirnya tumbang juga. Untung saja Ajeng sempat meraih tangan suaminya
saat merasakan tubuhnya sudah tidak kuat jadi Al dengan sigap menangkap
tubuhnya.
“Ajeng …, Ajeng …, kamu kenapa?” al
menepuk-nepuk pipi ajeng berusaha membangunkan ajeng. Al begitu panik saat
ajeng sama sekali tidak merespon panggilannya.
‘ayo antar kita ke rumah sakit!”
ucap al pada Lukman, Lukman pun segera berlari mengeluarkan mobil yang sudah
berada di dalam garasi, sedang al dnegan sigap mengangkat tubuh Ajeng dan
membawanya ke mobil. Mereka segera menuju ke rumah sakit dengan Lukman yang mengendarai
mobilnya sedangkan al duduk di belakang bersama Ajeng.
Sesampai di rumah sakit mereka
segera di sambut oleh para dokter. Dokter segera melakukan pemerikasaan
terhadap tubuh Ajeng. Selama dokter menangani Ajeng, al hanya terus menyalahkan
dirinya sendiri, ia mondar mandir tidak jelas di depan ruang IGD.
Lukman setelah sampai di rumah sakit
segera pamit untuk pulang karena rumah dalam keadaan kosong. Lukman juga
menghubungi mama Renna memberitahukan keadaan ajeng. Setelah mendapat kabar
__ADS_1
dari Lukman, mama Renna pun segera menuju ke rumah sakit.
Al terlihat begitu kacau, sudah satu
jam tapi dokter belum juga keluar membuat al semakin khawatir. Mama Renna
sedikit berlari menghampiri putranya.
“Al …, bagaimana keadaan ajeng?’
tanya mama Renna saat sudah mencapai Al dan segera memeluk putranya itu.
“Belum tahu ma, dokter edang
menangani Ajeng di dalam!”
“Kamu yang sabar ya! Jika tahu ajeng
akan seperti ini, mama tadi nggak ngijinin ajeng buat pulang duluan!”
“Jadi maksud mama, Ajeng tadi
menemui mama?”
“Iya …, siang tadi, tapi katanya
trus pulang!”
Ajeng
kemana dulu sebelum pulang, jika ke tempatnya mama siang, trus mampir ke mana
dulu sampek sore …? Batin Al.
Setelah hampir satu setengah jam
tapi sepertinya ajeng masih belum sadarkan diri.
‘Bagaimana keadaan istri saya dok?’
tanya Al setelah mereka sudah sampai di ruang perawatan.
“Mau berita baiknya atau buruknya
dulu?”
“Terserah dokter saja!”
“Istri anda mengalami dehidrasi
berat jadi beliau membutuhkan banyak cairan, ia harus mendapatkan banyak asupan
cairan dari infus, untung saja kalian tidak terlambat membawanya ke sini jika
tidak akan ada kemungkinan lebih buruknya!’
“Maksud dokter?”
‘Istri anda sedang hamil satu bulan,
jadi sangat rentang-tentangnya, jika saja terlambat akan sangat berbahaya bagi
janinnya!”
Mama Renna yang mendengarkan ucapan
dokter segera mendekati dokter dan Al, senyumnya mengembang membuat al
__ADS_1
bingung. Sepertinya rasa khawatirnya pada Ajeng membuat Al mengabaikan berita
baiknya.
‘Dokter …, jadi menantu saya sedang
hamil?” tanya mama Renna.
“Iya bu, selamat atas kehamilannya.
Kalau begitu saya permisi dulu, jika bu Ajeng bangun tolong panggil kami!”
“Iya dok terimakasih!”
Sampai dokter pergi pun al belum
sadar dnegan berita yang di sampaikan oleh dokter. Mama Renna segera menepuk
pundak putra sulungnya itu, menyadarkannya dari ketidak berdayaannya karena
melihat istrinya terkulai lemas dengan wajah pucatnya di atas tempat tidur.
“Al …, kamu akan menjadi seorang
ayah!” ucap mama Renna menyadarkan Al. al menoleh pada mamanya memastikan apa
yang baru saja ia dengar.
‘Maksud mama?”
“Ajeng hamil nak!” mama Renna
memeluk putranya itu, tangis mereka pecah. Al menangis sesenggukan mendengarkan
berita itu. Al melepaskan pelukan mamanya, ia berjalan mendekat pada istrinya
dan duduk di samping istrinya yang terkulai lemas, ia mencium tangan Ajeng
kemudian beralih ke wajah Ajeng, menciumi istrinya secara bertubi-tubi.
Al menggenggam tangan ajeng. “Terimakasih
sayang …!” Al terus saja menangis, seperti ada luka di balik kebahagiaannya.
Mama Renna pun memilih meninggalkan mereka berdua.
“Maaf jika mas akan egois setelah
ini, seandainya mas bisa bernego dengan Allah, aku akan memintanya memberi
waktu lebih panjang lagi agar bisa terus bersama kalian!” al kembali menciumi
tangan Ajeng, tangannya tidak ingin melepaskan tangan ajeng, ia juga
mendaratkan ciumannya pada perut datar Ajeng. Al terus saja menangis, entah
luka apa yangs edang ia simpan saat ini, tangis luka itu bercampur dengan
kebahagiaan karena akan hadirnya malaikat kecil dalam hidupnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 😘😘❤️❤️❤️