Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Ajeng pingsan


__ADS_3

            “Kenapa hanya diam saja? Apa tidak


merasa bersalah telah membuat suami cemas?” Al masih mencerca banyak pertanyaan


pada Ajeng, tapi ajeng hanya bisa memejamkan matanya karena jika di buka


matanya akan berkunang-kunang dan semuanya terasa berputar.


            Lukman yang telah memasukkan motor


ke dalam garasi dan melihat al yang  sedang memarahi ajeng, Lukman pun jadi merasa kasihan, apalagi bagaimana


keadaan ajeng tadi begitu lemas. Sepertinya Al terlalu di butakan dengan


kemarahannya sehingga tidak bisa melihat keadaan Ajeng. Tidak biasanya al


bersikap seperti itu, biasanya ia sangat tenang tapi kali ini ia kehilangan


ketenangannya.


            “Mas Al …., maaf jika saya ikut


campur!”


            “astagfirullah …!” Al menghembuskan


nafasnya mencoba mengendalikan emosinya. “ Ada apa Man?”


            “Sepertinya bukan waktunya marah


sama mbak Ajeng mas, mbak ajeng …!” belum sampai selesai ucapan Lukman, tubuh


Ajeng akhirnya tumbang juga. Untung saja Ajeng sempat meraih tangan suaminya


saat merasakan tubuhnya sudah tidak kuat jadi Al dengan sigap menangkap


tubuhnya.


            “Ajeng …, Ajeng …, kamu kenapa?” al


menepuk-nepuk pipi ajeng berusaha membangunkan ajeng. Al begitu panik saat


ajeng sama sekali tidak merespon panggilannya.


            ‘ayo antar kita ke rumah sakit!”


ucap al pada Lukman, Lukman pun segera berlari mengeluarkan mobil yang sudah


berada di dalam garasi, sedang al dnegan sigap mengangkat tubuh Ajeng dan


membawanya ke mobil. Mereka segera menuju ke rumah sakit dengan Lukman yang mengendarai


mobilnya sedangkan al duduk di belakang bersama Ajeng.


            Sesampai di rumah sakit mereka


segera di sambut oleh para dokter. Dokter segera melakukan pemerikasaan


terhadap tubuh Ajeng. Selama dokter menangani Ajeng, al hanya terus menyalahkan


dirinya sendiri, ia mondar mandir tidak jelas di depan ruang IGD.


            Lukman setelah sampai di rumah sakit


segera pamit untuk pulang karena rumah dalam keadaan kosong. Lukman juga


menghubungi mama Renna memberitahukan keadaan ajeng. Setelah mendapat kabar

__ADS_1


dari Lukman, mama Renna pun segera menuju ke rumah sakit.


            Al terlihat begitu kacau, sudah satu


jam tapi dokter belum juga keluar membuat al semakin khawatir. Mama Renna


sedikit berlari menghampiri putranya.


            “Al …, bagaimana keadaan ajeng?’


tanya mama Renna saat sudah mencapai Al dan segera memeluk putranya itu.


            “Belum tahu ma, dokter edang


menangani Ajeng di dalam!”


            “Kamu yang sabar ya! Jika tahu ajeng


akan seperti ini, mama tadi nggak ngijinin ajeng buat pulang duluan!”


            “Jadi maksud mama, Ajeng tadi


menemui mama?”


            “Iya …, siang tadi, tapi katanya


trus pulang!”


            Ajeng


kemana dulu sebelum pulang, jika ke tempatnya mama siang, trus mampir ke mana


dulu sampek sore …? Batin Al.


            Setelah hampir satu setengah jam


tapi sepertinya ajeng masih belum sadarkan diri.


            ‘Bagaimana keadaan istri saya dok?’


tanya Al setelah mereka sudah sampai di ruang perawatan.


            “Mau berita baiknya atau buruknya


dulu?”


            “Terserah dokter saja!”


            “Istri anda mengalami dehidrasi


berat jadi beliau membutuhkan banyak cairan, ia harus mendapatkan banyak asupan


cairan dari infus, untung saja kalian tidak terlambat membawanya ke sini jika


tidak akan ada kemungkinan lebih buruknya!’


            “Maksud dokter?”


            ‘Istri anda sedang hamil satu bulan,


jadi sangat rentang-tentangnya, jika saja terlambat akan sangat berbahaya bagi


janinnya!”


            Mama Renna yang mendengarkan ucapan


dokter segera mendekati dokter dan Al, senyumnya mengembang membuat al

__ADS_1


bingung. Sepertinya rasa khawatirnya pada Ajeng membuat Al mengabaikan berita


baiknya.


            ‘Dokter …, jadi menantu saya sedang


hamil?” tanya mama Renna.


            “Iya bu, selamat atas kehamilannya.


Kalau begitu saya permisi dulu, jika bu Ajeng bangun tolong panggil kami!”


            “Iya dok terimakasih!”


            Sampai dokter pergi pun al belum


sadar dnegan berita yang di sampaikan oleh dokter. Mama Renna segera menepuk


pundak putra sulungnya itu, menyadarkannya dari ketidak berdayaannya karena


melihat istrinya terkulai lemas dengan wajah pucatnya di atas tempat tidur.


            “Al …, kamu akan menjadi seorang


ayah!” ucap mama Renna menyadarkan Al. al menoleh pada mamanya memastikan apa


yang baru saja ia dengar.


            ‘Maksud mama?”


            “Ajeng hamil nak!” mama Renna


memeluk putranya itu, tangis mereka pecah. Al menangis sesenggukan mendengarkan


berita itu. Al melepaskan pelukan mamanya, ia berjalan mendekat pada istrinya


dan duduk di samping istrinya yang terkulai lemas, ia mencium tangan Ajeng


kemudian beralih ke wajah Ajeng, menciumi istrinya secara bertubi-tubi.


            Al menggenggam tangan ajeng. “Terimakasih


sayang …!” Al terus saja menangis, seperti ada luka di balik kebahagiaannya.


Mama Renna pun memilih meninggalkan mereka berdua.


            “Maaf jika mas akan egois setelah


ini, seandainya mas bisa bernego dengan Allah, aku akan memintanya memberi


waktu lebih panjang lagi agar bisa terus bersama kalian!” al kembali menciumi


tangan Ajeng, tangannya tidak ingin melepaskan tangan ajeng, ia juga


mendaratkan ciumannya pada perut datar Ajeng. Al terus saja menangis, entah


luka apa yangs edang ia simpan saat ini, tangis luka itu bercampur dengan


kebahagiaan karena akan hadirnya malaikat kecil dalam hidupnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 😘😘❤️❤️❤️


__ADS_2