Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
S2-3


__ADS_3

Alex menceritakan seluruh peristiwa yang diketahuinya termasuk kepemilikan helikopter, Villa mewah milik ayahnya, penculikan dua putra Aurora yang melibatkan ayahnya dan wanita yang sudah dilecehkan ayahnya yang belum ia ketahui identitasnya. Pria itu terus bercerita walau ibunya sudah menggeleng dan menangis sesegukan tak sanggup mendengarnya.


Malam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat dan tenggelam dalam mimpi harus mereka lalui dengan derai air mata. Nyonya Elda hanya bisa mengusap bulir demi bulir air mata yang tak henti hentinya turun. Hatinya kecewa, marah dan sedih pada suaminya. Sungguh ia tak menyangka jika suaminya bisa berbuat seperti itu, padahal selama ini hubungan diantaranya terasa baik-baik saja.


Tanpa disadari mereka berdua, Tuan Erick sudah bangun dari tidurnya dan mendengar pembicaraan anak istrinya. Pria itu hanya diam mendengarnya. Hatinya ikut tersayat saat mendengar tangisan Nyonya Elda. Pikirannya berkecamuk, haruskah ia mengatakan yang sebenarnya.


"Aku malu ma, mau ditaruh mana mukaku dihadapan keluarga Edlyn. Bolehkah aku menghabisi ayahku sendiri?" lirih Alex.


Nyonya Elda yang mendengar itu langsung mencengkeram tangan putranya. Walau ia kecewa atas perbuatan suaminya, tapi ia sama sekali tak membenarkan hal itu.


"Kenapa ma, apa Mama masih mencintai pria itu? Setelah apa yang sudah dia lakukan, mama masih mau membelanya?"


"Jika kamu menyayangi mama, tolong jangan lakukan itu padanya. Seburuk apapun itu, dia adalah orang yang berperan dalam kehidupanmu."


Nyonya Elda beranjak dari duduknya dan duduk di kursi kosong disebelah ranjang pasien. Wanita itu menatap sendu Tuan Erick yang tampak memejamkan mata.


Sejenak tangannya mengulur, membelai rahang Tuan Erick yang tampak lebam disana.


"Apa ini sakit? Aku minta maaf jika aku selama ini belum menjadi istri yang baik di matamu. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Apa yang sudah mas sembunyikan dariku. Dan apa yang kamu lakukan pada keluarga Edlyn? Bukankah selama ini kita berhubungan baik dengan mereka? Katakan jika Alex sedang berbohong padaku mas."


Banyaknya pertanyaan yang ditujukan kearahnya membuatnya semakin bungkam. Tuan Erick diam saja tak ingin menjelaskan.


"Lalu siapa wanita yang sudah kamu gagahi? apa kamu tidak berpikir bagaimana jika wanita itu hamil anakmu? Apa kamu tidak berpikir bagaimana rusaknya kehormatan wanita? Kau juga tak memikirkan perasaanku? Kesalahan apa yang sudah aku perbuat hingga kamu begitu padaku. Kenapa dibalik wajah kalemmu ini menyimpan jiwa yang begitu jahat. Apa tujuanmu menculik cucu Admaja? Tidak tahukah siapa mereka? Lupakah engkau jika putramu tangan kiri mereka? Apa kau tak memikirkan perasaannya? Kenapa kamu jahat sekali. Mereka bahkan tak pernah mengusikmu. Lalu katakan padaku, alasan apa yang harus aku katakan pada mereka untuk membelamu. Jawab mas, jangan diam saja."


Lagi lagi Nyonya Elda menangis seseguan, apalagi saat membayangkan suaminya bercinta dengan orang lain. Rasanya seperti tersayat sembilu hatinya saat ini. Perih bahkan sakit tapi tak berdarah.


Tuan Erick bungkam, tapi airmatanya ikut turun membasahi pelipisnya. Ia tak tahan mendengar tangis istrinya yang terdengar pilu. Takut dan tak sanggup melihat netra yang pasti akan menatapnya dengan pandangan suram.


"Tolong buka matamu jika mas mendengarku. Kamu harus memberiku penjelasan padaku. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Tolong beritahuku bagaimana aku harus bersikap. Aku tahu kamu sudah sadar. Tolong jangan buatku begini."

__ADS_1


Tuan Erick membuka matanya perlahan. Lelehan bening itu seakan menjadi saksi jika hari ini ia telah menyakiti hati seorang istri karena kebodohannya.


"Aku minta maaf." cicitnya pelan.


Nyonya Elda langsung berang mendengarnya. Wanita itu bahkan dengan tega mengatai suaminya. Tak peduli Alex mendengarnya, wanita itu terus meluapkan rasa kecewanya.


"Aku minta maaf sudah mengecewakanmu." cicitnya lagi.


"Maaf? Apa mas pikir maaf bisa mengembalikan keadaan seperti semula? Jawab!"


Tuan Erick bungkam.


"Katakan! Siapa orang yang sudah mas setubuhi sebelum kamu dihajar David!"


Alex memasang telinganya dengan baik. Pria itu juga ingin mendengar pengakuan dari mulut ayahnya sendiri.


"Jawab! Apa sekarang mas mendadak bisu!" sentak Nyonya Elda. Wanita itu tak lagi bersedih, dadanya hanya dipenuhi emosi yang tiada kira hanya karena mendengar ucapan maaf suaminya.


"Brengsek kamu mas! Tidak tau malu! Bisa bisanya kamu berbuat itu padanya!"


Seketika Nyonya Elda langsung memukuli tubuh suaminya yang sama sekali tidak bisa melawan karena kondisi tubuhnya. Wanita itu melampiaskan gemuruh dadanya yang kian membuatnya sesak.


Alex langsung merengkuh tubuh mamanya dan menatap tajam ayahnya yang memandanginya dengan netra tak berdayanya.


"Ma..af, tapi Ayah dijebak. Yora telah menyuntikkan sesuatu pada Ayah. Maaf, ayah sudah hilang kendali."


Nyonya Elda merosot dan bersimpuh diatas lantai dingin. Menangis kembali dan memukul dadanya yang terasa menyesakkan. Ia tak sanggup menerima kenyataan, kepalanya bahkan terasa seperti dihantam godam.


Alex menekan kuat gerahamnya melihat keadaan dalam ruang itu. Ingin marah dan meluapkan rasa kecewanya, tapi ia masih memikirkan perasaan mamanya.

__ADS_1


"Lalu apa tujuannya kalian bersekongkol dan menusuk kami dari belakang." tanya Alex dengan dada bergemuruh. Pria itu baru menyadari jika selama ini yang menjadi mata mata dan musuh dalam selimut adalah ayahnya sendiri. Ia tak menyangka jika ayahnya akan begitu tega. Pantas saja, dirinya selalu kecolongan.


Tuan Erick bungkam. Tidak tahu harus menjawab seperti apa.


"Katakan jika bukan Ayah yang menjadi dalang dari semua kekacauan ini. Katakan jika bukan Ayah yang membuat banyak peristiwa menyedihkan yang harus dialami keluarga Edlyn. Katakan jika bukan Ayah yang melakukan percobaan pembunuhan pada Edward! Katakan jika semua tuduhanku tidak benar. Katakan Ayah!"


Tuan Erick diam saja dan memalingkan muka.


Alex tertawa sumbang. Kecewa dan putus asa adalah yang dia rasakan saat ini. Ia tak menyangka jika akan seperti ini pada akhirnya. Jadi selama ini, ayahnya ikut bermain peran. Sama sekali tak terpikir olehnya bahkan Edward sekalipun jika serentetan kejadian selama ini adalah ulah ayahnya sendiri. Malu sekali rasanya.


"Mama, bolehkah aku menembak kepala pria itu. Aku tak sanggup menerima semua ini. Pria itu sudah tak memberiku muka dihadapan keluarga Edlyn yang sudah aku anggap keluargaku sendiri. Dia sudah tak pantas hidup mama. Tolong beri aku ijin melakukannya."


Nyonya Elda langsung memeluk kaki putranya yang sudah mengacungkan pistol ke arah Tuan Erick. Tatapannya bahkan seperti sudah tak ada nyawa didalamnya. Jiwa psikopatnya yang lama tenang kembali bangkit. Pria itu seperti ingin memuaskan jiwanya, tak peduli jika yang berada dihadapannya adalah ayahnya sendiri.


"Tolong jangan lakukan itu. Bagaimana jika Reyhan yang melakukan itu padamu nak." ucap Nyonya Elda menghiba.


"Setiap manusia memiliki kesalahan. Mungkin ayahmu sedang khilaf, kamu tak pantas menghukumnya. Tolong jangan kotori tanganmu Nak." lanjutnya lagi.


"Kenapa mama masih membela pria tidak tau diri itu."


Nyonya Elda hanya bisa menangis. Takut putranya semakin marah kalau dirinya mengatakan jika masih mencintainya. Bagaimana pun pria yang dikatakan tidak tahu diri itu adalah suaminya.


.


.


.


#####

__ADS_1


Jika lelah istirahat dulu. Happy Reading.


__ADS_2