
Pagi pagi Aurora dan Edward menjinjing koper kecil masing masing. Brian dibelakangnya membawa tas ransel yang selalu dibawanya kemana mana, entah apa isinya.
Lukas dan beberapa bodyguard yang ikut sudah bersiap dengan setelan eksklusif mereka. Mereka semua memang ditugaskan untuk pengawalan jarak jauh khusus King mereka.
Jangan ditanya kemampuan dalam bertarung dan menghalau serangan, mereka adalah ahlinya. Sengaja mereka didik keras selama pendidikan untuk menumbuhkan kemampuan yang mumpuni dalam pengawalan untuk King mereka.
Didepan layar, Golden Lion adalah organisasi resmi yang diakui pemerintahan, tapi selain dari itu, Golden lion juga dijadikan pasukan bawah tanah tanpa sepengetahuan publik.
Lukas langsung memberi hormat pada Edward dan Aurora yang sudah sampai dilantai bawah.
"Selamat pagi Tuan, Nona. "
"Pagi." jawab mereka berdua
"Bagaimana persiapanmu, sudah bereskah?" tanya Edward melihat jam tangannya.
"Sudah Tuan, Kapten Albar dan Raditya sudah menunggu dibandara. Surat perizinan dan administrasi pesawat juga sudah selesai,tinggal menunggu kedatangan anda."
"Baiklah, kita berangkat sekarang. Siapkan mobil.!" ucap Edward yang meninggalkan Lukas dan berpamitan pada Ayah dan bundanya .
"Baik."
Lukas langsung menyuruh anak buahnya memasukkan koper koper milik keluarga Edward. Sedangkan dirinya sendiri menuju mobil, bersiap mengemudikan mobil Edward.
"Ayah aku titip perusahaan. Aku hanya pergi dua hari, setelah urusan disana selesai aku akan segera pulang." ucap Edward pada Tuan Admaja
"Ya, jagalah dirimu dan keluargamu baik baik. Hati hati dijalan. Semoga selamat sampai tujuan." Tuan Admaja menepuk bahu Edward.
Aurora dan Brian memeluk bunda Yuli dan Tuan Admaja bergantian. "Kami berangkat Bun.."
"Ya, pergilah. Hati hati dijalan."
"Da .. nenek cantik..!" ucap Brian sambil melambaikan tangannya.
Tuan Admaja dan Bunda Yuli tersenyum hangat dan melambaikan tangannya.
Sampai dibandara, rombongan CEO muda itu dijaga ketat oleh bodyguardnya, sontak hal itu menimbulkan perhatian orang disekelilingnya. Mereka memandang sekilas melihat siapa gerangan orang penting itu. "Oh keluarga Edlyn." bisik mereka.
Brian yang saat itu digendong oleh satu bodyguardnya mengerutkan kening, kenapa tidak melakukan cek in dulu, bukankah hendak menggunakan pesawat komersial pikirnya.
"Paman, bukankah kita akan naik pesawat komelsial?" tanya Brian
"Tidak Tuan kecil, kita akan naik jet pribadi Golden Lion milik King." jawab pria itu datar.
Brian menganggukkan kepalanya senang. Ia pikir, pesawat Ayah juga bagus walau tak sebesar miliknya.
.
.
__ADS_1
Satu setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di Bandar Udara Internasional Changi. Saat ini mereka bertiga sedang berada di hotel tempat Aurora menginap dahulu. Mereka bertiga hanya memesan satu kamar Presidential suite. Kamar itu sudah lebih dari cukup untuk mereka bertiga.
Saat ini Edward sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian formal. Seperti biasa, eksekutif muda itu selalu tampil menawan. Aura kepemimpinannya terlihat sangat dominan karna didukung dengan kepercayaan diri yang tinggi, ditambah dengan kepiawaiannya dalam berbisnis.
"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya. Aku sudah menugaskan dua orang untuk menjaga kalian kemanapun kalian pergi. Dan dua lainnya menjaga kalian dari kejauhan. Sisanya mereka bersamaku. Bila keluar jangan pakai gaun ini, aku tak suka orang lain melihat kecantikanmu. Apa kamu mengerti sayang." ucap Edward memberi pesan panjang lebar.
"Ya, aku akan patuh. Bila urusanmu sudah selesai, segeralah kembali. Kami menunggumu. " jawab Aurora.
Edward tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah aku pergi. Ingat mboten pareng neko-neko dan membuatku khawatir. Kalau ada apa apa segera hubungi suamimu. Aku titip Brian." Edward mengecup kening Aurora mesra, lalu turun kebibirnya.
Cup
"I love you."
"I'm so lucky to have you in my life."
Ehemm.. uhuk uhuk uhuk ..
Edward tersenyum melihat putra kecilnya yang sedari tadi memperhatikan keromantisannya.
"Bry, jaga mommy ya, daddy kerja dulu. Ingat ..! " ucap Edward terputus
"Mboten paleng nakal." jawab Brian dengan senyum merekah karena bisa melanjutkan ucapan Daddynya walaupun terdengar aneh ketika diucapkan. Edward langsung mengecup pipi Brian.
.
.
Patung Merlion tempat wisata yang berbentuk ikan duyung dengan kepala singa ini, dianggap sebagai ikon negeri Singapura yang paling terkenal. Oleh karenanya bisa dikatakan, kalian belum ke Singapura bila belum berfoto dengan latar belakang patung ini.
Brian dengan gembiranya meminta Aurora untuk memfotokan dirinya . Banyak foto yang mereka ambil. Ia langsung mengirimkan pada Emely, dia senang karena gadis cilik itu tak akan mengejeknya lagi.
"Sudah puas belum, setelah ini kita kemana?" tanya Aurora menatap Brian karena hari sudah semakin sore.
Brian menggeleng karena tidak tau. Tujuannya hanya untuk berfoto dengan patung merlion.
" Baiklah kita kembali kehotel saja, wajahmu tampak sudah lelah sekali, besok mom akan mengajakmu ke Universal Studio. Kamu bisa main sepuasnya disana. Gimana..?"
"Baiklah, Blian juga mengantuk sekali saat ini. Ayo Mom kita pulang..!" ajaknya menggandeng tangan Aurora.
.
.
Malam semakin larut, tapi suaminya juga tak kunjung kembali. Brian terlihat sudah tertidur pulas setelah menyelesaikan makan malamnya. Aurora saat ini sedang berdiri dibalik jendela kaca besar yang menampakkan keindahan malam di Singapura. Pemandangan diluar cukup indah, tapi sayangnya hatinya sedang dilanda gundah, ia sedang mencemaskan suaminya yang belum kembali.
__ADS_1
Tak lama berselang, Edward masuk kedalam kamarnya. Dia mendapati istrinya sedang berdiri melamun melihat keluar. Ia bahkan tak mendengar derit pintu yang terbuka. Ia letakkan tas kerja di meja kerja, lalu membuka jas dan sepatunya, ia menghampiri istrinya.
Edward tiba-tiba merengkuh tubuh Aurora dari belakang, lalu berbisik lirih ditelinganya, "Apa yang kau lakukan disini, kenapa belum tidur."
Sontak hal itu mengejutkan Aurora, ia menoleh kesamping dan mendapati wajah lelah suaminya.
"Aku sedang menunggumu, kenapa baru pulang, apa ada masalah?" tanya Aurora lembut yang masih dalam posisi sama.
Edward diam sebentar, ia mengamati wajah khawatir istrinya. Ia eratkan pelukan pada pinggangnya lalu mendaratkan dagunya kebahu Aurora.
"Maaf sudah membuatmu khawatir."
Aurora mengernyit merasakan hembusan dari nafas suaminya, ia mencium aroma alkohol dari sana. Bukan hanya alkohol, tapi parfum wanita lain pun tercium dari hidungnya.
"Apa kamu tadi minum,?" selidik Aurora
"Hanya sedikit, apa kamu akan marah?"
Aurora membalikkan tubuhnya menghadap suaminya. Dipandanginya wajah yang sudah dari tadi ia tunggui.
"Apa kamu tadi sudah makan?" tanya Aurora seraya melepaskan kancing pada kemeja Edward. Ia sedang penasaran dengan suaminya, apa dia bertindak lebih jauh atau tidak. Bagaimanapun suaminya orang yang banyak uang, pasti banyak pula wanita wanita yang menggoda pria itu. Jangan sampai pikiran buruknya menjadi kenyataan.
"Sudah,"
"Mandilah sebentar, setelah itu lekaslah tidur." ucap Aurora dengan membelai lembut dada Edward dan dikecupnya otot otot yang timbul itu.
Pria itu tentu saja tidak tau dengan aksi penyelidikannya, ia sengaja melakukan itu untuk memastikan jika suaminya tidak tidur dengan wanita lain. Bahaya juga jika dia bertanya langsung pada suaminya. Bagaimana jika tebakannya salah, pasti akan menimbulkan masalah baru kedepannya. Dikiranya dia wanita yang tidak percaya pada suaminya. Dan itu bisa menimbulkan keretakan pada hubungan mereka.
Edward menegang saat merasakan sensasi negatif dalam dirinya keluar, jantungnya berdebar debar saat mendapat sentuhan lembut dari tangan Aurora apalagi kecupan dari bibir basahnya. Rupanya Edward terbawa arus yang dimainkan Aurora.
Edward yang merasa ia mendapatkan ajakan bercinta dari istrinya , langsung saja membopong tubuh istrinya kekamar mandi. Aurora yang mendapat perlakuan spontan itu, terpekik kaget.
"Akh.. apa yang kau lakukan..!!" seru Aurora
"Sssttt diamlah, jangan membangunkan Brian. Bukankah kamu sedang merindukan sentuhanku. Aku akan memberikannya sayang. Ikutlah mandi bersamaku." bisik Edward pelan.
Aurora mendelikkan matanya.
"Jangan menatap suamimu seperti itu. Aku tau kamu juga pasti menginginkannya. Sentuhanku memang membuatmu ketagihan, benar..?!" Edward tersenyum tipis.
"Aih, bagaimana bisa dia bicara se PD itu. Maklum Aurora, dia kan sedang mabuk, masih bagus dia tidak melakukannya dengan wanita lain, bagaimana jika ketakutanku menjadi kenyataan, hancur sudah pernikahan ini. Untung saja Pria ini pria setia, dia tidak celup sana sini walaupun mereka menawarkan wanita sebagai bentuk tanda jadi atas kerja sama mereka. Ah baru memikirkannya sudah membuatku sesak. Semoga dikemudian hari tidak terjadi apa yang aku khawatirkan." batin Aurora bermonolog.
.
.
.
###
__ADS_1