
Diruang ICU,
Brian menangis tersedu memeluk lengan Aurora. Ia menumpahkan rasa sesak dalam dadanya. Ia merindukan pelukan mommy nya, pelukan yang membuatnya merasa nyaman dan dicintai.
"Mom, ada apa denganmu, apa aku membuat susahmu lagi? Kenapa mom tak bangun, ayo bangunlah mom. Aku takut.. jangan tinggalkan aku mom.."
Perawat yang berjaga diruang itu hanya saling melirik. Mereka merasa kasihan dengan Brian, entah apa yang sudah terjadi pada anak itu.
"Emm, Tuan muda, biarkan nona Aurora tidur. Ayo kami temani melihat adik bayi. Kamu belum lihat adik kamu bukan?!" ucap satu perawat mengusap punggung Brian.
Seketika Brian langsung menghapus air matanya dan mengangguk senang, tapi sebentar kemudian menatap Aurora sendu. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Mungkin besok atau lusa mamamu akan siuman. Jangan khawatir, mamamu wanita yang kuat. Ayo.." ajak perawat itu menggandeng tangan Brian.
Brian mengangguk dan memberikan senyum terbaiknya.
Dalam perjalanannya menuju ruang bayi, Brian berbinar senang melihat dua orang tua paruh baya yang menuju kearahnya. Dibelakangnya ada Selly yang menenteng paperbag entah apa isinya. Brian berseru dan menghampiri ketiganya.
"Oma, opa..!!"
Tuan Hardy dan Nyonya Riyanti mengulas senyum.
"Hola boy, wah kamu tambah besar ya. Uhh pinggang opa sudah tidak kuat." celetuk Tuan Hardy dan membuatnya terkekeh.
"Tentu saja aku belat, setiap hali kan makan banyak. Mommy yang selalu memaksaku makan agal tumbuh menjadi anak kuat untuk melawan dunia yang kejam. Opa, aku mau lihat dedek bayi. Opa mau ikut tidak! Mommy belum sadal, luangannya ada disana jika mau melihat mom dulu." ucap Brian sambil mengarahkan telunjuknya.
Tuan Hardy melirik istrinya dan mengangguk.
"Baiklah, ayo kita lihat dedek bayi . Biar oma yang lihat mommy dulu." ucapnya tanpa melepas Brian dari gendongannya.
Brian mengangguk antusias.
.
.
Diperusahaan Aurora,
David sedang duduk disofa dan didepannya ada Aldi yang sibuk mempelajari berkas sebelum ia tanda tangani.
"Apa ini, kenapa kontrak kerjaku lama sekali.!! Tidak mau, perjanjian nya aku sama Aurora hanya satu kali launching.! Setengah tahun aku rasa sudah cukup.!" Aldi melempar berkas itu ke meja.
David menaikkan sebelah alisnya.
"Terserah, kalau kau tidak mau tanda tangan, nona Aurora yang akan turun tangan. Jangan lupa kau punya hutang nyawa pada nona kami. Atau kau ingin kami meminjam rudal GL untuk memporak porandakan markasmu di Rusia." jawab David enteng.
"Jangan coba coba.! awas saja jika kalian menyentuhnya. Aku bisa dibunuh ayahku.!"
"Kalau begitu tunggu apa lagi.."
"Ck.." Aldi menyandarkan punggungnya ke sofa, melirik sebal asisten Aurora. Wajahnya terlihat masam sekali.
"Tuan Aldi, saya heran dengan anda, diluar sana bahkan banyak orang bersusah payah mencari pekerjaan, lha ini.. anda diberi jabatan, gaji yang besar, bahkan anda bisa terkenal, kenapa anda ogah ogahan. Tuan Hardy dan Nona Aurora dengan cuma cuma menunjuk anda sebagai ceo penggantinya , bahkan anda tidak mau. Saya heran dengan pemikiran kalian, uang dan jabatan bisa dipindah tangankan dengan begitu mudahnya, apa uang tak lagi berharga lagi bagi kalian. Padahal diluar sana banyak orang yang merebutkan kekuasaan hingga bunuh membunuh."
Aldi memicingkan matanya.
"Apa kamu kira aku tidak punya pekerjaan lain? Hei bos, kesibukanku juga banyak.! Memangnya aku manusia robot.!! Bisa mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu.!" Aldi mendelik sebal.
"Sekarang aku tanya, jika kamu yang diberi jabatan ceo oleh Aurora, apa kamu mau menerima?!" tanya Aldi balik.
__ADS_1
"Ogah. Pekerjaanku saja sudah banyak. Gajiku juga sudah lebih dari cukup. Tuan Andi saja tidak mau, apa lagi saya."
Aldi tersenyum sinis.
"Kalau sudah tau kenapa memaksaku, hah..!!"
"Itu derita anda." jawab David sambil terkekeh.
"Sebaiknya anda pikirkan baik baik, ini hanya sementara. Hanya sampai Tuan Edward pulih dan bisa bekerja kembali di perusahaannya. Anda cuma ditugaskan menjadi wakil Tuan Andi, Tuan Andi yang akan menggantikan jabatan nona sementara. Anda tidak lihat, bahkan Tuan Andi juga hiatus dari dunia Entertainment hanya demi nona Aurora. Pekerjaan anda bahkan tidak sebanding dengan pekerjaan yang akan dipikul nona. Beliau akan bekerja menggantikan suaminya. Apa anda tidak kasihan dengannya. Perusahaan suaminya bahkan juga butuh pemimpin. Mertuanya juga sudah tidak memungkinkan untuk bekerja, anda tau sendiri kondisinya."
"Oke, aku setuju. Tapi aku menolak menjadi modelnya. Aku ingin bertemu Aurora dulu sebelum menandatanganinya. Dimana dia sekarang.!"
"Dirumah sakit GL, masih belum sadar paska kelahiran dua putranya."
"Apa..!! Kenapa tidak kamu beri tahu sedari tadi..!! Ck.."
Aldi beranjak dari dudukannya dan bersiap keluar. Langkahnya tertahan ketika mendengar seruan dari David.
"Anda tidak bisa masuk tanpa kartu ini." David melemparkan kartu akses masuk.
Aldi memutar bola matanya.
"Belikan Brian Marshmallow untuk pertemuan pertamamu. Aku yakin jika anak itu mengetahui sisi kelammu." ucap David dan memberikan kunci mobilnya.
Aldi mengangguk dan tak berkomentar apapun. Ia memilih untuk segera keluar dari ruang kerja David. Ia tidak ingin David membahas masa lalunya lagi.
.
.
Disisi lain , Alex yang sudah mengetahui berita kelahiran penerus keluarga Edlyn langsung memerintahkan anggotanya untuk menjaga dua bayi itu. Tak lupa untuk memasangkan banyak kamera pengintai diruang bayi itu.
"Darius,..! Bagaimana keadaanmu saat ini." tanya Alex dengan gaya tengilnya.
"Biadab kau Alex. Lepaskan aku..!!" teriak Darius.
"Hehehe,.. berhubung hari ini aku sedang baik, bagaimana jika hari ini kita bermain lagi. Hitung hitung kita merayakan hari kelahiran dua penguasa kami selanjutnya."
Alex menatap sinis pria didepannya. Ia jengkel bukan main padanya, sudah selama itu menanyainya tapi tak juga mendapatkan jawaban yang memuaskan dari bibir pria itu.
"Kau gila Alex!! Kau gila..!!"
"Keluarkan, pria itu!! aku mau melihat sejauh mana dia bisa bertahan dengan kebungkamannya." ucap Alex datar.
"Baik Bos."
Darius didudukkan dikursi, dan diikat tubuhnya menggunakan tali.
"Katakan tentang kejahatan yang sudah kau lakukan pada keluarga King kami dan siapa yang menyuruhmu. Kau tak mau mengaku, kau akan membayar akibatnya. Kau tau betul jika aku tak pernah bermain main dengan ucapanku." ucap Alex datar.
"Tidak. aku tidak pernah melakukan apapun.!"
Alex tersenyum miring. "Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu. Berhubung hari ini hari bahagia, aku akan memberikan hukuman yang ringan untukmu."
Alex mengkode anak buahnya untuk segera menyuntikkan obat itu ketubuh bagian bawah darius. Ia tersenyum licik.
"Apa..!! apa yang kalian lakukan. Obat apa itu..!!" berontak Darius panik.
"Hehehe, itu untuk mengingatkan atas kejahatanmu jika kau lupa. Semoga setelah ini kamu menyesalinya. Dan mengaku kau berdiri didepan siapa. Kau begitu bodoh. Bahkan dimanfaatkan orang lain pun tak mengetahuinya. Kalau aku menjadimu, aku akan mengakuinya membalas orang yang sudah memanfaatkanku. Ya terserah padamu sih, tapi maaf, kesempatanmu sudah berakhir. Jadi nikmati saja efek samping obat itu.Ingat, jangan teriak teriak . Kupingku bisa gatal mendengar suaramu."
__ADS_1
Alex duduk dan malah bersiap melihat pertunjukan didepannya, tangannya menyulut batang rokok untuk dihisapnya.
"Alex , apa yang kau berikan padaku!!" Teriak Darius.
"Hehehe, apa obat itu sudah mulai bekerja? wah cepat sekali reaksinya."
Darius merasa tidak nyaman pada bagian bawahnya. Dahinya mengerut, rahangnya mengetat , mencoba menghalau rasa yang sungguh tidak mengenakkan baginya.
"Kenapa reaksinya hanya begitu. Tambahkan dosisnya..!!" seru Alex.
"Bos, pria itu bisa mati jika kita menambah dosisnya. Tunggu sebentar lagi, mungkin obat itu belum bereaksi dengan sempurna." Bisik satu anggota yang tadi menyuntikkan obat itu.
"Ck..!! Ambilkan aku wine jika begitu.!"
"Baik Bos."
Darius semakin lama semakin gelisah. Ia meronta ronta, berusaha melepaskan tali yang mengikat tubuhnya. Wajahnya memerah, keringat bercucuran ditubuhnya.
"Biadap kau Alex... lepaskan aku.!!" Teriak Darius
"Ha ha ha.. Tunggu dua jam lagi. Atau kau mau mengakui kejahatanmu? Aku akan membebaskan satu tanganmu. Bagaimana..? Masa belum ingat tentang kejahatanmu?" ucap Alex menyeringai.
"Alex.. cepat lepaskan aku!! aku tidak tahan..!!! Aaaagghhh.. bang Sat..!!"
"Ha ha ha.. aku rasa hukuman itu setimpal dengan perbuatanmu. Aku sih terserah kamu. Tidak mau mengaku ya sudah.!"
Alex dengan santainya menikmati wine dihadapan Darius. Tak peduli dengan erangan erangan Darius. Baginya ini hiburan yang menyenangkan.
"Oke, oke aku mengaku.!! Aku.. aku yang menyuruh laki laki banci untuk meracuni David dengan obat perangsang. Tujuanku, aku ingin melihat kerusakan hubungan antara Edward dan Istrinya. Sayang sekali, David mempunyai pengendalian diri yang baik. Sekarang cepat lepaskan tanganku..!!"
"Brengsek..!! bisa bisanya kau mau merusak kehormatan istri King kami!!" ucap Alex marah.
"Aaaaghhh Alex, cepat lepaskan tanganku!! aku.. aku.. ingin keluar..!!" Teriak Darius frustasi.
"Ha ha ha.."
Alex mengkode anak buahnya lewat matanya. Mereka mengangguk dan segera melepaskan satu tangan Darius.
Darius segera dengan susah payah membuka celana kain dan mengeluarkan batang keras itu. Ia terbelalak melihat bendanya yang terlihat lebih besar dari biasanya, warnanya memerah seperti kepenuhan air didalamnya, urat urat disekitarnya bahkan tampak membesar. Ia menatap tajam Alex.
"Apa yang sudah kau suntikan padaku.!!" tanyanya melotot.
"Hahaha.. bagaimana, apa rasanya enak?? Lain kali jangan mencubit jika tak ingin dicubit. Itu modifikasi dari obatmu. Sayang sekali, itu tidak mudah untuk dikeluarkan. Seberapa kuat kau menaik turunkan, cairan itu tidak akan mudah untuk keluar. Bukankah aku baik? Kau menjadi pria perkasa. Uh.. pasti senang sekali yang jadi patnermu bermain. Sayangnya aku tak menyediakan ja lang untukmu."
"Bang Sat kau Alex..!!
"Panggil banci itu..! biarkan mereka bersenang senang. Ayo kita keluar.!"
Perintah Alex dan langsung diangguki semua anggotanya. Mereka semua meninggalkan Darius yang teriak teriak dan mengumpati Alex.
"Jalani hukumanmu, kau harus merasakan itu agar kau tak mengulangi kebodohanmu. Merenunglah.! Mungkin aku bisa berubah pikiran dan membebaskanmu."
.
.
.
#####
__ADS_1