Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Emosi Edward


__ADS_3

Diperusahaan,


Peserta rapat dibuat mati kutu dengan tingkah Edward yang sedari tadi duduk diam menatap tajam sambil memutar penanya.


Lukas menarik nafasnya dalam dalam, entah mengapa semua pekerjaan yang mereka kerjakan semua terlihat salah dimata Edward. Mereka saling melirik, tapi tak berani menatap wajah Edward.


"Apa yang kalian lakukan selama aku tinggal. Bukankah pekerjaan ini sudah lama kalian kerjakan, kenapa masih saja seperti ini. Masa kalah sama anak magang..!" ucap Edward sambil melempar map berkas didepannya.


"Maaf Tuan, akan segera saya perbaiki."


"Bagus, jadi apa pekerjaan kalian selama ini , santai santai, iya..! Serius donk..!! Ayolah, kita bekerja satu team, harusnya kita saling mendukung, saling membantu, solid. Bagaimana bisa kalian satu team tapi jawaban kalian berbeda..!?" Oh astaga,..!!" Edward geleng geleng kepala. Ia dibuat frustasi oleh karyawannya.


"Kalian berempat keluar, dan perbaiki segera. Saya tidak mau tau, besok pagi laporan itu sudah harus sampai dimeja kerja saya dalam keadaan jadi, bukan setengah jadi. Terserah, kalian mau lembur kek, mau begadang kek, mau santai santai kek, terserah. Kalau sampai besok pagi laporan itu belum membuatku puas, jangan harap besok kalian bisa masuk kerja diperusahaan ini.!!" ucap Edward tegas.


"Ba..baik Tuan, kami permisi." ucap mereka berempat membungkukan tubuh memberi hormat sebelum meninggalkan ruang rapat.


Edward mendengus kesal, tapi ia tetap melanjutkan rapat mereka. "Kalian, apa yang kalian laporan, jangan sampai laporan kalian membuatku kesal lagi.! awas saja kalau itu sampai terjadi..!!" ancam Edward.


Mereka langsung gugup seketika, pasalnya yang akan mereka sampaikan mungkin bukan kabar baik untuk bos mereka.


"Sebelumnya maaf Tuan, " ucap pria itu hati hati.


"Oh my...!" Edward mengusap wajahnya.


"Katakan..!! jangan berbelit belit..!! ah kalian selalu saja menyebalkan."


"Begini Tuan, perusahaan cabang mengalami masalah perpajakan. Mereka belum membayarnya Tuan. Perusahaan diancam akan segera disegel kalau kita tidak segera melunasinya Tuan."


Brakk..


"Bagaimana bisa..!! Kalian bodoh hah.. masalah sebesar ini, kalian baru beri tahu aku..!! Apa kerja kalian selama ini, mengurus begitu saja tidak becus...!"


"Maaf Tuan, saya tidak mau mengganggu bulan madu anda."


"Bodoh..!! harusnya kalian beri tahu asistenku.!! Oh my.. bagaimana bisa perusahaan sekecil itu tidak mampu membayar pajak.!! Memalukan..!! Kalian benar benar ya..!" Edward yang begitu geram langsung melempar gelas disampingnya hingga pecah berkeping keping .


"Maaf Tuan, itu bukan kesalahan kami. Kami sudah mentranser dari dua bulan lalu sesuai dengan peraturan. Tapi kata mereka , perusahaan tidak menerimanya. Saya baru mengetahui saat perusahaan pusat diberi surat peringatan."


"Berapa nominal yang harus dibayar?!" tanya Edward dingin.


"Sekitar dua ratus miliar Tuan."


Edward pusing seketika, ia memijat tengkuknya yang terasa tegang kemudian menyandarkan punggungnya kekursi sambil memejamkan matanya sejenak. Penumpukan pekerjaan dan banyaknya masalah yang harus dihadapi saat ini membuatnya stres. Beban pekerjaan yang ditanggungnya juga semakin banyak. Belum lagi masalah musuhnya yang semakin membuatnya geram.


"Apa enaknya jadi CEO kalau begini, mending aku jadi orang biasa yang punya banyak kebebasan, semenjak aku jadi CEO kebebasanku terbatas, aku juga jarang berkumpul dengan keluarga. Pantas saja Ayah memaksa aku segera jadi CEO, jadi ini alasannya. Ah ayah,kau berhutang penjelasan padaku." pikir Edward dalam hatinya


Lukas langsung mengambilkan sebotol air dingin yang ada diruangannya, "Minumlah dulu Tuan, mungkin air dingin ini bisa membantu anda berpikir jernih." kata Lukas yang sudah mengenal baik kebiasaan Edward.


Edward membuka matanya dan melirik Lukas yang berdiri disampingnya. Bisa bisanya dia menasehatinya didepan orang lain selain keluarganya, batinnya menggerutu kesal.


"Ehem, ..minta Tuan Ridwan yang menanganinya, dan minta team penyidik menyelidiki kasus ini. Tangkap dan penjarakan tikus tikus itu dan jangan biarkan dia mereka menyewa pengacara. Kalian keluarlah. Kalian konsultasikan pada Asistenku setelah ini."


"Baik Tuan,kami permisi.! kami akan segera menangani kasus ini."


"Hem."


Setelah semua orang pergi, Edward merebahkan tubuhnya di sofa ruang kerja asistennya. Kepalanya begitu pening dan badannya terasa hangat.

__ADS_1


"Tuan, kenapa kita memakai jasa penyidik? kenapa kita tidak memakai hukum kita sendiri, Alex akan dengan senang hati melakukan tugasnya." Tanya Lukas yang duduk didepannya.


"Aku tau kau akan menanyakan hal ini padaku Lukas. Tenanglah aku sudah menyiapkan rencana besar untuk mereka. Rugi besar aku, kalau perusahaan tak mendapatkan ganti rugi. Kita sudah kerja keras dari pagi sampai malam, enak saja mereka mengambilnya."


"Lukas..!"


"Iya Tuan."


"Kau kawallah jalannya kasus ini, Alex nanti yang akan membantumu. Sekarang kau lanjutkan pekerjaanmu,aku mau tidur sebentar disini. Jangan biarkan satu orang pun yang menggangguku."


"Tuan, anda tak apa? Apa perlu saya telfonkan dokter Tuan,?!"tanya Lukas khawatir melihat raut wajah Edward.


"Kepalaku pusing sekali Lukas." keluh Edward yang sudah memejamkan matanya


"Sebaiknya anda makan dulu Tuan, saya akan memesankan makanan untuk anda, anda beberapa hari ini tidak makan dengan baik."


"Tidak perlu Lukas. Aku hanya butuh istirahat sebentar."


"Kalau anda menolak, saya akan menghubungi nona Aurora." ancam Lukas


"Aih terserah kamu sajalah. Sana sana lanjutkan saja pekerjaanmu..!" usir Edward dan kembali memejamkan mata, pikirannya sudah malas jika harus berdebat dengan Asistennya.


.


.


Disisi lain, Brian anak kecil itu hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan Daddynya dari layar laptopnya.


"Apa daddy lindu mommy sampai daddy sakit begitu?" pikir Brian bermonolog.


"Ah aku halus segela membeli tau mommy, aku kan anak baik." gumam Brian sambil mencari kontak Aurora.


"Hallo sayang.." Aurora menyapa Brian dengan gembira.


"Hallo mommy, apa mommy sedang sibuk?" tanya Brian


"Tidak sayang, ada apa, tumben telfon mommy, mau dibawain oleh-oleh apa? Sekarang mommy sedang ada di Filipina lho.. "


"Tidak usah mommy, Blian cuma minta mommy segela pulang, Blian kangen mommy, Blian kesepian."


"Benarkah, bukankah dirumah masih ramai orang, masih ada tante Amel bukan,?"


"Ada sih, tapi selingnya dikamal telus, Daddy juga pulang malem telus, Blian juga lagi males bikin mainan. Blian gabut banget deh Mom. Boleh nggak sih kalau Blian ngeljain olang saja."


"Kenapa tidak kekantor Daddymu saja? Bukankah kamu masih ada pekerjaan dari Dadmu?"


"No mom. Daddy sedang sibuk, dia sepeltinya sedang sakit. Blian ndak mau ganggu. Bahaya, daddy bisa makan olang." celetuk Brian disertai kekehannya.


"Hah.. Daddy sakit? sakit apa, tadi mom telfon baik baik saja." kata Aurora tak percaya.


"Dak tau, mungkin daddy lindu sama Mommy, lindu itu belat, bial daddy saja yang melindu. Hahaha."


"Ah kamu bisa saja, tau apa tentang rindu.Baiklah mom tutup dulu ya, Mom mau telfon daddy sebentar,. kalau kamu berubah pikiran segera telfon mommy. Bye sayang.."


"Bye mom."


.

__ADS_1


.


Ditempat lain, Aurora yang sudah ada dikamar hotelnya segera menghubungi nomor ponsel suaminya. Raut wajahnya terlihat khawatir saat mendengar suaminya jatuh sakit. Ia melakukan panggilan video call.


"Hai sayang, ada apa? apa ada masalah? Bukankah tadi kita sudah telfonan, apa masih kangen.?" tanya Edward diseberang sana yang sudah duduk dengan tegak dengan senyum khasnya.


"Emm, bukankah kamu sedang sakit, sakit apa? Kalau sakit kenapa bekerja,? Lihatlah kantung matamu cekung begitu. Kamu pasti kurang istirahat, apa ada masalah?" tanya Aurora khawatir


"Tidak ada, jangan terlalu khawatir begitu, aku baik baik saja. Hanya sedikit pusing saja, nanti juga sembuh sendiri . Darimana kamu tau aku sakit hem..."


"Putra kita."


"Brian.." beo Edward


"Hem," Aurora menganggukkan kepalanya


Edward menepuk keningnya, ia lupa kalau ia sedang diruang asistennya, ia melihat satu kamera cctv yang mengarah padanya.


"Brian mengatakan apa lagi selain aku sakit, .!? jangan bilang kalau dia mengatakan yang tidak tidak padamu." khawatir Edward.


"Dia bilang kamu merindukanku,.." ucap Aurora malu.


Edward tersenyum kemenangan saat melihat wajah cantik istrinya yang merona malu. Entah mengapa wajahnya begitu menggemaskan.


"Iya, aku begitu merindukanmu. Kamu tak pulang pulang sih, aku jadi sakit kan jadinya, sementara obatku ada bersamamu."


Lukas melirik bosnya karna mendengar kata kata alay yang muncul dari bibirnya, ia mendengus kesal meratapi nasibnya, bagaimana bisa ia terlibat pada pembicaraan suami istri itu. Semoga mereka tidak membicarakan yang iya iya , ucap lukas dalam hatinya.


"Astaga, sejak kapan suamiku jadi lebay begitu. Sudahlah aku tutup saja , jangan lupa minum obatmu, sepertinya kamu harus memeriksakan kedokter lagi, takutnya ada yang bermasalah dikepalamu. Kakak tidak pernah cek up kedokter lagi bukan,semenjak kejadian penyerangan waktu itu?" ucap Aurora yang menatap intens wajah suaminya.


Edward terdiam, ia lupa karena saking banyaknya pekerjaan. Tapi selama ini ia merasa tubuhnya baik baik saja.


"Minta Lukas menemanimu kak. Jangan memaksakan diri. Jangan pulang larut malam, kasihan Brian. Dia mulai gabut, jangan sampai dia mengebom markas besarmu karena kamu kurang perhatian padanya. Kamu tau benar kalau dia bukan seperti anak sebayanya." ucap Aurora mengingatkan.


"Baiklah terima kasih sudah mengkhawatirkanku, aku sudah jauh lebih baik. Kamu jaga dirimu baik baik, jangan sembarangan peluk peluk orang lain selain suamimu, aku akan cemburu bila kamu melakukannya. Apalagi dengan pria tengik itu." ucap sebal Edward.


"Apa suamiku benar benar cemburu padaku?" tanya Aurora dengan wajah khawatirnya.


"Tentu saja aku cemburu, suami mana yang tidak cemburu melihat istrinya diperlakukan manis dengan pria lain, kalau aku ada disana, aku pasti akan menghajarnya sampai babak belur. Enak saja..!! Kamu juga, ngapain mau saja dipeluk si Aldi tengik itu.!" kesal Edward .


"Maafkan aku, aku janji tidak melakukannya lagi. Maaf menyakiti hatimu." ucap Aurora yang tertunduk bersalah pada suaminya.


"Sudahlah , berhubung kamu cantik, aku akan memaafkanmu kali ini, tapi tidak lain kali. Kamu harus ingat, kamu bukan lagi wanita single, kamu sudah bersuami. Tidak baik melakukan hal seperti itu. Kamu paham tidak.."


"Paham..."


"Good baby, sekarang kamu tutup telfonnya, sebentar lagi aku ada meeting diluar. Baik baik disana, segeralah pulang, aku menyayangimu dan aku slalu merindukanmu." ucap Edward dengan senyum tulusnya.


"Baiklah bye sayang, i love you.."


"Love you too."


.


Itulah cinta, cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang, seperti pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan pasangannya. Sama seperti cinta Edward dan Aurora.


So, apa kalian juga seperti itu dalam memahami cinta terhadap pasangan kalian...??

__ADS_1


.


.


__ADS_2