
Aurora terbangun dari tidurnya. Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Ia terkejut bukan main, ia bingung kenapa bisa berada di kamarnya. Ingatan terakhirnya ia tidur di rumah sakit setelah kelelahan menangis ketika melihat sosok suaminya.
"Apa .. apa aku cuma mimpi? Tapi kenapa ini terasa nyata. Tidak. Aku yakin jika itu bukan mimpi. Lalu dimana Kak Edward, kemana dia? Bukankah dia sedang sakit? Ah pasti dia sedang dirumah sakit." Monolog Aurora dan bergegas membersihkan diri. Ia ingin segera bertemu dengan asistennya. Ia ingin memastikan jika itu bukan sekedar mimpi belaka.
Aurora sudah rapi dengan pakaian casualnya, rambutnya ia ikat satu kebelakang berjalan tergesa menuruni anak tangga.
"Kevin!!" Seru Aurora menggema diruang utama.
Kevan berjalan tergesa menghampiri Aurora yang masih sibuk memasang jam tangan di pergelangan tangannya.
"Ada apa nona? Kevin sedang istirahat hari ini. Saya yang akan menggantikan tugasnya jika anda ingin pergi." jawab Kevan seraya membungkuk memberi hormat.
"Istirahat? Jam berapa dia pulang?"
"Sekitar setengah lima nona."
Aurora mengangguk. "Apa kamu tau siapa yang menggendongku ke kamar. Aku yakin jika aku kemarin berada dirumah sakit."
"Itu.. Tuan Felix nona."
"Lalu kemana dia."
"Saya melihat setelah mengantar anda, dia mengendarai mobilnya keluar. Saya tidak tahu kemana perginya. Dia juga tidak memberi tahu."
Seketika Aurora mendudukkan tubuhnya. Ia mencari nomor telepon Edward dan menghubunginya. Berkali-kali Aurora mencoba tapi hasilnya nihil. Nomor ponsel Edward berada diluar jangkauan.
Aurora meremas ponselnya. Rasanya ia ingin menangis saja. Bahkan matanya sudah berkaca kaca. Ia merasakan sesak dalam hatinya. Takut jika semalam yang ia rasakan hanya sebuah mimpi.
"Kembalilah Kevin, aku tak jadi pergi. Tolong jaga anak anak."
"Baik nona."
Setelah mengatakan itu, Aurora berjalan gontai masuk ke dalam kamarnya kembali. Ia duduk memandangi foto pernikahannya dengan tatapan sendu.
"Apa kamu pergi lagi. Kenapa begitu sulit sekali kau untuk ku raih. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa aku terlalu merindukanmu hingga terbawa dalam mimpi_ atau aku sudah gila hingga aku bisa berhalusinasi melihatmu. Kenapa aku jadi semenyedihkan seperti ini."
Wajah Aurora nampak kecewa. Matanya memanas ketika bayangan suami menciumnya muncul lagi di ingatannya.
Sementara itu, Edward yang baru sampai di kediaman Aurora langsung masuk ke dalam rumah. Pria itu mendapati Kevan sedang berdiri menyambutnya.
"Selamat pagi Tuan." Kevan sedikit menundukkan kepalanya.
"Pagi. Dimana nona, apa dia sudah bangun."
"Sudah Tuan. Beliau tadi mencari anda. Sekarang nona sedang ada di dalam kamar."
Edward mengangguk. "Lalu dimana anak anak? Kenapa sepi sekali."
"Saya melihat anak anak ada di rumah belakang. Mereka sedang belajar seperti biasanya. Sedangkan Tuan kecil Brian sudah masuk sekolah."
__ADS_1
"Apa! bagaimana bisa dia sekolah? Siapa yang mengantarnya?"
"Itu, Tuan Lukas yang mengantarnya Tuan. Saya mendengar Ucup dan Eko yang akan memantaunya selama di sekolah."
"Apa nona tau hal ini?"
"Saya rasa tidak Tuan. Nona saja baru jam 11 keluar dari kamar."
"Oke, lalu kenapa kamu disini. Bukankah tugasmu ada di Rumah Utama?"
"Benar Tuan, tapi Tuan Alex sendiri yang memerintahkan saya kemari."
"Oke, kau boleh pergi, awasi anak anak. Jangan biarkan anak-anak keluar dari gerbang depan."
Kevan mengangguk dan segera melakukan tugasnya.
Edward melangkah pelan naik ke lantai dua. Ia membuka perlahan handle pintu kamar Aurora yang ternyata tidak dikunci oleh istrinya.
Edward mengedarkan pandangannya, tapi tak menemukan orang yang dia cari. Perlahan ia berjalan menuju balkon kamar, pria itu tersenyum kecil ketika melihat keberadaan Aurora yang sedang berdiri melamun.
Grep
Edward merengkuh pinggang Aurora dari belakang dan berbisik di telinga Aurora .
"Kau mencariku hem..."
Edward kemudian menciumi leher Aurora dan memberikan sebuah tanda cinta disana. "Sayang,,," bisik Edward mencoba membalik tubuh Aurora yang sedari tadi bergeming.
"Kamu menangis?"
Edward mengusap bulir air mata Aurora yang menetes deras di pipinya. Pria itu menatap sendu wanitanya.
"Apa aku sekarang berhalusinasi lagi, apa aku sedang berbicara sendiri."
"Tidak sayang. Ini aku suamimu."
"Kenapa baru kembali Kak. Kenapa baru kembali setelah sekian lama..."
Edward langsung memeluk tubuh Aurora dan mengusap punggung wanita itu. Berkali kali Edward menarik nafasnya dalam dalam. Dadanya begitu sesak ketika melihat Aurora menangis pilu.
"Maaf aku baru bisa menemuimu."
"Kenapa, kenapa baru datang? Aku sudah lelah dengan semua ini Kak, aku sudah lelah. Kamu jahat, kamu meninggalkanku dengan banyak tugas yang harus aku kerjakan. Kamu jahat kak." Tangis Aurora memukul punggung Edward.
"Jika saja aku tidak sakit, aku pasti akan lebih cepat menemuimu sayang. Aku minta maaf. Aku minta maaf."
Aurora melonggarkan pelukannya. Ia mendongak menatap netra Edward yang menatapnya sendu.
"Kamu sakit?" lirih Aurora dan dijawab dengan anggukan kepala Edward.
__ADS_1
Edward merangkul bahu Aurora dan membawanya masuk ke dalam. Ia duduk di sofa dan memangku tubuh Aurora menyamping. Edward melingkarkan tangannya di pinggang Aurora.
"Apa kamu masih mencintaiku?"
Aurora mengangguk lalu menggeleng. Aurora meneteskan air matanya kembali. Masih tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya.
Edward tersenyum, perlahan pria itu membuka kancing kemejanya dan melepaskan topeng sintetisnya.
Wajah yang selalu dirindukan Aurora terpampang jelas dimatanya. Masih tampan seperti terakhir bertemu.
Aurora mengecup kening Edward dan membawa kepala Edward ke dalam dekapannya. Aurora terus saja menciumi puncak kepala suaminya dengan berderai air mata.
"Apa aku berhalusinasi, kenapa aku melihat wajah suamiku disini." Tangis Aurora semakin keras.
"Tidak sayang, tidak... kamu tidak sedang berhalusinasi. Aku memang suamimu. Suamimu belum meninggal, suamimu masih hidup. Lihatlah aku."
Edward melonggarkan dekapan Aurora dan sekali lagi mengusap air mata itu. Dipandanginya wajah itu dengan tatapan terlukanya.
"Benarkah?"
Edward mengangguk cepat.
Aurora semakin tak bisa membendung air matanya. Ia semakin mengeraskan tangisannya. Masih tak percaya dengan kenyataan di depannya. Wanita itu begitu kaget dan syok.
"Menangislah jika itu bisa membuatmu lega. Aku akan menunggumu." Edward senantiasa mengusap punggung Aurora dengan sayang. Dikecupnya berkali kali jemari tangan Aurora dan mengusap air mata Aurora yang belum bisa berhenti turun dengan ibu jarinya. Pria itu tidak tau harus berbuat seperti apa untuk menenangkan hati istrinya.
Cukup lama Aurora menangis hingga membuatnya sesegukan. Edward kemudian membopong tubuh Aurora ke ranjang lalu merebahkannya. Dipandanginya wajah sembab itu dan mendaratkan satu kecupan manis di bibirnya.
"Tidurlah, kamu pasti lelah setelah menangis."
"Tidak. Aku takut jika aku bermimpi lagi. Aku takut kamu akan pergi lagi." Aurora menatap netra suaminya lekat lekat. Air matanya masih saja turun membasahi pipinya.
"Tidak akan, aku akan menemanimu tidur disini. Aku janji. Tidurlah, setelah kamu tenang, kita akan bicara lagi." Kata Edward sembari mengusap pipi Aurora.
Edward mengambil tempat disisi Aurora dan memiringkan tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya. Diusapnya perlahan leher dan punggung Aurora hingga menghadirkan perasaan tenang dan nyaman.
Benar saja, tak berapa lama Aurora memejamkan matanya dan tertidur.
Edward tersenyum kecil. Ia membelai rambut Aurora dengan sayang, dipandanginya wajah itu dalam dalam. Masih terlihat cantik walau wajahnya sembab. Tiba tiba hatinya menghangat.
Edward kemudian menaikkan selimutnya dan mendekap pinggang Aurora. Ia ingin menikmati tidur siangnya sebentar sebelum anak anak dan urusan lainnya mulai mengganggunya.
.
.
.
#####
__ADS_1