
Al menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda karena kedatangan Bara, ia sedang
fokus dengan laptopnya, Ajeng hanya bisa menatap suaminya dari atas tempat
tidur.
Al yang menyadari sedari tadi istrinya sedang memperhatikannya merasa
tidak tega, ini sudah sangat larut tapi istrinya belum juga tidur karena
menunggunya.
Al segera mematikan laptopnya dan beranjak dari duduknya menghampiri istrinya.
“Kenapa belum tidur, sayang?” Tanya Al saat sudah sampai di samping istrinya, ia
menggeser duduknya agar bisa dekat dengan istrinya itu.
“Aku cuma sedang menunggumu mas!” ucap Ajeng sambil tersenyum pada suaminya.
Mendengar ucapan istrinya, membuat Al terharu. Ia tidak pernah menyangka istri kecilnya bisa se-dewasa itu. Mengingat bagaimana badung dan nakalnya dulu wanita yang sekarang menjadi istrinya itu.
Al mendekap tubuh mungil istrinya, membawa kepala istrinya ke atas dada bidangnya, menjadikan dadanya sebagai sandara, mengelus rambut istrinya.
“Dulu kau telah berhasil membuatku jatuh cinta, sayang. Tapi taukah kau saat ini dan
seterusnya, aku semakin jatuh cinta
padamu!”
Mendengar ucapan suaminya malah membuat Ajeng beranjak dari dada suaminya, ia duduk dan menyanggah dagunya menatap suaminya itu.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Al heran. Wajahnya penuh tanya.
“Mas Al!” panggil Ajeng pada suaminya itu.
“Iya?”
Ajeng segera memeluk suaminya dengan sangat erat.
“Terkadang aku merasa, aku tidak memerlukan apapun lagi kecuali pelukanmu. Kau tahu,
pelukan ini bisa menguatkan setiap langkahku!”
“Baiklah …, sudah cukup, sekarang tidurlah …! Ini sudah sangat malam, aku akan memelukmu
sepanjang malam!”
Al mengecup kening istrinya dan membiarkan istrinya itu tidur di dalam dekapannya.
🌷🌷🌷
Karena beberapa masalah yang terjadi membuat hubungan Al dan Ajeng semakin dekat saja, Al mengajak Ajeng untuk jalan-jalan agar Ajeng tidak suntuk di rumah. Mereka
benar-benar menghabiskan waktunya hanya berdua, sesekali mengabadikan moment
__ADS_1
itu dengan kamera yang menggantung di leher Al.
Kota Malang adalah kota yang sangat indah, dengan segala pemandangannya yang indah.
Al kali ini hanya ingin mengajak Ajeng mengunjungi alun-alun kota Malang dan
wisata di sekitarnya. Menikmati kuliner di sama dan mengelilingi alun-alun.
Saat ashar Al mengajak Ajeng untuk ke masjid agung Malang yang yang terletak persis
di seberang alun-alun Malang, Al akan melaksanakan sholat ashar. Karena tamu
bulanannya belum berakhir, Ajeng pun menunggu Al di teras masjid.
“Kamu tunggu di sini ya …, aku sholat dulu!” ucap Al saat akan meninggalkan istrinya.
“Iya …!”
Al pun segera mengambil wudhu dan masuk ke dalam masjid ikut sholat berjamaah. Ajeng
duduk sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba seseorang duduk di sampingnya
membuat Ajeng terkejut.
“Apa kabarmu?”
“Dika!?”
“Sedang apa di sini?”
“Heh …, aku salah bicara sama kamu, aku pasti kalah kalau bicara sama kamu!”
“Sudah jangan banyak alasan, kenapa bisa di sini?”
“He ….!”
Dika nyengir kuda, tangannya sudah menggaruk tengkukknya yang tidak gatal.
“Di tanya malah nyengir kayak gitu!”
“Ya habis mau gimana lagi, sahabat sama kakakku ada di sini, jadi aku mencari
kalian. Sengaja sih pengen ganggu kencan kalian!”
“Kau ini selalu ya …!” keluh Ajeng.
Al yang baru saja selesai sholat Asra juga terkejut melihat Dika berada di sana.
“Dika …!”
“Bang ….!”
“Kenapa kau ke sini?”
“Kenapa sih abang ini ….? Bukannya senang malah menanyakan keberadaanku di sini!”
__ADS_1
“Tidak pa pa , hanya saja …!”
“Jangan khawatir aku tidak akan menggangu kencan kalian, aku ke sini, mencari kalian ke
sini hanya untuk berpamitan pada kalian!”
“Berpamitan?”
Al dan Ajeng sangat terkejut dengan ucapan Dika.
“Berpamitan kemana?” Tanya Al.
“Bang …, apa kau sudah lupa, aku akan ke jogya, kau memberiku tanggun jawab di sana!”
“Maaf …, aku melupakannya. Kapan kau akan berangkat?”
“Sekarang!”
“Saat ini juga?”
“Iya …, aku ke sini hanya ingin berpesan pada abang!”
“Apa?”
“tolong jaga Ajeng dengan baik, jangan biarkan dia menangis, dia sangat jelek jika
menangis!”
Bug
“Kau ini …!” Ajeng memukul perut Dika dengan kesar. Dika hendak menarik Ajeng ke dalam
pelukannya, tapi Al dengan cepat menahannya tubuh Ajeng dan menghalanginya.
“Bang …., sebentar saja!” Dika memohon.
“Tidak!” tolak Al dengan tegas.
“Pelit sekali ….!” Keluh Dika, tapi ia tidak pernah kesal dengan tingkah posesif
abangnya, setidaknya dia kini tahu jika Ajeng mendapatkan pasangan yang terbaik
dan yang pasti lebih keren darinya.
**Aku memang kuat, tapi aku tidak akan sekuat ini untuk bisa menjalani semua ini tanpamu. Tetaplah menjadi bagian dari sejarah dan masa depan dalam hidupku.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘**
__ADS_1