
Aurora memandang remeh tiga manusia dibalik jeruji besi. Ia duduk disatu bangku dan menyilangkan kakinya. Tempat yang sunyi dan hening itu tiba tiba riuh karena Kevin memukul jeruji besi itu dengan sebuah palu besi.
Tiga manusia itu tergagap dan langsung bangun dari tidurnya. Mereka terkejut bukan main. Apalagi sudah ada Aurora yang duduk disana.
"Wah, tak kusangka, kalian masih hidup. Aku kira kalian sudah membusuk beserta dosa dosa kalian." Ejek Aurora.
"Cih. Apa kau pikir kau malaikat! Apa kau pikir kau manusia paling suci!! Kalian tak ubahnya dengan kami!" hardik Yudha meremehkan.
Aurora tersenyum miring. Ia merasa tersindir tapi ia diam saja. Tidak merasa terpancing.
"Aku tanya baik-baik, apa motif utama kalian membunuh suamiku." tanya Aurora dingin.
"Hahaha, jadi anda sengaja datang kemari hanya untuk menanyakan hal itu Queen. Apa anda tidak bosan mendengar jawaban kami. Atau anda tidak mendapatkan laporan dari bawahan anda. Saya rasa anda bukan orang bodoh!" hardik Yudha tak takut. Ia menatap tajam Aurora dari kejauhan.
Aurora berdiri dan mendekat kearah Yudha. Ia bersedekap dada dan tersenyum sinis. "Hari ini, aku menuntut balas akan kematian suamiku. Siapkan dirimu. Aku ingin mendengar jeritan merdumu. Oh, aku jadi tidak sabar mendengarnya." Aurora terkekeh pelan.
"Kau tak akan bisa membunuhku nona cantik. Aku rasa kau mengerti yang aku maksud. Putraku akan membenci seumur hidupmu jika anda melakukan itu." Yudha tersenyum remeh.
"Cih putra. Dia bukan putramu! Dia putraku!"
"Jangan lupakan jika aku yang memberi benih pada ja lang itu. Bagaimanapun aku adalah ayahnya. Oh, apakah putraku sejenius aku?" Yudha terkekeh pelan.
"Keluarkan aku dari sini. Aku akan membantumu memecahkan masalahmu. Jangan sia siakan kemampuan otakku. Kalian belum tau sejauh mana kejeniusanku." ucap Yudha tersenyum licik.
"Aku sudah punya banyak orang dengan kemampuan yang sama denganmu. Aku tidak tertarik. Lupakan permintaan konyolmu itu. Aku akan membebaskanmu jika suamiku bangkit dari kuburnya. Jika kau memang jenius, kau pasti bisa kabur dari tempat ini. Ini bahkan sudah setahun lebih kau terkurung ditempat jelek ini." Sinis Aurora melenggang pergi. Ia ganti menuju kearah Viona.
"Hei, lepaskan aku, aku tidak bersalah dalam hal ini!! Brengsek! ini ulah mereka berdua. Lepaskan aku!" seru Yudha. Aurora bergeming, mengabaikan Yudha yang mengumpatinya.
"Kevin! Panggil Alex kemari. Hari ini aku ingin melihat pertunjukan seru di tempat ini. Aku ingin melihat seberapa besar mulut mereka menjerit!" ucap Aurora tersenyum sinis.
"Yes Queen."
Viona yang melihat itu hanya menunduk dan memundurkan duduknya. Ia sudah lelah dengan permainan mereka. Ia juga sudah menyadari kebodohannya. Bagaimana pun,menyesal pun tiada guna.
"Hohoho.. kenapa menghindar,.. aduh, kenapa wajahmu bisa seperti itu Viona. Apa itu juga karena dosamu. Oh kau seperti Frankenstein. Wajahmu buruk sekali. Kau sangat mengerikan." Hardik Aurora.
"Kembalikan anakku." ucap Viona bergumam tak jelas.
__ADS_1
"Apa, aku tak mengerti apa yang kau katakan. Kau mengatakan apa hem,,, Dimana suara mulut busukmu itu! Oh aku ingat, kau sudah tak punya lidah ya. Oh miris sekali hidupmu Viona." ejek Aurora
"Dimana anakku!" gumam Viona
"Hah, kau bilang anak?" Aurora mengetukkan jari didagunya.
"Oh bayi imut itu. Dia aman bersamaku. Apa kau ingin melihatnya?" Aurora tersenyum lebar melihat Viona mengangguk cepat.
"Ha ha ha. Kau ibu menyedihkan Viona. Sampai kapan pun aku tak mengijinkan kau bertemu anakmu. Itu balasan karena kau sudah memisahkan anak anakku dengan ayahnya. Kau terlalu meremehkan kami Viona. Nikmati saja hari harimu disini. Renungilah kesalahanmu."
Viona menangis sedih, tapi ia tak bisa melakukan apapun. Ia menatap Aurora yang berpaling muka dan meninggalkannya begitu saja.
"Sudah puas membuat drama kecelakaan? Aku akui skenariomu sangat apik Darius. Katakan alasanmu kenapa kau berniat membunuh kami Darius! Apa salahku dan putraku padamu hingga kau begitu tega. Siapa yang memerintahkanmu." tanya Aurora dingin.
"Maafkan saya." Darius menunduk.
"Apa kau pikir, minta maaf akan menyelesaikan semua masalah yang sudah kau timbulkan hem, apakah kau pikir, dengan minta maaf, suamiku akan bangkit dari kubur. Katakan! Jika iya, aku akan memaafkan dan membebaskanmu."
Darius terdiam.
"Katakan dengan sejujurnya Darius, mungkin aku bisa mengampunimu. Atau kau ingin aku memaksa mu buka mulut lewat ayah, ibumu atau saudaramu yang lain? Kau tau benar, aku bukan orang penyabar." kata Aurora
Darius diam.
"Siapa yang mengutusmu." tanya Aurora lagi
"Tidak ada." jawab cepat Darius
"Benarkah?! tapi jika dilihat dari wajahmu, kau seperti sedang berbohong padaku."
"Oke. Kita tunggu Alex kemari. Kalian terlalu membosankan. Kau memang tak bisa diajak kerja sama dengan baik, kalian suka disiksa baru mau mengaku. Terserah itu pilihan kalian." Aurora melenggang keluar diikuti Kevin dibelakangnya.
.
.
Ditempat lain, Alex yang baru saja keluar dari bandara dan sudah duduk di kursi kemudi mengerutkan kening saat Kevin menelfonnya. Ia mendengarkan Kevin berbicara sambil menatap wajah Zanitha yang tampak cemberut.
__ADS_1
"Oke, aku segera kesana." jawab Alex datar. Panggilan pun terputus. Ia tersenyum tipis dan mulai melajukan mobilnya.
"Ada apa? baru pulang mau kerja lagi." tanya Zanitha tanpa menoleh kearah suaminya.
"Hem. Ada yang harus segera aku selesaikan. Aku akan mengantarmu pulang." Jawab Alex.
"Kerja lagi, kerja lagi. Emangnya gak ada yang bisa gantiin kamu! Kamu kan baru pulang. Istri juga dianggurin lagi. Kamu mah sukanya gitu." Zanitha cemberut
Alex hanya diam. Serba salah jadinya. Zanitha ternyata bukan tipe wanita yang pengertian. Ia bingung menghadapi situasi ini.
"Kamu kan tau, akunya emang dibutuhkan banyak orang. Loyalitas pekerjaan. Yang sabar ya, mungkin ini karena kehamilanmu, jadinya kamu emosian. Jangan marah marah, kasian adik bayinya." ucap Alex sembari mengelus perut istrinya.
"Ini ya, semua ini gara gara kamu. Coba saja, kamu gak kehilangan kendali. Pasti gak gini jadinya."
Alex mengusap wajahnya. "Ze, kita menikah karena cinta bukan? Lalu kenapa sekarang kamu begitu?" tanya Alex pelan.
"Ya itu juga karena kamu. Kamu kerjaannya kerja terus. Aku diabaikan. Setiap hari kek gitu. Kamu pikir kamu masih bujangan!" marah Zanitha.
"Ze, please jangan berdebat sekarang. Aku tau kamu lagi marah, tapi ini juga penting. Aku janji, setelah ini aku pulang deh."
"Janji janji! Penipu. Kamu selalu saja gak tepatin janji. Apalagi jika berurusan dengan istri Tuan Edward. Apa hebatnya sih dia sampai kamu jadi nurut banget sama dia. Jangan jangan kamu ada rasa ya sama dia."
Alex seketika menepikan mobilnya. "Ze, please jangan bicara yang tidak tidak. Aku ngerti, aku maklum kalau kamu lagi hamil, aku ngak akan marah, tapi please jangan menyangkut pautkan dengan Aurora. Dia itu bos aku sayang. Aku kerja sama dia. Tolonglah jangan seperti itu." Mohon Alex. Ia menyugar rambutnya frustasi. Ia tak tau kenapa rumah tangganya bisa serumit ini.
"Tau ah. Sana, kamu naik mobil belakang. Aku mau pulang sendiri!" ketus Zanitha.
"Sial, apa sih mau wanita ini." gumam Alex menggertakkan giginya. Ia amat kesal sekali.
Alex pun mengetikkan pesan pada bawahannya dan mulai melajukan mobilnya kembali.
.
.
.
####
__ADS_1