
...Inilah kehancuran. Jika aku hancur, maka hancurlah semua. Jika ini akhirku, maka ini adalah awal keretakkan kalian. Itu buah karma yang harus kalian terima. ...
...-Madam Yora-...
Ditempat Aurora berada.
Helikopter mereka mendarat dengan baik di tepi pantai sesuai dengan instruksi dari Selly setelah sebelumnya mengalami berondongan peluru dari pihak madam Yora.
Aurora dan anggotanya segera turun dengan membawa tas perlengkapan mereka dan segera pergi bersembunyi.
Kevan segera menerbangkan helikopter kembali sebelum benda itu diledakkan oleh pihak madam Yora. Pria itu sebenarnya tidak terlalu sehat, tapi memaksakan diri untuk membantu Aurora.
"Brian, sudah sampai dimana anggota DQ yang menggunakan yacht."
"Sebentar lagi mom. Mungkin sekitar 16 menit lagi."
Aurora menghampiri David yang akan menerbangkan drone. Pria itu terlihat begitu serius dengan ponsel yang akan ia gunakan sebagai konsol atau penggerak drone tersebut.
"Nona, kita masuk menyelinap atau terang terangan. Sepertinya bangunan itu tidak dijaga banyak orang."
"Mereka sudah tahu kedatangan kita. Aku akan masuk lewat depan, kalian menyelinaplah. Cari dan selamatkan putraku terlebih dahulu."
"Tapi,.."
"Jangan membantahku David! Kerjakan saja tugasmu!"
"Baiklah, setidaknya tunggu anggota kita lainnya."
Aurora bergeming. Pikirannya hanya fokus pada dua putranya.
.
.
Didalam Village Tuan Erick.
Al dan El kembali diikat dengan mulutnya dilakban. Anak itu dimasukkan kedalam almari dan dikunci dari luar. Mereka sama sekali tak berdaya. Memberontak pun tidak ada guna.
"Bagaimana." tanya Roxi pada Hugo yang sedang mengisi amunisi kedalam senapan laras panjangnya.
"Mereka sudah sampai. Bersiaplah. Kita akan mati hari ini." ujar Hugo dengan pandangan yang sulit diartikan.
Roxi terbelalak mendengarnya. Kenapa algojo itu bisa berkata demikian.
"Kenapa bicara seperti itu. Memangnya kamu sudah bosan hidup!" dengus Roxi.
"Entahlah, kau kan tau siapa mereka."
Diam sejenak. Pria itu masih fokus pada senjatanya.
"Jika masih ingin hidup, cepat pergi dari sini dan ajak Lauren. Kita tidak punya banyak waktu Roxi. Jika kamu memilih tinggal pilihannya hanya ada dua. Ditangkap atau mati ditempat. Ditangkap mereka juga bukan hal yang baik. Malah kau akan merasa lebih baik mati ditempat. Pikirkan!"
"Hei, kamu mau kemana!" seru Roxi begitu melihat Hugo menjauhinya.
"Menyelamatkan diri. Sampai jumpa."
Roxi membulatkan mata saking tak percayanya. Menyelamatkan diri? Mustahil. Bagaimana caranya kabur. Ini adalah lautan, bukan daratan. Bisa sampai disini saja juga naik helikopter. Memangnya dia mau menyelam. Roxi tak habis pikir.
__ADS_1
Madam Yora secepat kilat mengganti gaunnya dengan pakaian tempurnya. Wajahnya begitu muram ketika mendengar kabar Aurora bisa datang ke Pulau kecil ini. Padahal bukan ditempat ini ia akan melakukan pertukaran. Sayang sekali, Lauren telah gagal memblokir sinyal keberadaan mereka.
Wanita itu mengambil ponsel dan segera mengunggah rekaman video ke dalam situs gelap. Wanita itu mengetikkan beberapa kata didalamnya.
Bibirnya melengkung sinis.
Inilah kehancuran. Jika aku hancur, maka hancurlah semua. Jika ini akhirku, maka ini adalah awal keretakkan kalian. Itu buah karma yang harus kalian terima.
Erick menatap madam Yora dengan penuh kebencian. Pria itu masih terikat di ranjang dengan tubuh tanpa busana dan hanya selimut tipis yang menutupinya.
"Lepaskan aku Yora."
Madam Yora tersenyum tipis dan menghampirinya.
"Apa kamu mau lagi. Sepertinya tenagamu masih banyak."
Tuan Erick memalingkan muka seraya memejamkan mata. Jika saja yang didepannya ini adalah istrinya sendiri, ia akan pasrah diperlakukan seperti itu, tapi ini.
"Baiklah aku akan memberimu penawar. Kau mau yang mana. Merah atau yang kuning. Atau dua duanya juga boleh."
"Aku mau kau melepaskanku!" bentak Tuan Erick.
"Wow. Kasar sekali, tapi aku suka. Aku suka pria kasar sepertimu. Karena kamu kasar,aku akan memberimu tiga dosis sekaligus. Tenang saja, yang satu hanya obat tidur. Tapi kamu tetap bisa merasakannya, walau kamu sedang memejamkan mata. Apa ini ide yang bagus?"
Tuan Erick memberontak. Obat apa lagi itu.
"No! singkirkan jarum itu dariku! Oke aku akan melakukan apa yang kamu mau! Jangan lakukan itu padaku!" teriak Tuan Erick yang merasa ngeri.
Madam Yora tak peduli. Ia menyingkap selimut dan langsung menancapkan suntik itu pada paha Tuan Erick.
Pria itu mengerang menahan sakit. Entah suntikan apa yang digunakan madam Yora, sakitnya bahkan sampai ke ubun ubun.
"Yora!!! aku akan membunuhmu jika seperti ini pada akhirnya!"
"Coba saja kalau bisa. Sebelum kamu berhasil menyentuhku, kau akan lebih dulu merasakan akibatnya. Kau tau serum yang telah masuk ke dalam tubuhmu?" Madam Yora menyeringai.
"Seumur hidupmu, kau akan menjadi seorang yang hiperseks, dan racun itu akan menggerogoti tubuhmu perlahan. Kau akan merasakan apa itu sakit dan aku pastikan tidak ada yang bisa membuat penawarnya. Apa aku begitu baik?"
"Bang Sat kau Yora! Go to the hell!!!"
"Baiklah. Tidur jika kau merasa mengantuk. Aku pastikan putramu sendiri yang akan menjemputmu disini. Pastikan kau tidak menyetubuhi anggotaku."
Tuan Erick terbelalak mendengarnya.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya. Madam Yora membenahi pakaiannya dan bersiap keluar. Ia akan menyambut kedatangan Aurora dengan tangan terbuka.
"Pastikan dia tidur dan lepaskan talinya." ujar madam Yora sebelum menghilang dari balik pintu.
Hugo mengangguk. Pria itu menatap Tuan Erick kasihan. Ia segera mengambil suntik dan menusukkannya pada lengan Tuan Erick.
"Semoga efeknya berkurang. Maaf aku tidak bisa membantumu banyak." ujar Hugo dan berlalu pergi dan tak melepas ikatan tali.
.
.
Aurora menatap bangunan tinggi didepannya. Wanita itu dengan wajah datarnya memasuki Village Tuan Erick. Matanya begitu waspada dengan keadaan disana.
__ADS_1
Dua orang anggota gagak hitam langsung menghadang langkah Aurora.
"Tinggalkan senjatamu diluar!"
"Jangan mom!" seru Brian memenuhi indra dengarnya.
"Menyingkirlah. Aku tak berurusan dengan kalian!" Aurora mengacungkan dua pistolnya.
"Letakkan senjatamu atau sniper kami yang membunuhmu." desis Pria itu.
Aurora semakin awas.
"Mereka ada di jam 1 dan 9 mom! Tunggu, ayah sedang membidik mereka dengan drone kita." ujar Brian melalui earpeace Aurora.
Aurora langsung menendang kaki dan memukul perut mereka begitu terdengar satu tembakan. Seketika wanita itu langsung menekan dua pelatuknya dan tepat mengenai titik vital mereka.
"Cih! menyusahkan saja."
Anggota DQ segera merapatkan barisan begitu Aurora memberinya kode. Mereka mengepung dari empat penjuru.
"Yora!! Keluarlah dan jangan menjadi pengecut!"
DOR
Aurora menembak lampu kristal di ruang tengah yang begitu luas itu.
Tidak ada jawaban.
"Yora!"
DOR
Aurora menembak anggota gagak hitam yang terlihat dari sudut matanya.
Aurora menajamkan penglihatannya.
"Yora! Keluar atau aku ratakan dengan tanah bangunan ini!" seru Aurora lagi.
Madam Yora yang mendengarnya tersenyum aneh. Wanita itu menuruni anak tangga dengan gaya angkuh diikuti Hugo, Roxi dan Lauren dibelakangnya.
"Kamu menyerahkan nyawamu heh." Sindir madam Yora.
"Dimana dua putraku! Kau apakan mereka hah! Lepaskan mereka! Urusanmu denganku! Apa yang kalian mau!"
"Aku akan melepaskannya jika kalian membawa Kenta. Dimana Kenta."
"Aku tidak akan menyerahkannya. Aku tidak melibatkan anak anak dalam urusan kita!"
"Keparat!!"
DOR
"Queen!!"
.
.
__ADS_1
.
######