
Ajeng benar-benar merasa bersalam karena malam pertamanya yang tertunda gara-gara ia
tidak bisa menahan sakit. Ia benar-benar tidak konsen membuat desain bajunya,
ia meletakkan pensilnya begitu saja di atas buku gambarnya.
Apalagi saat ia ingat wajah lusuh suaminya saat berangkat kerja tadi. Ia benar-benar
merasa bersalah.
“Aku harus bagaimana? Aku benar-benar tak punya pengalaman begituan!”
Ajeng memegangi kepalanya, ia mulai memutar otaknya. Menyandarkan punggungnya di
kursi, al tidak mengijinkannya masuk kantor gara-gara kejadian tadi lama.
“Ah …, apa aku tanya mbak Diah aja ya, dia kan berpengalaman!”
“Tapi kan malu ….!”
“Ah …, googling aja deh!”
Ajeng mengambil ponselnya dan melakukan pencarian. Ia mengetikan tentang hal-hal yang
berhubungan dengan malam pertama.
“Aku menemukannya!”
“Jadi di sini mengatakan kalau malam pertama biasanya akan terasa sangat sakit untuk
perempuan, tapi lama-lama rasa sakit itu akan hilang dan berubah menjadi
kenikmatan saja! Astaga …, ada artikel seperti ini ternyata!”
“Untuk pria …, biasanya pria akan merasakan sakit saat mereka tidak mencapai
pelepasan, maksudnya ….?”
Ajeng menscroll ke bawah artikel itu, ia membacanya dengan seksama.
“Pria biasanya akan merasakan pusing apabila hasratnya tidak tersalurkan!”
“Hah …, kasihan sekali mas Al, pasti tersiksa sekali tadi malam! Aku harus apa
sekarang? Apa perlu aku mencobanya sekali lagi? Ya aku harus mencobanya!”
Sore ini Ajeng sudah bersiap menyambut kedatangan Al. ia sudah berpenampilan luar biasa, ia memakai pakaian yang sedikit terbuka.
“kenapa aku jadi sangat gugup? Ya Allah bantu aku …!”
Tok tok tok
“Aku semakin gugup saja!”
Ajeng segera berlari ke depan, ia dengan cepat membukakan pintu itu. Ia benar-benar
berharap itu suaminya. Tapi ternyata yang datang orang lain.
“Maaf bu, apa benar ini rumah bu Ajeng?”
“Iya …., kalian siapa ya?”
“Kami dari mengiriman barang, pak Aldevaro mengirimkan ini untuk bu Ajeng!”
“Mas Al?”
“Silahkan tanda tangan di sini!”
Ajeng pun segera menandatanganinya dan membawa satu kotak besar itu masuk kembali ke dalam rumah setelah orang itu pergi.
“Kenapa jadi kebalik sih, aku yang mau memberi surprise , malah aku yang di kasih
surprise duluan! Mas Al benar-benar nggak bisa di tebak!”
__ADS_1
Ajeng bergegas membuka kotak besar itu, isinya sebuah gaun lengkap dengan sepatu dan
tas, begitu indah. Ada sebuah surat di dalamnya.
Dear my wife
Sayang …, setelah apa yang kita lalui selama ini …, mungkin ini tidak akan cukup untuk bisa
menggambarkan betapa bahagianya hatiku saat ini bisa memilikimu….
Sayang …., sampai jumpa malam ini ya …., sopir akan menjemputmu dan pakailah gaun itu, aku akan menunggumu …
Salam sayang dari suami yang selalu merindukan hadirmu ….
^^^I miss you my wife^^^
^^^Your husband^^^
Ajeng begitu senang menerimanya, setelah melaksanakan sholat magrib ia segera
mengganti pakaiannya dnegan gaun yang sudah di kirimkan oleh suaminya. Ia
memoles wajahnya dengan sedikit riasan.
Tak berapa lama, sebuah mobil masuk ke halamannya, seorang sopir sudah bersiap di
samping mobil. Ajeng menutup kembali pintunya dan menguncinya. Ia menghampiri
sopir itu.
“Mari pak, saya sudah siap!”
“Silahkan bu Ajeng!” pak sopir sudah membukakan pintu mobil untuk Ajeng. Setelah
memastikan Ajeng masuk ke dalam mobil, sopir pun juga mulai melajukan mobilnya.
Meraka menuju ke tempat yang sudah di tunjuk oleh Al.
Di sebuah hotel, sopir itu menurunkan Ajeng. Ajeng mendapatkan banyak klu dari secarik
akhirnya Ajeng sampai di sebuah kamar VVIP. Kamar nomor satu di hotel itu
dengan segala fasilitasnya.
Ajeng segera masuk ke dalam kamar itu, sesampai di dalam ia di buat terkejut dengan
nuansa makan malam yang indah di dalam kamar. Dengan lilin-lilin kecil yang
menyala begitu indah, sebuah meja dengan dua buah kursi, kamar tidur yang
bertabur dengan kelopak bunga mawar merah.
“Mas Al….!” Ajeng mengedarkan pandangannya. Ia berdiri di depan meja itu, meja yang
penuh dengan ,makanan dan sebuah lilin kecil. Temaram cahaya lilin menambah
suasana syahdu. Dengan alunan musik yang romantis.
“Assalamualaikum, istriku!” ucap Al sambil memeluk tubuh Ajeng dari belakang, entah berdiri di mana pria itu tadi.
“Waalaikum salam mas ….!” Ajeng memegang tangan Al yang berada di perutnya.
“Mas aku suka surprise nya!”
“Aku senang jika kau menyukainya, ayo sayang kita makan, sudah lapar kan!” Al menggiring Ajeng duduk di salah satu kursi, setelah Ajeng duduk Al pun mengambil duduknya.
Mereka menikmati makan malam indah di temani cahaya lilin dengan pemandangan kota
Malang saat malam hari dari jendela lebar itu.
Al benar-benar memanjakan Ajeng dengan sesekali menyuapi makanan ke mulut istrinya
itu.
__ADS_1
“Rasanya pasti lebih enak jika makan dari sini!” ucap Al sambil menunjuk bibir Ajeng.
“Apaan sih mas!”
“Suapi aku dari sini sayang …!” ucap Al sambil kembali menunjuk bibir Ajeng. Ajeng pun
mengambil sepotong kentang dan menggigitnya, ia mendekatkan bibirnya pada Al
dan dengan cepat Al menggigit kentang itu hingga bibir mereka saling bertemu.
Al segera ******* bibir Ajeng dengan penuh cinta. Ia melakukannya dengan penuh
cinta, membuat Ajeng begitu nyaman bersamanya. Ciuman itu berlangsung cukup
lama hanya ada cinta dan keinginan untuk di cintai.
“Mas …!” ucap Ajeng saat Al sudah melepaskan ciumannya.
“Iya?”
“Bisakah kita mencobanya lagi?”
“Hah?”
“Kita mencobanya sekali lagi, aku sudah siap menjadi milikmu seutuhnya!”
“Benarkah?”
“Iya!”
“Bukan karena merasa bersalah padaku? Aku benar-benar tidak akan memaksamu sayang,
dengarkan aku …!” Al menakup kedua pipi Ajeng.
”Mas nggak mau membuatmu merasa
tertekan, kita bisa lakukan lain waktu …, aku akan sabar menunggunya!”
“Tidak Mas …, aku sudah benar-benar siap!”
“Benarkah?”
“Iya!”
“Baiklah jika seperti itu, kita ambil wudhu dulu ya …, sholat isya’ sekalian sholat
sunah!”
Mereka melakukan sholat isyak berjama’ah di lanjut dengan sholat sunnah dua rakaat.
Setelah selesai mereka segra bersiap di atas tempat tidur,
“Apa sudah benar-benar siap?” Al bertanya sekali lagi p[ad Ajeng dan ajeng pun
menganggukkan kepalanya.
Al pun segera melaksanakan tugasnya, awalnya Ajeng melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, tapi saat Al hendak menghentikannya Ajeng segera menahannya meminta suaminya untuk melanjutkannya. Dengan sangat hati-hati Al melakukannya, hingga larut malam mereka baru menyelesaikannya.
Al mencium wajah Ajeng, seakan tidak meninggalkan se-inci pun dari wajah istrinya, Ajeng sudah tertidur dalam dekapannya.
Spesial Visual Ajeng
spesial Visual Aldevaro
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘