
Pagi harinya David terbangun seperti orang kelelahan, lututnya terasa kopong bahkan kejantanannya terasa ngilu dan sakit. Ia memegangi dahinya yang terasa hangat.
David mencoba mengingat yang terjadi semalam. Ia merasa malu dengan dirinya yang bahkan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Apa lagi mengingat adegan panas dengan seorang pria. Untung saja ada nonanya yang menghentikan kegilaannya.
David menatap disekelilingnya, ia menemukan seorang pria yang tidur di sofa kamarnya. Ia menajamkan penglihatannya, dahinya mengerut mencoba menebak siapa pria itu.
"Bukankah dia bodyguard Tuan Edward ?"
Ia kemudian mencoba menurunkan kakinya untuk pergi kekamar mandi, mencoba berdiri tegak, tapi nyatanya kakinya seperti jeli. David memaksa tubuhnya melangkah, baru tiga langkah kedepan, ia kaget dengan suara bariton dalam ruangan itu. Pasalnya pria itu terbangun saat dirinya tak mengenakan apapun di tubuhnya.
"Anda mau kemana Tuan.!"
"Aku mau kekamar mandi, balikkan badanmu, apa kau tak malu melihatku seperti ini..!?" ucap datar David, padahal dirinya sangat malu sekali.
"Baiklah, panggil saya bila membutuhkan sesuatu."
"Hemm"
.
.
Sedangkan Aurora tengah bersiap untuk berjalan jalan sebentar sebelum nanti malam terbang ke Filipina.
Pakaian casual yang dipilihnya, celana jeans dan sweter putih pilihannya saat ini. Rambutnya ia gerai dan ia masukkan ke dalam beanie hat . Sepatu kets adalah alas kaki pilihannya saat ini.
Wajah cantiknya semakin cantik karena padu padan busananya. Ia tersenyum cerah didepan kaca cerminnya.
Ia menenteng slim bag nya dan keluar dari kamar hotelnya. Aurora berdiri di depan pintu kamar David, lalu mengetuk pintu dengan kontak mobil yang ia bawa.
Tok tok tok..
Pria suruhan Edward yang membukakan pintu, dia menatap datar ketika melihat istri bosnya, tak ada wajah ramah dalam dirinya.
"Apa David sudah bangun?"
"Sudah. Dia sedang di kamar mandi nona. Silahkan masuk ."
"Hemm."
Aurora duduk dan mengambil ponselnya. Ia mengetikkan beberapa pesan pada suaminya.
"Apa nona akan pergi ''
"Ya, "
"Baiklah saya bersiap dulu. Saya ditugaskan suami anda untuk selalu mengawal anda. Harap anda mengerti dan jangan menolak "
"Terserah..' Aurora memutar bola matanya malas. Ia sama sekali tak peduli dengan bodyguard suaminya.
"David..!!" seru Aurora
"Ya.." David menoleh dan mendapati Aurora yang sedang bersedekap dada menatap dirinya.
"Bagaimana keadaanmu, apa sudah lebih baik ?"
" Sudah., "
David melangkah mendekati Aurora yang duduk di sofa. Ia duduk berhadapan dengan nonanya. Wajahnya menatap serius mimik nonanya, ia mencondongkan wajahnya kedepan.
__ADS_1
"Nona, saya mohon jangan ceritakan pada yang lain mengenai kejadian semalam."
"Heh.." Aurora menaikkan sebelah alisnya. Ia mencondongkan badannya kedepan,
"Apa kau seorang gay?" ucapnya pelan
David terdiam dan menegakkan tubuhnya.
"Tidak, aku bukan gay nona. Apa nona meragukan saya." ucap David menyeringai.
"Kau menjijikkan David...!!" kesal Aurora
"Hahaha..." David tertawa senang melihat wajah kesal Aurora.
"Ceritakan padaku tentang kejadian semalam. Kenapa bisa kau bertemu dengan pria gay itu.!"
"Aku tak ingat betul, aku hanya ingat , waktu itu aku minum di longue dan bertemu pria itu. Dia mengajakku minum bersama. Tak lama setelah itu tubuhku terasa gerah dan seperti yang anda lihat."
"Lalu bagaimana bisa kalian bercumbu seperti itu. Kau benar benar sudah gila David, aku tak habis pikir denganmu. Bisa bisanya kau melakukan hal gila seperti itu. Kalau suamiku tahu, kau akan dihajar habis habisan olehnya. Kau sudah menodai mata ini David.!"
"Hahaha.. Apa nona tidak tertarik dengan milik pria itu..? mungkin besarnya sama dengan milik suamimu nona. Aku bahkan melihatnya dengan jelas."
Mata Aurora seketika melotot mendengar ucapan David.
" Tutup mulutmu atau ku ledakkan telurmu. Aku tak pernah main main dengan peringatanku. Kalau kau mau mencoba, aku akan buktikan padamu." ucap Aurora dengan seringainya, ia menarik pistol dibalik pinggangnya dan mengokang dihadapan David.
David menelan ludahnya, ia mengangkat tangannya keatas. Ia mati kutu jika harus berurusan dengan pistol Aurora.
"Slow nona, slow..aku hanya becanda. Jangan sampai kau merusak masa depanku. Turunkan pistol anda nona."
"Takut heh.. Kau mulai banyak bicara David. Aku akan menghukummu karna kau membuatku kesal, huh..!"
.
.
Ban mobil Aurora akhirnya berhenti di depan kafe yang lumayan ramai karna sedang ada live musik. Entah mengapa hatinya mengajak singgah dikafe itu.
Aurora memesan segelas kopi yang terkenal dikota itu. Menunggu pesanannya datang, Aurora memilih untuk memainkan ponselnya. Banyak panggilan masuk disana, tapi Aurora enggan menelfon balik suaminya. Ia hanya menuliskan pesan i'm sorry baby.. pada nomor suaminya.
"Sweet coffee for a girl as beautiful as you." ucap waiter laki laki itu
Aurora memilih tersenyum menanggapi waiter itu.
Aurora sangat menikmati malam itu, sajian live musik ditempat itu sangat membuatnya terhibur walau tak ada teman disamping tempat duduknya.
Dari arah panggung seorang pria tersenyum menatap wajah Aurora yang menurutnya sosok bintang yang paling bersinar diantara kunang-kunang.
Dia menyanyikan sebuah lagu romantis yang membuat tubuh Aurora terpaku dari tempat duduknya. Entah karena ketampanannya atau karena suara merdu pria itu. Bahkan ia sampai tak berkedip melihat pria itu bernyanyi.
Beautiful in white
Not sure if you know this
(Aku tak yakin kau tahu ini)
But when we first met
(Namun sejak pertama kita bertemu)
__ADS_1
I got so nervous I couldn't speak
(Aku merasa begitu gugup, aku tak bisa berucap)
In that very moment
(Pada saat itu juga)
I found the one and
(Aku menemukan seseorang dan)
My life had found its missing piece
(Hidupku menjadi lengkap)
So as long as I live I love you
(Jadi selama aku hidup, aku mencintaimu)
Will have and hold you
(Aku akan memiliki dan memelukmu)
You look so beautiful in white
(Kau terlihat begitu cantik dengan gaun putih)
And from now 'til my very last breath
(Dan mulai sekarang sampai nafas terakhirku)
This day I'll cherish
(Hari ini akan selalu kuingat)
You look so beautiful in white
(Kau terlihat begitu cantik dengan gaun putih)
Tonight
(Malam ini)
Tubuh Aurora membeku saat pria itu turun kebawah dan menarik tangan Aurora menuju panggung untuk bernyanyi bersama.
Sorakan penonton yang ada dalam kafe itu membuatnya tersadar dari kebekuannya. Aurora mengikuti pria yang membawanya ke panggung.
Aurora meneteskan airmatanya memandang wajah tampan pria itu. Wajah tampan yang tidak ia temui sejak kejadian penculikan waktu itu.
Pria itu mengusap airmata Aurora, ia masih tetap meyanyikan reff lagu itu berulang ulang sambil memandangi wajah cantik Aurora yang masih menangis dihadapannya.
"A..Aldi.."
Aldi mengangguk dan tersenyum bahagia, "You look so beautiful to night."
.
.
__ADS_1
.