
"Brengsek! Tunjukkan rekaman cctv di tempat bocah itu padanya! Apa mereka pikir aku hanya berbicara omong kosong, kalian meremehkanku." ucap Kimura marah.
Asisten Kimura segera mengambil laptop dan langsung menghubungkan ke Tv Led yang ada ditengah ruang itu.
Aurora dan Edward sampai menahan nafas saat mengetahui keadaan Brian saat itu. Tangan dan kakinya diikat dengan memar di ujung bibirnya dan hanya memakai dalaman, meringkuk di pojokan pintu.
"Biadab! apa yang kau lakukan padanya!" Bentak Edward marah, berdiri dan mengacungkan pistol yang dibawanya.
"Letakkan pistolmu, atau aku akan melakukan sesuatu buruk pada anak itu. Aku sudah menanam peledak disekitarnya. Jangan macam macam!" Gertak Kimura.
Edward menurunkan senjatanya dan menatap Aurora.
"Nona Aurora, aku memberimu penawaran baik baik, kenapa anda tidak bisa bekerja sama dengan baik? Bukankah ini barter yang tidak merugikan siapapun? Aku hanya meminta anakku. Apa susahnya kau berikan saja. Apa anakku sudah kau bunuh?" Kimura melotot marah dengan pemikirannya sendiri.
"Aku tak membunuh baby Kenta. Apa kau pikir aku orang picik yang membunuh manusia tak berdosa? Lepaskan putraku, setelah itu aku akan menunjukkannya padamu. Tapi kau tak boleh membawanya!" tegas Aurora.
"Kenapa! Kenapa aku tak boleh membawanya! Dia putraku, oh benarkah dia seorang putra?"
"Aku pikir anda tidak tuli Tuan." sindir Aurora.
"Oke, bawa anak itu kemari!" perintah Kimura pada asistennya. Ia sudah tidak sabar melihat putranya.
Aurora yang melihat itu hanya menatap datar kemana asisten itu mulai menghilang dari pandangannya.
"Jadi katakan kenapa aku tak boleh membawanya. Aku jauh jauh kemari hanya untuk melihat keadaannya. Anda selalu saja mempersulitku. Jadi aku memanfaatkannya anak itu."
"Kau harus membayarnya dengan mahal atas kejadian ini Tuan."
"Apa, aku tak berniat menculik anak itu. Aku malah yang menolongnya."
"Anda tidak menolong, anda memanfaatkannya. Kau melukai fisiknya!" sahut Edward marah.
"Mommy!!" seru Brian saat melihat Aurora.
Brian berlari dan langsung memeluk Aurora, ia tak peduli saat itu ia tak memakai baju.
"Kamu baik baik saja?" tanya Aurora pelan.
"Thank you mom, aku baik baik saja. Hanya saja,.."
Edward langsung melepaskan jasnya dan memberikan pada Brian.
Brian menatap Edward, "Bolehkah aku memelukmu dad,.." ucap Brian lirih.
Edward hanya mengangguk pelan. "Terima kasih, aku menyayangimu Dad."
__ADS_1
Edward mengusap kepala Brian dan tersenyum lembut. "Kamu hebat."
Kimura menatap jengah ketiga manusia didepannya. Sudah sedari tadi ia bersabar menunggu.
"Jadi dimana putraku!"
"Kami akan mengantar putraku pulang dahulu, setelah itu anda temui kami di rumah sakit GL. Katakan saja ingin menjenguk Kenta. Aku akan mengkonfirmasi pada pihak rumah sakit jika kau akan datang berkunjung. Ingat jangan coba coba membawanya atau kau akan tau akibatnya." ucap Aurora dingin. Ia langsung menggandeng Brian dan membawanya pergi.
Sedang Edward tersenyum miring, seolah menertawakan kebodohannya.
Di dalam mobil yang dikemudikan Edward, Brian hanya bersandar pada bahu Aurora. Sedangkan Aurora masih sibuk menelfon sana sini untuk memberikan instruksi pada anggotanya agar menghentikan pencarian Brian. Sontak hal itu membuat mereka terkejut, karena Aurora tak mengatakan alasannya.
"Mom, bagaimana mom tahu, aku ada di mansion pria itu?"
Aurora tersenyum tipis, "Dia sendiri yang memberi tahu mommy."
"Benarkah?!" Rasanya Brian tak percaya begitu saja.
"Hem." Aurora mengangguk
"Mom sudah memasang implan microchip pada lenganmu, mungkin selama ini kamu tak menyadarinya, maaf."
Brian langsung meraba lengannya. Mencari letak benda itu. Bagaimana bisa dirinya sendiri tak menyadari saat mommynya memasukkan benda itu.
"Apa Al dan El juga memakainya mom."
Seketika Brian bergidik ngeri, jarum yang digunakan pasti bukan jarum suntik biasa. Ia menggeleng pelan.
"Kamu takut?" Aurora terkekeh melihat Brian yang terlihat pucat.
"Lalu bagaimana keadaan ayah? apa pria itu baik baik saja? awas saja jika dia terluka, aku tak akan memaafkannya." Brian mengalihkan pembicaraan.
"Sepertinya ayahmu tidak baik baik saja. Dia dirawat di rumah sakit. Dadanya terkena luka tembak. Doakan saja tidak terjadi sesuatu yang fatal."
Brian terdiam, matanya tiba-tiba memanas, ia teringat kejadian tadi pagi.
"Apa aku benar anak pembawa sial Mom, kenapa selalu saja ada kejadian buruk yang harus melibatkan orang orang didekatku." ucap Brian lirih.
Aurora langsung mendekap tubuh Brian. Menciumi kepala Brian dengan sayang. Berkali-kali Aurora mengatakan kata tidak untuk membesarkan hati Brian. Ia tak menyangka, kata itu masih terekam jelas di otaknya.
"Bolehkah aku pergi saja dari kehidupan kalian?"
"Tidak, jangan bicara seperti itu lagi. Kamu anak hebat, ini juga bukan kesalahanmu. Tidak perlu menjadi anak yang rendah diri. Dongakkan dagumu lalu tersenyumlah."
"Aku .. aku seperti orang asing diantara kalian, aku bukan siapa siapa."
__ADS_1
"Ssshhtt, kamu putraku. Kamu putra daddy. Kamu kakak Al dan El. Kamu cucu Oma dan Opa, Kakek dan nenek dan kamu masih punya Ayah Yudha, aunty Selly dan tante Amel. Jangan berkecil hati."
Edward yang mendengar itu hanya bisa menghela nafasnya, keadaan semakin memburuk karena ketidakjujurannya.
.
.
Kimura langsung menuju kerumah sakit GL setelah kepergian Aurora. Sampai disana ternyata langit sudah gelap karena memang jarak tempuh sangat jauh dari mansionnya.
Setelah mengatakan tujuannya, ia dan asistennya diantar ke ruang perawatan anak oleh anggota GL yang sedang berjaga saat itu.
Bau obat obatan langsung tercium saat Kimura membuka pintu ruang rawat pertama kali. Ia melangkah perlahan mendekati ranjang pasien.
Seorang balita tiga tahun sedang tertidur dengan semua peralatan medis ditubuhnya. Disampingnya ada seorang wanita yang menjaga bayi itu.
"Apa yang terjadi padanya."
"Baby Kenta terkena infeksi saluran pernafasan bawah Tuan. Saya akan memanggilkan dokter jika anda ingin tahu lebih lanjut. Terus terang saya tidak mengerti tentang dunia medis. Sebaiknya anda mengenakan masker dan tolong jangan mengusik tidurnya, dia baru saja tertidur."
Wanita itu menundukkan kepalanya usai mengatakan hal itu. Ia merasa sudah menggurui dua pria didepannya.
Asisten Kimura langsung mengajak wanita itu meninggalkan ruang rawat. Ia merasa harus memberi waktu pada bosnya.
"Kenapa kamu sakit mengerikan seperti itu? Bagaimana kamu bisa menjadi penerus jika keadaanmu seperti ini? Apa ibumu tak menjagamu dengan baik sewaktu di kandungan? Maafkan aku, harusnya aku tak membuatmu ada didunia ini. Kau jadi susah seperti ini."
Kimura memegang tangan kecil itu dan menciuminya. Bayi dua tahun itu tiba-tiba menggeliat dan mencengkeram jari telunjuk Kimura.
"Oh, kau terbangun."
Kimura terkejut dan menatap bingung, karena didalam ruangan itu hanya ada dirinya saja.
"Pa.. pa..."
Mata manik biru itu perlahan terbuka sempurna, mata yang indah mirip dengan dirinya.
"Hai, ayo tidurlah kembali. Kamu harus banyak tidur jika ingin segera sembuh."
Kimura mengusap pelan kening anak itu. Mencoba menidurkannya kembali.
Sedangkan Aurora yang berdiri di balik pintu mengurungkan niatnya untuk masuk. Ia lebih memilih menunggu di luar bersama Edward.
.
.
__ADS_1
.
#####