Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Pemakaman


__ADS_3

Keesokan harinya, semua nampak berpakaian hitam hitam. Kediaman Tuan Admaja nampak lebih ramai dari semalam. Banyak mobil berjajar yang akan ikut mengantarkan ke peristirahatan terakhir Edward. Banyak pula karangan bunga berjajar rapi memenuhi halaman mansion.


Aurora memeluk papa mamanya yang baru saja tiba dari London. Ia menangis tersedu menumpahkan kesedihannya.


"Papa , Mama... Kak Edward Ma, dia..dia.. pergi meninggalkan Aurora. Dia pria jahat ma..Dia tega sekali meninggalkan kami. Apa salahku mama.." tangis Aurora sesegukan.


Mama Riyanti ikut meneteskan air matanya, ikut merasakan kesedihan yang dialami putrinya. Ia juga merasa kehilangan sosok menantunya.


"Sabar nak, yang tabah.." ujar mama Riyanti mengusap punggung putrinya.


"Apa sama sekali tak berarti perjuanganku selama ini ma.. Apa dia tidak kasihan denganku mama. Bagaimana aku bisa membesarkan ketiga putraku tanpa kehadirannya . Hiks.. hiks.. "


"Ikhlaskan nak, ini hanya masalah waktu. Kamu pasti bisa. Masih ada kami, orang tuamu. Jangan merasa sendiri."


Tuan Hardy ikut memeluk keduanya. "Berhentilah menangis, kita doakan suamimu. Putri papa wanita tangguh bukan. Ayo kita bersiap. Suamimu sudah menunggumu, jangan membuatnya tersiksa lebih lama. Kamu mau bareng kita atau ikut di mobil ambulan?" tanya papanya ketika melihat Alex, Lukas , Andi , Kevan, Kevin dan David bersiap untuk mengangkat peti mati itu.


Aurora mengusap air matanya, "Aurora ikut papa saja. Dimana Brian.." Aurora mengedarkan pandangannya mencari sosok anak yang ia lupakan akibat kesedihannya.


"Papa lihat dia bersama Selly sedari tadi. Mungkin sekarang dia sudah naik mobil duluan. Ayo."


Aurora mengangguk dan memakai kaca mata hitamnya untuk menutupi mata sembabnya. Ia melangkah gontai sambil memeluk foto suaminya yang tersenyum menatapnya.


"Aku tidak percaya jika cinta kita harus berakhir sampai disini. Aku bahkan masih tak percaya jika dirimu sudah berpulang lebih dahulu. Kamu dulu selalu mengajariku untuk selalu mencintaimu, sekarang katakan padaku bagaimana caraku untuk melupakanmu.. Ini terlalu menyakitkan bagiku. Kau tau, semua orang memintaku untuk sabar dan mengiklaskanmu, bagaimana caraku melakukan semua itu sedang separuh nafasku ada bersamamu. Tunggu aku, kita akan bersama lagi. Ku mohon jemput aku jika saat itu sudah tiba." ucap Aurora dalam hatinya. Pikirannya menerawang kebersamaannya bersama Edward. Potongan potongan masa lalu berputar seperti kaset rusak dikepalanya.


Mama Riyanti langsung merengkuh erat tubuh Aurora yang seperti akan pingsan. "Sebaiknya kamu dirumah saja, tubuhmu tak memungkinkan untuk pergi."


Aurora menggeleng lemah, "Tidak ma. Aurora mau ikut. Jangan halangi Aurora."


.


.


Iring iringan mobil pengantar jenazah mengular memenuhi jalan raya. Aurora hanya duduk lemah menatap jalan sembari sesekali mengusap air matanya yang tiba tiba turun tanpa permisi, seakan tak rela melepas kepergian suaminya.


Mobil akhirnya berhenti ditempat pemakaman elit. Aurora melangkahkan kakinya yang terasa berat. Menatap kerumunan orang yang sudah datang lebih dulu ditempat itu.

__ADS_1


Brian yang melihat Aurora berjalan dipapah Mama Riyanti, langsung menggenggam tangan Aurora erat.


"Mom."


Aurora bergeming. Tak merespon Brian. Sepertinya anak kecil itu tau jika pikiran Aurora sedang kosong.


Tuan Hardy langsung menggendong tubuh Brian. "Jangan bersedih terus, Brian Anak kuat bukan? Semua orang akan pergi ketempat ini, tidak ada yang bisa mencegah bahkan menghentikannya. Ini sudah ketentuanNya. Ikhlaskan daddymu, ingat masih ada kami yang menyayangimu, jangan pernah merasa sendiri. okey.." Brian hanya mengangguk lalu merangkul leher Tuan Hardy.


Dokter Rian juga tampak melayat di pemakaman itu. Ia memakai peci dan kaca mata hitam. Ia berdiri disisi Alex.


"Kau menangis.." bisik Rian pelan.


Alex memicingkan matanya dari balik kaca matanya. Tak ikut menimpali ucapan pria itu.


"Kau tak ikut turun kebawah?" bisiknya lagi.


"Tidak. Lagi pula peti itu akan diturunkan dengan tali." jawab Alex pelan.


Aurora bersandar dibahu mama Riyanti untuk melihat prosesi pemakaman suaminya. Ia seakan tak rela jika tubuh suaminya ditimbun dengan tanah. Hatinya perih untuk bisa menerima kenyataan ini.


"Aku ingin melihat wajah suamiku untuk yang terakhir kalinya." mohon Aurora berjalan mendekat.


Alex yang mengerti kode yang diberikan Rian, langsung turun kebawah. Dirinya tidak ingin semua orang menjadi curiga jika yang dimakamkan bukanlah Edward yang asli. Melainkan orang lain yang ia pakaikan topeng sintetis dengan wajah Edward.


Aurora mengangguk lalu mempersilahkan untuk melanjutkan. "Ternyata aku tidak mimpi. Ini semua nyata." gumamnya pelan.


.


.


Ditempat lain, seorang wanita terbahak bahak melihat berita kematian Edward. Ia tertawa puas seakan tak ada beban.


"Ha ha ha Dasar wanita bodoh! Sekarang kalian baru tau rasa kehilangan bukan! Kalian memang pantas mendapatkan semua ini." kata wanita itu ketika melihat tampilan Aurora yang menangis tersedu di layar televisinya.


Anak buah Beni yang menyamar didalam mansion yakusa itu tersenyum menyeringai . Ia segera menghubungi Bos besar mereka untuk memberitahukan berita yang baru yang ia didapatkan.

__ADS_1


"Dasar rubah licik. Tertawalah sepuas hatimu, setelah itu kau akan menerima pembalasan dari kami. Aku pastikan kau akan mengemis kematian pada Bos kami setelah apa yang kamu lakukan pada King Edward." Batin Pria itu.


Alex yang menerima pesan singkat dari anak buah Beni langsung menyunggingkan senyum sinisnya. Ia langsung meluncur ke markas GL untuk memberi perintah pada anggotanya untuk bersiap.


Lukas yang menyadari jika Alex hendak meninggalkan mansion Tuan Admaja langsung membuntuti pria itu.


"Lex, tunggu!" seru Lukas menghampiri.


"Mau kemana?" tanya Lukas pelan.


"Mau ke markas, ada hal penting yang harus aku bicarakan pada mereka. Kau disini saja, biar aku yang mengurus diluar sana. Keluarga ini membutuhkanmu."


"Apa yang terjadi, apa kau sudah menemukan pelaku dibalik kejadian ini?" bisik Lukas, karna tak ingin didengar orang lain.


"Hem, aku akan melakukan penyerangan malam ini juga. Harusnya aku tak meloloskan Viona begitu saja. Sepertinya dia tidak bisa diberi kesempatan hidup. Aku akan membantai habis seluruh penghuni mansion itu." geram Alex hingga mengepalkan tangannya.


"Apa kau bilang! Bang Sat..jadi sirubah betina itu yang melakukan ini! aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri." pekik Lukas tanpa sadar.


"Kendalikan dirimu. Kau ingin semua orang mendengar pembicaraan kita?" Alex menekan kalimatnya.


"Aku akan menyusulmu setelah acara disini selesai."


"Hem, jangan sampai Aurora tau. Aku pergi dulu."


Lukas hanya mengangguk melihat kepergian Alex. Hatinya bertanya tanya, kenapa emosi Alex cenderung biasa biasa saja, padahal dulu saat Edward kecelakaan, ia bahkan mengamuk dan memukuli sepuluh pengawal yang ia tugaskan untuk mengawal Edward ke Singapura.


"Ini aneh atau hanya perasaanku saja. Apa yang terjadi padanya." gumamnya.


Tidak mau berpikiran aneh aneh, Lukas memilih masuk mansion untuk menyiapkan acara untuk nanti malam dari pada menebak nebak tingkah Alex yang menurutnya aneh. Hatinya sebenarnya ingin mengikuti Alex, tapi apalah daya, masalah markas bukan wewenangnya.


.


.


.

__ADS_1


#####


__ADS_2