
Disebuah mansion yang cukup mewah, Jingmi sedang duduk santai diruang tamu ditemani secangkir kopi panas dengan matanya sibuk memindai berita di layar ipadnya. Dirinya sedang melihat berita terbaru tentang keluarga Edward.
Tiba tiba suara dentuman musik keras terdengar begitu nyaring ditelinganya. Pria itu menghela nafas panjang dan meletakkan ipadnya ke sofa. Ia mengusap wajahnya kesal karena kelakuan adiknya.
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐
"Sampai kapan anak itu berhenti membuat ulah. Pagi pagi sudah membuat keributan. Apa dia pikir ini di dihutan..." gumamnya pelan.
"WILLI...!!!" Teriaknya keras, suaranya bahkan sampai menggema diruang itu.
Pelayannya saling memandang.
"Tuan, apa perlu saya panggilkan Tuan muda?!" tanya pelayan tua itu.
"Ya, suruh dia turun sekarang, dan matikan musiknya. Kepalaku rasanya ingin pecah mendengar suara berisik itu..!!" seru Jingmi kesal.
"Baik." Pria itu membungkuk dan undur diri.
Willi turun dari tangga dengan malas, bibirnya menyebik lucu. Ia mendatangi kakaknya dan duduk didepannya. Tangannya ia rentangkan kekanan dan kekiri, kakinya bertumpang sebelah, bibirnya komat kamit menggerutu tak jelas.
"Ada apa kak..!! Kenapa pagi pagi sudah memanggilku, apa kakak tidak tau, ini adalah my time." ucapnya sebal.
"My time.. my time... My time juga tak perlu mengganggu ketenangan orang lain kali.! Apa kamu pikir ini hutan hah...!!" kesal Jingmi melempar bantal sofa kemuka adiknya.
"Ck..!! Kau jangan jadi tua menyebalkan kak..!! itu kebiasaan anak muda, apa kakak tidak tau , itu lagu yang lagi ngehits saat ini..!! Ah susah ngomong sama orang tua..!" sindir Willi memalingkan wajahnya.
Jingmi mengertakkan giginya. Ia makin kesal dengan omongan adiknya. Pria muda itu selalu membuatnya tensi bila berada didekatnya.
"Oh.. aku harap kau tidak ditendang bokongmu oleh kakak iparmu kelak. Aku tak bisa membayangkan wajahmu yang berubah menghitam karena saking malunya. Cih..!! orang seperti itu ngaku pacarnya anak Sultan..!! Menjijikkan..!" ejek Jingmi ketus.
Willi menaikkan sebelah alisnya, ia tersenyum miring.
"Itu tidak akan terjadi, apa kakak lupa, jika aku aktor terbaik tahun ini, aku tak mungkin berlaku seperti itu jika didepan orang lain. Ah apa orang tua seperti kakak sudah pernah merasakan sebuah ciuman..? Ah pasti belum pernah. Kau tau, rasanya French kissย kak.? Uh kalau kau tau.., itu rasanya... emm.. " Willi mencondongkan tubuhnya kedepan.
"Bikin sesuatu disana tegang." Bisik Willi pelan.
__ADS_1
"Willi..." Jingmi menggeram marah. Ia melotot marah. Bisa bisanya adiknya berkata seperti itu didepannya.
Willi tersenyum aneh. Ia senang bisa mengerjai kakaknya. Wajah kakaknya sudah berubah merah padam menahan marah, tinggal teriakannya yang belum terdengar.
"Roarrrr roarhhh..." ejek Willi meniru singa menggeram dengan tangannya mencakar angin. Tak lama suara yang ia rindukan muncul juga ditelinganya. Jingmi melotot marah.
"WILLI....!!!!" Teriak Jingmi keras.
"Ha ha ha ha"
Willi malah menertawakan sikap kakaknya. Ia tak menyangka, walau sudah tua, pria itu masih saja suka teriak teriak seperti komandan peleton.
"Kak Fe, kakak pantas menjadi komandan. Kenapa tidak jadi tentara saja dulu. Kakak bisa teriak teriak sesuka hati seperti tadi. Siap Grak..!!" Willi meniru gaya komandan upacara.
"WILLI. .!!!!!!" Teriak jingmi menggeram.
Willi malah dengan santainya mengorek kupingnya panas, ia tak mempedulikan wajah kesal kakaknya. Ketika ia menoleh, ia terkejut kakaknya hendak menarik pistol dari balik pinggangnya.
"Oke oke.. maaf maaf, kau terlalu serius Kak. Hidup itu dibuat ringan saja, goreng , angkat lalu tiriskan." ucap Willi sambil terkekeh.
Wajah Jingmi berubah masam. Ia sudah ingin tenggelamkan saja muka Willi kekolam ikan piranhanya. Ia selalu saja kalah jika berdebat dengan Willi, sudah sama seperti mamanya.
"Ogah, aku sudah tampil keren begini, ngapain ganti baju.Yang ada kakak saja sana yang ganti baju. Jangan lupa pakai topengmu.!! Cih ganteng ganteng pakai topeng jelek. Kau nanti akan terlihat seperti asistenku saja. Lain kali buat topeng wajah yang lebih gantengan dikit donk, biar lebih keren..!!" sindir Willi
"Apa kau sedang mengguruiku hemm, aku tak akan sungkan sungkan lagi padamu kalau begitu." Jingmi membuka kancing tangan kemeja lalu menggulungnya keatas, ia sudah tak bisa sabar lagi. Gunung merapi sudah hendak mengeluarkan laharnya.
Willi yang melihat itu mengerjapkan matanya. Ia panik. Bagaimana pun, ia akan kalah jika melawan kakaknya. Ia bergegas berdiri dan berlari terbirit menjauhi kakaknya.
"Huaaa....Kabuuurrr..." teriak Willi sambil berlari.
"WiiiiL..Liiiii...!!!!!!!! Damn...!!!" umpat Jingmi kesal.
"Ha ha ha... sabar kak , sabar...!! jangan teriak teriak, nanti lekas tua. Lihat rambutmu sudah beruban. Wha ha ha ha....!!!Kau akan terlihat jelek jika bertemu kakak ipar. Sebaiknya kau cat dulu rambutmu , jangan teriak teriak . Sudah seperti tarzan saja. Ha ha ha .. uhuy...!!"
Willi tertawa terbahak bahak dari lantai atas. Sedangkan Jingmi wajahnya merah padam, nafasnya naik turun. Ia sangat kesal sekali pada adiknya itu.
__ADS_1
DOR
"Wow... hampir saja kena wajah babyku. Ah kau jangan main senjata kak Fe, aku bilangin mama lho. Takutkan sama mama..!!"
"Willi.. sekali lagi kau buka mulutmu, aku akan melubangi kakimu. Kau tak takut dengan ancamanku bukan..!! okey, akan aku buktikan.!!"
Jingmi bersiap menarik pelatuknya, Willi panik, seketika Willi langsung berlari kencang kekamarnya.
BRAKK
"Bang SAT...!!!" umpat Jingmi
.
.
Setelah ada drama di pagi hari, sekarang Jingmi dan Willi sedang berada dirumah sakit. Jingmi siang itu memakai pakaian casual, lengkap dengan topeng wajahnya yang sedikit lebih tampan, sedangkan Willi memakai kemeja hitam dipadu dengan celana panjang cream ,lengkap dengan masker diwajahnya. Bagaimana pun ia seorang artis, ia tak mau kedatangannya disorot publik. Apalagi kedekatannya dengan anak pengusaha nomor satu dinegara itu.
"Apa kau sudah menghubungi kekasihmu?" tanya Jingmi pelan.
"Sudah, selama aku mengalihkan perhatian Amel, kau harus cepat melakukan tugasmu. Lagian kenapa kita tak membantu terang terangan saja jika ingin membantu, kenapa harus sembunyi sembunyi. Kita sudah seperti penjahat saja, bagaimana jika kita ketahuan. Apa yang akan kita katakan?"
Jingmi hanya mendengus, keduanya berjalan beriringan menuju ruang ICU dimana Aurora dan Edward dirawat.
"Jangan banyak bicara, kita tidak dekat dengan mereka, apalagi hubunganmu juga tidak terlalu dekat dengan keluarganya, apalagi tangan kanan iparmu , mereka orang yang tidak mudah percaya."
"Haish.. terserahlah. Aku juga tak ingin membuat kekasihku bersedih. Lakukan seperti yang aku rencanakan."
"Kenapa kau yang harus mengaturku..!!" geram jingmi mendelik sebal.
Willi tersenyum , lalu merangkul pundak kakaknya. Bagaimanapun dia adalah kakak kesayangannya. Willi sangat menyayangi pria yang selalu ia ajak debat. Ia sangat senang jika melihat wajah kesal kakaknya. Itu adalah cara mereka mendekatkan hubungan kakak beradik diantara mereka.
.
.
__ADS_1
.
####