Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Al pecemburu


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺


Setiap hari mereka bertemu, tapi tak ada pembicaraan intens di atara Al dan Ajeng. Al berusaha keras untuk menahan diri, ia bersikap profesional.


Ingin sekali rasanya mengumumkan pada semua orang jika Ajeng adalah orang yang di cintai.


Acara besar itu pun akhirnya tiba juga, hari-hari Ajeng dan Al semakin sibuk saja, Al adalah penanggung jawab acara itu, sedangkan Ajeng di tunjuk sebagai penanggung jawab desain.


"Lalukan yang terbaik!" ucap Bara berusaha menyemangati Ajeng, Ajeng sedang sibuk menata gaun yang sudah terpajang di manekin, dia mengamati setiap detailnya.


"Makasih mas Bara, sudah mau pulang ya?" tanya Ajeng tanpa menatap pria itu.


"Sebenarnya iya, tapi melihatmu masih di sini, sepertinya aku akan ikut lembur dan menemanimu!"


"hehhhh ....!" Ajeng menoleh dengan segera, bukannya sennag di temani tapi Ajeng malah merasa takut. Ada Al juga di tempat itu, dia akan sangat marah jika melihatnya berduaan dengan Bara.


"Nggak usah mas, ini juga sudah hampir selesai ...., aku akan segera menyelesaikannya, mas Bara duluan saja!"


"Nggak usah sungkan seperti itu ...., aku tidak meminta upah atas kebaikanku ini!" tampak bara begitu memaksa. Ia bahkan sudah kembali duduk di sebuah kursi kecil di belakang Ajeng.


"Hergggmmm ....!" Sebuah deheman berhasil membuat dua manusia itu menoleh ke sumber suara, Bara yang baru saja duduk segera kembali berdiri dari tempatnya.


"Pak Al ...! Selamat malam pak!" sapa Bara, sedangkan Ajeng sudah menghentikan aktifitasnya.


Al menatap tajam pada Ajeng, kemudian beralih menatap ke arah Bara.


"Kenapa masih di sini? Bukankah pekerjaanmu sudah selesai?"


"Maaf pak, saya hanya menemani Ajeng lembur!"


"Itu tidak perlu, biarkan dia konsentrasi dengan pekerjaannya, dan simpan tenagamu untuk besok. Pulanglah dan beristirahat ....!" perintah Al sambil menepuk pundak pria bernama Bara itu.


"Tapi pak ....!"

__ADS_1


"Biar saya yang menemani Ajeng, saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan dengan Ajeng!" ucap Al sambil kembali menatap ajeng.


"Baik pak, Selamat malam!" Bara pun berdiri dan menunduk hormat, ia menghampiri Ajeng sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu.


"Aku duluan ya, jangan malam-malam pulangnya, hati-hati, sampai jumpa besok!" itu sederet pesan yang di sampaikan Bara untuk Ajeng, Ajeng melirik ke arah Al, Al menatapnya dengan tatapan tidak suka.


Akhirnya Ajeng hanya mengangguk dan melambaikan tangannya.


Hingga Bara meninggalkan mereka berdua. Al mendekati Ajeng dengan kedua tangannya di sakukan ke dalam saku celananya, pelan tapi suara langkah kakinya dapat terdengar jelas di telinga Ajeng.


Pantulan suara sepatunya perlahan mendekat ke arah Ajeng berdiri saat ini. Ajeng hanya m nunduk, ia takut menatap pria itu.


Ajeng dapat melihat sepasang sepatu itu sudah berada di depannya, Al memegang dagu Ajeng dan mendongakkan wajahnya.


kini tatapan mereka bertemu, Al memicingkan matanya, meminta penjelasan pada Ajeng.


"Dia tadi hanya ingin menemaniku lembur saja, tidak lebih!"


"Bukan seperti itu!"


"Dia tampan, baik, dan tidak pemaksa sepertiku, iya kan?" Al sepertinya insecure dengan dirinya sendiri.


"Kenapa mas Al berkata seperti itu, mas Al lebih segala-galanya dari dia!"


"Benarkah????" Ajeng pun menganggukkan kepalanya.


"Baguslah ...., lanjutkan pekerjaanmu dan aku akan menunggumu hingga selesai!" ucap Al sambil melepaskan dagu Ajeng, ia berbalik dan duduk di tempat Bara duduk tadi.


"Mas Al bisa pulang dulu, tidak usah menungguku!"


"Kenapa? Apa kau suka di temani Bara?" Al menyilangkan kakinya dan melipat tangannya di depan dada, menyandarkan punggungnya di dinding karena kursi yang ia duduki tidak ada sandarannya.


"Hahhh ...., baiklah terserah kau saja!" Ajeng pun menyelesaikan kembali pekerjaannya, menjahit beberapa manik ke gaun itu, dan sesekali memperhatikan pria yang sedari tadi menatapnya.

__ADS_1


Akhirnya hampir tengah malam Ajeng baru menyelesaikan satu gaunnya. ia meregangkan otot-otot nya, Ajeng menoleh ke pria itu, dan ternyata dia tertidur.


Ajeng melepaskan clemeknya, menggantung gantungan baju. ia menghampiri Al yang masih tertidur.


Ajeng menundukkan punggungnya, mengamati wajah tenang pria yang sudah berhasil mencuri hatinya.


"Pasti capek sekali ya!" ucap Ajeng lirih, ia beralih memperhatikan bibir Al, bibir itu yang telah mencuri ciuman pertamanya.


"Aku tidak percaya kita sampai di titik ini, bersabarlah mas ...., dan tunggu sebentar lagi!"


Ajeng hendak memundurkan wajahnya, tapi gerakannya terhenti saat tiba-tiba tangan Al sudah menarik tengkuk Ajeng, mata pria itu sudah terbuka lebar. kini posisi mereka begitu dekat.


"Mas Al pura-pura tidur ya? jahat ih ....!" ucap Ajeng sambil berusaha melepaskan diri dari Al.


"Kenapa? Kau boleh menatap wajahku sepuasnya sekarang!"


"Nggak mau, lepas!"


"Cium aku sekali saja dan aku akan melepaskanmu!"


Bukannya mendapat ciuman dari Ajeng, Ajeng malah mendorong kursi Al hingga tangannya terlepas dari tengkuk Ajeng. Dengan cepat Ajeng berlalu meninggalkan Al.


"Ayo mas Al, sudah malam ....!" teriak Ajeng saat sudah berada di luar ruangan. Al hanya bisa tersenyum, ia tidak menyangka Ajeng akan sangat berpengaruh dalam hidupnya seperti ini.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2