Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Kericuhan di rumah Aurora


__ADS_3

Mobil akhirnya berhenti tepat disamping rumah Aurora. Hugo dan Darion keluar dengan identitas yang tersamarkan. Mereka berdua menggunakan penutup wajah dan masker gas bersama anggota yang lain. Kali ini mereka akan bermain dengan senjata biologi milik madam Yora.


Lauren di dalam mobil masih berusaha memanipulasi cctv, tapi sepertinya usahanya akan gagal. Keamanan rumah Aurora telah di upgrade oleh Brian dan Yudha, jadi kemungkinan kecil bagi Lauren bisa menembusnya. Satu satunya cara adalah menyabotase listrik dan saluran telepon agar anggotanya bisa bekerja.


Hugo melemparkan tabung kaca kecil kearah para anggota GL yang sedang bertugas di bagian depan, sebuah formula berbahaya yang jika asapnya terhirup akan membuat pingsan karena baunya yang begitu menyengat.


KLANG


BUZZ


"Ohok..ohok.. apa ini!"


Hugo dan Darion memimpin anggotanya masuk begitu penjaga di bagian depan dipastikan pingsan untuk waktu yang lama.


Dua orang itu masuk mengendap-endap lewat jalur samping, jalan lain untuk masuk ke ruang tengah rumah besar itu. Mata mereka begitu awas mengamati sekelilingnya.


"Lauren sekarang!" bisik Hugo pada earpeace yang terpasang ditelinganya.


Seketika listrik padam dan membuat anggota yang berjaga di rumah Aurora saling berseru satu sama lain untuk mencari tau sebabnya.


"Jangan membuat keributan, lempar saja tabung tabung itu untuk melumpuhkan mereka. Aku akan naik ke lantai atas untuk mencari anak itu. Cepat! waktu kita tidak banyak!" bisik Hugo memerintahkan anggotanya.


"Baik!"


"Dan kalian! cepat cari keberadaan genset di rumah ini, sabotase agar listrik tidak menyala selama aku mencari anak itu!" ujar Darion pula.


Mereka serentak mengangguk dan melakukan tugasnya masing masing.


Hugo dan Darion segera memakai kaca mata khusus agar tetap bisa melihat dalam kegelapan, mereka kemudian mulai menaiki anak tangga.


Kevin yang saat itu akan terlelap begitu terkejut ketika Kevan menggoncang tubuhnya. Apa apa pikirnya, bukankah ini waktunya Kevan yang bertugas, kenapa malah membangunkannya.


"Ck! bangun bodoh! pinjam ponsel ponselmu!" ujar Kevan tak sabar. Pria itu menyenteri wajah adiknya sembari mencari ponsel Kevin.


Kevin mengernyit. Kenapa gelap, masa iya ada pemadaman listrik, jika ada kenapa sedari siang tidak ada pemberitahuan.


"Bangun bodoh! kemarikan ponselmu!" sentak Kevan memukul kepala adiknya yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.


"Astaga, kenapa memukulku! Itu ada di laci! cari semua disana!" tunjuk Kevin kesal.


"Lagi pula untuk apa kau pinjam ponselku! kau juga punya ponsel sendiri! Atau jangan-jangan tak punya pulsa ya? Cih menyedihkan!"


Kevan diam saja, ia menghiraukan perkataan adiknya yang sedikit menyebalkan itu. Pria itu tetap mencari ponsel Kevin.


"Ngomong ngomong, kenapa listrik padam, kau tak menyuruh mereka menyalakan genset? untung saja ini waktunya orang istirahat, setidaknya aku tak mendengar kegaduhan." ujar Kevin lagi.


Kevan tak menyahuti, ia sudah menyuruh untuk menyalakan genset sebelum pria itu menemui adiknya. Ia kemari hanya untuk memastikan sesuatu. Ponselnya tidak bisa ia gunakan sama sekali karena tiba-tiba sinyal ponselnya menghilang.

__ADS_1


"Semuanya tidak bisa digunakan." gumam Kevan. Pria itu menggigit kukunya. Entah apa yang sedang dipikirkannya.


Kevin beranjak dari ranjangnya, pria itu mendekati Kevan karena sedikit tertarik dengan gumaman kakaknya. Mana mungkin pikirnya.


Kevin terkejut ketika menilik ke empat ponselnya yang menadakan tidak ada sinyal. Bagaimana bisa.


"Kak apa ada pemadaman serempak? Kenapa delapan nomor operator tidak berfungsi semua?"


Kevan membisu. Ia juga bingung dengan hal ini. Tiba-tiba ia teringat perintah Alex agar tetap waspada dan melindungi Al dan El apapun yang terjadi.


"Kevin, segera pakai baju tugasmu dan bawa senjata api! Aku akan melihat Tuan Muda kecil!" ujar Kevan cepat sambil menepuk bahu adiknya. Pria itu langsung keluar membawa ponselnya.


Kevin mengangguk ragu. Entah mengapa tiba-tiba jantungnya berdebar debar tak karuan setelah mendengar perintah kakaknya.


Di kamar Al dan El, dua anak itu sama sekali tak terganggu dengan apa yang terjadi di lantai bawah. Mereka berdua sedang tidur dengan nyaman di kasur empuknya.


Hugo dan Darion yang telah menemukan kamar mereka tersenyum menyeringai dalam kegelapan. Dua pria itu segera membekap hidung Al dan El dengan sapu tangan yang telah di beri obat agar tak terbangun ketika mereka bawa.


"Ayo cepat! waktu kita tidak banyak!" ujar Hugo dan diangguki Darion.


Dua orang itu segera menggendong Al dan El diatas bahunya, mereka berjalan waspada karena ada sebagian dari anggota GL mulai menyalakan lampu portabel.


"Kita lewat sini." Ujar Darion. Pria itu melemparkan tabung yang dibawanya ke arah anggota GL yang akan mendekat ke arah mereka.


KLANG


BUZZ


Hugo berjalan cepat. Bagaimana jika formula itu sampai terhirup Al dan El, ia pikir Darion tak memikirkan akibatnya.


Kevan tiba tiba menghentikan langkahnya saat akan naik anak tangga. Matanya melotot tak percaya. Pria itu buru buru mendekati beberapa anak buahnya yang terkulai lemas tak berdaya di depannya.


"Brengsek! apa yang terjadi pada mereka!" umpat Kevan. Pria itu mencoba menepuk pipi mereka, tapi tidak ada tanda-tanda bangun dari pingsannya.


"Gawat! Tuan Muda!" pekik Kevan.


Kevan berlari menaiki anak tangga, lagi lagi ia menemukan anggota GL yang sudah tergeletak tak berdaya.


"Penyusup! Ada penyusup!!" teriak Kevan menggema dalam kegelapan malam. Ia harus membangunkan semua penghuni rumah pikirnya.


Dengan nafas terengah, Kevan membuka kasar pintu kamar Al dan El. Ia menyorotkan senter ponselnya ke setiap sudut ruangan sambil memanggil nama dua anak itu.


Tidak ada sahutan. Dua anak itu tidak berada di kamarnya. Kemana mereka.


Tiba-tiba peluh membanjiri dahinya, ia takut terjadi sesuatu pada anak itu.


"Al! El! Tuan muda! Kalian dimana!" teriak Kevan lagi.

__ADS_1


Kevan berlari ke arah kamar Brian. Pintu itu masih terkunci rapat. Brian memang selalu mengunci kamarnya ketika dia pergi, jadi tidak mungkin berada disana.


"Al! El!" teriak Kevan lagi.


Kevin berlari mendekati kakaknya. Wajah pria itu seperti ketakutan akan sesuatu.


"Kak gawat Kak! banyak anggota GL yang pingsan. Mereka tidak bisa dibangunkan! Bagaimana ini! Bagaimana cara kita menghubungi markas untuk meminta bantuan!" ujar Kevin dengan nafas terengah.


"Tidak ada gunanya menghubungi markas. Sebaiknya bantu aku mencari Al dan El, mereka berdua menghilang. Kita berdua bisa mati bersama jika sampai terjadi apa-apa pada anak itu. Ayo!"


Kevin terbelalak kaget. Pria itu mengangguk cepat. Bagaimana bisa hilang pikirnya. Berarti kejadian malam ini adalah sabotase.


Hugo dan Darion meletakkan tubuh Al dan El di bangku tengah. Mereka kemudian duduk di bangku kosong lainnya.


"Cepat jalan!" perintah Hugo. Pria itu sepertinya sudah tidak tahan dengan efek yang diterimanya. Ia harus segera menemui madam Yora.


"Tunggu sebentar! Aku belum menarik anggotaku. Sebagian dari mereka masih berada didalam." ujar Darion cepat.


"Lalu tunggu apa lagi! Cepat hubungi mereka!" ujar Hugo kesal. Ia merasa Darion memperlambat waktunya.


"Lauren bagaimana ini. Aku tidak bisa menghubungi mereka." ujar Darion.


"Aku menyabotase pasokan listrik ke kota ini, tentu saja kau tidak bisa menggunakan earpeacemu. Kita tinggal saja. Lagi pula, mereka pasti mengerti dengan keadaan ini. Sebelumnya aku sudah mengkonfirmasi pada mereka, jika dalam sejam tidak ada perintah dari kalian,mereka harus segera menarik diri." ujar Lauren santai.


Darion mengangguk ragu, jangan sampai salah satu anggotanya tertangkap dan buka mulut membeberkan identitasnya.


Anak buah Darion yang duduk di kursi kemudi segera menekan pedal gasnya dan melaju meninggalkan area rumah Aurora.


"Dimana Roxi dan madam, Lauren." tanya Hugo dengan memejamkan mata. Pria itu menekan geliginya kuat kuat untuk menahan diri agar tak menyentuh barangnya. Keringat dingin bahkan sudah mulai membasahi punggungnya. Sial sekali pikirnya, tugasnya sudah beres tapi wanita itu menghilang entah kemana.


"Mereka menunggu kita di pelabuhan. Mungkin mereka juga belum sampai." Jawab Lauren.


Hugo membuka matanya menatap tajam Darion.


"Berapa lama kita sampai pelabuhan!" Tanya Hugo dengan mata melotot. Marah tentu saja. Ia takut menggila di depan teman temannya. Ia butuh penawar itu segera.


"Sekitar dua jam jika perjalanan lancar." jawab supir di depan. Mana mungkin bosnya tau.


Hugo mengepalkan tangannya. Jadi selama itukah ia harus tersiksa obat sialan itu. Pria itu menggeram kesal.


Awas kau madam. Aku pastikan ini yang terakhir kalinya, setelah ini aku pastikan, aku akan menghabisimu dengan tanganku sendiri! Kau sudah keterlaluan. Saatnya kau mengakhiri kegilaanmu selama ini.


Hugo hanya bisa mengumpat dalam hati.


.


.

__ADS_1


.


######


__ADS_2