Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Kesedihan Aurora


__ADS_3

Dua orang itu berlarian dilorong rumah sakit. Aurora dan Lukas tak mempedulikan umpatan orang yang tak sengaja tersenggol bahunya. Mereka hanya ingin segera bertemu dan melihat keadaan Edward yang dikabarkan kritis.


Air mata Aurora mengalir begitu saja saat dekat dengan ruang perawatan Edward. Ia takut sesuatu buruk terjadi pada suaminya seperti waktu lalu.


"Nona, Tuan Edward ada di ruang sebelah sana." ucap Kevan menghentikan langkah kaki mereka berdua.


"Apa yang terjadi dengannya!" seru Aurora dengan mata basahnya.


Kevan hanya menunduk. Ia sangat merasa bersalah pada Aurora .


"Sebaiknya kita lihat keadaan Tuan dulu nona. Ayo." ajak Lukas menengahi. Ia seperti menangkap kejanggalan dari gelagat Kevan, bahkan ia melihat lebam dari pipi Kevan. Entah apa yang terjadi padanya.


Aurora mengangguk dan berjalan cepat, menuju tempat dimana suaminya berada.


Tampak dari kejauhan, Bunda Yuli sedang bersimpuh dilantai dan menangis dipangkuan Tuan Admaja yang sedang duduk dikursi roda.


Aurora terpaku melihat dua orang tua itu yang sedang saling berpelukan dan menangis bersama, apa lagi ia melihat Bunda Yuli yang menangis histeris dan memukuli dadanya sendiri. Terlihat juga Alex yang tampak kacau dan sedang memukuli dinding hingga tangannya berdarah, matanya tampak sembab. Sedangkan kelima pengawal yang berjaga, semua menunduk sedih, tampak guratan jika mereka diam diam menangis walau tak bersuara.


Aurora melangkahkan kakinya pelan, ia seperti sudah tidak punya tenaga lagi untuk berlari.


"Ayah, Bunda.." sapa Aurora lirih, air matanya diam diam menetes kembali.


"Apa yang terjadi.." tanyanya lirih.


Mereka berdua bergeming, tak menjawab pertanyaan Aurora karena sedang menangis sesegukan.


"Edward...Edward.. " hanya itu yang terdengar dari mulut Tuan Admaja. Wajahnya memerah, beliau menangis dan syok dengan kabar duka tentang putra kebanggaannya.


"Katakan padaku apa yang terjadi!!!" seru Aurora yang mulai tidak sabar. Pikirannya sudah kemana mana. Apalagi semua orang di tempat itu menangis sedih.


"Su..suamimu ber..berpulang. Putraku meninggalkan kita semua. Di..dia.. meninggal nak. Dia meninggal.. Hiks.. hiks.. " ucap Bunda Yuli sambil menangis tersedu sedu.


"Tidak.. Tidak, itu tidak benar." lirih Aurora menggelengkan kepalanya tak percaya.


"TIDAK! ITU TIDAK BENAR!" pekik Aurora dan berlari masuk keruangan Edward sambil mengusap kasar air matanya.


Lukas yang ingin tau kebenarannya juga langsung masuk mengikuti Aurora karena tak satupun dari mereka yang bisa ia ajak bicara saat ini.

__ADS_1


Aurora menutup mulutnya tak percaya, Ia menggeleng keras. Tubuh suaminya sudah tertutupi kain putih dan alat alat penunjang kehidupannya telah terlepas dari tubuh Edward.


Dokter Rian menghela nafasnya panjang, saat mengetahui Aurora datang dengan menangis pilu. Ia merasa sangat bersalah, tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa.


"Sayang..." panggilnya lembut.


"Ku mohon katakan jika ini tidaklah benar. Bukankah kamu pernah bilang jika akan kembali? Kenapa kamu meninggalkan aku?" tangis Aurora, ia menumpukan kepalanya didada Edward. Berharap masih mendengar suara detak jantung suaminya. Tapi harapan tinggal harapan, nyatanya jantung itu tak lagi berdetak.


Lukas yang penasaran, langsung membuka penutup putih yang menutupi wajah Edward. Matanya terbelalak melihat wajah pucat Edward yang sudah terbaring kaku. Air matanya lolos begitu saja, ia tak kuasa membendung kesedihannya.


"TIDAK!! INI TIDAK BENAR!!" raung Aurora.


"EDWARD AKU BILANG BANGUN!! seru Aurora.


"AAAGGHHH Bang SAT!! SIAPA YANG SUDAH BERANI MEMBUNUH SUAMIKU!! KATAKAN!!" Aurora tiba tiba berteriak histeris. Ia benar benar tidak bisa menerima kenyataan ini.


"EDWARD!!!!! Hiks..hiks... Bangun sayang.. Kau bahkan belum sempat menggendong dua putramu, kenapa kamu harus pergi secepat ini. BANGUN EDWARD!!!BANGUN! AKU MOHON... Hiks hiks.."


Lukas langsung mendekap tubuh Aurora ketika Aurora menangis histeris dan memukuli tubuh suaminya. Ia mendongakkan kepalanya menghalau air matanya yang terus saja menetes tanpa mau berhenti. Ia juga merasa terpukul dan kehilangan Edward.


"Suamiku jahat sekali Lukas. Kenapa dia tidak mau bangun. Hiks.. hiks.. Apa dia tidak mencintaiku lagi, apa salahku hingga dia pergi meninggalkan aku sendiri." racaunya sebelum tubuh Aurora merosot, terkulai lemas dan pingsan.


"Nona! nona!" Lukas menepuk nepuk pipi Aurora.


"Tuan Lukas baringkan nona Aurora disini saja. Biar saya yang memeriksanya." ucap Dokter Rian menunjuk brankar kosong disebelah Edward.


Lukas mengangguk dan membopong tubuh Aurora yang terkulai lemas.


"Tuan Lukas, sebaiknya bicarakan pada keluarga, jenazah akan segera dipindahkan dan dibersihkan. Kasian jika terlalu lama." ucap Dokter Rian.


"Baiklah, aku akan urus semuanya. Jaga sebentar nona Aurora." ucap Lukas sebelum keluar dari ruang itu dan diangguki oleh Rian.


Lukas menemui Alex yang sudah nampak kacau. Ia membisikkan sesuatu dan mengajaknya keluar sebentar.


.


.

__ADS_1


Suasana rumah duka ramai dipadati banyak pelayat. Mulai dari tetangga, kerabat, dan rekan bisnis silih berganti menyalami keluarga Tuan Admaja. Mereka ikut berbela sungkawa atau pun hanya sekedar mencari muka.


Malam yang kelam menjadi saksi berpulangnya seorang Edward yang dikenal sebagai sosok yang rendah hati dimata keluarga dan mitra bisnisnya.


Awak media hanya diijinkan meliput dari luar, mereka tidak diperbolehkan memasuki mansion karena dikhawatirkan akan memicu kericuhan. Kevin yang bertanggung jawab atas keamanan dalam mansion itu bersama Kevan yang acap kali mengusap bulir air matanya. Ia merasa menyesali perbuatannya yang tak mampu menjaga Edward dengan baik hingga menyebabkan meninggalnya Edward.


Brian tampak menangis tersedu disamping keranda Edward. Matanya sudah sangat sembab karena menangis berjam jam dan tak kunjung berhenti. Ingatannya berputar masa masa saat bersama Edward sebelum kecelakaan itu menimpa mereka.


"Daddy.. telima kasih sudah melawatku hingga sampai detik ini. Telima kasih sudah menyayangiku dan membeliku banyak kenangan manis. Aku akan selalu mengingat jasa dan pengolbananmu padaku. Damailah dalam tidulmu, aku akan memenuhi janjiku untuk menjaga adik adik dan mommy. Sampaikan salamku pada mama Yuna dialam sana. Blian janji akan menjadi anak yang kuat dan tegal sepelti keinginan Daddy. I love u dad. I love u."


Brian mengusap air matanya kasar, lalu memeluk Selly yang ikut terharu dengan ucapan Brian.


"Tidurlah, Aunty akan menjagamu. Kita besok pagi masih harus mengantarkan ke peristirahatan terakhir ayahmu." ucap Selly mengusap rambut keponakannya.


Brian mengangguk patuh, ia rebahkan kepalanya dipangkuan Selly dan mencoba memejamkan matanya.


Dikamar atas, Aurora masih menangis sambil menggendong El yang menangis kencang. Berbeda dengan Al yang tidur dengan nyenyaknya tanpa peduli kegaduhan yang dibuat adiknya.


Bi Sofi masuk kedalam kamar Aurora untuk membantu menenangkan baby El. "Nona, biar saya yang mengendongnya."


Aurora mengangguk dan menyerahkan baby El. Tubuhnya bahkan merasa lemah dan tak punya daya untuk sekedar tersenyum menghibur El.


"Nona, sebaiknya anda beristirahat, jika anda terus bersedih, itu juga akan mempengaruhi emosi putra anda." ucap Bi Sofi menasehati.


"Bagaimana bisa aku tak bersedih, sedang suamiku disana sudah terbujur kaku. Dia meninggalkan aku untuk selamanya. Sebentar lagi aku tak bisa menyentuh dan melihatnya lagi. Aku merasa dipermainkan takdir. Ini sangat tidak adil bagiku." ucap Aurora lirih.


"Non, harus tabah. Ingat ada tiga aden yang masih membutuhkan non. Ini sudah ketentuanNya, kita bahkan tidak bisa mengubahnya sedikitpun. Percayalah akan ada hal baik setelah ini."


Aurora membaringkan tubuhnya lalu mencoba memejamkan matanya. Berharap semua ini hanya mimpi buruk dan tak terjadi apapun ketika dirinya terbangun..


.


.


.


######

__ADS_1


__ADS_2