Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Petunjuk


__ADS_3

Selly menatap macbook ditangannya. Gadis itu masih mengamati pergerakan titik koordinat merah yang baru dikirim Yudha. Wanita itu tampak menghela nafasnya pasrah ketika titik merah itu menuju kearah perairan. Mereka benar-benar terlambat saat ini.


Semua yang berada di dalam mobil merasa lelah. Hari itu tidak ada yang tidur kecuali anggota GL yang menjadi supir saat ini. Kevan di bangku depan tampak sayup sayup mengantuk, Lukas yang duduk dibangku tengah juga ikut memejamkan matanya, Selly sendiri yang menjadi navigator hanya bisa duduk manis di bangkunya selepas ia minum suplemen agar tetap terjaga sampai misi selesai. Ia juga sebenarnya merasa lelah karena baru saja tiba dari Jepang dan baru beristirahat dua jam, tapi apa mau dikata, ini sudah menjadi tanggung jawabnya pada Aurora, jadi ia tetap harus menjalankannya.


Suara getaran ponsel Lukas mengalihkan atensinya. Selly melirik Lukas yang masih nyaman dalam mimpinya. Gadis itu tampak sungkan membangunkan pria itu.


Belum sampai tangan Selly menepuk paha pria itu, Lukas tampak menggeliat dan merogoh saku jaketnya. Selly langsung saja menjauhkan tangannya.


"Iya Tuan." jawab Lukas.


"Minta Kevan menerbangkan helikopter untuk mengejar mereka Lukas! Kalian tidak mungkin bisa mengejarnya. Mereka sudah masuk perairan!"


Lukas melebarkan matanya dan langsung mengambil macbook dari pangkuan Selly. Pria itu tiba-tiba menatap horor Selly yang tidak tahu apa apa.


"Tapi itu tidak bisa. Kevan saat ini sedang bersamaku." jawab Lukas cepat.


"Kamu jangan bodoh Lukas! Minta dia putar balik!!" sentak Edward dari seberang sana.


"Apa anda sadar yang barusan anda katakan Tuan? ini sudah separuh perjalanan mazzeh. Saya akan meminta bantuan Tuan Jingmi saja." putus Lukas.


"Memangnya kamu pikir pria itu bisa menerbangkan heli, hah!" bentak Edward lagi. Kenapa harus mendebatnya di saat seperti ini sih batin Edward kesal.


Lukas menghela nafasnya. Mungkin Edward lupa atau bagaimana. Apa dia pikir Tuan Jingmi tidak memiliki pilot. Hah, panik memang kadang membuat orang tidak bisa berpikir jernih. Lukas mengurut keningnya. Pusing.


"Baiklah." Lukas memilih mengalah saja. Lagi pula Edward juga tidak akan tau bukan.


Lukas meminta supir menepikan mobilnya sebentar. Pria itu segera mendial nomor Jingmi yang langsung tersambung tak begitu lama.


"Apa ada masalah?" tanya Jingmi dari seberang sana.


"Emm, bisakah anda ke markas untuk mengambil helikopter? Al dan El sudah masuk wilayah perairan dan kami tidak mungkin mengejarnya lewat jalur darat. Kami sudah separuh perjalanan."


"Aku mengerti, aku sudah berada di hangar pesawat bersama asistenku. Jangan khawatir, aku yang akan mengejar dari udara."


Lukas tersenyum lega. Tak menyangka jika akan semudah itu.

__ADS_1


"Baiklah terima kasih."


Di sisi lain, Alex yang baru saja mengurus ijin penerbangan bersama Aurora, langsung menghampiri Edward yang sibuk membereskan alat alat yang baru saja digunakan Brian. Hanya satu laptop yang menyala dan masih menampilkan GPS milik kedua putranya.


Edward mengalihkan atensinya pada dua makhluk yang baru saja masuk kedalam kamarnya. Edward mengerutkan kening melihat wajah muram Aurora. Ada masalah apa pikirnya.


"Bagaimana." tanya Edward pada Alex.


"Kita bisa berangkat dua jam lagi, tapi ini sedikit menghawatirkan. Semoga saja tidak terjadi apapun." ujar Alex seadanya.


Edward melirik Aurora. Pasti istrinya yang memaksa melakukan penerbangan.


"Baiklah, segeralah berkemas. Brian ada di kamarmu bersama Yudha. Sepertinya ada yang ingin dibicarakan padamu."


Alex mengangguk saja dan segera pergi dari kamar suami istri itu. Pria itu tampak menghela nafasnya yang terasa berat karena mengingat video panas milik Zanitha. Hatinya berkecamuk.


"Ada apa. Apa kamu memikirkan biaya parkir pesawat kita? Apa saldomu berkurang banyak." seloroh Edward yang membuat Aurora tersenyum masam. Bahkan ia kehilangan uangnya ratusan juta bukan masalah besar baginya, yang ia cemaskan adalah kondisi mental putranya setelah ini. Bagaimana jika mereka mengalami trauma seperti Brian.


Ah tidak! tidak aku tidak boleh berpikiran buruk. Al dan El pasti anak kuat. Mereka pasti bisa bertahan sampai bantuan datang.


"Hem."


"Yudha akan ikut balik ke Indo hari ini, tapi entah jam berapa mereka akan berangkat. Dia akan memakai pesawat milik Kimura." ujar Edward memberitahu.


Aurora menatap suaminya dengan tatapan heran.


"Lalu bagaimana dengan Kimura dan asistennya. Bukankah kondisi mereka belum membaik? Lagi pula kenapa kamu tak menyarankan menggunakan pesawat DQ saja. Bukankah kita pulang dengan pesawatmu? Bukankah ini pemborosan." Aurora berkerut kening mendengar penuturan suaminya.


"Ya, mereka memang belum membaik. Setelah melihat keadaan kita, dia memutuskan untuk merujuk mereka ke rumah sakit kita. Untuk urusan pemborosan, aku juga tak mau tahu. Lagi pula itu pesawat mereka. Yudha juga memberitahu jika dia akan menitipkan sementara perusahaan milik Kimura pada Carlton. Aku tidak tau jalan pikirannya. Bukankah Carlton adalah seorang pengacara?"


Aurora menghela nafasnya.


"Biarkan saja. Kita tidak pernah tau seluk beluk perusahaan Tuan Yashimoto seperti apa. Lagi pula Yudha juga masih punya tanggungan mencari adik tiriku yang katanya punya kembaran itu. Sudah sepantasnya dia kembali bersama kita. Statusnya saat ini masih menjadi tahananku."


.

__ADS_1


.


Disisi lain, Madam Yora saat ini sedang berdiri menatap jauh hamparan laut yang entah dimana ujungnya. Wanita itu terlihat tenang, tapi otaknya sedang menerawang jauh.


Lauren yang tak jauh dari madam Yora masih sibuk dengan laptop dan alat canggihnya setelah retasannya berhasil dilumpuhkan Yudha dan Max. Untung saja laptopnya tidak meledak sehingga ia masih bisa menggunakannya lagi.


Lauren memajukan dudukannya. Wanita itu mengernyit heran ketika ia melihat ada konvoi mobil yang mengarah ke pelabuhan melalui pantulan satelit. Apa mereka sudah mengetahui posisinya? Bukankah ia belum memberikan lokasinya. Wanita itu langsung mengaktifkan pengacak sinyal agar keberadaannya tak terdeteksi sebelum madam Yora memberinya perintah.


Hugo mendekati madam Yora dan memeluknya dari belakang. Ingin sekali pria ini langsung mematahkan leher madam Yora, tapi ini belum saatnya. Biarkan saja wanita itu dihabisi Alex yang notabene seorang psikopat.


Madam Yora diam saja mendapat perlakuan Hugo, padahal disana ada Lauren dan beberapa anak buahnya.


"Anda yakin melakukan ini madam. Bisa jadi ini hari terakhir hidupmu berpetualang." bisik Hugo sengaja.


"Aku tidak takut dan aku tidak akan kalah. Aku akan mendapatkan apa yang aku mau."


Hugo menyeringai. Pesimis dengan ucapan madam Yora. Mana mungkin mereka bisa mengalahkan GL yang mempunyai banyak sekutu.


"Pernah dengar istilah 'Tupai melompat akhirnya jatuh juga' madam? Aku hanya mengingatkanmu. Boleh saja kita serakah pada yang lainnya, tapi jangan sampai kita salah mengambil langkah. Yang kita culik adalah putra orang dengan banyak sekutu yang mendukungnya. Anda tidak takut?"


"Aku tidak takut apapun. Anak itu adalah kelemahan mereka. Aku akan menggunakan mereka untuk memuluskan rencanaku." ujar madam Yora dengan seringai iblis.


Hugo terkekeh mendengarnya. Ia merasa madam Yora sudah gila dan terlalu berhalusinasi.


Berbicaralah sepuas hatimu sebelum semua berakhir madam. Setelah itu, jangan harap bisa membuka mulutmu, walau hanya satu kata. Maaf, kali ini aku akan membantu mereka. Selamat tinggal madam, kita sudahi petualangan ini, aku ingin hidup seperti orang normal lainnya jika aku diberi kesempatan hidup, tapi jika tidak...


Batin Hugo menatap nanar lautan yang membentang didepannya. Ia bahkan tidak tahu takdir apa yang sudah menunggu di depannya. Semoga bukan hal buruk.


.


.


.


#####

__ADS_1


__ADS_2