
Beberapa minggu ini Al begitu sibuk.
Entah apa yang sedang di kerjakan oleh pria itu. Semenjak datang ke rumah mama
renna dan Ajeng menyetujui untuk tinggal di rumah mama Renna, al enjadi begitu
sibuk, bahkan ia sering membawa pekerjaannya ke rumah. Ajeng menjadi sangat
bosan, ia hanya mendesain beberapa baju dan akan mengirimnya melalui kantor
pos. sebenarnya ajeng ingin sekali ke Malang dan mengunjungi tempat kerjanya,
tapi Al melarangnya karena dia belum bisa mengantar ke sana, sedangkan ia tidak
di ijinkan ke sana seorang diri. Rasa cemburu Al masih begitu besar terhadap
Bara, walaupun Bara sudah tidak lagi menghubungi Ajeng.
Ajeng memutar-mutar ponsel di
tangannya di atas meja dengan satu tangan ia gunakan untuk menyangga
dagunya. Tampak sekali wajah bosannya.
Bibirnya cemberut, wajah bosannya begitu kentara.
“bagaimana aku bisa berdiam diri
sendiri seperti ini? Bukankah sebelumnya aku tidak takut apapun? Kenapa
sekarang aku jadi sepertu ayam petelur saja, hanya di rumah!” keluh Ajeng.
“Neng …., kenapa wajahnya di tekuk
seperti itu?” tanya bibi yang kebetulan lewat.
“Aku bosan bi ….!”
“Kenapa nggak pergi sama ibu aja
neng?”
“Nggak ah bi, mama kayaknya banyak
masalah. Gimana ya bi caranya Ajeng menyelidiki masalah mama sama papa? Aku mau
keluar tapi takut dosa kalau nggak ijin sama mas al!”
‘telpon aja neng!”
“Mas al keberatan nggak ya?”
“Bagaimana neng tahu kalau nggak
nyoba!”
“Iya ya bi!”
Ajeng pun mengikuti saran bibi, ia
segera mengetikkan sesuatiu ke ponselnya. Ia tidak mau telpon takutnya
menggangu. Ia memilih mengirimkan pesan saja.
📲 Assalamualaikum
mas al, mas Al …, ajeng bosen di rumah saja, boleh nggak Ajeng pergi
jalan-jalan? Nggak lama kok …, boleh ya …
Ting
Ajeng mengirimkan pesan itu. Ia
kembali meletakkan ponselnya dan menunggu jawaban dari al suaminya.
Drettttt dretttt drettttt
Tedengar getaran dari ponselnya,
dengan cepat Ajeng mengangkat ponselnya dan melihat siapa yang melakukan
panggilan, ternyata itu dari Al.
📞 “Assalamualaikum sayang!”
📞 ‘Waalaikum salam mas ….!” Ucap ajeng
setelah meletakkan ponselnya di daun telingannya.
📞 “Adek mau ke mana? Apa perlu mas
pulang dulu dan antar adek?” tanya Al; di seberang sana dengan nada yang
__ADS_1
terdengar panic.
📞 ‘Nggak perlu mas …, ajeng bisa pergi
sendir. Nggak akan jauh mas, hanya ke rumah teman-teman yang dekat dnegan
rumah!”
📞 ‘naik apa dek?”
📞 ‘Naik motor, boleh kan ajeng pinjam
motornya?”
📞“Motor?” tanya Al semakin panic.
📞“Iya mas …., boleh ya!”
📞 ‘Dek …, tapi kan adek belum punya
sim!”
📞 “Nggak jauh mas …!”
📞 ‘Baiklah …, kalau gitu pakek yang
matic aja ya! Jangan pakek yang motor gede!”
📞 “Iya …!”
📞 ‘Ya sudah hati-hati ya, jangan
kebut-kebutan dan lagi mas akan usahakan segera pulang, jadi janji jangan
lama-lama!”
📞“Iya mas …, assalamualaikum!”
📞“Waalaikum salam!’
Ajeng begitu senang karena telah
mendapatkan ijin walaupun dengan proses yang sangat panjang. Ajeng segera
menuju ke kamarnya dan mengganti bajunya. Ia menyambar tas kain kecilnya.
Memasukkan ponsel dan dompetnya ke dalam sana. Menyambar helm yang berada di
dalam lemari dan segera memakainya, ini kali pertama setelah sekian lama setelah
Tujuan pertama yang ajeng akan
kunjungi adalah rumah yang alamatnya tertera dalam kuitansi itu. Ia begitu
penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan mama Renna dan jiga papa Adi. Ia
mengeluarkan motornya dari garasi, sedikit memanasi, walaupun jarang di bawa
keluar rumah tapi Lukman setiap pagi selalu memanasi motor-motor itu, motor itu
adalah motor yang biasa Dika bawa ke sekolah.
Masih ingat sekali bagaimana dulu ia
sering di bonceng dengan motor itu, Dika paling suka mengajak ajeng jalan-jalan
dengan motor itu.
“Kita bertemu lagi …, bagaimana
kabarmu tanpa Dika, pasti juga kesepian ya! Bagaimana kalau kita jadi detektif
hari ini?”
Ajeng mengajak motor itu bicara
seperti sedang bicara dengan kawan lamanya yang sudah lama tidak bertemu, ajeng
mengelus stang depannya. Ajeng segera menaikinya dan mulai menjalankannya.
Lukman yang sedang berjaga begitu terkejut melihat Ajeng keluar rumah dengan
motornya, tapi ia tidak berani mencegahnya.
“Mungkin mas Al sudah
mengijinkannya!” guman Lukman.
Lukman membiarkan Ajeng berlalu
begitu saja. Ajeng memecah ramainya jalan raya , walaupun sangat panas tapi
Ajeng begitu menikmatinya. Ia jadi teringat dulu pertama kali bertemu dengan
__ADS_1
Al, ia harus menempuh perjalanan panas-panasan dengan sepeda ontelnya hanya
demi mendapatkan bimbingan mengerjakan tugas matematika milik pak Dadang, si
guru killer.
Ajeng tersenyum sendiri setiap kali
mengingat masa-masa itu, masa-masa itu adalah masa yang indah, masa di mana ia
bisa bertemu dengan pria sebaik Al dan di kelilingi oleh sahabat-sahabat yang
begitu tulus menyayanginya.
‘Sepertinya ini deh tempatnya!” ucap
Ajeng setelah menghentikan motornya dan melihat secarik kertas yang ia ambil
dari dalam tasnya. Ia mencocokkan alamat yang tertera pada kertas itu dengan
alamat yang ada di plang depan gedung itu.
Setelah memastikan jika itu benar,
ajeng segera memarkirkan motornya di depan gedung, melepas helmnya dan segera
masuk ke dalam gedung.
“Siang mbak!” sapa Ajeng pada
petugas yang sedang berjaga.
‘Siang …, ada yang bias saya bantu
mbak?”
“Apa benar ini PT. bangunan abadi?”
‘Iya benar mbak, apa mbak ingin
mencari hunian, kami menyediakan beberapa hunian yang di sesuaikan dengan baged
pembeli!’
‘Tidak mbak …, saya hanya mau tanya!
Apa rumah yang ada di kuitansi ini di beli di perusahaan ini?’ tanya Ajeng
sambil menunjukkan kwitansi itu.
“Oh ini …., iya mbak. Kebetulan
pemiliknya baru saja dari sini. Rumah yang di beli atas nama pak Adi Darma
untuk bu Siska!”
“Siska?”
‘Iya mbak!”
“Boleh minta alamatnya mbak? Soalnya
ini penting, saya menantunya pak Adi Darma!”
“Baiklah mbak, tunggu sebentar ya
mbak!” wanita itu seperti sedang menuliskan sesuatu dia atas secarik kertas dan
menyerahkannya pada Ajeng.
“Makasih ya mbak!”
“Sama-sama!”
Ajeng pun segera meninggalkan gedung
itu, ia memasukkan alamat itu kembali ke dalam tasnya. Ia menghampiri motornya
dan kembali memakai helmnya. Saat hendak naik ke atas motor, matanya menangkap
sosok yang ia kenal. Itu ayah mertuanya. Ajeng pun mengurungkan niatnya untuk
menaiki motornya, ia kembali melepaskan helmnya dan segera berjalan menghampiri
pria paruh baya itu.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰😘❤️❤️