Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Siapa wanita itu?


__ADS_3

            Beberapa minggu ini Al begitu sibuk.


Entah apa yang sedang di kerjakan oleh pria itu. Semenjak datang ke rumah mama


renna dan Ajeng menyetujui untuk tinggal di rumah mama Renna, al enjadi begitu


sibuk, bahkan ia sering membawa pekerjaannya ke rumah. Ajeng menjadi sangat


bosan, ia hanya mendesain beberapa baju dan akan mengirimnya melalui kantor


pos. sebenarnya ajeng ingin sekali ke Malang dan mengunjungi tempat kerjanya,


tapi Al melarangnya karena dia belum bisa mengantar ke sana, sedangkan ia tidak


di ijinkan ke sana seorang diri. Rasa cemburu Al masih begitu besar terhadap


Bara, walaupun Bara sudah tidak lagi menghubungi Ajeng.


            Ajeng memutar-mutar ponsel di


tangannya di atas meja dengan satu tangan ia gunakan untuk menyangga


dagunya.  Tampak sekali wajah bosannya.


Bibirnya cemberut, wajah bosannya begitu kentara.


            “bagaimana aku bisa berdiam diri


sendiri seperti ini? Bukankah sebelumnya aku tidak takut apapun? Kenapa


sekarang aku jadi sepertu ayam petelur saja, hanya di rumah!” keluh Ajeng.


            “Neng …., kenapa wajahnya di tekuk


seperti itu?” tanya bibi yang kebetulan lewat.


            “Aku bosan bi ….!”


            “Kenapa nggak pergi sama ibu aja


neng?”


            “Nggak ah bi, mama kayaknya banyak


masalah. Gimana ya bi caranya Ajeng menyelidiki masalah mama sama papa? Aku mau


keluar tapi takut dosa kalau nggak ijin sama mas al!”


            ‘telpon aja neng!”


            “Mas al keberatan nggak ya?”


            “Bagaimana neng tahu kalau nggak


nyoba!”


            “Iya ya bi!”


            Ajeng pun mengikuti saran bibi, ia


segera mengetikkan sesuatiu ke ponselnya. Ia tidak mau telpon takutnya


menggangu. Ia memilih mengirimkan pesan saja.


          📲  Assalamualaikum


mas al, mas Al …, ajeng bosen di rumah saja, boleh nggak Ajeng pergi


jalan-jalan? Nggak lama kok …, boleh ya …


            Ting


            Ajeng mengirimkan pesan itu. Ia


kembali meletakkan ponselnya dan menunggu jawaban dari al suaminya.


            Drettttt dretttt drettttt


            Tedengar getaran dari ponselnya,


dengan cepat Ajeng mengangkat ponselnya dan melihat siapa yang melakukan


panggilan, ternyata itu dari Al.


           📞 “Assalamualaikum sayang!”


           📞 ‘Waalaikum salam mas ….!” Ucap ajeng


setelah meletakkan ponselnya di daun telingannya.


         📞   “Adek mau ke mana? Apa perlu mas


pulang dulu dan antar adek?” tanya Al; di seberang sana dengan nada yang

__ADS_1


terdengar panic.


           📞 ‘Nggak perlu mas …, ajeng bisa pergi


sendir. Nggak akan jauh mas, hanya ke rumah teman-teman yang dekat dnegan


rumah!”


         📞   ‘naik apa dek?”


           📞 ‘Naik motor, boleh kan ajeng pinjam


motornya?”


            📞“Motor?” tanya Al semakin panic.


            📞“Iya mas …., boleh ya!”


           📞 ‘Dek …, tapi kan adek belum punya


sim!”


         📞   “Nggak jauh mas …!”


         📞   ‘Baiklah …, kalau gitu pakek yang


matic aja ya! Jangan pakek yang motor gede!”


           📞 “Iya …!”


           📞 ‘Ya sudah hati-hati ya, jangan


kebut-kebutan dan lagi mas akan usahakan segera pulang, jadi janji jangan


lama-lama!”


            📞“Iya mas …, assalamualaikum!”


            📞“Waalaikum salam!’


            Ajeng begitu senang karena telah


mendapatkan ijin walaupun dengan proses yang sangat panjang. Ajeng segera


menuju ke kamarnya dan mengganti bajunya. Ia menyambar tas kain kecilnya.


Memasukkan ponsel dan dompetnya ke dalam sana. Menyambar helm yang berada di


dalam lemari dan segera memakainya, ini kali pertama setelah sekian lama setelah


            Tujuan pertama yang ajeng akan


kunjungi adalah rumah yang alamatnya tertera dalam kuitansi itu. Ia begitu


penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan mama Renna dan jiga papa Adi. Ia


mengeluarkan motornya dari garasi, sedikit memanasi, walaupun jarang di bawa


keluar rumah tapi Lukman setiap pagi selalu memanasi motor-motor itu, motor itu


adalah motor yang biasa Dika bawa ke sekolah.


            Masih ingat sekali bagaimana dulu ia


sering di bonceng dengan motor itu, Dika paling suka mengajak ajeng jalan-jalan


dengan motor itu.


            “Kita bertemu lagi …, bagaimana


kabarmu tanpa Dika, pasti juga kesepian ya! Bagaimana kalau kita jadi detektif


hari ini?”


            Ajeng mengajak motor itu bicara


seperti sedang bicara dengan kawan lamanya yang sudah lama tidak bertemu, ajeng


mengelus stang depannya. Ajeng segera menaikinya dan mulai menjalankannya.


Lukman yang sedang berjaga begitu terkejut melihat Ajeng keluar rumah dengan


motornya, tapi ia tidak berani mencegahnya.


            “Mungkin mas Al sudah


mengijinkannya!” guman Lukman.


            Lukman membiarkan Ajeng berlalu


begitu saja. Ajeng memecah ramainya jalan raya , walaupun sangat panas tapi


Ajeng begitu menikmatinya. Ia jadi teringat dulu pertama kali bertemu dengan

__ADS_1


Al, ia harus menempuh perjalanan panas-panasan dengan sepeda ontelnya hanya


demi mendapatkan bimbingan mengerjakan tugas matematika milik pak Dadang, si


guru killer.


            Ajeng tersenyum sendiri setiap kali


mengingat masa-masa itu, masa-masa itu adalah masa yang indah, masa di mana ia


bisa bertemu dengan pria sebaik Al dan di kelilingi oleh sahabat-sahabat yang


begitu tulus menyayanginya.


            ‘Sepertinya ini deh tempatnya!” ucap


Ajeng setelah menghentikan motornya dan melihat secarik kertas yang ia ambil


dari dalam tasnya. Ia mencocokkan alamat yang tertera pada kertas itu dengan


alamat yang ada di plang depan gedung itu.


            Setelah memastikan jika itu benar,


ajeng segera memarkirkan motornya di depan gedung, melepas helmnya dan segera


masuk ke dalam gedung.


            “Siang mbak!” sapa Ajeng pada


petugas yang sedang berjaga.


            ‘Siang …, ada yang bias saya bantu


mbak?”


            “Apa benar ini PT. bangunan abadi?”


            ‘Iya benar mbak, apa mbak ingin


mencari hunian, kami menyediakan beberapa hunian yang di sesuaikan dengan baged


pembeli!’


            ‘Tidak mbak …, saya hanya mau tanya!


Apa rumah yang ada di kuitansi ini di beli di perusahaan ini?’ tanya Ajeng


sambil menunjukkan kwitansi itu.


            “Oh ini …., iya mbak. Kebetulan


pemiliknya baru saja dari sini. Rumah yang di beli atas nama pak Adi Darma


untuk bu Siska!”


            “Siska?”


            ‘Iya mbak!”


            “Boleh minta alamatnya mbak? Soalnya


ini penting, saya menantunya pak Adi Darma!”


            “Baiklah mbak, tunggu sebentar ya


mbak!” wanita itu seperti sedang menuliskan sesuatu dia atas secarik kertas dan


menyerahkannya pada Ajeng.


            “Makasih ya mbak!”


            “Sama-sama!”


            Ajeng pun segera meninggalkan gedung


itu, ia memasukkan alamat itu kembali ke dalam tasnya. Ia menghampiri motornya


dan kembali memakai helmnya. Saat hendak naik ke atas motor, matanya menangkap


sosok yang ia kenal. Itu ayah mertuanya. Ajeng pun mengurungkan niatnya untuk


menaiki motornya, ia kembali melepaskan helmnya dan segera berjalan menghampiri


pria paruh baya itu.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰😘❤️❤️


__ADS_2