
Ajeng pun segera meninggalkan gedung itu, ia memasukkan alamat itu kembali ke dalam tasnya. Ia menghampiri motornya dan kembali memakai helmnya. Saat hendak naik
ke atas motor, matanya menangkap sosok yang ia kenal. Itu ayah mertuanya. Ajeng
pun mengurungkan niatnya untuk menaiki motornya, ia kembali melepaskan helmnya
dan segera berjalan menghampiri pria paruh baya itu.
“Assalamualaikum pa!” sapa Ajeng
saat sudah berada di dekat pria paruh baya itu, walaupun sebagian rambutnya
sudah memutih tapi pesonanya masih melekat sempurna.
“Ajeng!” tampak sekali pria itu
begitu terkejut. “Waalaikum salam, ajeng kamu di sini? Ada perlu apa?” tanya
papa Adi dengan suara gugupnya.
“kata mama, papa ada di luar kota.
Tapi kok di sini? Kenapa nggak pulang ke rumah?”
“Kita bicaranya di kafe itu saja ya
nak!” ucap papa Adi dengan menunjuk sebuah kafe yang berada di sebelah gedung
itu.
“Iya pa!”
Mereka pun duduk di salah satu
bangku yang langsung menghadap ke jalan. Walaupun di tepi jalan tapi kafe itu
begitu sejuk arena banyaknya tanaman yang sengaja di tanam di dalam kafe.
“Mau minum apa nak?” tanya papa Adi.
‘apa aja pa!”
Papa Adi melambaikan tangannya dan
waiters pun segera menghampiri mereka. Dan menawarkan beberapa menu minuman
yang di sediakan di kafe itu.
“Kopi hitam dan ice coklat ya!’
“Baik pak!”
Tidak ada pembicaraan selama
menunggu, hingga waiters kembali lagi dengan secangkir kopi hitam dan segelas
panjang ice coklat.
“Minumlah!” minta papa Adi. Ajeng
pun segera meminumnya hingga menyisakan setengah, ia benar-benar haus hari ini
karena begitu panas di luar apalagi ia mengendarai motor.
“kapan kamu pulang ke Blitar? Apa
juga bersama Al?” tanya papa pada Ajeng setelah melihat Ajeng meletakkan
gelasnya.
“sudah hamper dua bulan, pa. dan
papa tidak pernah pulang!” ucap ajeng to the point. Sikap Ajeng yang
blak-blakan ini masih tetap kebawa sampai dewasa.
“Sudah dua bulan?” tanya papa adi
begitu terkejut.
“Apa papa sama mama ada masalah
hingga membuat papa tidak pulang?”
“Bukan begitu nak, papa sedang sibuk
ada beberapa pekerjaan yang harus papa selesaikan sebelum pulang!”
“apa sangat penting hingga harus
meninggalkan keluarga papa, kasihan mama, pa…, mama sangat kesepian!”
__ADS_1
“Maafkan papa ya, papa tidak bisa
pulang sekarang sebelum semuanya selesai. Tapi berjanjilah sama papa, jangan katakana
apapun sama Al termasuk pertemuan kita hari ini!”
“tapi ceritakan sedikit saja,
setidaknya biarkan Ajeng tidak berprasangka buruk pada papa!”
“Papa harus bercerita apa? Belum
waktunya nak. Ini sangat rumit!”
“Siapa Siska, pa?”
Pertanyaan Ajeng kembali membuat
papa Adi terkejut, ia tidak menyangka jika menantunya itu akan menanyakan hal
itu. Papa Adi menatap ajeng tak percaya, ia menghembuskan nafas beratnya,
mencoba mencairkan suasana yang semakin tegang itu. Papa adi menyenderkan
punggungnya ke sendiran kursi, mengusap kepalanya, menyingkirkan rambutnya yang
menutupi keningnya. Mencoba menguraikan kata-kata agar tidak benimbulkan
masalah baru.
“nak …, dari mana kamu tahu tentang
Siska?” tanya papa adi kemudian untuk memastikan jika Ajeng tidak mengetahui
apapun kecuali sebuah nama.
“Kenapa papa membelikan rumah untuk
wanita bernama siska?”
Pertanyaan kedua ajeng kembali
membuat papa adi bungkam. Ia tidak menyangka jika Ajeng akan tahu banyak.
Walaupun begitu papa adi tetap berusaha untuk tenang. Papa Adi menggenggam
tangan Ajeng, mencoba menyakinkan ajeng bahwa semuanya tidak seperti yang ajeng
pikirkan.
papa, papa tidak melakukan suatu hal yang salah. Jika kau mengetahui semua ini
dari mama kamu, maka papa hanya bisa bilang, jika apa yang di duga oleh mama mu
semuanya tidak benar. Bilang sama mamamu kalau papa begitu mencintainya. Papa
pergi dulu, baik-baik di rumah dan jaga mama ya. Assalamualaikum!”
Ucap papa adi dan kemudian berdiri
meninggalkan ajeng dan sebelum pergi papa Adi menyempatkan mengelus kepala
ajeng dengan penuh cinta. Ajeng bisa merasakannya, jika papa mertuanya
menyayanginya.
“Waalaikum salam!”
Ajeng menatap punggun pria paruh
baya itu hingga menghilang di balik jalan belakang. Ajeng menghembuskan nafas
beratnya. Menatap cankir kopi yang sempat di teguk oleh papa adi dan menyisakan
setengahnya.
“Apa mungkin papa menghianati mama,
jika sikapnya seperti itu, aku jadi tidak yakin!”
“aku harus menemui mama renna!”
Ajeng segera beranjak dari sana, ia
kembali ke depan gedung itu menghampiri motornya yang masih teronggok di sana.
Dengan cepat ia melajukan motornya menuju ke kafe milik mama Renna. Untung
jaraknya tidak terlalu jauh, ia cukup deg degan saat melewati jalan rasa
seperti ini, apa lagi setiap kali lihat ijo-ijo menyala, ia was-was karena
__ADS_1
takut itu pak polisi yang sedang melakukan razia, bagaimana tidak ia belum
punya SIM.
Akhirnya sampai juga ia di depan
kafe mama Renna. Ia kembali memarkirkan motornya di depan kafe. Ajeng segera masuk
ke dalam kafe, mengedarkan pandangannya ke segala arah dan mencari-cari, tapi
sulit sekali menemukan sosok yang sedang ia cari hingga seseorang
menghampirinya, sepertinya itu menejer kafe.
“Selamat siang mbak, ada yang bisa
kami bantu?”
‘Siang mas …., apa mama Renna ada?”
mendengar tamunya memanggil bosnya dengan panggilan mama, pria itu kembali
memprhatikan Ajeng dnegan seksama.
“Saya menantunya!” ajeng memecah
kebingungan pria itu, mungkin pria itu berfikir jika mama Renna hanya memiliki
dua anak cowok tapi di hadapannya seorang wanita.
‘Maaf saya tidak mengenali anda. Bu
Renna dari pagi berdiam diri di atas mbak, beliau sama sekali tridak turun!”
“baiklah …, boleh saya menyusul ke
atas?’
“Silahkan mbak!”
Ajeng pun segera menuju ke lantai
dua melalui tangga yang berada di ujung ruangan. Ia melihat di lantai dua itu
lebih mirip seperti rumah singgah ada sofa, tv, dan juga dapur. Dari ujung
tangga itu ia bisa melihat mama Renna yang sedang menatap ke arajh jendela
besar yang langsung menghubungkan kea rah taman belakang gedung. Samar-samar ia
bisa mendengar sesenggukan dari mama Renna.
Ajeng mulai berjalan mendekat, ia
berdiri di belakang mama Renna, tapi mamaRenna tidak menyadarinya. Ajeng pun
duduk di belakang mama Renna barulah mama renna menyadari kedatangannya.
“mama!” ucap ajeng dan mama Renna
pun segera membalik badannya menghadap ajeng.
‘Ajeng!” ucap mama Renna dnegan
wajah sembabnya.
“Mama nangis ya?”
“Maafin mama ya!” ucap mama Renna
lagi sambil meraih tubuh ajeng dan memeluknya. Mama Renna menunmpahkan air
matanya di dalam pelukan ajeng, ajeng pun tidak bertanya lagi sampai mama Renna
siap untuk bercerita.
Untuk pertama kalinya, ajeng melihat
mama Renna begitu hancur hingga ia tidak mampu lagi menyembunyikan rasa
sakitnya. Wanita yang selalu tampil ceria itu kini sedang menangis seperti anak
kecil di dalam pelukan menantunya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰😘😘❤️