Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Papa Adi


__ADS_3

            Ajeng pun segera meninggalkan gedung itu, ia memasukkan alamat itu kembali ke dalam tasnya. Ia menghampiri motornya dan kembali memakai helmnya. Saat hendak naik


ke atas motor, matanya menangkap sosok yang ia kenal. Itu ayah mertuanya. Ajeng


pun mengurungkan niatnya untuk menaiki motornya, ia kembali melepaskan helmnya


dan segera berjalan menghampiri pria paruh baya itu.


            “Assalamualaikum pa!” sapa Ajeng


saat sudah berada di dekat pria paruh baya itu, walaupun sebagian rambutnya


sudah memutih tapi pesonanya masih melekat sempurna.


            “Ajeng!” tampak sekali pria itu


begitu terkejut. “Waalaikum salam, ajeng kamu di sini? Ada perlu apa?” tanya


papa Adi dengan suara gugupnya.


            “kata mama, papa ada di luar kota.


Tapi kok di sini? Kenapa nggak pulang ke rumah?”


            “Kita bicaranya di kafe itu saja ya


nak!” ucap papa Adi dengan menunjuk sebuah kafe yang berada di sebelah gedung


itu.


            “Iya pa!”


            Mereka pun duduk di salah satu


bangku yang langsung menghadap ke jalan. Walaupun di tepi jalan tapi kafe itu


begitu sejuk arena banyaknya tanaman yang sengaja di tanam di dalam kafe.


            “Mau minum apa nak?” tanya papa Adi.


            ‘apa aja pa!”


            Papa Adi melambaikan tangannya dan


waiters pun segera menghampiri mereka. Dan menawarkan beberapa menu minuman


yang di sediakan di kafe itu.


            “Kopi hitam dan ice coklat ya!’


            “Baik pak!”


            Tidak ada pembicaraan selama


menunggu, hingga waiters kembali lagi dengan secangkir kopi hitam dan segelas


panjang ice coklat.


            “Minumlah!” minta papa Adi. Ajeng


pun segera meminumnya hingga menyisakan setengah, ia benar-benar haus hari ini


karena begitu panas di luar apalagi ia mengendarai motor.


            “kapan kamu pulang ke Blitar? Apa


juga bersama Al?” tanya papa pada Ajeng setelah melihat Ajeng meletakkan


gelasnya.


            “sudah hamper dua bulan, pa. dan


papa tidak pernah pulang!” ucap ajeng to the point. Sikap Ajeng yang


blak-blakan ini masih tetap kebawa sampai dewasa.


            “Sudah dua bulan?” tanya papa adi


begitu terkejut.


            “Apa papa sama mama ada masalah


hingga membuat papa tidak pulang?”


            “Bukan begitu nak, papa sedang sibuk


ada beberapa pekerjaan yang harus papa selesaikan sebelum pulang!”


            “apa sangat penting hingga harus


meninggalkan keluarga papa, kasihan mama, pa…, mama sangat kesepian!”

__ADS_1


            “Maafkan papa ya, papa tidak bisa


pulang sekarang sebelum semuanya selesai. Tapi berjanjilah sama papa, jangan katakana


apapun sama Al termasuk pertemuan kita hari ini!”


            “tapi ceritakan sedikit saja,


setidaknya biarkan Ajeng tidak berprasangka buruk pada papa!”


            “Papa harus bercerita apa? Belum


waktunya nak. Ini sangat rumit!”


            “Siapa Siska, pa?”


            Pertanyaan Ajeng kembali membuat


papa Adi terkejut, ia tidak menyangka jika menantunya itu akan menanyakan hal


itu. Papa Adi menatap ajeng tak percaya, ia menghembuskan nafas beratnya,


mencoba mencairkan suasana yang semakin tegang itu. Papa adi menyenderkan


punggungnya ke sendiran kursi, mengusap kepalanya, menyingkirkan rambutnya yang


menutupi keningnya. Mencoba menguraikan kata-kata agar tidak benimbulkan


masalah baru.


            “nak …, dari mana kamu tahu tentang


Siska?” tanya papa adi kemudian untuk memastikan jika Ajeng tidak mengetahui


apapun kecuali sebuah nama.


            “Kenapa papa membelikan rumah untuk


wanita bernama siska?”


            Pertanyaan kedua ajeng kembali


membuat papa adi bungkam. Ia tidak menyangka jika Ajeng akan tahu banyak.


Walaupun begitu papa adi tetap berusaha untuk tenang. Papa Adi menggenggam


tangan Ajeng, mencoba menyakinkan ajeng bahwa semuanya tidak seperti yang ajeng


pikirkan.


papa, papa tidak melakukan suatu hal yang salah. Jika kau mengetahui semua ini


dari mama kamu, maka papa hanya bisa bilang, jika apa yang di duga oleh mama mu


semuanya tidak benar. Bilang sama mamamu kalau papa begitu mencintainya. Papa


pergi dulu, baik-baik di rumah dan jaga mama ya. Assalamualaikum!”


            Ucap papa adi dan kemudian berdiri


meninggalkan ajeng dan sebelum pergi papa Adi menyempatkan mengelus kepala


ajeng dengan penuh cinta. Ajeng bisa merasakannya, jika papa mertuanya


menyayanginya.


            “Waalaikum salam!”


            Ajeng menatap punggun pria paruh


baya itu hingga menghilang di balik jalan belakang. Ajeng menghembuskan nafas


beratnya. Menatap cankir kopi yang sempat di teguk oleh papa adi dan menyisakan


setengahnya.


            “Apa mungkin papa menghianati mama,


jika sikapnya seperti itu, aku jadi tidak yakin!”


            “aku harus menemui mama renna!”


            Ajeng segera beranjak dari sana, ia


kembali ke depan gedung itu menghampiri motornya yang masih teronggok di sana.


Dengan cepat ia melajukan motornya menuju ke kafe milik mama Renna. Untung


jaraknya tidak terlalu jauh, ia cukup deg degan saat melewati jalan rasa


seperti ini, apa lagi setiap kali lihat ijo-ijo menyala, ia was-was karena

__ADS_1


takut itu pak polisi yang sedang melakukan razia, bagaimana tidak ia belum


punya SIM.


            Akhirnya sampai juga ia di depan


kafe mama Renna. Ia kembali memarkirkan motornya di depan kafe. Ajeng segera masuk


ke dalam kafe, mengedarkan pandangannya ke segala arah dan mencari-cari, tapi


sulit sekali menemukan sosok yang sedang ia cari hingga seseorang


menghampirinya, sepertinya itu menejer kafe.


            “Selamat siang mbak, ada yang bisa


kami bantu?”


            ‘Siang mas …., apa mama Renna ada?”


mendengar tamunya memanggil bosnya dengan panggilan mama, pria itu kembali


memprhatikan Ajeng dnegan seksama.


            “Saya menantunya!” ajeng memecah


kebingungan pria itu, mungkin pria itu berfikir jika mama Renna hanya memiliki


dua anak cowok tapi di hadapannya seorang wanita.


            ‘Maaf saya tidak mengenali anda. Bu


Renna dari pagi berdiam diri di atas mbak, beliau sama sekali tridak turun!”


            “baiklah …, boleh saya menyusul ke


atas?’


            “Silahkan mbak!”


            Ajeng pun segera menuju ke lantai


dua melalui tangga yang berada di ujung ruangan. Ia melihat di lantai dua itu


lebih mirip seperti rumah singgah ada sofa, tv, dan juga dapur. Dari ujung


tangga itu ia bisa melihat mama Renna yang sedang menatap ke arajh jendela


besar yang langsung menghubungkan kea rah taman belakang gedung. Samar-samar ia


bisa mendengar sesenggukan dari mama Renna.


            Ajeng mulai berjalan mendekat, ia


berdiri di belakang mama Renna, tapi mamaRenna tidak menyadarinya. Ajeng pun


duduk di belakang mama Renna barulah mama renna menyadari kedatangannya.


            “mama!” ucap ajeng dan mama Renna


pun segera membalik badannya menghadap ajeng.


            ‘Ajeng!” ucap mama Renna dnegan


wajah sembabnya.


            “Mama nangis ya?”


            “Maafin mama ya!” ucap mama Renna


lagi sambil meraih tubuh ajeng dan memeluknya. Mama Renna menunmpahkan air


matanya di dalam pelukan ajeng, ajeng pun tidak bertanya lagi sampai mama Renna


siap untuk bercerita.


            Untuk pertama kalinya, ajeng melihat


mama Renna begitu hancur hingga ia tidak mampu lagi menyembunyikan rasa


sakitnya. Wanita yang selalu tampil ceria itu kini sedang menangis seperti anak


kecil di dalam pelukan menantunya.



Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰😘😘❤️


__ADS_2