
Di tempat lain.
Madam Yora tampak menggertakkan giginya marah mendengar kesaksian anak buahnya. Pengikutnya yang ribuan dan tersebar di empat usaha ilegalnya harus mati mengenaskan akibat ledakan itu. Bukan itu saja yang membuatnya marah, tapi uang jutaan dolar dari usaha narkotikanya juga harus hangus terbakar begitu saja. Belum lagi pabrik pembuatan senjata dan laboratorium kebanggaannya ludes tak bersisa, entah berapa jutaan dolar yang menghilang dalam sekejap mata. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa anak buahnya begitu bodoh hingga terjadi empat penyerangan sekaligus.
Kini mereka semua berada di rumah utama madam Yora. Untung saja bangunan itu tetap berdiri tegak sehingga wanita itu bisa mengumpulkan anak buahnya yang tersisa di tempat itu untuk melakukan siasat. Bagaimana pun, ia harus membalas siapa pun yang sudah berani menggempur habis-habisan istananya.
"Bang sat! siapa yang sudah berani menyerang kita! Jawab!!" Teriak madam Yora marah.
PRANG
Madam Yora melampiaskan kemarahannya dengan membanting semua barang barang didekatnya. Ingin sekali wanita itu menembak sisa pasukannya yang bodoh itu, tapi tentu saja ia masih berpikir dua kali. Tenaga mereka masih bisa ia gunakan untuk menghimpun pasukan kembali.
Semua menundukkan pandangannya, Lauren yang berada di belakang wanita itu hanya bisa menghela nafasnya pelan. Pekerjaannya alamat akan bertambah jika dalam kondisi seperti ini, untung saja wanita berambut pendek ini tidak berada di Honduras saat itu, paling tidak ia tak menerima hukuman yang kedua kalinya.
Roxi hanya bisa diam menunggu perintah madam Yora, ia pikir mungkin setelah madam Yora selesai meluapkan marahnya, ia akan diperintah membunuh siapapun yang terlibat atas empat penyerangan waktu itu. Wanita itu cuek saja dengan kemarahan madam Yora, toh dia tidak terlibat dengan kejadian itu.
"Bodoh! Bagaimana bisa kalian tidak tau siapa yang melakukan penyerangan! Apa kerja kalian hah!" Teriak madam Yora kembali.
Tampak Hugo membisu dari tempat berdirinya. Pria besar itu sedikit menyesal, mengapa dirinya tak melarikan diri saat kejadian itu. Padahal itu adalah kesempatan satu satunya bisa lepas dari cengkraman madam Yora. Ia sudah lelah menjadi budak dan pemuas ranjangnya. Ia menyesali kebodohannya karena tak membantu musuh menghabisi anggotanya sendiri. Jika begini, kekuasaan madam Yora bukan runtuh malah wanita itu semakin berambisi melebarkan sayapnya menguasai sekutu yang berada dibawahnya.
"Hugo. Kenapa diam saja!! Apa kau yang berhianat pada kelompokmu!!" Pekik madam Yora.
Semua orang beralih menatapnya, semua anggota yang tersisa menyadari jika Hugo malam itu sama sekali tidak terlibat dengan aksi tembak menembak. Entah apa yang ada dipikiran mereka semua, tapi sebagian besar mulai menaruh curiga padanya.
"Tidak madam. Saya tidak melakukan itu. Bertepatan malam itu, saya sedang melakukan misi. Jika tidak percaya silahkan anda telfon Tuan Morgan. Saya ikut mengawal penyelundupan barang ke pelabuhan." jawab Hugo tegas.
"Apa kau pikir aku bodoh hah! Beraninya kau berbohong padaku! Minta mati kau!!" teriak madam Yora.
"Ampun madam, tapi yang saya katakan adalah benar, ketika saya kembali, markas sudah terbakar hebat, lalu saya memutuskan untuk melihat keadaan pabrik di San Pedro. Saya ingin mengantisipasi jika terjadi serangan disana. Sayangnya saya lagi lagi terlambat. Keadaan disana juga hampir sama dengan keadaan di markas. Bahkan tiba-tiba saja puluhan mobil polisi mendatangi tempat itu."
"Bodoh! Kau bodoh Hugo!!"
__ADS_1
"Ampun madam, kita saat itu memang tidak bisa berbuat banyak, semua terjadi begitu saja. Saluran telepon juga tidak berfungsi sama sekali. Kami sama sekali tidak bisa mencari bantuan pada malam itu." ucap Hugo memberi pembenaran.
Dada madam Yora terlihat naik turun akibat emosinya sendiri. Wanita itu berjalan mendekati anak buahnya dan,
DUAK
DUAK
Madam Yora melampiaskan marahnya dengan menendang dan memukul satu persatu anggotanya yang tersisa. Ia tidak terima dengan kehancurannya. Kerajaan bisnis haramnya tidak boleh hancur begitu saja.
Tidak ada yang berani menghentikan kegilaan madam Yora. Semua ikut merasakan pedihnya tamparan, pukulan dan tendangan wanita itu, hingga sampai di depan Hugo, ia yang hendak memukul, langsung menghentikan tangannya diudara karena mendengar hal yang mengejutkan dari mulut pria itu.
"Jepang Madam. Yakusa itu yang sudah melakukan ini semua." ucap Hugo tenang.
"Apa kau bilang!"
"Ya, saya sudah mendapatkan buktinya. Sehari sebelum hari dimana peristiwa malam itu terjadi, mereka datang ke negara ini menggunakan pesawat pribadi dan kargonya, saya mendapat informasi ini dari catatan penerbangan yang sudah berhasil kami retas. Selain itu, dari kesaksian anggota kita yang selamat, mereka menggunakan bahasa jepang untuk berkomunikasi dan mereka juga menyebut nyebut nama Kiyoshi Yashimoto. Siapa lagi jika bukan Yakusa itu."
"Madam." Interupsi Roxi.
"Diam kalian! Hugo! minta bantuan sekutu kita! Kita juga harus memusnahkan mereka sampai ke akar akarnya. Bunuh semua yang terlibat dengannya. Dan rampas semua kekayaannya, aku tak mau rugi sendiri. Mereka harus merasakan pembalasanku. Satu lagi, minta Morgan untuk mengirimkan separuh anak buahnya untuk melakukan serangan balasan ini. Semua bersiaplah!"
"Yes madam!"
Roxi hanya bisa diam mendengar perintah dari wanita itu, ia pikir sedikit tidak percaya jika para Yakusa itu yang melakukannya, setahunya mereka juga tidak pernah menyinggung kelompok Yakusa itu.
.
.
Di gedung perusahaan EG.
__ADS_1
Edward bersama dua asistennya sedang duduk membahas sesuatu yang serius.
"Jadi Lukas, apa perusahaan mengalami kerugian atas insiden serangan cyber waktu lalu. Siapa yang terlibat kali ini. Kenapa kau begitu ceroboh menempatkan orang yang tidak ahli dibidangnya."
Alex yang mendengar itu terbelalak kaget. Selemah itukah sistem perusahaan EG, kenapa bisa sampai disusupi cracker. Ia tak habis pikir dengan orang yang berani mengusik mereka, apa dia tidak tau siapa mereka.
"Maaf Tuan, tapi berkat Brian dan Yudha, semua sudah kembali seperti semula. Tentang siapa pelakunya, itu masih dalam pengincaran kami. Max memberi tahu jika lokasi terakhir mereka gunakan berada tidak jauh rumah nona Aurora, tapi setelah kami selidiki rumah itu sudah kosong. Yang lebih mencengangkan, dari rumah itu kita bisa melihat rumah milik nona Aurora. Entah ini suatu kebetulan atau memang sengaja direncanakan. Jika ini direncanakan, itu artinya rumah kalian sudah dimata matai." jawab Lukas seadanya.
"Madam Yora." celetuk Alex.
Edward melirik Alex. Pria itu seperti setuju dengan pemikirannya. Kali ini target mereka memang hanya wanita itu. Jadi mereka selama ini bersembunyi tak jauh dari lingkungan tempat tinggalnya. Ini benar diluar dugaannya.
"Bagaimana dengan Henry, Lex." tanya Edward.
"Dia sudah kembali ke Singapura, saat aku berusaha mengejarnya malam itu, dia sudah melakukan boarding. Aku tak bisa mencegahnya, karena pria itu menggunakan pesawat komersial." jawab Alex seadanya.
Lukas mengerutkan dahinya, tanda tanya besar dalam benaknya. Bukankah pria itu selalu menggunakan jet pribadinya jika bepergian. Sedikit tidak masuk akal jika tiba-tiba pria itu naik pesawat komersial.
"Lalu?" tanya Edward.
"Dari catatan penerbangan, jet pribadinya lepas landas sehari sebelumnya ke Honduras. Ini kebetulan yang sangat aneh bukan. Apa pria itu juga terlibat selama ini? Secara ya, sejak kapan pria itu menyewakan jet pribadinya. Ini kebetulan yang tidak masuk akal. Dan apa itu, Honduras?" Alex terkekeh sinis. Bagaimana bisa pria itu bersekutu dengan madam Yora. Apa tujuan sebenarnya, apa juga ingin menguasai pasar di negara ini seperti Kimura atau malah ingin mendekati Aurora. Ini mencurigakan.
"Biarkan saja, kita hanya bisa menunggu kedatangan mereka setelah mereka menyelesaikan misinya. Kita cukup bersantai menikmati tontonan ini, kita tidak perlu mengotori tangan kita dengan darah mereka. Alex, tahu yang harus kau lakukan bukan?"
Alex hanya terkekeh mendengarnya, sejak kapan Edward bisa selicik ini, menghancurkan musuh yang tidak bisa mereka sentuh dengan lawannya sendiri. Matilah kalian Yakusa. Sebentar lagi kekuasaan kalian akan runtuh karena telah berani bermain api.
.
.
.
__ADS_1
######