Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
malam pertama yang tertunda


__ADS_3

Seperti biasa, Al selalu melaksanakan sholat berjama’ah di masjid, kali ini masjidnya


lebih dekat dari rumahnya yang di Blitar. Kini ia hanya perlu berjalan lima


menit dari rumahnya.


Setelah selesai melaksanakan sholat berjama’ah ia berencana untuk langsung pulang, tapi langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya.


“Nak Al ....!”


Al pun segera menoleh ke sumber suara. Seorang pria yang sudah beberapa saat yang lalu berdiri di barisan paling depan, memimpin sholat.


“Pak Kyai!”


“Bisa kita bicara sebentar!”


“Mari pak Kyai!”


Mereka pun memilih duduk di teras. Orang-orang sudah meninggalkan masjid kini tinggal mereka berdua.


“Apa yang ingin pak Kyai bicarakan?”


“Sebenarnya tidak terlalu penting, aku hanya ingin mengenal tetangga baruku saja, bagaimana betah kan tinggal di sini?"


“Alhamdulillah pak Kyai, kami sangat betah!”


“Syukurlah kalau begitu, sebenarnya di sini setiap hari kamis ba’da isha’ ada pengajian


untuk ibu-ibu! Kalau tidak keberatan, nak Al bisa mengajak istri nak Al untuk


ikut pengajian, putriku juga ikut, jika bersedia, mungkin nanti putriku bisa


menghampirinya, kebetulan rumah kami melewati rumah nak AL!”


“Pasti pak Kyai, nanti aku akan memberitahu istri saya!”


“Ya sudah sebenarnya hanya itu yang ingin saya sampaikan, oh iya …, jika ada waktu


berkunjunglah ke rumah kami, istri saya pasti senang!”


“Insyaallah, pak Kyai …, kami usahakan untuk berkunjung. Kalau begitu saya permisi!”


“Iya silahkan …!”


“Assalamualaikum!”


“Waalaikum salam warahmatullah .....!”

__ADS_1


Al pun segera meninggalkan pak Kyai, ia berjalan menuju ke rumahnya yang hanya


berjarak beberapa rumah saja dari masjid.


“Assalamualaikum!”


Al segera masuk dan mengunci pintu kembali, tak ada sahutan dari istrinya. Ia segera menuju ke kamarnya, ia tersenyum saat melihat istrinya masih memakai mukena.


Ajeng baru saja melipat sajadahnya dan hendak membuka mukenanya, tapi


kegiatannya terhenti saat melihat suaminya berdiri di depan pintu.


“Mas Al, kapan datang. Kenapa aku tidak mendengarkan salam dari mas Al?!”


Al pun mendekat kepada istrinya dan menatapnya dnegan senyumannya yang penuh arti.


“Assalamualaikum, sayang!”


“Waalaikum salam, mas. Kenapa senyumnya seperti itu banget?”


“Apa tamunya sudah pergi?”


"Tamu siapa mas? Aku nggak ada tamu, tadi pas mas ke masjid nggak ada tamu kok!"


"Bukan itu yang mas maksud, tamu kamu ...., maksudku tamu bulanan kamu, sayang!"


Mendengar pertanyaan suaminya, Ajeng barulah paham, ia pun tersenyum dan hanya bisa mengangguk dengan tersipu.


“Bisakah kita lakukan sekarang?” lagi-lagi Ajeng hanya mengangguk.


"Yes ...., yes ....., yes .......!" Al benar-benar senang mendengar pernyataan Ajeng.


“baiklah…, kita sholat dulu ya!”


Ajeng mengurungkan niatnya untuk melepaskan mukenanya. Ia kembali menggelar


sajadahnya, begitu juga dengan Al. mereka melaksanakan sholat dua rakaat


berjama’ah dan mengakhirinya dengan doa.


Ajeng melepas mukenanya dan Al juga melepaskan sarung, baju koko  dan songkoknya. Kini al tinggal mengenakan


kaos tipisnya dan celana kolor, ia mendekati istrinya.


“Apa kau sudah benar-benar siap?” Tanya Al lagi memastikan, ia tidak mau terlalu


memaksakan keinginannya pada Ajeng, walaupun ia sudah sangat menginginkannya.

__ADS_1


Ia sudah menahannya terlalu lama.


“Bismillahirrahmanirrahim.....!”


Al merebahkan tubuh Ajeng di atas tempat tidur, menindihnya dan menyangga tubuhnya


dengan tangan sebelahnya sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk mengelus


rambut Ajeng yang terurai, menyisihkan anak rambut yang menutupi wajah cantik


Ajeng. Al mendekatkan bibirnya pada bibir Ajeng, menempelkannya di atasnya, ia


mulai ******* bibir itu, menyes*p, dan menggigitnya.


Ajeng memejamkan matanya, ia mulai merasakan tubuhnya panas, seperti teraliri aliran listrik ribuan volt, tangan Al mulai menjelajahi tubuh ajeng, menyingkapkan baju


Ajeng hingga ia bisa leluasa memainkan tangannya. Nafas Ajeng mulai tidak


teratur, tangannya merem*s erat pada apa saja yang bisa ia temukan.


Al melepaskan kaos dan celananya, mulai memposisikan diri. Saat hentakan pertama,


Ajeng meremas punggung Al, ia hampir saja menjerit, air matanya mengalir sendiri


ia tampak kesakitan sekali. Membuat Al mengentikan kegiatannya.


“Sayang …, maafkan aku ….!”


Al segera menarik diri dari Ajeng. Ia benar-benar merasa bersalah pada istrinya


itu.


“Maafkan aku ya…, aku sudah menyakitimu!”


Al segera menciumi wajah Ajeng menyesap air mata ajeng dan memutupi tubuh istrinya


dnegan selimut, mendekapnya dalam pelukan. Ia tidak ingin melanjutkannya lagi,


sampai Ajeng benar-benar siap.


Cinta adalah saat seseorang ikut merasa terluka saat pasangannya menangis dan mengeluarkan air matanya


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘


__ADS_2