
Osaka.
Malam mulai larut. Suasana sunyi begitu sangat terasa mencekam dan sangat berbeda dengan malam malam sebelumnya. Entah apa yang akan terjadi, tapi hembusan angin dingin malam ini sedikit membuat bulu kuduk merinding.
Horor. Itulah keadaan yang dirasakan setiap orang yang berada di pondok itu.
Kimura memerintahkan pada anak buahnya agar tetap waspada terhadap semua ancaman. Karena mereka tidak tahu kapan serangan itu akan terjadi dan siapa yang akan menyerang pondoknya. Meningkatkan kewaspadaan adalah jalan satu-satunya.
Penjaga di depan masih siaga dengan hilir mudik berpatroli. Mereka masih bertugas seperti biasa. Tidak tau jika malam ini adalah malam terakhir kehidupannya.
Sebuah benda terbuat dari kayu mirip dengan lidi yang ujungnya mempunyai sebuah mata panah runcing yang terbuat dari besi, dengan kecepatan tinggi tiba-tiba melesat ke arah mereka.
CLEB...CLEB...CLEB
Tidak menimbulkan suara, tidak menimbulkan bekas luka, tapi mempunyai efek mematikan yang luar biasa. Tak kalah dengan senjata api mematikan di dunia seperti MG 42, M-16 ataupun AK 47 yang jika digunakan berisiknya jangan ditanya lagi, walaupun benda itu mampu memuntahkan ratusan peluru dalam hitungan menit.
Mereka tersenyum dari tempat persembunyiannya. Kembali mereka mengangkat senjata itu dan meniupkannya ke arah orang yang berpatroli di area depan pondok. Seketika,
CLEB..CLEB..BRUK
Orang orang itu dengan mudahnya ambruk, tergolek tak berdaya akibat peluru kayu yang telah diberi racun pada ujungnya. Racun langka dan berbahaya yang tentu belum ada penawarnya.
Dalam hitungan detik, mereka mengejang tanpa suara. Mati mengenaskan dengan tubuh yang membiru. Sungguh itu adalah salah senjata ampuh yang mereka gunakan jika sedang melakukan misi pelenyapan. Apalagi yang dilenyapkan hanya tikus tikus tidak berguna.
Mereka tersenyum puas, setidaknya mereka sudah melumpuhkan satu brikade keamanan pertama. Melumpuhkan lawan dengan cara seperti ini tidak terlalu menguras banyak energi, mereka juga tidak peduli jika dikatakan pengecut, toh tujuannya sama-sama membunuh. Ini yang dinamakan taktik.
Seorang wanita yang berpakaian seperti ninja, langsung mengkode anggotanya untuk bergerak maju. Beberapa orang ahli ranjau langsung maju terlebih dahulu, memastikan anggotanya agar tidak mati sebelum tenaganya digunakan untuk menghabisi seluruh orang dalam pondok itu.
TAP
TAP
Suasana yang sunyi dan senyap seakan menjadi dongeng pengantar tidur yang indah malam ini. Mereka semakin bersemangat karena mereka pikir jika penghuni pondok itu telah masuk ke alam mimpi. Semakin mudah untuk dibantai pikir mereka.
Kimura yang saat itu sedang berada di sebuah ruangan khusus langsung memakai perlengkapan khusus pada tubuhnya ketika telinganya menangkap suara tapak kaki dari atas atap.
Seperti sebuah kode yang saling terhubung, semua orang dalam pondok itu segera bersiap diri. Kimura mulai berjalan mengendap keluar dengan membawa katana dan senjata laras panjang yang ia slempangkan pada bahunya.
Para Yakusa langsung mengangguk ketika melihat tangan Kimura memberi kode.
Sebuah tuas perangkap langsung diputar dan tiba-tiba sebuah lubang besar terbuka lebar dengan banyak ranjau didalamnya terpampang di halaman depan pondok itu. Seketika,
SRAK
BRUK..BRUK..BRUK
__ADS_1
Puluhan orang yang berdiri diatas tanah itu langsung terperosok ke dalam lubang tanpa bisa menyelamatkan diri.
Kimura diam diam tersenyum menyeringai, segera pria itu langsung memerintahkan anak buahnya untuk menutup kembali perangkapnya.
"Bos." panggil Zen, menghampiri Kimura dengan wajah cemasnya.
"Ada apa."
"Kita dikepung dari arah depan dan sisi kiri. Semua membawa senjata laras panjang." ujar Zen serius.
"Apa mereka dari pihak militer?" tanya Kimura.
"Bukan Bos."
"Bagaimana dengan Naomi, apa wanita itu sudah pergi dari sini?" tanya Kimura
"Belum."
Bukan Zen yang menjawab pertanyaan Kimura, melainkan Naomi sendiri. Wanita itu perlahan mendekati suaminya.
Kimura mengeraskan rahangnya, bagaimana bisa wanita itu masih berada didalam pondok, sementara sebentar lagi akan terjadi pertumpahan darah, apa wanita itu tidak memikirkan putrinya.
"Kenapa kamu begitu keras kepala. Kenapa tidak mengindahkan perintahku!" Geram Kimura dengan nada tertahan. Matanya bahkan sampai melotot marah pada wanita itu.
Kimura semakin mengeraskan rahangnya, merasa sangat kesal sekali pada wanita itu, apa tidak bisa wanita itu menurut padanya, setidaknya tidak menambah beban pekerjaannya.
"Suamiku."
"Diam. Cepat pergi dari pondok ini sebelum semuanya terlambat." kata Kimura menatap wanita itu tajam.
"Tidak. Aku tidak bisa membiarkanmu melawan mereka sendiri. Jika aku pergi, kau juga harus pergi bersamaku."
Kimura mengepalkan tangan kanannya, sulit sekali membujuk wanita itu. Apa dia tidak takut terbunuh.
"Pergilah Naomi, jangan menambah bebanku." ujar Kimura datar.
"Tidak. Aku bukan seorang pengecut, aku juga bukan wanita yang lemah. Aku tidak dilahirkan untuk menjadi beban suamiku, jadi izinkan aku membantumu." ucap tegas Naomi.
"Apa kau lupa sesuatu Naomi? Bagaimana dengan bayimu." desis Kimura. Pria itu tidak mengerti jalan pikiran istrinya.
"Aku tetap memilih bersamamu walau jalan yang harus aku lalui adalah jalan yang penuh dengan duri."
Zen menatap jengah pasangan aneh di depannya. Keadaan sudah genting, tapi dua manusia itu masih membuat drama.
Tiba-tiba,
__ADS_1
CRAT
Satu lemparan shuriken dari Naomi mengenai leher seorang yang sedari tadi mengintipnya.
Kimura memandang ke arah istrinya, ia tak menyangka jika intuisi nya begitu peka.
"Berhati-hatilah, aku tak mau disalahkan ayahmu jika terjadi sesuatu padamu."
Naomi mengangguk dan tersenyum lebar. "Jadi kau punya siasat apa untuk mengalahkan mereka."
"Diamlah."
"Zen. Tembak mereka dengan gas beracun dan cari tahu siapa dalang penyerangan ini. Aku akan membantainya setelah ini." Setelah mengatakan itu, Kimura segera menyeret Naomi menjauh dari sana. Pria itu ingin memantau dari atas seberapa banyak orang yang ingin menggempur wilayahnya.
Zen segera memerintahkan anggotanya untuk memasang masker gas, dan menembaki mereka dengan senapan khusus dari tempat masuknya musuh.
Tiba-tiba,
DHOM..DHOM..BLUAR
Ledakan hebat dari bangunan sisi kiri membuat pria itu seketika menghentikan langkahnya. Kimura membulatkan matanya. Gawat, itulah yang ada dalam pikirannya saat ini. Ia bahkan tidak memiliki senjata peledak seperti mereka.
Naomi memegang erat tangan Kimura, matanya mengisyaratkan banyak pertanyaan pada suaminya, kenapa bisa punya musuh yang berbahaya.
DHOM..DHOM..
"Bos, gawat! Kita dijuga diserang dari udara! Lihat!" Zen menunjuk helikopter yang terbang rendah dan terus membidik pondok mereka.
Kimura menelan ludahnya sendiri. Bagaimana bisa seperti ini.
"Kita akan mati sia sia jika teknologi yang dipakainya adalah tenaga nuklir. Bagaimana kita bisa mengalahkan mereka jika begini." Zen cemas bukan main. Ia tak bisa membayangkan para Yakusa yang tiba-tiba tewas mengenaskan tanpa bisa berbuat apapun. Senjata lawannya sangat tidak seimbang.
"Lakukan apapun untuk menjatuhkan helikopter itu Zen. Aku akan ke bunker sebentar." Kimura segera menyeret istrinya menjauh dari sana. Ia pikir, mengamankan wanita keras kepala itu adalah langkah pertama, sebelum ia keluar menghadapi musuhnya.
Seorang wanita diam diam tengah tersenyum melihat aksi anak buahnya yang mulai memporak porandakan pondok itu. Ia sangat terhibur dengan tontonan kali ini.
"Tunggu kehancuran kalian. Itu akibat karena telah berani mengusik kedamaianku. Kalian akan hancur seperti kalian menghancurkan kami."
.
.
.
######
__ADS_1