
Setelah mentari sudah muncul
sempurna, al juga tidak pernah kembali. Ajeng pun memutuskan untuk ke rumah
mama Renna. Ia sembawa serta ponsel milik Al, mungkin Al berada di sana. Ajeng memesan
taksi online. Sesampai di rumah mama Renna rumah terlihat begitu sepi. Ajeng
tidak menemukan siapapun juga di rumah kecuali bibi, lukman pun tidak ada di
tempatnya.
“Bi …, kemana semuanya?”
‘e …, anu …, anu neng …!”
“Anu kenapa bi?” perasaan Ajeng semakin tidak enak saja, ia merasa ada yang sedang di sembunyikan oleh bibi.
“Semuanya ke rumah sakit!” bibi tidak sanggup lagi membohongi Ajeng.
“Rumah sakit …, siapa yang sakit bi?
Apa papa? Apa mama? Siapa bi?” Ajeng benar-benar tidak sabar menunggu
jawabannya, tapi sebelum bibi menjawab pertanyaan Ajeng, Dika lebih dulu datang
ternyata Dika sudah mencarinya di rumah mereka tapi melihat Ajeng sudah tidak
di rumah, tujuan utamanya pasti rumah mama.
“Ajeng!”
“Saya permisi neng!” bibi pun segera
meninggalkan mereka. Dika mendekat pada Ajeng, ia menyiapkan jawaban dari
pertanyaan yang akan di ajukan oleh Ajeng.
“Dik …, siapa yang di rumah sakit?”
“Aku akan mengajakmu ke sana!”
“Jawab dulu Dik!”
“Nanti kamu juga akan tahu!”
Akhirnya Ajeng pun hanya bisa
pasrah, ia tidak mau banyak bertanya lagi apalagi berspekulasi, kadang-kadang
pikiran yang salah itulah yang membuat semuanya menjadi semakin buruk.
Sepanjang jalan Ajeng hanya diam, terlihat sekali kecemasan di wajah Ajeng.
Setelah beberapa saat akhirnya
mereka sampai juga di depan sebuah rumah sakit. Dika memastikan dulu jika Ajeng
akan baik-baik saja.
“Ayo masuk!” ajak Dika, ingin sekali
rasanya menggenggam tangan wanita itu dan menguatkan hatinya, tapi Ajeng yang
ini bukan lah Ajeng yang dulu, abangnya telah menjadikan ajeng yang begitu baik
sekarang. Akhirnya Dika pun berjalan di depan dan Ajeng mengikutinya di
belakang.
Langkah mereka terhenti di depan
sebuah ruangan, terlihat di depan ruangan itu papa adi dan mama Renna.
‘Pa …, ma …., siapa yang sakit? Mana
mas Al?” tanya ajeng setelah tidak mendapati suaminya di sana. Mama Renna tidak
sanggup menjawabnya, ia hanya tetap berusaha tegar di depan menantunya itu,
matanya menunjuk pada ruangan itu.
__ADS_1
Ajeng terpaku di tempatnya saat
melihat siapa yang sedang berbaring di dalam sana dengan segala macam slang
yang menempel di tubuhnya, dengan bantuan pernafasan yang melekat di hidungnya.
Tanpa di minta air mata itu merembes dengan sendirinya, punggungnya mulai
bergetar, bibirnya ikut bergetar. Dadanya terasa sesak seperti sedang kehabisan
oksigen.
“Mas …AL …!” tiba-tiba saja tubuhnya
kehilangan keseimbangan. Untung saja dengan sigap Dika menopang tubuhnya.
“Suster …!” Dika segera berteriak
memanggil perawat. Ajeng di bawa ke ruang perawatan agar mendapatkan perawatan
intensif.
Setelah cukup lama tidak sadarkan
diri, kini ajeng sudah mulai sadarkan diri.
‘Mas Al!” gumam Ajeng dengan suara
lemahnya.
“Sayang …, yang sabar ya, Al akan
baik-baik saja sayang!” mama renna berusaha menguatkan hati menantunya walaupun
hatinya kini juga sedang remuk, sesekali mama renna terlihat mengusap air
matanya, sebelum Ajeng pingsan mama Renna sudah lebih dulu pingsan beberapa
kali.
“ma …, mas Al kenapa? Mas Al sakit
apa?” tanya Ajeng dengan air mata yang
“ jangan banyak pikiran sayang,
kasihan bayi dalam kandunganmu …, kita harus berdoa semua akan baik-baik saja
dan Al kembali baik!”
Ajeng mengelus perutnya, karena
terlalu memikirkan Al, ia sampai lupa dengan bayinya. Air matanya kembali tumpah,
sepanjang hari ini ia habiskan dengan terus menangis. Mama Renna tidak bisa
berbuat apa-apa lagi.
Setelah keadaan Ajeng sudah stabil,
ia pun di ijinkan untuk pulang, tapi Ajeng bersikeras untuk menemani Al. dengan
terpaksa papa dan mama Renna mengijinkan Ajeng menginap di rumah sakit dengan
menyewa satu kamar untuk Ajeng karena ruang rawat Al hanya bisa di kunjungi dua
jam saja seharinya.
“Mama pulang saja, ajeng biar di
sini, Ajeng mau nungguin mas Al sadar kembali!”
“Ya sudah kalau begitu biar Dika
yang menemanimu, mama sama papa pulang dulu ya …!” ajeng pun hanya mengangguk.
Hari-hari Ajeng terus di habiskan di
rumah sakit, menunggu saat baik itu saat di mana Al mulai membuka matanya
kembali, Dika pun dengan setia menemaninya Ajeng.
__ADS_1
“Mas bangunlah …, aku merindukan mu mas, kita merindukanmu …., sampai kapan
mas Al akan seperti itu. Jangan berani tinggalin aku mas aku akan sangat marah
padamu!” ucap Ajeng di balik kaca besar itu, ia hanya di ijinkan sampai di
balik kaca itu saja, bahkan untuk bisa menyentuhnya hanya ada dua jam sehari.
Dika hanya bisa menatap ajeng iba,
sudah berhari-hari semenjak Al masuk rumah sakit, air mata ajeng tak pernah
berhenti mengalir. Setiap kali mengingat tentang Al, air matanya akan segera
keluar dengan sendirinya.
“Mau makan es krim dengan ku?’ tanya
Dika mencoba menghibur Ajeng. Tapi Ajeng malah menatap ke arah Al. “jangan
khawatir, ada mama sama papa di sini!”
Memang benar di sana sudah ada mama
Renna dan papa adi. Orang tua ajeng beberapa hari yang lalu juga sudah datang
menjenguk. Akhirnya Ajeng mengangguk.
Dika mengajak Ajeng ke kedai es krim
yang tidak jauh dari rumah sakit, tempatnya begitu nyaman sangat cocok untuk
menghilangkan kepenatan. Dika memesan dua cup es krim, ia sudah sangat hafal
dengan rasa kesukaan Ajeng.
“Ini untukmu!” Dika menyerahkan satu
cup es krim untuk Ajeng. Ajeng pun segera memakannya, walaupun dengan dengan tatapan
yang kosong.
“Ajeng …, jangan terus menyiksa
dirimu sendiri, bang al pasti juga tidak suka melihatmu seperti itu! Kasihan
bayi dalam kandunganmu!”
“Bagaimana aku bisa biasa saja, saat
mas Al seperti itu. Hatiku hancur Dik. Seandainya saja aku tahu mas Al tidak
baik-baik saja, aku pasti tidak akan mau di ajak pergi. Ia sampai memaksakan
diri demi membuatku bahagia!”
“Itu semua bukan kesalahanmu, bang
Al sendiri yang mau …, seandainya kita bisa memilih. Jika antara kita harus ada
yang pergi, aku pasti akan meminta aku saja yang pergi, bukan bang Al agar
tidak ada air mata yang keluar dari matamu! Air mata itu melukaiku Jeng!”
bohong jika Dika sudah bisa melupakan cintanya pada Ajeng.
“Dik ….!”
“aku mengatakan yang sebenarnya Jeng
…, cintaku padamu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Tapi aku tidak
menyesal karena bang Al lah pendampingmu. Sungguh ….!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 🥰🥰😘❤️