Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
ujung sendu


__ADS_3

            Setelah mentari sudah muncul


sempurna, al juga tidak pernah kembali. Ajeng pun memutuskan untuk ke rumah


mama Renna. Ia sembawa serta ponsel milik Al, mungkin Al berada di sana. Ajeng memesan


taksi online. Sesampai di rumah mama Renna rumah terlihat begitu sepi. Ajeng


tidak menemukan siapapun juga di rumah kecuali bibi, lukman pun tidak ada di


tempatnya.


            “Bi …, kemana semuanya?”


            ‘e …, anu …, anu neng …!”


            “Anu kenapa bi?” perasaan Ajeng semakin tidak enak saja, ia merasa ada yang sedang di sembunyikan oleh bibi.


            “Semuanya ke rumah sakit!” bibi tidak sanggup lagi membohongi Ajeng.


            “Rumah sakit …, siapa yang sakit bi?


Apa papa? Apa mama? Siapa bi?” Ajeng benar-benar tidak sabar menunggu


jawabannya, tapi sebelum bibi menjawab pertanyaan Ajeng, Dika lebih dulu datang


ternyata Dika sudah mencarinya di rumah mereka tapi melihat Ajeng sudah tidak


di rumah, tujuan utamanya pasti rumah mama.


            “Ajeng!”


            “Saya permisi neng!” bibi pun segera


meninggalkan mereka. Dika mendekat pada Ajeng, ia menyiapkan jawaban dari


pertanyaan yang akan di ajukan oleh Ajeng.


            “Dik …, siapa yang di rumah sakit?”


            “Aku akan mengajakmu ke sana!”


            “Jawab dulu Dik!”


            “Nanti kamu juga akan tahu!”


            Akhirnya Ajeng pun hanya bisa


pasrah, ia tidak mau banyak bertanya lagi apalagi berspekulasi, kadang-kadang


pikiran yang salah itulah yang membuat semuanya menjadi semakin buruk.


Sepanjang jalan Ajeng hanya diam, terlihat sekali kecemasan di wajah Ajeng.


            Setelah beberapa saat akhirnya


mereka sampai juga di depan sebuah rumah sakit. Dika memastikan dulu jika Ajeng


akan baik-baik saja.


            “Ayo masuk!” ajak Dika, ingin sekali


rasanya menggenggam tangan wanita itu dan menguatkan hatinya, tapi Ajeng yang


ini bukan lah Ajeng yang dulu, abangnya telah menjadikan ajeng yang begitu baik


sekarang. Akhirnya Dika pun berjalan di depan dan Ajeng mengikutinya di


belakang.


            Langkah mereka terhenti di depan


sebuah ruangan, terlihat di depan ruangan itu papa adi dan mama Renna.


            ‘Pa …, ma …., siapa yang sakit? Mana


mas Al?” tanya ajeng setelah tidak mendapati suaminya di sana. Mama Renna tidak


sanggup menjawabnya, ia hanya tetap berusaha tegar di depan menantunya itu,


matanya menunjuk pada ruangan itu.

__ADS_1


            Ajeng terpaku di tempatnya saat


melihat siapa yang sedang berbaring di dalam sana dengan segala macam slang


yang menempel di tubuhnya, dengan bantuan pernafasan yang melekat di hidungnya.


Tanpa di minta air mata itu merembes dengan sendirinya, punggungnya mulai


bergetar, bibirnya ikut bergetar. Dadanya terasa sesak seperti sedang kehabisan


oksigen.


            “Mas …AL …!” tiba-tiba saja tubuhnya


kehilangan keseimbangan. Untung saja dengan sigap Dika menopang tubuhnya.


            “Suster …!” Dika segera berteriak


memanggil perawat. Ajeng di bawa ke ruang perawatan agar mendapatkan perawatan


intensif.


            Setelah cukup lama tidak sadarkan


diri, kini ajeng sudah mulai sadarkan diri.


            ‘Mas Al!” gumam Ajeng dengan suara


lemahnya.


            “Sayang …, yang sabar ya, Al akan


baik-baik saja sayang!” mama renna berusaha menguatkan hati menantunya walaupun


hatinya kini juga sedang remuk, sesekali mama renna terlihat mengusap air


matanya, sebelum Ajeng pingsan mama Renna sudah lebih dulu pingsan beberapa


kali.


            “ma …, mas Al kenapa? Mas Al sakit


apa?” tanya Ajeng dengan  air mata yang


            “ jangan banyak pikiran sayang,


kasihan bayi dalam kandunganmu …, kita harus berdoa semua akan baik-baik saja


dan Al kembali baik!”


            Ajeng mengelus perutnya, karena


terlalu memikirkan Al, ia sampai lupa dengan bayinya. Air matanya kembali tumpah,


sepanjang hari ini ia habiskan dengan terus menangis. Mama Renna tidak bisa


berbuat apa-apa lagi.


            Setelah keadaan Ajeng sudah stabil,


ia pun di ijinkan untuk pulang, tapi Ajeng bersikeras untuk menemani Al. dengan


terpaksa papa dan mama Renna mengijinkan Ajeng menginap di rumah sakit dengan


menyewa satu kamar untuk Ajeng karena ruang rawat Al hanya bisa di kunjungi dua


jam saja seharinya.


            “Mama pulang saja, ajeng biar di


sini, Ajeng mau nungguin mas Al sadar kembali!”


            “Ya sudah kalau begitu biar Dika


yang menemanimu, mama sama papa pulang dulu ya …!” ajeng pun hanya mengangguk.


            Hari-hari Ajeng terus di habiskan di


rumah sakit, menunggu saat baik itu saat di mana Al mulai membuka matanya


kembali, Dika pun dengan setia menemaninya Ajeng.

__ADS_1


            “Mas  bangunlah …, aku merindukan mu mas, kita merindukanmu …., sampai kapan


mas Al akan seperti itu. Jangan berani tinggalin aku mas aku akan sangat marah


padamu!” ucap Ajeng di balik kaca besar itu, ia hanya di ijinkan sampai di


balik kaca itu saja, bahkan untuk bisa menyentuhnya hanya ada dua jam sehari.


            Dika hanya bisa menatap ajeng iba,


sudah berhari-hari semenjak Al masuk rumah sakit, air mata ajeng tak pernah


berhenti mengalir. Setiap kali mengingat tentang Al, air matanya akan segera


keluar dengan sendirinya.


            “Mau makan es krim dengan ku?’ tanya


Dika mencoba menghibur Ajeng. Tapi Ajeng malah menatap ke arah Al. “jangan


khawatir, ada mama sama papa di sini!”


            Memang benar di sana sudah ada mama


Renna dan papa adi. Orang tua ajeng beberapa hari yang lalu juga sudah datang


menjenguk. Akhirnya Ajeng mengangguk.


            Dika mengajak Ajeng ke kedai es krim


yang tidak jauh dari rumah sakit, tempatnya begitu nyaman sangat cocok untuk


menghilangkan kepenatan. Dika memesan dua cup es krim, ia sudah sangat hafal


dengan rasa kesukaan Ajeng.


            “Ini untukmu!” Dika menyerahkan satu


cup es krim untuk Ajeng. Ajeng pun segera memakannya, walaupun dengan dengan tatapan


yang kosong.


            “Ajeng …, jangan terus menyiksa


dirimu sendiri, bang al pasti juga tidak suka melihatmu seperti itu! Kasihan


bayi dalam kandunganmu!”


            “Bagaimana aku bisa biasa saja, saat


mas Al seperti itu. Hatiku hancur Dik. Seandainya saja aku tahu mas Al tidak


baik-baik saja, aku pasti tidak akan mau di ajak pergi. Ia sampai memaksakan


diri demi membuatku bahagia!”


            “Itu semua bukan kesalahanmu, bang


Al sendiri yang mau …, seandainya kita bisa memilih. Jika antara kita harus ada


yang pergi, aku pasti akan meminta aku saja yang pergi, bukan bang Al agar


tidak ada air mata yang keluar dari matamu! Air mata itu melukaiku Jeng!”


bohong jika Dika sudah bisa melupakan cintanya pada Ajeng.


            “Dik ….!”


            “aku mengatakan yang sebenarnya Jeng


…, cintaku padamu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Tapi aku tidak


menyesal karena bang Al lah pendampingmu. Sungguh ….!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249

__ADS_1


Happy Reading 🥰🥰😘❤️


__ADS_2