Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Kencan 2


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan 15 menit akhirnya Fian dan sheina tiba di sebuah taman yang sangat luas serta banyaknya orang yang masih berlalu lalang di taman tersebut.


Sheina di buat terkejut dengan taman tersebut karena ia sangat ingat sekali taman ini,taman yang mana menjadi saksi bisu pertemuan dan perpisahan dua orang anak kecil 7 tahun yang lalu.


"Fian ini kan..." belum sempat sheina meneruskan ucapanya Fian sudah langsung memotongnya.


"ya taman waktu pertama kali kita ketemu" Fian pun menggenggam tangan sheina mengajaknya ke suatu tempat yang menjadi tempat merenungnya Fian di kala sedang ada masalah.


Fian dan sheina tiba di dekat pohon yang begitu rindang yang menutupi sebagian awan malam. sheina pun memutuskan mengelilingi pohon tersebut sembari mengingat memori indah semasa kecilnya.


"Lo masih sering ke sini fi?" tanya sheina yang sudah duduk di samping Fian yang sedang memandang lurus ke depan.


"sering, setiap kali ada masalah atau lagi kangen sama Lo gue ke sini" ujarnya


"gue kira Lo udah lupa sama tempat ini"


"nggaklah, tempat ini tempat untuk berkeluh kesah gue selama ini, selama Lo nggak ada gue sering ke sini apalagi semenjak mama koma" lirih Fian. ia teringat kembali dengan mamanya yang sedang terbaring koma di rumah sakit.


sontak sheina terkejut mendengar ucapan Fian mengenai mamanya yang koma, karena yang sheina tahu mamanya fian itu sehat sebab mamanya sheina pernah bercerita kepadanya kalau ia sempat bertemu dengan mama Fian beberapa waktu lalu.


"hah! mama Lo koma?" kaget sheina saat mendengar penuturan Fian.


"ya, sebulan yang lalu mama gue kecelakaan waktu lagi belanja dan mengakibatkan dia koma sampai sekarang" jawab fian lemah.


sheina langsung mendekat kearah Fian dan langsung mengusap punggung belakang Fian semacam memberikan kekuatan untuk dia.


"yang sabar ya,gue yakin pasti mama Lo bakal sembuh" ucap sheina sembari tersenyum manis kearahnya.


Fian membalas senyum sheina. ada ketenangan di hati Fian kala sheina megucapkan kata penyemangat untuknya dan mengelus punggungnya.


"ayo balik,nanti keburu malem lagi" Fian berdiri dan menarik tangan sheina lembut untuk menuju ke motornya.


awan malam semakin pekat dan suara gemuruh petir terdengar saling bersahutan saat Fian dan sheina masih dalam perjalanan untuk pulang kerumahnya. Fian yang merasa sebentar lagi akan turun hujan langsung berinisiatif untuk berhenti dahulu di sebuah warung makan di pinggir jalan.


"Na kita mampir dulu ya ke warung buat neduh,gue takut nanti kalo terus jalan bakal keburu ujan soalnya gue lupa gak bawa jas hujan" ucap Fian saat memarkirkan motornya di warung makan.


"ya udah nggak apa apa" ujar sheina

__ADS_1


Sheina dan Fian pun masuk ke dalam rumah makan sederhana untuk sekedar neduh dan untuk makan malam bersama.


"mau makan apa na?" tanya Fian saat buku menu sudah berada di meja.


"eh, gak fi gue gak lapar ko" tolak sheina karena merasa tidak enak masalahnya ia sedang tidak membawa uang.


"udah gak apa apa masa kita mampir ke sini gak beli apapun" ujar Fian


"ya udah orange jus aja" ucap sheina akhirnya.


"Lo yakin gak mau makan dulu?" Fian merasa tidak enak mengantarkan anak orang tapi orang tersebut tidak makan dulu. karena menurut fian orang yang sedang jalan dengan dia harus makan terlebih dahulu sebelum pulang kerumahnya.


"gak usah gue lupa gak bawa uang" sheina menunjukan cengiranya kepada Fian.


"ya elah na gue yang bayarin kok lo tenang aja,soalnya gue kalo bawa temen temen gue selalu teraktir mereka dulu" ujar fian


"ya udah gue pesen nasi goreng seafood aja" karena Fian terus memaksanya akhirnya sheina memesan makanan kesukaannya kan lumayan dapet makan gratis pikirnya.


Fian mengangguk dan memanggil waiters untuk memesan makananya. setelah memesan semua makananya mereka berdua sama sama terdiam dengan pikirannya masing masing.


"lo gak mau telepon orang tua lo dulu buat bilang kita lagi neduh di sini" sambung Fian.


"oh iya gue lupa" ucap sheina sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


sheina mengambil handphone yang berada di tas slingbagnya dan langsung menelpon bundanya yang sudah pasti sedang menuggu kehadarinya karena tadi sesuai janjinya mereka akan pulang jam sembilan malam.


"halo bunda" sapa sheina saat panggilannya sudah tersambung.


"iya halo,kamu ada di mana nak ini udah jam setengah puluh ko belum pulang" ucap bundanya khawatir.


"bunda gak usah khawatir aku baik baik aja kok ini aku udah di jalan mau pulang tapi ke jebak hujan jadi neduh Dulu deh warung" beritahu sheina agar bundanya tidak terlalu khawatir.


"*syukurlah bunda takut kamu kenapa kenapa,"


"kamu pulang dianterin diapa?" lanjut bundanya.


"di Anter temen bun" ucap sheina

__ADS_1


"oh yaudah kamu hati hati di jalan ya, bilangin sama temanya suruh hati hati bawa motornya*"


Sheina berdecak kesal "iyaa Bun" jawab sheina. kemudian langsung matikan sambungan teleponnya.


setelah sheina menelepon ibunya tak lama datang pesanan mereka dan langsung saja mereka makan bersama dengan keheningan yang menyelimuti keduanya.


setelah makan dan membayar semua makanannya Fian pun kembali melanjutkan perjalananya untuk mengantar sheina.


akhirnya setelah beberapa menit mereka di jalan Fian pun akhirnya sampai di rumah sheina dan terlihat ibunya sedang menanti di pintu rumahnya dengan wajah yang khawatir.


Fian yang merasa tidak enak pun langsung menemui ibunya sheina untuk meminta maaf karena telah mengantar anaknya telat.


"malam tente," sapa Fian sambil membungkuk dan tersenyum ramah


"maaf Fian anterin sheina nya jadi telat." sambungnya


"ya nggak apa apa lagian kan hujan juga" ucap ibunya


Fian mengangguk dan tersenyum "ya udah Tante Fian pamit pulang dulu udah malam soalnya" pamit Fian


"na gue pamit pulang dulu" pamit Fian kepada sheina


"ya, hati hati fi" ucap sheina. Fian mengangguk dan mulai berjalan meninggalkan rumah sheina Fian menaiki motornya dan langsung mengendarai motornya dengan kecepatan rata rata.


saat sudah sampai di depan rumahnya Fian melihat ada beberapa sepatu high heels wanita, Fian menggelengkan kepalanya kenapa papanya ini tidak pernah mau berubah. Fian sudah muak sebenarnya dengan kondisi rumahnya saat ini tidak ada lagi kehangatan keluarga seperti dulu yang ada hanya tempat untuk melampiaskan nafsu papanya kepada wanita bayaran nya.


Fian masuk kedalam rumahnya dan langsung menuju tangga untuk sampai kedalam kamarnya. Fian sudah lelah hari ini ingin rasanya langsung merebahkan badanya di kasur empuk miliknya.


saat sampai di depan pintu kamarnya Fian mendengar suara berat papanya "habis dari mana kamu fian jam segini baru pulang?" ucap papanya.


Fian membalikan badanya dan melihat papanya dari lantai atas "main" jawab fian sekenanya dan langsung masuk kedalam kamarnya.


Fian pun merebahkan badan di atas kasur king sizenya dan langsung memejamkan mata untuk memikirkan apakah keputusanya untuk meninggalkan rumah ini sudah tepat.


Fian sebenarnya sudah punya tabungan untuk mengontrak apartement. cuman Fian masih memikirkan bagaimana kondisi papanya nanti kalo di tinggal sendirian di rumahnya sudah pasti papanya semakin banyak nantinya membawa ****** bayaranya ke rumah. Fian tidak ingin rumahnya menjadi tempat melampiaskan nafsu **** papanya dengan beberapa wanita bayaran. karena pada dasarnya istrinya masih ada dan sedang berjuang dengan rasa sakitnya.


Fian menghela nafas berat, mungkin untuk tinggal di sebuah apartement untuk sementara tidak masalah Fian sudah muak dengan kondisi rumahnya saat ini ia ingin hidup dengan tenang.

__ADS_1


__ADS_2