
Mohon maaf baru up, kakaknya sedang kena musibah.
Kakaknya baru kecelakan, doakan lekas sembuh ya..
Terima kasih yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini.
Mohon maaf untuk segala kekurangan.
Back to the story \=\=\=\=>>>
.
.
"A..Aldi.."
Aldi mengangguk dan tersenyum bahagia, "You look so beautiful to night."
"Bolehkah aku memelukmu..?"tanya Aldi pelan sambil memandang wajah cantik Aurora.
Aurora mengangguk cepat. Aldi tersenyum bahagia. Ia langsung merengkuh tubuh Aurora dengan sayang.
"Aku kangen kamu Ra, gimana kabarmu. Apa kau baik baik saja?" tanya Aldi yang masih memeluk tubuh Aurora.
Bahagia, itu yang saat ini dirasakan oleh Aldi. Dua tahun menghilang hanya untuk menjauhi kehidupan Aurora, nyatanya saat bertemu hatinya berkata lain. Rasa sayangnya pada Aurora mampu melupakan dendamnya pada Tuan Hardy, ayah kandung Aurora.
Aurora mengangguk, "Kau kemana saja,..!?" tanya Aurora yang masih dalam dekapan Aldi.
"Aku tak pernah pergi jauh darimu. Maafkan aku..maaf membuatmu menangis.."
Para pengunjung di kafe itu bersorak dan bertepuk tangan. Mereka cengo dengan moment romantis yang diciptakan Aldi dan Aurora. Sesuatu yang sangat jarang dilihat oleh mereka yang sudah mengenal Aldi, pasalnya selama ini Aldi tak pernah dekat dengan seorang wanita manapun.
Suasana semakin riuh saat Aldi mencium kening Aurora didepan semua pengunjung malam itu. Suara histeris malam itu membuat Aldi bertambah semangat. Sengaja Aldi melakukannya untuk memanasi seseorang yang berada tak jauh dari sana. Ia bahkan menunjukkan tatapan cintanya pada Aurora. Tangan besarnya merengkuh pinggang Aurora dan berbisik lirih , "I love you.." Bahkan, gerakan bibir sensual Aldi terlihat jelas oleh mereka,hingga menimbulkan sorak riuh sebagian dari mereka. Aldi pun tersenyum kemenangan.
"Woow..wow..wow..." sorak mereka.
Wajah Aurora langsung pias seketika, ia tak menyangka kalau Aldi akan melakukan hal itu didepan orang lain. "Astaga apa yang sudah dia lakukan..apa tadi, i love you, oh astaga..Ya Tuhan, jangan datangkan masalah baru. Aku baru saja memulai kehidupan. " batin Aurora berdoa.
Aurora kemudian memandang wajah Aldi yang tersenyum simpul, "Ada apa, kenapa menatapku seperti itu?" heran Aurora.
"Tidak, apa kamu ingin bernyanyi bersamaku?"
Aurora menggeleng pelan,
"Baiklah, duduklah disini ya, hanya tinggal satu lagu. Tunggu aku, aku akan menemanimu setelah ini. Okey,.."
"Ya."
Aldi kemudian membawanya duduk di bangku depan panggung menghadap kearahnya dan melanjutkan bernyanyi. Tak dipungkiri, suara Aldi mampu membius kaum wanita jomblo yang ada di kafe itu, bukan hanya suaranya yang berkarakrer, tapi wajah dan tubuhnya sangat mendukung untuk digilai para wanita.
Mulanya Aurora sangat menikmati malam itu, tiba tiba saja ia teringat akan sosok Bodyguard yang sedari tadi mengikutinya. Aurora membulatkan matanya saat menyadari sosok yang dicarinya tak jauh dari tempat duduknya. Dua pria itu menyeringai penuh maksud saat menatap mata Aurora.
"Bagaimana jika mereka melaporkan kejadian malam ini pada kak Edward?Gawat, kamu bodoh Aurora, bisa bisanya kau bersikap seperti itu.! Kamu membangunkan singa tidur Aurora. " gumam Aurora merutuki dirinya sendiri
Lama melamun memikirkan suaminya, Aldi duduk disamping Aurora dengan dua minuman dingin ditangannya. "Apa aku membuatmu menunggu lama?"
"Ah,,tidak, sudah selesai bukan, gimana kalau kita ke taman saja. Disini terlalu ramai. Aku ingin bicara sesuatu padamu."
"Baiklah ayo, mana kunci mobilmu, biar aku yang bawa."
Aurora menyerahkan kunci mobilnya dan berjalan keluar dari kafe itu. Siulan dan suitan pengunjung masih terus terdengar oleh mereka, tapi mereka memilih mengabaikannya. Aldi merasa menang banyak malam ini.
"Malam ini kamu bintangnya Ra.." ucap Aldi setelah memakai selt belt pada badannya dengan wajah bahagianya.
"Hem benarkah..." Aurora menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
"Tentu saja benar, kamu wanita tercantik yang pernah aku temui. Namanya saja Aurora, Aurora adalah pancaran cahaya yang menyala-nyala dan menari nari dilangit malam. Semua orang bahkan tak mampu menolak keindahan itu. Semua akan tersihir dengan pesonanya." Aldi berkata sambil mengemudikan mobilnya dan sesekali melirik Aurora.
"Kamu terlalu berlebihan, aku tak secantik itu. Emm btw.. lama kita tak bertemu, kamu agak berisi ya..wah rupanya kamu hidup dengan baik. " Aurora mengganti topik pembicaraan.
"Apa aku sekarang terlihat lebih tampan? Teman temanku juga bilang begitu. Bahkan mereka menginginkan aku jadi artis. Apa aku cocok jadi artis??" tanya Aldi dengan menaik turunkan alisnya.
Aurora langsung mendatarkan wajahnya, entah dari mana sikap narsis Aldi muncul, padahal dulunya dia tidak seperti itu.
"Apa kamu sekarang terkena gangguan narsistik?"
"Wow,tentu saja tidak. Percaya diri itu perlu, selama tidak berlebihan. Lagian siapa yang akan menolak pria setampan aku. Wanita manapun akan meleleh bila aku berikan senyuman dan kedipan mata. Bahkan mereka tak akan ragu melemparkan tubuhnya ke ranjang ku, tapi aku sama sekali tak tertarik pada mereka." ucap Aldi disertai kekehannya.
"Rupanya anda jual tampang sekarang ya.. Boleh...boleh...mari kita uji coba. Seberapa lakunya anda dipasaran." ucap Aurora dengan seringainya.
"Apa, apa yang akan kau lakukan padaku..! kenapa menyeringai seperti itu.''
"Tenanglah, aku tidak akan melakukan apapun padamu, aku cuma minta kamu menjadi foto model untuk perusahaanku. Kebetulan aku akan meluncurkan brand baru. Jadi.. Kamu tidak boleh menolak, berani menolak,,, aku akan meminta kak Edward untuk membombardir markasmu yang ada di Rusia. Kebetulan sekali kak Edward sedang butuh uji coba untuk rudal barunya. " ucap Aurora dengan seringainya.
Aldi menelan ludahnya gugup, sambil melirik wajah Aurora, Aldi memikirkan bagaimana dia bisa tau tentang markas besarnya di Rusia. "Wanita berbahaya." batin Aldi
"Markas apa, aku tak tau yang sedang kamu bicarakan." Aldi mengernyit bingung untuk menutupi fakta.
"Benarkah?" Aurora memicingkan matanya.
"Be..benar. "
"Baiklah, tak masalah bukan jika aku membombardir markas itu. Aku akan telfon kak Edward dulu. Pria itu pasti dengan senang hati menuruti keinginanku." ucap Aurora dengan seringai liciknya.
"Ja..jangan..!! Oh Aurora, kau selalu membuatku tak berdaya.. "cegah Aldi frustasi. Sedangkan Aurora hanya terkekeh menanggapi kefrustasiannya.
"Baik baiklah nona cantik, aku akan menuruti kemauanmu, tapi hanya satu kali pemotretan, tidak ada kontrak dan tidak ada kesepakatan lebih lanjut. Mau ditaruh mana mukaku, bos besar jadi bintang model. Model apa pula itu, jangan sampai model pakaian dalam. Bisa hancur reputasiku , Ayahku pasti akan menertawakanku. Ayolah jangan begitu padaku."
"Ha ha ha.. kamu menggemaskan sekali. Aku suka dengan wajah itu." Aurora dibuat ketawa dengan muka melas Aldi.
"Kau akan tau nanti."
Setelah pembicaraan itu, suasana di dalam mobil kembali hening, Aurora sengaja memejamkan matanya. Pikirannya bercabang kemana mana. Tubuhnya terasa lelah dengan semua beban dipundaknya. Ia ingin melepaskan, tapi ia tak bisa melakukannya. "Ah, semoga segera ada bibit penerus dalam rahimku." doa dalam hatinya.
"Apa mobil dibelakang mobil kita bodyguardmu?" tanya Aldi memecah keheningan.
Aurora membuka mata dan menoleh kebelakang, "Bodyguard suamiku tepatnya. Biarkan saja, dia tidak akan mengganggu kita, mereka hanya menjagaku dari jarak jauh."
Aldi tersenyum saat mendengar kata suamiku dari bibir Aurora. "Lalu dimana suamimu? kenapa tak ikut bersamamu?" tanya Aldi lagi.
"Dia di Indonesia, pekerjaannya sangat banyak, aku kemari juga karena ada pekerjaan."
Aldi mengangguk dan tersenyum. "Kamu tak banyak berubah Aurora, beruntung sekali suamimu mendapatkan wanita sepertimu." batin Aldi
Mobil mereka akhirnya berhenti di taman kota dekat Ben Thanh Market, keduanya berjalan beriringan menapaki jalan di taman itu. Suasana malam memang sedikit berbeda, banyak pasangan muda mudi yang nongkrong disana. Mereka ada yang sekedar duduk duduk ataupun pacaran dibawah lampu remang remang.
Aldi mengandeng dan mengajak Aurora duduk dibangku kosong yang kebetulan sepi dari kerumunan orang.
"Kita mojok disini saja ya, aman dari gangguan yang lain." kelakar Aldi
Aurora menepuk lengan Aldi pelan, tapi ia tetap duduk dibangku itu.
"Jadi, apa yang akan kamu bicarakan padaku, apa kamu sangat merindukanku ?, apa aku salah satu pria spesial setelah suamimu.." tanya Aldi dengan senyumnya.
"Mungkin. Apa kamu kerja ditempat tadi?" tanya Aurora.
"Ya, seperti yang kamu lihat."
"Kembalilah bersamaku Kak, maafkan papaku, Papa pasti sangat senang melihat kamu lagi. Aku akan serahkan perusahaan padamu seperti janjiku dahulu."
"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa kembali padamu. Kalau cuma perusahaan, bahkan ayah angkatku sudah memberikannya padaku. Aku sudah berjanji untuk menjauh dari kehidupanmu. Dan untuk papamu, aku sudah berusaha memaafkannya, please jangan melibatkan aku dalam kehidupanmu lagi."
__ADS_1
"Apa kamu masih menyayangiku?" tanya Aurora
"Tentu saja , kenapa bertanya seperti itu.!?"
"Sebagai apa?"
"Kalau boleh aku memilih, aku ingin menyayangimu sebagai kekasihku. Kau tau , bahkan aku baru menyadari perasaan itu padamu." ucap Aldi tanpa memandang wajah Aurora.
Aurora terdiam menunduk, "Jangan mencintaiku, aku sudah bersuami. Bahkan kau tau benar hal itu."
"Aku hanya dapat berharap kelak dikehidupan selanjutnya hanya kamu yang menjadi istriku. Tetaplah menjadi Aurora yang seperti ini. Aku menyukai kamu yang seperti ini." Aldi berkata sambil mengusap kepala Aurora.
"Aku menyayangimu sebagai adikku. Mengadulah padaku saat kamu ada masalah, Kakak yang akan menjadi orang pertama yang membelamu."
"Ya, itu yang aku harapkan darimu Kak, aku menyayangimu." ucap Aurora sambil memeluk Aldi.
Aldi tersenyum mendapatkan pelukan dari Aurora, hatinya begitu bahagia bisa berjumpa kembali dengan Aurora.
"Jadi Kakak benar menyayangiku bukan.?"
Aldi mengangguk dan tersenyum. " Apa maumu sayang.."
"Kembalilah pulang bersamaku Kak."
Aldi langsung melepaskan pelukan Aurora, " Jangan sekarang, aku akan datang ketika kamu membutuhkan bantuanku, tapi tidak sekarang. Aku yakin kamu masih bisa menghandle pekerjaanmu. Lagi pula disampingmu masih banyak orang hebat yang masih bisa membantumu."
"Kakak.." rengek Aurora
"Maaf sayang, kakak janji deh, kalau kamu butuh bantuanku, kakak akan menemuimu."
"Berjanjilah padaku Kak." Aurora menautkan jari kelingkingnya.
"Baiklah kakak janji."
"Ayo antarkan aku pulang kehotel, malam ini aku harus terbang ke Filipina." Aurora berucap sambil berdiri membenarkan pakaiannya.
"Kenapa buru-buru? Kita bahkan belum membeli makanan apapun."
"Aku ada pekerjaan disana besok pagi. Aku masih harus segera berkemas. Ayo,..!"
"Apa apaan, kesini cuma membicarakan hal ini." gerutu Aldi.
"Ayolah, kalau Kakak masih ingin bersamaku, sebaiknya kakak ikut aku pulang. Mudah bukan.."
"Ck.."
Aldi kemudian merengkuh bahu Aurora dan membawanya berjalan beriringan. Keduanya terlihat sangat akrab, saling tertawa dan sesekali saling mengejar.
Bodyguard Edward saling berpandangan, lalu mengikuti mereka pergi.
"Apa kita perlu melaporkan pada bos?"
"Entahlah. Sebenarnya siapa pria itu, kenapa dekat sekali dengan nona, tapi kau juga dengar bukan, nona memanggilnya kakak."
"Ya. Sebaiknya kita tanyakan saja pada Tuan Lukas."
"Semoga saja kita berdua tidak kena semprot bos. Kau tau dia bukan pria yang mudah dibohongi."
"Ya, semoga. "
.
.
.
__ADS_1