
Usai dari AR programer, Aurora dan Kevin sudah kembali di kediaman Tuan Hardy. Aurora menatap datar papa dan mamanya yang sedang duduk di sofa ruang tamu bersama dua anak kembarnya. Entah kemana perginya Brian.
"Vin, kau boleh kembali. Nanti malam jemput aku lagi." kata Aurora sebelum masuk rumah.
"Baik Nona."
Al dan El segera berlari ke arah Aurora saat mengetahui mommynya sudah kembali. Keduanya mengulurkan tangan minta di gendong bersamaan.
"Ra, malam ini Aldi akan menjemputmu untuk menghadiri peresmian perusahaan baru, kamu harus datang bersamanya." ucap mamanya.
Aurora menaikkan alisnya, "Aku akan pergi bersama Lukas. Aku mewakili perusahaan suamiku jika mama lupa."
"Mama tidak lupa, ingat Aldi adalah calon suamimu. Atau jangan jangan kamu tertarik pada pria yang selalu memberimu bunga itu ya! Mama gak setuju kalau kamu berhubungan dengan Henry itu."
"Aku gak ada hubungan dengan dia, aku kenal hanya sebatas rekan kerja aja nggak lebih. Orang dianya juga lagi di Singapura." elak Aurora
"Nah, itu kamu tau dianya lagi dimana. Gimana mama percaya kalian gak ada hubungan." ucap mamanya.
"Sudahlah mah, kenapa mencampuri urusan asmara anak kita. Biarkan mereka bebas memilih. Berhenti menjodohkan mereka." kata Tuan Hardy.
"Ck. Papa gak tau sih! Diluar sana banyak orang yang menggunjing putri kita. Status janda itu seakan aib , apalagi anak kita masih muda. Banyak pria yang sudah beristri berbondong bondong mendekati putrimu. Kuping mama sampe panas mendengarnya. Ingin sekali Mama menampol pipi para wanita wanita itu dengan sepatu mama. Bisa bisanya mereka malah menyalahkan Aurora."
"Ya nggak usah didengerin Ma, untuk apa meladeni mereka." ucap suaminya.
"Ck. Kuping mama masih waras lho, enggak budeg. Papa diem aja deh, ini juga untuk kebaikan anak kita sendiri. Aldi tipe yang cocok untuk Aurora. Aldi juga mempunyai rasa pada putri kita. Nggak salah kan, kalau kita menjodohkan mereka. Orang tua Aldi juga sudah menyetujui rencana kita."
"Itu cuma rencana mama ya, papa gak ikut ikutan."
Mama Riyanti mendengus kesal menatap suaminya. "Aurora, mama cuma pingin lihat kamu berkeluarga dan hidup bahagia, mama dan papa sudah tua. Tidak inginkah kamu melihat kami bahagia. Mama gak rela, putri mama dihina karena status janda mudanya. Kamu ngerti kan maksud mama?"
Aurora yang duduk berhadapan dengan orang tuanya, hanya bisa mendengus kesal. Al dan El yang dipangkunya hanya diam mendengarkan omongan orang dewasa yang tidak ia mengerti.
"Ma, Aurora itu janda, Aldi masih perjaka. Ini juga akan jadi masalah jika mama maksud adalah status sosial. Aurora juga akan digunjing lagi. Lagian untuk apa mama memusingkan mereka. Akunya juga gak meladeni mereka." Aurora memijit pelipisnya pusing.
__ADS_1
"Tapi itu tidak akan lama. Ayolah menurut saja sama mama. Al dan El juga setuju jika Aldi jadi Papi nya. Ya nggak sayang." ucap mama Riyanti menatap pada dua balita itu.
"Iya." sahut mereka mengangguk.
"Bener, kalian mau Om Aldi jadi papanya Al dan El?" tanya Aurora menatap lekat putranya. Mereka berdua mengangguk bersamaan.
"Aish, kalian masih kecil, belum ngerti yang mom bicarakan. Kalian punya daddy sendiri. Daddy Edward. Ngerti." Aurora terkekeh melihat Al dan El yang bingung mencerna ucapannya.
.
.
Malam harinya Aurora sudah siap dengan gaun malamnya. Gaun panjang fit body dengan make up dan rambutnya yang di tata sedemikian rupa membuat tampilannya semakin cantik. Wanita berkelas, modis dan anggun itu melangkah perlahan menuruni anak tangga.
Aldi yang sudah datang dan sedang duduk disofa ruang tamu, menatap Aurora tanpa berkedip. Masih sama, masih terlihat cantik walau telah melahirkan dua putra. Ia hanya tak menyangka saja, selama ini Aurora menjaga tubuhnya dengan baik.
Aurora hanya tersenyum siput.
"Terima kasih, tapi kamu berlebihan. Harusnya kamu tak perlu menjemputku. Aku tidak ingin orang lain berpikiran yang tidak tidak tentang kita. Ingat, aku belum menyetujui pernikahan kita. Baiklah ayo kita lihat seberapa fanatiknya fans kamu di luar sana. Pasti mereka semua iri melihatku berjalan bersamamu. Aku harap mereka tak menjambak rambutku karena kesal dan cemburu." Aurora berjalan dulu keluar setelah mengatakan itu. Aldi hanya menghela nafasnya pelan. Sampai kapanpun ia merasa akan sulit menggantikan posisi Edward dalam hati wanita cantik itu.
"Kevin. Berapa anggota yang akan ikut kita malam ini." tanya Aurora sebelum masuk mobil.
"14 anggota nona."
Aurora hanya mengangguk. Lalu melihat semua pengawalnya yang berbaris rapi mengenakan setelan jas lengkap dengan dasinya.
"Oke. Kita berangkat. Pastikan perjalananku aman malam ini. Aku sedang tak ingin ada keributan. Kau mengerti!
"Baik nona."
Kevin segera masuk dan duduk di kursi kemudi , di bangku belakang ada Aurora dan Aldi yang nampak serasi malam ini. Ia hanya mengulas senyum tipis.
__ADS_1
Mobil berhenti tepat di loby gedung perusahaan. Karpet merah panjang membentang seolah menyambut tamu undangan yang hadir. Aurora turun dari mobil dengan gaya anggunnya. Aldi mencoba merengkuh pinggang Aurora dan berjalan disisinya. Para bodyguard langsung membuat barisan untuk jalan pasangan yang tampak serasi malam hari itu.
Aurora hanya melirik Aldi, tak suka tapi diam seperti tidak terlalu mempermasalahkan rangkulannya. Ia memberikan senyum tipis dan lambaian tangan pada awak media.
Para wartawan yang diundang malam itu tak melewatkan moment yang baru saja mereka lihat, mereka saling berebut tempat untuk mengambil gambar Aurora dan Aldi yang tampak mesra malam itu.
"Ra, aku akan menemui temanku sebentar. Kamu bisa memberi selamat Claire dulu." kata Aldi setelah melepaskan rangkulan pada pinggang Aurora.
Aurora hanya mengangguk dan tak bertanya lebih. Aurora mendatangi Claire yang tampak sibuk menyalami para tamu lainnya.
"Selamat dan sukses Nona Claire, semoga kita bisa melanjutkan kerja sama kita kedepannya. Semoga menjadi perusahaan yang memberi banyak kontribusi pada negara." ucap Aurora ketika menyalaminya.
"Terima kasih sudah hadir. Saya harap anda tidak mempersulit perusahaan saya untuk berkembang di negara ini."
"Tentu saja tidak, selagi kita bersaing sehat, saya tidak akan bermain curang. Saya suka orang yang sportif. Jangan berpikiran buruk tentang saya begitu. Baiklah silahkan dilanjutkan. Sekali lagi saya ucapkan selamat. Ada hadiah kecil dari kami, semoga anda suka." Aurora tersenyum dan undur diri mencari keberadaan Aldi dan Lukas yang hilang dari pandangannya.
Claire memandang Aurora dari jauh dengan tatapan kesalnya., tiba tiba matanya membulat penuh melihat Aldi, pria incarannya mengaitkan tangannya ke pinggang Aurora. "Sial, ada hubungan apa mereka." gumamnya.
"Kenapa, ada apa dengan wajahmu." tanya Ayahnya yang sengaja datang ke acara peresmian perusahaan baru milik putrinya. Perusahaan yang dibeli dari Kimura Yashimoto yang kini berpindah kepemilikan.
"Lihat wanita itu, dia merebut kekasihku Ayah." rengeknya.
"Apa kau sekarang menjadi wanita bodoh. Rebut kembali jika itu kekasihmu! Lagian apa hebatnya pria itu. Masih banyak pria yang lebih hebat dari dia."
"Ck, Ayah tidak tau. Bahkan kekayaannya mungkin sama dengan kekayaan suami wanita itu. Aku tak mungkin menyianyiakan tambang emas itu." Ucap Claire bersedekap dada.
"Terserah kamu. Ingat jangan macam macam sama wanita itu. Kau sudah tau jika Henry mengamuk seperti apa."
Claire tidak terlalu menanggapi. Ia berjalan melenggang mendekati Aldi dan Aurora yang tampak hangat berbicara pada sesama rekan bisnis. Sebelumnya ia meraih minuman berwarna merah dan tersenyum licik saat otak cerdasnya memberi ide yang briliant untuk mengerjai Aurora.
.
.
__ADS_1
.
Hai readers , mohon maap tidak up beberapa hari ini. Kesibukan ini selalu menyita waktuku. 😢😢😢