
Selly tiba tiba membulatkan mata. Gadis cantik itu langsung mengotak atik macbook dipangkuannya. Titik koordinat yang diberikan Yudha menghilang entah apa sebabnya.
Lukas yang berada di sebelahnya memicingkan mata melihat sikap Selly.
"Tuan Lukas, sinyal mereka hilang. Sinyal Al dan El terblokir." ujar Selly dengan wajah piasnya.
"Sial! berarti jejak kita sudah diketahui mereka!" ujar Lukas geram. Pria itu segera menghubungi Edward, tapi panggilannya tidak segera dijawab pemilik ponsel.
Tiba tiba suara deru helikopter berada diatas mereka. Lukas melongokkan kepalanya keluar menatap helikopter yang melayang di udara. Pria itu kemudian memberikan kode isyarat dengan tangannya untuk mendaratkan heli mereka ke pelabuhan karena jarak mereka memang sudah mulai dekat.
Helikopter langsung terbang keatas kembali dan mencari tempat pendaratan di sekitar pelabuhan. Jingmi turun dari helikopter diikuti Chen dibelakangnya.
Lukas segera menghampiri Jingmi begitu mobil yang ditumpanginya berhenti tak jauh dari posisi heli itu mendarat.
"Ayo, waktu kita tidak banyak, jika tidak ingin kehilangan jejak mereka." ujar Jingmi dengan sorot mata yang tampak khawatir. Ia juga sudah mengetahui jika titik posisi Al dan El tiba-tiba hilang tak terlacak oleh radar.
Lukas mengangguk, pria itu melangkah masuk ke dalam helikopter diikuti anak buahnya yang memasukkan banyak senjata sebelum benda terbang itu melayang di udara.
Selly mendekati Kevan yang masih mengamati benda yang baru saja melayang di udara. Ia memberikan anggukan pada pria itu jika kapal yang akan mengantarkan mereka sudah siap setelah ia mengurus segala sesuatunya.
Kevan mengangguk. Pria itu kemudian mengkode anggota lainnya untuk segera memasukkan senjata dan peralatan ke dalam kapal membuntuti heli yang sudah terbang terlebih dulu.
Sementara itu,
Lauren terdiam dengan pandangan masih menyorot pada layar monitor. Wanita itu begitu tenang dan terlihat santai di tempat ia duduk.
Atensinya tiba-tiba teralihkan begitu anggota madam Yora berlari dan menghampirinya. Pria itu adalah petugas menara kontrol.
"Dimana madam." ujarnya dengan nafas terengah.
Lauren memicingkan mata dan menunjuk dengan dagunya tanpa ekspresi.
Pria itu menelan ludahnya sendiri. Bagaimana bisa orang yang dicarinya sedang melakukan adegan romantis bersama Hugo yang notabene pengawalnya sendiri.
"Ada masalah apa. Ada Roxi jika ada hal penting untuk disampaikan. Jangan sampai kepalamu hilang gara gara mengganggu mereka." ujar Lauren terdengar datar. Wanita itu sedikit melirik pasangan mesum yang tidak tahu tempat itu.
Pria itu seketika mengusap tengkuknya. Tentu saja takut jika kepalanya terpisah dari badan, tapi masalah ini juga penting.
"Lalu dimana Roxi." pria itu menyapu sejauh mata memandang. Ia tidak melihat sosok Roxi diantara mereka.
"Ada masalah apa! dia ada di geladak bawah." jawab Lauren.
__ADS_1
"Kami mendeteksi ada benda terbang yang mengarah kemari. Kami hanya ingin meminta persetujuan untuk melumpuhkan heli itu sebelum mereka sampai kemari."
Lauren diam sejenak. Wanita itu mengerutkan dahi melihat layar monitornya yang tidak menunjukkan tanda-tanda ada yang akan mendekat kearah kapal yang ditumpanginya.
Sial! Itu artinya mereka juga menggunakan pengacau radar. Siapa mereka? Apa anak buahnya Aurora? Jika iya kenapa secepat ini. Apa itu mungkin.
Banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya.
"Apa kamu tau heli siapa yang mengarah kemari?" tanya Lauren cepat.
Pria itu menggeleng. Pasalnya heli itu tidak ada ciri khusus untuk dikenali dengan mudah.
Lauren menggigit bibir dalamnya. Wanita itu berpikir keras, sengaja ekor matanya melirik madam Yora yang masih betah dengan ritualnya bersama Hugo. Entah mengapa adegan itu terlihat sangat mengesalkan baginya.
"Oke. Aku akan memberi tahunya. Tunggu sebentar."
Pria itu mengangguk segera.
.
.
Darion masih betah memejamkan matanya usai melakukan misi bersama Hugo saat itu. Pria itu tampak tenang dalam tidurnya.
Saat ini rombongan mereka sedang berada dalam perjalanan menuju satu titik dimana madam Yora menyuruhnya membawa Reyhan kesana. Tidak tahu alasan kenapa wanita itu memintanya ke tempat itu dan harus berpisah jalan dengan kelompok madam Yora. Mungkin saja ini salah satu trik untuk menjebak musuh pikirnya.
Suara tangisan Reyhan dan kegaduhan di bangku paling belakang membuat pria yang larut dalam mimpinya tiba-tiba terbangun. Ia kesal bukan main. Kenapa anak buahnya tidak becus dalam mengurus satu anak kecil saja.
"Berisik! Bisa diam tidak!" teriak Darion
Reyhan semakin menangis kencang mendengar bentakan Darion. Anak buah Darion hanya bisa saling memandang, tidak tau harus berbuat seperti apa. Selama ini mereka tidak pernah mengalami hal seperti kejadian kali ini. Mereka pikir, sangat merepotkan jika preman seperti mereka menculik anak anak, lebih baik mereka berurusan dengan kepolisian dari pada menanggung hal seperti ini.
"Bius saja jika kalian kesulitan menanganinya!" ujar Darion yang seakan membawa angin segar bagi mereka. Kenapa tidak kepikiran sampai kesana.
Perlahan tangisan mulai reda dan berganti dengan suasana hening. Darion kemudian menghidupkan ponselnya, membuka aplikasi khusus yang baru saja dikirim oleh Lauren.
Pria itu tersenyum samar. Kemudian menekan sebuah panggilan.
"Aku mempunyai banyak video serupa seperti yang pernah aku kirim sebelumnya. Anda ingin melihatnya Tuan Alexander?" Ujar Darion begitu tenang dengan pandangan lurus ke depan seolah yang diajak bicara ada di depannya.
Alex yang saat itu hendak masuk ke dalam pesawat menghentikan langkahnya sejenak mendengar kata video dari orang yang menelfonnya.
__ADS_1
"Siapa kamu."
Tanya Alex dingin. Pupil matanya bergerak cepat mencoba mengingat suara si penelfon.
"Anda tidak perlu tahu siapa saya, tapi saya bisa melakukan hal gila yang tak pernah terpikir oleh anda sekalipun."
"Apa maumu."
Alex mengganti pertanyaannya.
Darion tersenyum menyeringai. Ia akan memastikan jika pria itu akan hancur sehancurnya karena telah berurusan dengannya. Ia akan membalas kesakitan Darius dengan hancurnya martabat dan reputasinya. Bukankah mereka orang orang berpengaruh.
"Aku mau anda membebaskan Darius tanpa syarat 1 jam dari sekarang. Anda bisa melakukannya bukan?"
Alex membulatkan matanya geram. Jadi ini ulah orang yang berusaha untuk membebaskan Darius. Tidak bisa dibiarkan!
"Kamu pikir bisa menekanku dengan omong kosongmu. Bodoh! Ingat! Bodoh jika kamu coba coba bermain denganku. Aku tunggu etikat baikmu untuk mengakhiri perbuatanmu atau kau akan menyesali semua tindakan karena berurusan denganku."
Ujar Alex dingin. Bahkan sorot matanya menampakkan emosi yang begitu membara. Rasanya ingin sekali menguliti orang yang berani mengancamnya.
Darion terkekeh mendengar suara Alex yang sama sekali tak terintimidasi dan mengintimidasi balik dirinya.
"Anda akan menyesalinya jika tak menuruti inginku. Aku seorang ambisius dalam melakukan sesuatu, aku bukan orang plin plan yang bisa mengubah keputusanku begitu saja. Ingat! aku tunggu kebebasan Darius 1 jam kedepan atau anda akan melihat kehancuran reputasi keluarga anda. Bukankah ayah mertua anda mencalonkan diri sebagai gubernur?"
Darion menyeringai. Seperti saran madam Yora, jika tidak mampu membebaskan Darius dengan kekuatan kelompoknya, maka harus menggunakan cara licik untuk menjegalnya tanpa harus adu otot. Bukankah ini menyenangkan.
"Jangan coba coba mengancamku bang sat! Kau akan melihat kematian Darius yang mengenaskan jika berani menyebarkan fitnah pada keluargaku dan aku akan memburumu jika sampai hal ini terjadi!"
Ujar Alex dengan sorot mata membunuh. Sebenarnya tikus mana yang sedang ingin bermain main dengannya.
"Kita lihat saja siapa yang akan menang disini. Padahal aku menawarkan baik-baik padamu dan tidak merugikan apapun dari pihakmu, tapi ternyata anda begitu keras kepala. Lagi pula apa untungnya anda menahan Darius lebih lama. Pikirkan baik-baik tawaranku atau anda akan menyesalinya seumur hidupmu. Kehilangan muka, istri, reputasi, keluargamu lainnya dan semua itu karena ulah keegoisan anda sendiri. Ingat! 1 jam dimulai dari sekarang!"
Darion langsung mematikan panggilan begitu saja. Pria itu sebenarnya sedikit takut jika adiknya terbunuh sia sia jika ancaman yang ia berikan pada Alex gagal. Ia pasti akan berurusan dengan kesadisan Alex jika rencana ini tidak berhasil. Untung saja ia masih memiliki Reyhan untuk menekan Alex jika pria psikopat itu berbuat sesuatu pada Darius. Ternyata madam Yora memang pantas dijuluki ratu iblis dengan semua siasat dan kelicikannya. Darion tersenyum samar.
.
.
.
######
__ADS_1