Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Keadaan semakin tak terkendali


__ADS_3

"Bodoh! Ini akibat karena tidak bisa mengendalikan amarahmu! Lihat! Dan ini gara-gara kamu!" tuding Aurora dengan wajah berderai air mata.


Edward mematung melihatnya. Pikirannya sama sekali tidak singkron. Apa yang sudah ia lakukan.


Alex segera menelfon pihak rumah sakit untuk segera datang memberi pertolongan. Ia juga khawatir jika Tuan Admaja mengalami kejadian serupa seperti beberapa tahun silam.


Kevan mendekat ikut melihat keadaan Tuan Admaja. Pria itu terlihat menyeka hidungnya yang senantiasa mengeluarkan darah. Mungkin saja tulang hidungnya sudah patah. Edward ternyata tidak pernah main main dengan pukulannya. Pria itu terlalu mengerikan.


"Tuan, tolong jangan seperti ini. Saya minta maaf, saya yang menyebabkan semua ini." ujar Kevan penuh sesal.


Edward yang mendengar itu langsung mendorong tubuh Kevan kasar.


"Pergi dari sini sebelum kesabaranku habis."


Nyonya Yuli menangis tergugu disamping suaminya. Harusnya ia bahagia karena putranya masih hidup, harusnya pertemuan mereka dalam suasana mengharu biru, tapi kenyataan pahit harus ia telan mentah mentah. Ia sama sekali tak pernah bermimpi akan mengalami kejadian seperti ini.


"Berhenti membuat keadaan semakin kacau jika kamu masih menganggap aku bundamu, Edward. Edward ku tidak pernah seperti ini sebelumnya." tangis Nyonya Yuli.


Aurora langsung menyeret suaminya menjauh. Wanita itu sudah sangat geram sekali dengan kelakuan Edward yang menurutnya berlebihan sekali.


Setelah sampai didalam kamar, Edward langsung menyentak tangan Aurora. Pria itu menatap dingin istrinya.


"Sekarang sudah puas membuat keadaan semakin kacau, Kak. Apa kamu sudah puas. Sudah puas!" seru Aurora karena sudah tidak tahan untuk meluapkan emosinya.


"Dan ini gara-gara kamu, Aurora." dingin Edward.


Aurora menggeleng tak percaya. Bisa bisanya malah menumbalkan orang lain.


"Kenapa kamu berubah secepat ini. Lihat! apa yang sudah kamu lakukan pada Ayah! Bagaimana jika beliau meninggal hah! Dan itu gara gara kamu! Masih mau mengelak! Iya!"


"Jangan membuatku marah Aurora." Edward mengangkat tangan kanannya dan bersiap menampar wajah Aurora.


Aurora bergeming. Ia semakin menatap tajam suaminya. Ia tidak pernah takut dipukul, tapi jika suaminya sudah berani melukai fisiknya, ia pasti akan melakukan serangan balasan.


"Ayo tuntaskan marahmu. Pukul jika itu membuatmu puas, tapi jangan harap aku mau memaafkanmu."


"Aghhh! Brengsek!"


PYAR

__ADS_1


Lagi lagi Edward menggila dikamar Aurora. Wanita itu membiarkan semua barangnya menjadi sasaran amuk suaminya. Ia membiarkan Edward mengumpat seluruh binatang, ia membiarkan semuanya. Wanita itu masih berdiri di tempat yang sama, menatap kegilaan suaminya dengan penuh kecewa.


"Apa kamu pikir aku tidak merasakan hal yang sama dengan apa yang kamu rasakan kak. Apa kamu pikir aku tidak bersedih. Aku sama sepertimu. Aku tahu kamu menyayangi putra kandungmu, apalagi aku? Aku bahkan yang mengandung dan membesarkannya bahkan tanpa kehadiranmu sekalipun. Tapi kamu jangan lupa, kamu juga memiliki Brian yang bahkan dia juga bukan siapa siapa kita. Sama seperti Kenta! Jika yang diincar adalah Brian, apa kamu juga tega menumbalkannya? Please berpikirlah dengan kepala dingin. Kuasai emosimu.!"


Aurora memejamkan mata mencoba meredam amarahnya, jika saja yang dihadapi bukan suaminya, ia pastikan akan memaki sampai sepuas hati.


"Kenta dan Brian berbeda!"


"Apanya yang beda! Mereka berdua sepupu!" bantah Aurora.


"Aurora, berhenti membela Kimura!" Bentak Edward semakin emosi.


"Aku tidak membela Kimura!"


Edward menekan gerahamnya kuat kuat. Rasanya stok kesabaran pada Aurora mulai menipis.


"Aku akan ke rumah sakit sebentar. Istirahatlah, kamu tidak tidur dengan benar beberapa hari ini, mungkin itu yang membuatmu mudah marah."


Setelah mengatakan itu, Aurora langsung keluar dengan sedikit membanting pintu. Wanita itu sudah tidak kuat menghadapi kelakuan suaminya. Daripada terjadi hal yang tidak diinginkan, lebih baik ia pergi menghindar.


"Alex, tolong jaga kak Edward. Jangan biarkan dia pergi kemana pun. Bila perlu panggilkan Tuan Jingmi. Dia harus menjelaskan semua ini padaku." ujar Aurora sebelum pergi.


Alex termangu, apa yang harus dijelaskan oleh pria itu. Bukankah ini tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian ini. Alex mengusap wajahnya. Badan sudah lelah, masalah terus datang dan entah masalah yang mana yang harus terlebih dulu ia selesaikan.


.


.


Pria tua itu tampak tak berdaya dengan banyak peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Disebelahnya, Nyonya Yuli tampak sesekali mengusap air matanya. Wanita itu merasa begitu sedih dengan apa yang terjadi pada suaminya.


"Aurora, kenapa kamu kemari. Kenapa tidak istirahat dirumah saja." ujar Tuan Hardy mencegah putrinya masuk.


"Aku ingin melihat keadaan ayah, Pa. Bagaimana kondisinya."


"Mertuamu terkena serangan jantung."


Nyonya Riyanti menuntun Aurora untuk duduk. Beliau terlihat sangat iba pada keadaan putrinya. Bagaimana bisa putrinya mengalami musibah yang terus beruntun. Kesalahan yang mana sudah ia lakukan hingga menuntun takdir hidup seperti ini.


"Selamat sayang, suamimu sudah kembali. Apa kamu bahagia."

__ADS_1


Aurora tak menjawab. Harusnya bahagia, tapi kejadian hari ini membuatnya kehabisan kata-kata.


"Mama tau apa yang kamu rasakan. Berusahalah tetap kuat."


Diam sejenak.


"Pulanglah kerumah kami. Istirahatlah disana. Kamu perlu ruang untuk berpikir dan menenangkan emosimu. Sementara biarkan pamanmu yang mencari keberadaan Al dan El. Mama yakin dia anak anak yang kuat. Sama sepertimu."


Aurora tidak mengatakan apapun, ia hanya bisa memeluk tubuh wanita yang telah melahirkannya. Perasaannya tidak dapat ia jelaskan dengan kata-kata.


.


.


Ditempat Darion berada.


Pria itu terlihat sedang berbicara dengan salah satu anak buahnya.


"Bagaimana?"


"Sudah saya lakukan seperti yang anda perintahkan. Saya sudah menjual video itu ke situs gelap. Kita akan mendapatkan banyak keuntungan setelah ini. Saya dengar, mertua Alex akan mencalonkan diri sebagai gubernur." ujar pria itu diakhiri kekehannya.


"Kerja bagus. Lalu bagaimana dengan wanita itu." tanya Darion sembari mengepulkan asap dari bibirnya.


"Dia belum keluar sampai saat ini. Tenang saja bos, saya sudah memprovokatori tetangganya. Begitu dia keluar, saya pastikan dia akan langsung dijebloskan ke dalam penjara. Saya juga sudah membayar paparazi untuk menggiring kejadian itu menjadi berita utama."


Darion terkekeh senang. Ia tak menyangka jika anak buahnya bisa dia andalkan.


"Bos. Menurut saya, sebaiknya kita segera tinggalkan negara ini. Anda tak perlu mempedulikan madam Yora. Saya yakin Darius akan mereka bebaskan cepat atau lambat. Kita buat strategi baru."


"Aku juga memikirkan hal itu. Baiklah, siapkan semuanya. Aku akan menyerahkan anak itu jika Darius bisa bebas dan hidup dengan baik di sini. Aku akan menggunakan anak itu untuk mengancamnya sekali lagi." ujar Darion tersenyum sinis.


Dua orang itu terkekeh bersama. Mereka akan mengikuti jejak madam Yora yang bekerja licik seperti belut.


Itu akibatnya jika tak mengindahkan peringatanku Alex.


.


.

__ADS_1


.


#####


__ADS_2