
"Ehhemm...!"
Suara deheman membuat mereka mendongakkan kepalanya keatas melihat siapa yang sudah mengganggu moment mereka.
"Ck sialan..!"
Edward menggerutu, wajahnya seketika berubah masam. Dia lupa jika dirinya sedang duduk dibawah yang menghadap langsung dari balkon kamar orang tua mereka. Tuan Admaja menatap datar putranya.
Aurora tersenyum malu melihat mertuanya . Ia menggaruk keningnya yang tidak gatal.
"Apa dikamar kalian kurang cukup luas , hingga kalian memamerkan kemesraan diluar.?" tanya Tuan Admaja dengan suara baritonnya.
"Apa waktu ayah terlalu senggang hingga memperhatikan kegiatan kami?" balas Edward dengan berdiri berkacak pinggang. Sebenarnya dia juga malu dipergokinya, tapi ia berusaha menutupi dengan sikap tenangnya.
Bunda Yuli langsung menarik tangan Tuan Admaja untuk kembali masuk kedalam kamarnya. Sebelumnya ia melambaikan tangannya kearah menantunya. Ia merasa tak enak hati sudah mengganggu kegiatan mereka.
"Ayah apa apaan sih, kenapa mengganggu mereka. Kan mereka jadi malu.!" ucap Bunda Yuli mengomeli suaminya.
"Ah, Bunda tidak tau saja kelakuan putra sulungmu. Dia itu tidak tau malu. Bahkan dikantor saja dia juga begitu. Lagian seru juga mengganggu mereka. Ah jadi cepat cepat pengen gendong bayi." Seloroh Tuan Admaja
"Jadi Ayah selalu mengintip mereka..!?" Bunda yuli malah mencubit punggung suaminya, karena gemas sendiri melihat kelakuan suaminya.
"A...aa tidak..!Ayah tidak sengaja melihatnya. Tapi putramu memang agresif seperti Ayah. Dia memang putra kebanggaanku. Kelak dia pasti akan mempunyai keturunan yang sama cerdasnya dengan dirinya." bangga Tuan Admaja
Bunda Yuli langsung mendelik sebal. Membalikkan tubuh dan berjalan keluar dari kamarnya. Percuma bicara sama suaminya, ujung ujungnya dia sendiri yang akan kena getahnya. Pasti sebentar lagi suaminya minta yang iya-iya. Kelakuan ayah dan anaknya memang sebelas dua belas.
"Ayo, kita kekamar..!" ajak Edward menarik lengan Aurora
Aurora meringis lalu menggeleng.
"Aku malu.!" jawabnya sambil menundukkan kepalanya.
"Kita pergi ke kafe saja. Ambilkan jaketku dikamar. Aku tunggu disini." pinta Aurora dan kembali duduk dibangku.
"Ahh gara gara ayah merusak suasana saja. Gak jadi lagi kan.!" batin Edward masam
"Baiklah tunggu sebentar.! ucap Edward dan meninggalkan Aurora di taman itu.
Sepeninggal Edward, Aurora masuk ke garasi. Ia memilih motor yang akan ia gunakannya. Ia tersenyum melihat yang diinginkaannya ada didalam garasi itu.
__ADS_1
"Nona, ada yang bisa saya bantu.!?" tanya Kevan
"Emm keluarkan motor itu.!" tunjuk Aurora.
Kevan dengan sigap mengeluarkan motor itu tanpa menanyakan mau kemana. Sedangkan Aurora mengambil dua helm yang ada di tempat penyimpanan. "Hem, seleramu bagus juga." gumam Aurora mengambil dua helm full face.
Setelah motor dikeluarkan, Aurora memanasi motor itu terlebih dahulu.
BROM... BROM...
Ia tersenyum senang saat mendengar suara knalpot yang mungkin sudah dimodifikasi suaminya. Jiwa bar barnya mulai keluar. Ia jadi teringat dirinya yang dulu.
Edward bergegas turun saat mendengar sentakan dari gas yang dimainkan Aurora. Tangan kirinya membawa jaket, tangan kanannya sibuk memasukkan dompet disaku belakangnya.
"Mau kemana..?" tanya Bunda Yuli menghentikan langkah putranya.
"Cari angin Bun.!" jawab singkat Edward
"Tumben.." Bunda Yuli mengerutkan keningnya.
"Mungkin keinginan bayi." jawab Edward sambil mengecup pipi bundanya dan berlalu meninggalkan bundanya yang bingung dengan ucapan Edward.
Edward tersenyum melihat istrinya sedang naik diatas motornya. Gayanya sudah seperti saat pertemuan tidak sengajanya dikafe waktu itu.
"Jadi naik motor..?" tanya Edward mengulurkan jaket Aurora.
"Ya,." jawab singkat Aurora sambil mengenakan jaket yang dibawa suaminya.
"Turunlah, biar aku yang bawa motornya.!" pinta Edward. Aurora hanya diam tak menanggapi ucapan suaminya. Ia malah sudah menekan kopling dan memasukkan gigi satu.
"Ayo, aku yang akan mengemudikan. Kamu nanti pulangnya." jawab Aurora dengan senyum dari balik helm full face yang dikenakannya.
Edward diam memandangi Aurora. Harga dirinya akan jatuh jika dibonceng wanita pikirnya.
"Ayo, kelamaan,..! jangan mikir yang enggak enggak.!" ucap Aurora
"Eh dianya mikirnya kesitu." batin Edward menyeringai.
Edward lantas memberikan kode pada Kevan dan bodyguard lainnya mengikuti dengan mobil mereka.
__ADS_1
Edward lantas membonceng Aurora di belakang. Ia mengabaikan tatapan aneh dari bodyguardnya. Tangannya memeluk erat pinggang kecil Aurora.
Mereka melintasi malam yang ramai. Sebenarnya jarak antara mansion ke kafe Robusta tidak terlalu jauh, hanya saja Aurora memilih jalan memutar untuk menghindari razia. Dia sadar jika dirinya tidak membawa sim.
Sedangkan Edward berpikiran lain, Edward berpikir jika Aurora sengaja memutar jalan untuk lebih dekat dengannya. Edward gunakan kesempatan itu untuk meraba paha istrinya.
"Hahaha rasain..!!" batin Edward tersenyum senang.
Aurora mendengus kesal. Ia melajukan motornya lebih cepat, ia menyalip kekanan dan kekiri bak pembalap profesional. Bahkan ia dengan sengaja menyalip kendaraan didepannya padahal didepannya ada bahaya yang mengancam, mobil didepannya sudah menyalakan lampu dim , ia juga tidak peduli dengan klakson yang mereka bunyikan. Edward sudah teriak teriak tidak jelas. Ia sama sekali tak menanggapi suaminya yang sedari tadi menepuk nepuk bahunya. Dengan cepat ia mengurangi gas, menekan kopling, menurunkan gigi dan membanting stir ke kiri guna menghindari tabrakan.
"GILA..!!" pekik pengemudi mobil itu.
Aurora tersenyum menyeringai.
Edward mengusap dada. Dia bersyukur masih selamat dari maut yang hendak menimpa mereka. Sedangkan Aurora malah tersenyum senang.
Dibelakangnya, dari kejauhan Kevan hanya meringis ngeri melihat gaya nona mudanya dalam mengendari motor sport Edward seperti para pembalap. Ia tak menyangka, jika wanita seanggun Aurora bisa bar bar juga.
"Nona Aurora memang multitalenta. Beruntung sekali King mendapatkan wanita seperti nona. Kalau ada lagi, aku juga mau wanita seperti nona." celetuk salah satu bodyguard yang langsung dihadiahi tempelengan oleh kawan di sebelahnya.
"Jangan macam macam.!" ucapnya garang.
Kevan hanya mengulas senyum tipis. Dirinya juga berharap seperti itu.
Tak begitu lama, motor mereka telah terparkir rapi di depan kafe milik Alex. Edward turun dengan dahi yang berkeringat. Rupanya dia syok dengan cara Aurora membawa motornya. Edward langsung menarik kunci motornya, ia tidak mau kejadian tadi terulang kembali. Aurora melenggang masuk, tak peduli tatapan kesal suaminya.
"Lain kali jangan seperti itu lagi, atau aku akan memberi hukuman padamu. Apa kamu mengerti sayang." bisik Edward saat ia merangkul bahu Aurora.
Aurora tersenyum manis. "Nggeh mas,.."
"Jangan nggah nggeh ning mboten kepanggih..!" gerutu Edward.
Aurora memicingkaan matanya.
.
.
.
__ADS_1
###