Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
mas Al marah


__ADS_3

            setelah menemui mama Renna, Ajeng


segera berpamitan pada mama Renna. Masih siang ajeng berpikir mungkin Aldevaro


masih belum pulang karena akhir-akhir ini Al begitu sibuk.


            “Apa aku cari tahu soal papa ya?


Tapi …, tidak, lebih baik aku ke rumah Rita saja lah …!” akhirnya Ajeng pun


memutuskan untuk menuju ke rumah Rita, sebenarnya sudah sedikit lupa rumah Rita


karena sudah sangat lama ia tidak ke rumah Rita.


            Ajeng harus muter-muter mencari


rumah Rita, ia beberapa kali kesasar akhirnya sampai juga di depan rumah Rita.


Seingatnya dulu ayah Rita adalah pegawai pemerintahan dan rumahnya sangat


besar.


            Ajeng memarkir motornya di pinggir


jalan tepat di depan rumah yang menjulang tinggi dengan pagar yang tak kalah


tinggi. Tapi rumah itu terlihat sepi, rumput liar juga tumbuh di halaman,


sangat tidak terawat. Ajeng mengintip dari balik pintu gerbang yang ada


celahnya itu.


            “Kenapa rumahnya sepi gini? Kok


kayak nggak di huni ya ….!” Gumam Ajeng, tubuh ajeng jadi merinding melihat


rumah kosong itu, bulu kuduknya berdiri semua.


            Tiba-tiba ia merasakan pundaknya ada


yang memegang membuat Ajeng terlonjak kaget. Ajeng memejamkan matanya, ia


takut menoleh ke belakang.


            ‘Mbak …, mbak …, mbak …., nyari


siapa?” mendengar ada suara, ajeng jadi yakin kalau yang pegang pundaknya


adalah manusia. Ajeng pun bernafas lega, ia segera membalik badannya menatap


orang itu. Seorang bapak-bapak menghampirinya.


            ‘Maaf pak, saya mau ke rumahnya


Rita, ini benar rumahnya Rita kan?”


            “Oh


…, Rita, putrinya pak Bima ya?”


            “Iya pak!”


            “Setelah pak Bima meninggal mereka

__ADS_1


sudah tidak tinggal di sini lagi, karena rumah ini sepertinya di sita oleh


bank!”


            “Di sita bank?” ajeng begitu


terkejut, ternyata mungkin ini salah satu sebab kenapa Rita sampai bersikap seperti


itu. “ Ya sudah pak, terimakasih ya atas informasinya, kalau begitu saya


permisi!”


            Ajeng pun segera meninggalkan rumah


Rita, ia sampai tidak sadar kalau sudah sangat sore. Ajeng pun memutuskan untuk


mampir di masjid untuk melaksanakan sholat ashar di sana karena kalau pulang


takut tidak keburu. Sekalian ia mau istirahat, karena ia rasa tubuhnya begitu


capek.


            Setelah melaksanakan sholat ashar,


ajeng duduk di teras masjid, ia merasakan tubuhnya sangat lemas tidak


bertenaga, ia baru ingat jika ia baru makan tadi pagi dan siangnya belum sempat


makan siang.


            “Ini pasti gara-gara aku kelaparan,


tapi kalau aku mampir lagi cari makan, pasti nggak keburu. Mas Al pasti sudah


            Ajeng pun merogoh tasnya, ia


mengambil ponselnya, berusaha menyalakannya tapi tidak mau menyala.


“Ya Allah …., aku lupa mengecas semalem, pasti ini kehabisan daya! Ya udah deh aku


langsung pulang aja, makan di rumah!”


            Walaupun tubuhnya sangat lemas, ia


tetap nekat untuk pulang sendiri, selama perjalanan, ajeng beberapa kali


menghentikan motornya saat merasakan tubuhnya semakin lemas, saat tenaganya


sedikit kembali ia pun melanjutkan perjalannya hingga butuh waktu satu jam


untuk sampai di rumah. Ajeng menghentikan motornya tepat di depan gerbang  tenaga sudah habis.


            “Assalamualaikum mas Lukman!” sapa


Ajeng setelah turun dari motor, dengan berpegang pada tembok pos satpam ia


mulai berjalan masuk.


            “Waalaikum salam, mbak Ajeng, mbak


Ajeng kenapa?” tanya Lukman saat melihat ajeng berjalan dengan sedikit


sempoyongan dengan wajah yang pucat.

__ADS_1


            “Nggak pa pa mas, nggak pa pa …,


ajeng hanya laper aja. Di isi makanan juga sudah lancer lagi jalannya. Tapi


Ajeng minta tolong ya, tolong bawakan motornya ke dalam!”


            “Iya mbak!”


            “Oh iya mas Lukman, mas al udah


pulang belum?”


            “Sudah semenjak siang mbak, dia


nyariin mbak ajeng terus katanya ponselnya mbak ajeng nggak bisa di hubungi!” mendengarkan ucapan Lukman, wajah ajeng bertambah cemas.


“Itu mbak orangnya udah nunggu di depan pintu!” tunjuk Lukman pada pria yang sudah berdiri di depan pintu sambil


melipat kedua tangannya di depan dada, sepertinya pria itu sangat marah.


            Ajeng pun tidak menunggu lagi, ia


segera berjalan dengan segenap kekuatannya menghampiri suaminya, ia tidak mau


sampai suaminya semakin marah padanya.


            “Assalamualaikum mas Al!”


            “Waalaikum salam, dari mana saja?”


kali ini dan baru kali ini ajeng mendengarkan nada tinggi dari suaminya. Al


benar-benar marah.


            ‘maafkan ajeng mas, tadi Ajeng


keliling-keliling sampek lupa waktu!”


            “Apa begitu caranya? Pergi dari pagi


sampai sore, dengan ponsel di matiin bagaimana kalau terjadi sesuatu sama adek


dan mas tidak tahu! Kamu tahu nggak mas ini cemas semenjak siang nungguin adek


pulang!”


            Kali ini Ajeng tidak berani menatap


suaminya, ia merasa sangat bersalah. Tapi ia juga tidak bisa menahan tubuhnya


lebih lama lagi. Padahal ia ingin segera masuk dan menyantap sesuatu untuk


mengisi perutnya, tenggorokannya juga sangat kering.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰😘

__ADS_1


__ADS_2