
setelah menemui mama Renna, Ajeng
segera berpamitan pada mama Renna. Masih siang ajeng berpikir mungkin Aldevaro
masih belum pulang karena akhir-akhir ini Al begitu sibuk.
“Apa aku cari tahu soal papa ya?
Tapi …, tidak, lebih baik aku ke rumah Rita saja lah …!” akhirnya Ajeng pun
memutuskan untuk menuju ke rumah Rita, sebenarnya sudah sedikit lupa rumah Rita
karena sudah sangat lama ia tidak ke rumah Rita.
Ajeng harus muter-muter mencari
rumah Rita, ia beberapa kali kesasar akhirnya sampai juga di depan rumah Rita.
Seingatnya dulu ayah Rita adalah pegawai pemerintahan dan rumahnya sangat
besar.
Ajeng memarkir motornya di pinggir
jalan tepat di depan rumah yang menjulang tinggi dengan pagar yang tak kalah
tinggi. Tapi rumah itu terlihat sepi, rumput liar juga tumbuh di halaman,
sangat tidak terawat. Ajeng mengintip dari balik pintu gerbang yang ada
celahnya itu.
“Kenapa rumahnya sepi gini? Kok
kayak nggak di huni ya ….!” Gumam Ajeng, tubuh ajeng jadi merinding melihat
rumah kosong itu, bulu kuduknya berdiri semua.
Tiba-tiba ia merasakan pundaknya ada
yang memegang membuat Ajeng terlonjak kaget. Ajeng memejamkan matanya, ia
takut menoleh ke belakang.
‘Mbak …, mbak …, mbak …., nyari
siapa?” mendengar ada suara, ajeng jadi yakin kalau yang pegang pundaknya
adalah manusia. Ajeng pun bernafas lega, ia segera membalik badannya menatap
orang itu. Seorang bapak-bapak menghampirinya.
‘Maaf pak, saya mau ke rumahnya
Rita, ini benar rumahnya Rita kan?”
“Oh
…, Rita, putrinya pak Bima ya?”
“Iya pak!”
“Setelah pak Bima meninggal mereka
__ADS_1
sudah tidak tinggal di sini lagi, karena rumah ini sepertinya di sita oleh
bank!”
“Di sita bank?” ajeng begitu
terkejut, ternyata mungkin ini salah satu sebab kenapa Rita sampai bersikap seperti
itu. “ Ya sudah pak, terimakasih ya atas informasinya, kalau begitu saya
permisi!”
Ajeng pun segera meninggalkan rumah
Rita, ia sampai tidak sadar kalau sudah sangat sore. Ajeng pun memutuskan untuk
mampir di masjid untuk melaksanakan sholat ashar di sana karena kalau pulang
takut tidak keburu. Sekalian ia mau istirahat, karena ia rasa tubuhnya begitu
capek.
Setelah melaksanakan sholat ashar,
ajeng duduk di teras masjid, ia merasakan tubuhnya sangat lemas tidak
bertenaga, ia baru ingat jika ia baru makan tadi pagi dan siangnya belum sempat
makan siang.
“Ini pasti gara-gara aku kelaparan,
tapi kalau aku mampir lagi cari makan, pasti nggak keburu. Mas Al pasti sudah
Ajeng pun merogoh tasnya, ia
mengambil ponselnya, berusaha menyalakannya tapi tidak mau menyala.
“Ya Allah …., aku lupa mengecas semalem, pasti ini kehabisan daya! Ya udah deh aku
langsung pulang aja, makan di rumah!”
Walaupun tubuhnya sangat lemas, ia
tetap nekat untuk pulang sendiri, selama perjalanan, ajeng beberapa kali
menghentikan motornya saat merasakan tubuhnya semakin lemas, saat tenaganya
sedikit kembali ia pun melanjutkan perjalannya hingga butuh waktu satu jam
untuk sampai di rumah. Ajeng menghentikan motornya tepat di depan gerbang tenaga sudah habis.
“Assalamualaikum mas Lukman!” sapa
Ajeng setelah turun dari motor, dengan berpegang pada tembok pos satpam ia
mulai berjalan masuk.
“Waalaikum salam, mbak Ajeng, mbak
Ajeng kenapa?” tanya Lukman saat melihat ajeng berjalan dengan sedikit
sempoyongan dengan wajah yang pucat.
__ADS_1
“Nggak pa pa mas, nggak pa pa …,
ajeng hanya laper aja. Di isi makanan juga sudah lancer lagi jalannya. Tapi
Ajeng minta tolong ya, tolong bawakan motornya ke dalam!”
“Iya mbak!”
“Oh iya mas Lukman, mas al udah
pulang belum?”
“Sudah semenjak siang mbak, dia
nyariin mbak ajeng terus katanya ponselnya mbak ajeng nggak bisa di hubungi!” mendengarkan ucapan Lukman, wajah ajeng bertambah cemas.
“Itu mbak orangnya udah nunggu di depan pintu!” tunjuk Lukman pada pria yang sudah berdiri di depan pintu sambil
melipat kedua tangannya di depan dada, sepertinya pria itu sangat marah.
Ajeng pun tidak menunggu lagi, ia
segera berjalan dengan segenap kekuatannya menghampiri suaminya, ia tidak mau
sampai suaminya semakin marah padanya.
“Assalamualaikum mas Al!”
“Waalaikum salam, dari mana saja?”
kali ini dan baru kali ini ajeng mendengarkan nada tinggi dari suaminya. Al
benar-benar marah.
‘maafkan ajeng mas, tadi Ajeng
keliling-keliling sampek lupa waktu!”
“Apa begitu caranya? Pergi dari pagi
sampai sore, dengan ponsel di matiin bagaimana kalau terjadi sesuatu sama adek
dan mas tidak tahu! Kamu tahu nggak mas ini cemas semenjak siang nungguin adek
pulang!”
Kali ini Ajeng tidak berani menatap
suaminya, ia merasa sangat bersalah. Tapi ia juga tidak bisa menahan tubuhnya
lebih lama lagi. Padahal ia ingin segera masuk dan menyantap sesuatu untuk
mengisi perutnya, tenggorokannya juga sangat kering.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰😘
__ADS_1