Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
HKG


__ADS_3

Pesawat telah mendarat dengan sempurna di Bandara HKG. Kenta tampak duduk di kursi roda dengan selang infus yang masih tertancap di punggung tangan kanannya, didorong keluar dari pesawat oleh petugas medis.


Keadaannya tampak melemah usai melakukan perjalanan yang cukup jauh. Dan itu membuat dokter Jun sedikit was was akan kondisinya.


Kenta segera dibawa ke rumah sakit, tempat praktek dokter Jun menggunakan ambulan yang sudah stand by di sana.


Edward, Brian, Alex dan Max asisten Yudha mengikuti dengan mobil lainnya, sedangkan Aurora berada di ambulan bersama Kenta, dokter Jun dan petugas medis lainnya.


"Mama." Lirih Kenta memegang punggung tangan Aurora. Anak itu menatap sayu Aurora dengan ketidakberdayaannya.


Aurora menatap lembut Kenta dan mengusap punggung tangan kecil itu dengan ibu jarinya.


"Sakit mama."


Kenta memegangi dadanya yang terasa begitu sesak.


"Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Kenta harus kuat ya, harus berjuang untuk sembuh, Kenta mau ketemu ayah lagi bukan?"


Kenta hanya mengangguk pelan.


"Kalau begitu, Ken harus kuat. Harus janji sama Mommy untuk tidak menyerah. Mau janji sama mommy?"


Lagi lagi Kenta hanya mengangguk lemah. Ia sungguh tak berdaya hanya untuk menjawab pertanyaan Aurora.


Di dalam mobil lain, Edward tampak sedang memeriksa ponselnya. Sedangkan Brian, menyandarkan kepalanya dilengan Edward sambil memeluk boneka pororo yang tampak sudah usang. Anak itu sepertinya sudah sangat nyaman dengan posisinya saat ini.


Max yang melihat itu hanya menaikkan dua alisnya, pikirnya kenapa Brian bisa sedekat itu dengan asisten baru Aurora, sedangkan pada bosnya kenapa tidak seperti itu.


"Lex," ujar Edward memecah kesunyian dalam mobil itu.


"Hem." Alex hanya berdehem tanpa menoleh ke belakang.


"Apa kau tau sesuatu tentang anak itu?" tanya Edward, sembari tangannya mengusap kepala Brian. Entah mengapa ia merasa dejavu.


"Maksudmu Kenta? Apa yang ingin kau tahu? Bukankah kamu juga sudah mengetahuinya."


Edward menghela nafasnya, ia hanya ingin memastikan sesuatu, kenapa Aurora bisa sedekat itu dengan Kenta, sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka.


"Apa Aurora telah mengadopsi anak itu."


Brian langsung menegakkan kepalanya, begitu Edward menanyakan perihal Kenta.


"Ya. Lukas yang mengurus berkasnya. Kamu bisa menanyakan hal itu padanya."

__ADS_1


Edward memipihkan bibirnya. Ia sedikit tidak senang mendengarnya, tapi mencoba mengangguk mengerti keputusan istrinya.


"Bagaimana denganmu boy, apa kamu senang dia nantinya tinggal bersama kalian."


Brian menaikkan dua alisnya, apa maksud pertanyaan Edward sebenarnya. Kenapa tiba-tiba menanyakan hal seperti itu.


"Tentu saja. Aku akan menyayanginya seperti menyayangi adik Al dan El, bahkan jika mommy akan mengadopsi bayi lagi, aku juga akan menyayangi mereka." jawab Brian.


"Kamu tak takut kasih sayang mommy terbagi?"


"Tidak! Mommy Aurora tidak seperti itu. Dia tidak pernah membedakan kami."


Edward menerbitkan sebuah senyuman tipis dan membawa Brian kedalam pelukannya. Ia bangga karena tak pernah salah dalam memilih, putra adopsinya memiliki hati yang begitu besar. Bahkan ia sendiri, entahlah.


"Max, kita cek in dulu. Kamu jaga Brian selagi aku pergi menemani nona. Kita cari hotel dekat rumah sakit saja."


Max mengangguk menatap Edward lewat spion tengah.


"Tapi dad,..."


Edward menatap Brian penuh dengan peringatan. Seketika Brian langsung diam dan mengangguk tanpa meneruskan kalimatnya.


"Sudah malam. Kamu tunggu mom di hotel saja. Rumah sakit bukan tempat yang baik untuk anak anak."


"Baiklah. Tapi bolehkah besok kita ke rumah om Willi?"


"Yes."


"Kita akan bicarakan dengan mommymu nanti."


.


.


Masih di negara yang sama. Tampak seorang pria paruh baya masih berkutat dengan laptopnya, entah grafik apa yang sedang di pantau pria itu malam-malam begini.


Deringan ponsel mengalihkan atensinya. Pria itu sedikit mengernyit melihat siapa orang yang sedang berusaha menghubunginya. Ada apa pikirnya.


"Yes boy." jawabnya setelah menggeser tombol hijau.


"Dad, Edward dan Istrinya sedang berada di rumah sakit kita, tolong besok daddy luangkan waktu untuk menemui mereka sebentar saja. Mungkin mereka akan sedikit menyinggung tentang Laura, katakan saja yang dad ketahui."


"Hem, apa belum ada perkembangan pencarian saudara kembar Laura, Boy?"

__ADS_1


Jingmi disana terdengar menghela nafasnya, banyaknya pekerjaan dan masalah tentang Listy yang belum ketemu ujungnya membuatnya sedikit melupakan Laura.


"Belum Dad, tapi aku sudah mengutus orang untuk menyelesaikan kasus ini."


"Lalu bagaimana dengan persiapan pernikahan Willi di sana. Apa semua baik-baik saja. Rasanya Dad ragu menikahkan mereka. Kau tau sendiri adikmu itu."


Jingmi menarik nafasnya dalam dalam. Ia tau kekhawatiran ayahnya, tapi Willi sudah dewasa, jika dia sudah memutuskan untuk menikah, itu artinya dia sudah siap ke depannya.


"Jangan berlebihan Dad. Bagaimana pun, rumah tangga pasti ada jalan lika liku yang harus dilalui. Kita tidak bisa mengecewakan keluarga Tuan Admaja begitu saja. Lagi pula, aku lihat persiapannya sudah hampir 80 persen. Amelia pasti juga sudah mengetahui konsekuensi menjadi istri seorang publik figur."


"Ya, mudah mudahan mereka bisa saling memahami. Lalu kapan kamu akan menikah Fe, dad harap kamu sudah mempunyai calon yang tepat sesuai kriteria ibumu."


"Jangan membahas kriteria ibu dad, tiba-tiba aku merasa sulit untuk bernafas. Untung saja ibu menyetujui pilihan Willi. Bagaimana jika tidak."


Jingmi terkekeh usai mengatakan hal itu. Ia pikir ibunya mengidap OCPD, Obsessive compulsive personality disorder, yang apa apa harus perfeksionis dan sempurna menurutnya.


"Amelia anak orang terpandang, tentu saja ibumu menyetujuinya, lagi pula dia juga gadis baik-baik, cantik dan intelektual. Harusnya kamu juga mendapatkan pasangan seperti dia. Tapi apa pun itu, yang penting dia gadis baik itu sudah cukup untuk daddy. Ingat boy, urusan kita sudah banyak, jadi jangan menambah masalah persoalan wanita. Jadi carilah wanita yang bisa mendukung semua keputusanmu."


"Ck, aku tidak janji."


"Sudahlah dad sedang sibuk. Pulanglah jika ada waktu. Masalah Laura biar dad yang mengurusnya. Ingat, jangan mencampuri urusan adikmu. Sebaiknya kamu diam saja dan pura-pura tidak tau. Kamu benar, kita tidak bisa mengecewakan keluarga Tuan Admaja begitu saja. Willi sudah tepat dalam memilih pasangan. Biarkan mereka bahagia dengan pernikahannya."


"Hem. Aku tahu apa yang harus aku lakukan."


Tuan JianYing meletakkan ponselnya begitu panggilannya terputus. Pria itu menyandarkan punggungnya, menghela nafas yang terasa begitu berat. Sepertinya jantungnya sedikit bermasalah karena banyak pikiran.


Suara deritan pintu membuatnya menoleh ke arah pintu terbuka. Ia menatap tak senang melihat Willi yang masuk tanpa mengetuk pintu ruang kerjanya.


"Dad. Besok kakak ipar akan kemari. Tolong jangan cerita macam macam dengan mereka. Aku tidak ingin pernikahanku gagal. Aku sangat mencintai Amelia dan aku tidak ingin kehilangannya."


Tuan JianYing menaikkan dua alisnya. Anak bungsunya terlalu to the poin dalam menyampaikan sesuatu.


"Willi, berhentilah dari dunia entertaiment dan bekerjalah di perusahaan. Dunia seperti itu membuat kepalaku pusing. Kau tidak ingin aku mati mendadak karena berita miring tentangmu bukan!" keluhnya sembari memijat pelipisnya. Ia tak habis pikir, sebenarnya apa yang disukai dari model pekerjaan seperti itu. Pendapatannya bahkan juga tidak seberapa di banding gaji yang diterima kakaknya.


"Jangan memaksaku dad. Kak Fe masih bisa menghandle semuanya. Masalah skandal, dad jangan terlalu serius memikirkannya, itu sudah biasa."


"Jangan minta bantuanku jika kamu sudah merasa pintar. Awas saja jika memintaku untuk menutup berita miring itu lagi. Dan satu lagi, dad tidak mau ikut campur dengan masalahmu. Jangan melibatkan kami."


Willi terkekeh mendengarnya. Ia sama sekali tak ambil pusing dengan perkataan ayahnya, berkali-kali ia mengatakan hal itu, nyatanya pria tua itu tetap membantu menutup berita tidak mengenakkan tentang dirinya.


.


.

__ADS_1


.


########


__ADS_2