Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Menggoda


__ADS_3

Malam ini, Edward mengabulkan permintaan istrinya untuk makan malam berdua diatas kapal layar. Edward dengan sengaja menyewa satu kapal layar mengelilingi sungai Seine. Ia bahkan tak ragu untuk merogoh koceknya dalam dalam lantaran untuk membeli bangku kosong disana.


Edward tersenyum puas dengan permintaannya. Sebuah kapal sudah didekorasi indah dan elegan untuk sepasang suami istri itu.


Edward yang mengenakan kemeja putih kombinasi hitam itu terlihat menawan saat dipandang. Auranya seakan memancar membuat siapapun yang melihatnya bisa langsung tertarik padanya. Sayangnya pria tampan itu sudah beristri.


Aurora tersenyum melihat wibawa suami tampannya. Ia bersyukur bahwa dirinyalah yang memiliki pria itu. Walaupun kadang ia harus menahan cemburu ketika banyak wanita yang terang terangan menggoda suaminya. Tapi ia berusaha untuk tidak peduli, selama yang punya hati tak membukakan pintu untuk wanita lain, ia masih dalam posisi aman.


Aurora malam ini mengenakan gaun putih motif bunga berkrah sanghai lengan panjang dengan panjang selutut, rambutnya ia gerai dengan hiasan jepit rambut disisi kanan kepalanya. Wajahnya terlihat berseri seri dalam balutan make up diwajahnya.


Edward meraih pinggang Aurora lalu masuk kedalam kapal layar itu. Pasangan romantis itu duduk kursi dekat jendela untuk melihat pemandangan indah kota Paris dari perairan.


Hidangan pembuka telah tersaji didepannya, Edward kali ini memesan menu excellence. Suasana semakin romantis saat dentingan piano dan biola berpadu dan menghasilkan nada yang pas ditelinga yang mendengar.


"Apa kau juga memesan mereka?" tunjuk Aurora dengan wajahnya.


"Tidak, itu sudah dari bagian fasilitas kapal. Apa kamu menyukainya?" tanya Edward


"Tentu saja, terima kasih sayang sudah membawaku kemari. Aku sangat sangat bahagia." tutur Aurora


Tak lama kemudian hidangan utama disajikan, Edward dan Aurora makan malam dengan tenang sambil menyaksikan landmark berkilau di Kota Cahaya.


"Wah ini indah sekali,..!" gumam Aurora.


"Segera selesaikan makan malammu, kita naik ke dek kapal, dari sana kita bisa melihat pemandangan yang lebih indah." ucap Edward sembari memasukkan potongan daging terakhir kedalam mulutnya.


"Baiklah, kalau Brian tau kita makan malam disini tanpa mengajaknya apa dia akan marah? padahal kita sudah janji untuk mengajaknya jalan jalan." ucap Aurora


"Tidak, sudah ada Alex dan Selly yang mengajaknya diner di Fric Frac Montmartre. Tenang saja, aku tadi sudah menghubunginya." jawab Edward.


"Bagaimana dengan yang lainnya?"


"Ssst, mereka semua sudah dewasa, bisa mengurus dirinya sendiri. Masih ada Lukas disana. Ayo, habiskan pastri coklatmu, sebelum kapal ini berhenti." cegah Edward saat Aurora hendak melayangkan pertanyaannya lagi.


.


.


Disisi lain, Lukas dan Amel yang sudah pulang dari kegiatan belanjanya dan langsung membersihkan diri sebelum makan malam.


Amel masuk kamarnya lalu mengunci pintu. Ia terkejut mendapati ruang kamarnya yang berantakan. Mulut Amel menganga tak percaya melihat banyak belanjaan yang berserak dalam kamar itu.

__ADS_1


"Pasti pelakunya bocah badung itu.!" gumamnya kesal


Ia punguti dan letakkan diatas meja dengan mulutnya mengomel tanpa henti.


"Ah menyebalkan! untung aku anak mandiri, bagaimana kalau tidak.!!" gerutunya dan membanting pintu kamar mandi.


Brak


Selesai membersihkan diri, Amel menuju restoran bawah tempat kakaknya makan malam. Sampai disana ia tak mendapati asisten dan orang orang kakaknya.


"Bukankah seharusnya mereka sudah ada disini?"gumam Amel sembari menggigit kukunya.


"Nona.."


"Eh..!" Amel terkejut dan membalikkan badannya.


"Kakak anda sedang diner bersama istrinya, jadi malam ini tidak ada acara makan malam bersama. Gimana kalo kakak temani kamu makan malam disini, Brian dan lainnya sedang makan malam diluar." ucap Lukas


"Baiklah ayo kita keluar, lagian aku juga ingin suasana baru." ucap Amel sambil memasukkan ponsel dalam tasnya.


Amel dan Lukas memilih restoran yang tak jauh dari hotel tempatnya menginap. Setelah selesai makan malam, mereka duduk duduk di bangku kosong sambil memandangi Eiffel tower dari kejauhan.


Lukas memicingkan matanya mendengar gerutuan Amel. Tapi dia enggan berkomentar apapun, pasalnya dia juga sama seperti Amel, tak punya kegiatan dan terasa membosankan.


"Kak kapan kita akan pulang?" tanya Amel tanpa memandang wajah Lukas disebelahnya.


"Besok jam 10 malam," jawab Lukas dengan melirik Amel. Tiba tiba pandangannya tertuju pada benda mungil yang bersinar menyala di jari manis Amel sebelah kiri tangannya. Bibirnya menyunggingkan senyum kecil, ia tak sadar bahwa cincin yang dikenakannya juga menyala.


"Seperti anak-anak saja, tapi aku menyukainya." batin Lukas bermonolog.


"Kenapa harus malam? kenapa tidak besok pagi saja?"


"Kakak anda masih ada yang harus dilakukan di kota ini." jawabnya santai sambil menaikkan satu kakinya. Tangannya memantik api untuk menyalakan rokoknya.


"Kapan kamu balik ke Australia?" tanya Lukas sembari menghembuskan asap rokok dari mulutnya.


"Ahad depan." jawabnya sambil mengibaskan tangannya menghalau asap yang ditimbulkan Lukas. Lukas terlihat tidak terlalu peduli yang dilakukan Amel.


"Kak, kapan kau berhenti merokok!" ucap sebal Amel.


"Ck, pria tidak merokok bukan pria sejati." jawabnya asal.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kakak punya istri nanti, tidak mau diajak berciuman gara gara mulut kakak bau tembakau.?" tanya Amel memancing. Pasalnya sudah lama ia mengingatkan tapi tak satupun yang mau didengarnya.


"Sejauh itukah kamu berpikiran adek kecil? Aku bahkan belum punya pacar. Apa kamu mau jadi pacarku? Kalau iya aku mau berhenti merokok, biar kamunya enak saat berciuman denganku.!" goda Lukas sambil menaik turunkan alisnya.


Pipi Amel sontak saja langsung merona, bibirnya tiba tiba melengkung keatas tanpa bisa ia kendalikan. Cukup lama Amel dalam posisi itu hingga ia menghembuskan nafas kasarnya untuk menurunkan sudut bibirnya dan kembali keposisi normal.


"Idih...nggak mau! Amel udah punya pacar. Amel orang setia lho. Cari saja yang lain. Aku itu udah nganggap kak Lukas itu sama seperti kak Edward.!" Jawab Amel sembari bersedekap dada.


"Ciee baperan... walaupun bibirmu mengelak, tapi tubuhmu berkata lain. Kak Lukas lihat kok tadi pipimu merona, merah seperti jambu." ledek Lukas yang langsung dipelototi Amel.


"Idihhh..Amel tadi cuma malu dengar kata berciuman, itu saja dan nggak lebih dari itu.!" bantah Amel menyembunyikan perasaannya.


" Ayolah adek manis, jangan bohong sama kakakmu ini. Aku tau kamu bukan cewek polos, kata kata berciuman bukan istilah yang baru kamu dengar, bahkan kamu sudah sering melihatnya. Kakak tau kumpulan koleksi drakormu.!" ucap Lukas sambil menghembuskan asapnya kembali.


"Lalu..?" pancing Amel.


"Jangan jangan kamu membayangkan kita sedang berciuman ya?" bisik Lukas ditelinganya.


Blush


Pipi Amel merona kembali. Amel sampai memalingkan wajahnya dan memencet pipinya agar lekas keposisi normal.


Sedangkan Lukas terkekeh saat ia berhasil menggoda adik kesayangan Tuan mudanya.


"Sudah kakak bilang, cintamu itu masih cinta monyet. Kamu saja baru digoda kakak sudah merona begitu apalagi digoda pria lain yang lebih tampan dariku. Jadi jaga dirimu disana baik baik, jaga kehormatanmu sebagai seorang gadis, jangan mudah untuk diajak berciuman, para pria akan sulit menahan dirinya jika sudah terpancing hasratnya. Kakak tau kamu punya kemampuan bela diri, tapi kamu harus ingat, kamu wanita yang tenaganya lebih lemah dibanding kami kaum laki laki." pesan Lukas dengan mengusap rambut Amel.


" Terima kasih Kak, kakak selalu mengingatkan Amel." ucapnya sambil memeluk tubuh Lukas. Baginya Lukas adalah kakak kedua setelah Edward, sedangkan bagi Lukas, Amel adalah adik kecil kesayangannya. Tapi tak tau takdir akan membawa kisah mereka kemana.


Dari arah belakang mereka , ada yang berdehem dan bersedekap dada. Sontak mereka berdua menoleh dan terkejut melihat kedatangannya.


"Ehhemm.."


.


.


.


Bersambung..


Tet..tot.. 🙈

__ADS_1


__ADS_2