
Usai melakukan rapat hingga berjam jam, Aurora dan Edward sudah kembali ke ruang kerjanya. Aurora duduk menyenderkan punggungnya, ia merasa sangat lelah tapi dalam hatinya merasa sangat puas sekali. Kontrak bernilai triliun-an berhasil ia dapatkan.
Edward memandang Aurora dari jauh, ia duduk disofa sambil menyilangkan kakinya. Merasa bangga atas pencapaian Aurora hari ini. Wanita gigih dan bertanggung jawab atas semua tindakannya, mengutamakan kepentingan bersama atas kepentingan pribadinya. Edward semakin kagum pada wanita itu.
"Felix..."
"Ya."
Aurora menegakkan punggungnya, lalu mengambil satu paper bag dibawah mejanya. "Untukmu, pakailah untuk nanti malam. Temani aku ke rumah utama. Ada acara penting malam ini."
"Tapi saya sudah membawanya, anda jangan berlebihan nona."
"Anggap saja itu rasa terima kasih ku karena sudah menolongku tadi pagi. Jangan menolak apalagi membantah. Aku sudah terlanjur mengaturkannya untukmu. Jika tidak mau kamu buang saja. Aku tidak peduli."
"Tapi,_"
"Segera siapkan surat pengunduran dirimu! Aku tidak suka dengan orang banyak alasan, menolak apalagi membantah ucapanku. Ingat poin perjanjian kerja kita, bos selalu benar."
Edward langsung kicep. Diam dan tak bisa berkata kata. Ia berjalan mengambil paperbag itu.
"Oke, saya terima."
.
.
Aurora dan Edward sudah sampai di kediaman rumah utama, Mansion milik Tuan Admaja yang lama tak mereka kunjungi. Aurora nampak cantik malam ini dengan gaun selutut dan dipadu dengan blazer untuk menutupi area lengannya yang masih terbalut perban. Senyumnya terkembang saat melihat Bunda Yuli berjalan menyambutnya.
Berbeda dengan Edward, perasaan berdebar malah menyelinap di hatinya. Ia gugup dan grogi bertemu keluarganya. Bagaimana pun juga, malam ini adalah pertemuan pertamanya.
"Bunda..." Aurora memeluk wanita yang tak lagi muda itu dengan senyum terkembang.
"Aurora, lama tak kemari, bagaimana kabarmu nak? Bunda merasa kesepian tidak ada kalian."
"Baik Bunda, Bunda bagaimana sehat bukan?"
"Seperti yang kamu lihat." Bunda Yuli tersenyum.
"Kenalkan Bunda, ini asisten baru Aurora." Aurora tersenyum menoleh ke Edward yang berdiri di belakangnya.
"Felix."
Deg
Edward mengulurkan tangannya dan mencium tangan bundanya dengan takzim. "Aku merindukanmu Bunda, maafkan anakmu ini yang belum bisa menyapamu dengan benar. Semoga Bunda selalu dalam keadaan sehat dan dilimpahkan banyak kebahagiaan." batin Edward dalam doanya.
__ADS_1
Bunda Yuli terkejut sesaat mendengar nama dan suara Edward dengan wajah yang berbeda. Ingatannya berputar pada sosok anak lelaki yang dianggapnya telah tiada. Beliau tanpa sadar mengusap kepala Edward dengan mata berkaca-kaca. Perasaan rindu dan kehilangan menjadi satu. Anak yang ia harapkan sudah tak berada disisinya.
"Ah iya, kamu sopan sekali nak. Ayo masuk, semua ada di dalam. Ayah ada di dalam, kalian pergi temui dulu, nanti Bunda menyusul. Bunda mau panggil adikmu dulu."
Aurora dan Edward mengangguk bersamaan. Mereka kemudian mencari keberadaan Tuan Admaja. Aurora tersenyum saat melihat pria tua itu sudah tersenyum dari jauh ketika melihat kehadirannya.
"Ayah_" Aurora mencium tangan Tuan Admaja diikuti Edward setelahnya.
"Bagaimana kabarmu Ayah, ayah nampak bahagia sekali." Aurora duduk didepan pria itu.
"Ayah baik. Ehm.. apa begitu kentara? Haha ayah hanya merasa senang, adikmu akan dilamar pria yang dicintainya. Kamu tau, dia ternyata adik dari rival perusahaan kita. Ayah hanya tak menyangka saja, ternyata pria misterius itu kakaknya Willi, ayah begitu penasaran dengan sosok pengusaha Hong Kong yang selama ini menyembunyikan identitasnya itu. Selama ini yang kita tau hanya Chen, ternyata dia hanya asistennya saja. Ini sangat menguntungkan kita Aurora, kita bisa mengawinkan Golden Leon dengan mafia Hong Kong itu. Kekuatan kita akan semakin kuat. Apalagi dengan perusahaan."
Aurora menatap Tuan Admaja serius, sedangkan Edward yang sudah tau kebenarannya hanya diam saja tak memberi komentar."
"Ayah mau menikahkan Amelia atau menikahkan perusahaan?Kenapa rasanya kok seperti kita memanfaatkan keadaan."
"Haha bukan seperti itu. Ayah merasa sudah tua, kemampuan ayah sudah tidak seperti dulu, ayah tidak bisa melindungi kalian. Jika Amelia menikah dengan orang yang tepat, Ayah tidak merasa khawatir lagi. Sudah waktunya ayah pensiun. Dan setelah ini, giliran kamu yang menikah. Apa dia kekasihmu nak Aurora?" Tuan Admaja tersenyum menatap dua orang didepannya.
Aurora menoleh ke sampingnya. Ia melihat Edward tersenyum dengan senyum sejuta watt-nya , sedangkan ia hanya meringis malu.
"Bukan, dia hanya asistenku Ayah."
"Tapi kalian terlihat sangat cocok sekali. Serasi. Kamu cantik dia tampan. Keturunan kalian pasti cantik. Ayah ingin cucu perempuan." celetuknya tiba tiba.
Edward tak berkata apapun, ia merasa senang di puji ayahnya. Senyumnya bertambah lebar melihat ekspresi Aurora yang hanya tersenyum kaku.
"Ayah,.." Aurora
"Sudah saatnya kamu melupakan Edward. Tatalah hidupmu lagi. Ayah percaya kamu akan bahagia dimasa yang akan datang."
Jantung Edward terasa diremas mendengar perkataan Ayahnya. Tangannya mengepal erat, bagaimana pun ia tak rela Aurora jatuh cinta dengan pria lain apalagi dimiliki orang lain.
"Akan aku pikirkan nanti Ayah, sebaiknya kita fokus pada pernikahan Amelia dulu."
"Ya baiklah, ayah hanya memberimu nasehat. Ayah takut jika kamu sungkan pada kami. Sampai kapan pun kami akan menganggapmu putri kami. Jadi apa pun itu keputusanmu, kami akan selalu mendukungmu. Kamu harus ingat itu."
"Terima kasih ayah."
Diam sejenak.
"Kakek.. kakek.. tamunya sudah datang. Ayo mommy kita juga kesana. Ada artis tampan." ucap El antusias.
"Tampan?"
"Iya mommy."
__ADS_1
Mereka semua berjalan menuju ruang tamu, disana sudah ada tiga orang pria yang duduk dengan nyaman dengan Bunda dan Amelia yang duduk saling bersisihan. Aurora duduk disofa panjang bersebelahan dengan Edward dan putranya El, entah kemana perginya dua putra lainnya.
Aurora melihat pria yang duduk di antara Willi dan Asisten Chen. Aurora terkejut saat menyadari jika pria itu adalah Jingmi, pria yang sempat terlibat skandal dengannya beberapa tahun yang lalu.
Aurora hanya diam menyimak pembicaraan mereka, tidak bertanya ataupun berkomentar, hanya asistennya yang sesekali melemparkan pertanyaan pada Willi seperti seorang penyidik, hingga Tuan Admaja menyetujui rencana pernikahan Amelia dan Willi yang akan digelar sebulan lagi.
Ketika selesai acara jamuan makan bersama, Aurora menarik tangan Jingmi keluar. Ia begitu penasaran tapi ia tak bisa bertanya didepan banyak orang.
"Kita bisa bicara sebentar."
"Tentu, tapi jangan menarikku seperti ini."
Edward berdiri dan mengikuti mereka diam diam. Ia ingin tau apa yang mereka bicarakan.
"Tuan Jingmi, Katakan siapa anda sebenarnya!" tanya Aurora dengan penuh penekanan.
"Nona manis, anda tidak menyimak pembicaraan kami hem. Kita bisa duduk dulu, tidak enak mengobrol berdiri seperti ini, atau kita bisa keluar mencari udara segar."
"Apa yang sedang kalian sembunyikan! Siapa anda sebenarnya! Aku tau sendiri jika kakak Willi bukan anda."
Jingmi tersenyum, "Memang ada beberapa masalah yang tidak bisa saya ceritakan pada anda. Tapi jika anda istri saya, saya dengan senang hati berbagi cerita dengan anda. Bagaimana?" Jingmi menaikkan sebelah alisnya.
Jingmi melangkah duduk di kursi taman depan. Ia duduk dengan gaya santainya, lalu tersenyum kecil menatap Aurora.
"Kamu terlihat sangat manis sekali jika sedang begini nona. Duduklah."
Aurora duduk disebelahnya, memiringkan tubuhnya agar bisa berbicara dengan pria disebelahnya. Jingmi memulai pembicaraan.
"Nona, saya harap anda tidak membuka identitas saya malam ini. Ya, inilah saya. Saya pemilik HK.Corp. Saya pemilik perusahaan yang sok misterius dimata anda dan orang lain, saya juga orang yang telah digosipkan dengan anda, dan saya juga adalah kakaknya Willi, orang yang waktu itu sempat menjenguk anda dan suami di rumah sakit. Maaf, saya memang waktu itu sengaja melakukan penyamaran. Banyak awak media disana."
Aurora menatap Jingmi dengan pandangan tak percaya.
"Percayalah, saya tidak bermaksud buruk dengan anda maupun keluarga anda. Jika ada waktu luang, saya mengundang makan malam bersama esok hari. Anda bisa bertanya apapun yang ingin anda ketahui nona manis. Senang bertemu dengan anda kembali." Ucap Jingmi seraya bangkit dari duduknya.
"Tunggu!"
"Lalu kenapa anda membuka identitas anda pada keluarga kami!" Aurora
"Karena saya percaya dengan anda dan keluarga, saya ingin menunjukkan keseriusan William yang ingin menikahi adik ipar anda. Saya tidak ingin ada kebohongan disini." Jingmi tersenyum dan segera meninggalkan Aurora yang masih duduk di bangku taman itu. Ia takut Edward akan mengamuk padanya jika terlalu lama berada disana.
Dan ternyata benar, ketika ia akan memasuki mansion itu lagi, Edward menatap Jingmi sadis, Jingmi hanya tersenyum miring dan mengejek Edward seolah tau apa yang dipikirkannya.
.
.
__ADS_1
#####