
"Ehem...!"
Alex menetralkan detak jantungnya. Ia berdehem dan memalingkan wajahnya.
"Jangan disini. Ayo!"
Alex menggandeng tangan Zanitha dan membawanya ke parkiran dimana mobilnya berada. Sedangkan yang digandeng hanya bisa menghela nafasnya. Ia bahkan merutuki dirinya sendiri.
"Masuklah!"
Zanitha menurut saja. Ia mengangguk mengiyakan permintaan Alex yang entah akan membawanya kemana.
Mobil melaju membelah malam, Alex hanya diam selama perjalanan. Sedangkan Zanitha sendiri memilih memainkan ponselnya karena tidak diajak bicara Alex, mau memulai pembicaraan ia merasa malu sendiri.
Alex menepikan mobilnya di sebuah restoran miliknya. Lagi lagi ia menggandeng tangan Zanitha agar tetap berada disisinya. Ia menghiraukan wajah bertanya Zanitha.
"Apa kamu menyukai tempat ini." tanya Alex tanpa memandang wajah wanita itu.
Alex membawa Zanitha ke lantai tertinggi dari restoran itu. Pemandangan malam tampak indah jika dilihat dari tempat berdiri mereka. Zanitha mengulas senyum tipisnya.
"Ya, ini sangat indah. Ada apa? apa yang membuatmu mengajakku kemari. Apa ada yang ingin kamu sampaikan padaku?" tanya Zanitha melirik Alex .
"Bukankah kamu yang ingin bicara denganku?" tanya balik Alex.
"Aku.." tunjuk dirinya sendiri.
"Hemm." Alex mengangguk dan tersenyum tipis.
"Zanitha, Katakan seperti apa pandanganmu padaku. Kamu menganggap seperti apa hubungan kita selama ini. Aku tau kita bertemu karena mama kita yang menjodohkan, tapi mereka tidak memaksa kita, kita hanya diminta untuk saling mengenal dulu. Bagaimana dan apa yang kamu rasakan selama ini padaku? Apa kamu menyukaiku?" kata Alex memandang mata Zanitha dalam dalam.
"I..itu.."
"Ehem.." Zanitha memalingkan wajahnya. Ia memilih menatap langit malam yang berhias bintang bintang karena grogi mendapatkan pertanyaan seperti itu.
"Ada apa? Kenapa tak dijawab?" tanya Alex.
"Aku akan mengatakan jawabanku setelah aku mendengar jawabanmu Tuanku Alex." ucap Zanitha pelan.
Ia menarik nafasnya dalam dalam. Ia sudah bertekad untuk menjelaskan tentang hubungan yang ia jalani bersama Alex selama ini. Dibilang kekasih juga bukan karena selama ini Alex pun belum pernah mengatakan cinta padanya. Dibilang teman rasanya kok aneh. Ia baru sadar jika hubungan teman tapi mesra alias hubungan tanpa status itu gak enak. Diakui pacar gak bisa, Dibilang bukan pacarnya rasanya nyesek dihati, apa lagi jika jalan dengan cewek lain, cemburu banget pas liatnya. Mau jambak rambutnya juga malu sendiri lha wong bukan apa apanya. Ia tersenyum kecut dengan pemikirannya sendiri.
"Alex, bagaimana perasaanmu pada mbak Selly. Apa kamu mencintainya? Katakan sejujurnya dan tidak perlu kamu tutupi. " tanya Zanitha yang entah mengapa ia sangat penasaran dengan kedekatan mereka.
"Kenapa membicarakan orang lain saat kita bersama!" Alex merasa gusar sendiri. Ia menyugar rambutnya kebelakang.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa harus marah? Apa karena tidak bisa menjawabnya?" sindir wanita itu.
"Ze, aku tak pernah menjalin hubungan cinta dengan Selly atau siapa pun, kenapa kamu tak pernah percaya padaku. Kamu sendiri yang selalu meragukan aku."
Zanitha membalik badannya. Menatap sendu langit malam, begitu indah tapi menyesakkan dada.
"Ze," Alex mendekat dan merengkuh pinggang Zanitha dari belakang. Ia mendaratkan dagunya di bahu Zanitha.
Jantung Zanitha berdetak lebih cepat, ia menoleh kesamping, dan langsung disambut sebuah kecupan dipipinya.
Cup
"Lalu katakan bagaimana perasaanmu kepadaku. Kenapa kamu selalu bertindak semaumu." tanya Zanitha pelan karena hatinya sedang berdesir tak karuan.
"Karna Aku mencintaimu." jawab Alex tegas.
Deg
Zanitha mematung saat mendengar pengakuan Alex. Bahkan ia sampai menahan nafasnya.
"Aku mencintaimu Zanitha Zafia. Aku akui, aku sudah jatuh hati padamu sejak pertemuan pertama kita. Dari awal aku sudah mengatakan jika aku memilihmu untuk menjadi istriku. Aku serius dengan ucapanku, aku tak pernah bermain main dengan hati. Jadi katakan apa kamu juga mencintaiku?" ungkapnya dan masih memeluk erat pinggang Zanitha.
"Cin..ta..?" beo Zanitha tergagap.
"Bukan seperti itu." Zanitha melonggarkan pelukan Alex, berbalik dan menatap wajah Alex yang menurutnya terlihat tampan malam ini.
"Zanitha, apa kamu juga mencintaiku?" Tanya ulang Alex. Hatinya mulai ketar ketir jika jawabannya tidak sesuai ekspektasinya. Ia mencoba merapatkan tubuhnya kembali. Merengkuh Zanitha dalam dekapannya.
Tak disangkanya, Zanita pun mengangguk pelan, lalu memalingkan wajahnya karena malu. Bagaimanapun ia baru pertama kali mendengar seorang pria mengungkapkan perasaan padanya. Wajahnya merona, dan dirinya tak mampu menyembunyikan hal itu dari Alex.
Alex tersenyum melihat wajah Zanitha yang memerah. Ia meraih dagu Zanitha untuk bisa melihat wajahnya. Dipandanginya wajah itu dalam dalam.
"Jangan memandangku seperti itu. Aku malu.." ucap Zanitha jujur. Ia bahkan tak bisa lama lama menatap mata Alex . Tak kuat dengan Aura yang dimilikinya.
"I love U honey." Alex mengecup bibir itu sekilas.
"Love u too.." ungkap Zanitha malu malu.
Alex mengusap bibir Zanitha lembut dan merengkuh pinggang wanita itu agar lebih merapat lagi.
"Aku akan segera membawa keluargaku untuk melamarmu. Apa kamu siap?" ucap Alex pelan yang hanya diangguki wanita itu.
Alex meluapkan kebahagiaannya dengan mencium mesra bibir wanita itu. Hatinya sungguh bahagia setelah menentukan pilihan hidupnya.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mencintaiku Ze," Alex lalu memeluk tubuh Zanitha dengan sayang. Berkali kali ia mengecupi puncak kepala wanita itu.
.
.
Sedangkan ditempat lain, Tuan Kim gusar setengah mati melihat keadaan Vivian yang tampak tak berdaya karena pengaruh cairan yang sudah disuntikkan oleh Alex .
Tuan Kim sudah berusaha membantu Vivian, bahkan ia sudah kelelahan saat ini. Ia terlentang diranjang kamarnya dengan Vivian yang masih bergerak liar diatasnya dengan suhu tubuhnya yang semakin panas saja.
"Ah ****..!" umpatnya kesal mendorong tubuh Vivian menjauh dari tubuhnya. Ia merasa sudah sangat lelah dengan percintaannya.
"Aku akan panggilkan dokter untukmu!"
Tuan Kim beranjak dan memakai baju seadanya. Ia keluar dan menelfon dokter .
"Bos, kenapa marah marah diluar. Apa yang terjadi!" Yudha mengerutkan kening. Dari tempatnya berdiri terdengar sayup sayup suara Vivian yang teriak teriak tidak jelas.
"Ck..! itu akibatnya jika dia tak menurut padaku.!" ucap Kim berkacak pinggang.
"Siapkan anggota kita dengan baik. Aku tidak tau yang akan terjadi dimasa depan. Tangan kiri Edward sepertinya sudah mencurigai kelompok kita! Kita hanya menunggu tanggal mainnya."
"Baik Bos."
Tak berselang lama, dokter yang ditunggu pun tiba. Dokter itu bergegas memeriksa keadaan Vivian yang dikabarkan sakit.
Dokter itu terperangah melihat kondisi dalam kamar itu. Jakunnya naik turun melihat kemolekan tubuh Vivian yang tak memakai apapun. Ia menoleh kearah Tuan Kim meminta penjelasan, apa maksudnya pikirnya.
"Cepat segera periksa wanita itu. Tutupi saja dengan selimut jika kamu tak kuat melihatnya!" Dokter itu hanya mengangguk dan segera melakukan tugasnya.
"Tuan, dugaan saya wanita ini juga terkena racun. Untuk memastikannya saya akan membawa sampel darahnya ke lab untuk diuji." ujar dokter itu setelah memeriksa dan menyuntikkan cairan kedalam tubuh Vivian.
"Racun?" beo Tuan Kim.
"Ya Tuan."
"Sial, aku kecolongan! Brengsek! berani beraninya mereka." batin Tuan Kim geram dan mengepalkan tangannya.
.
.
.
__ADS_1
#####