Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Menyudutkan


__ADS_3

"Kenapa memaksakan diri, harusnya anda istirahat menemani anak anak di rumah. Besok masih ada waktu untuk menemui pria itu. Lagian mereka bukan siapa siapa anda." Kata Edward dengan nada yang terdengar cemas ketika melihat wajah lelah Aurora.


Aurora hanya diam dan menyandarkan kepalanya di tembok. Ia memejamkan matanya, tubuh dan pikirannya sudah lelah sekali seharian ini, akan tetapi dirinya masih harus mengurus ini dan itu sebelum esok hari terjadi penumpukan pekerjaan yang pastinya akan lebih menguras waktu dan tenaganya.


Asisten baru Kimura hanya diam menatap dua orang didepannya tanpa ingin menimbrung pembicaraan mereka.


"Kau tau Felix, aku merawat anak itu sedari bayi, dia bahkan sudah aku anggap bagian dari keluargaku terlepas dia anak dari siapa. Aku bahkan mendatangkan banyak dokter spesialis luar negeri untuk menyembuhkan sakitnya, aku bahkan rela mengeluarkan banyak tenaga dan uangku untuk mengobatinya, tapi pria itu ingin membawanya begitu saja. Dia pikir kerepotanku mengurusnya selama ini apa."


"Nona, sebenarnya disini yang membuat repot adalah diri anda sendiri. Tidak ingatkah, Anda bahkan menghalangi Tuan Kimura bertemu putranya sendiri. Biarkan saja pria itu yang merawat anaknya. Kenapa anda harus capek capek sendiri. Anak itu bahkan juga masih punya ibu. Kenapa anda tak membebaskan ibunya saja untuk mengurusnya. Dia bukan putramu, tidak perlu anda bersikap berlebihan seperti itu."


"Jangan membicarakan ibunya Kenta. Sampai kapan pun aku tak akan membebaskannya. Apa peduliku. Wanita itu bahkan dengan tega memisahkan anak anakku dengan ayahnya, aku tidak semudah itu memaafkannya. Apakah kamu tau rasa kehilangan orang yang kita cintai itu seperti apa, itu sangat menyakitkan Felix, terlepas itu semua adalah takdir hidup kami. Biar saja ia menderita seperti kami. Biar dia menyesali perbuatan seumur hidupnya."


Aurora tiba-tiba membuka matanya dan menatap Edward dengan pandangan menyelidik.


"Darimana kamu tau tentang ibunya Kenta!"


Edward balik menatap wajah Aurora, ia tahu jika wanita didepannya sedang menganalisa ekspresi wajahnya. Edward segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu padanya.


"Lukas." Aurora membaca sekilas email dari Lukas yang mana pria itu menulis secara rinci detail tentang hubungannya dengan orang terdekatnya, kelompoknya, musuh bahkan saingan bisnisnya. Masalah intern dan eksternal perusahaan, juga banyak identitas orang orang yang terhubung dengannya.Pikirannya hanya satu, kenapa Lukas membeberkan semua rahasianya.


"Felix, kita bicarakan ini nanti. Kamu dan Lukas punya hutang penjelasan padaku."


Edward hanya mengangguk. Lalu pandangannya beralih pada Asisten Kimura yang diam sibuk berbalas pesan, tapi ia sangat yakin jika sedari tadi pria itu mendengarkan pembicaraannya.


"Hei, kau siapa namamu! Cepat panggil bosmu keluar. Bilang Queen menunggu diluar! enak saja, siapa dia berani membuat kami menunggu, dikiranya kami punya banyak waktu. Cepat sana!" seru Edward dengan nada tak sukanya.


Asisten Kimura menaikkan pandangannya menatap Edward malas.


"Panggil saja Zen. Tunggu sebentar, saya akan memanggil Tuan Kiyoshi."


Setelah itu Zen segera masuk dan memberitahu perihal kedatangan Aurora.

__ADS_1


Aurora kembali memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di lengan Edward. Perasaan nyaman tiba-tiba menyelinap di hatinya, apalagi bau parfum yang dikenakan Edward mengingatkan pada kenangan masa lalunya.


"Kak Ard, aku lelah sekali, tidak bisakah kamu datang kemari dan memelukku sebentar saja, hatiku sedang susah, aku ingin menangis tapi aku tidak tau harus menangisi apa, aku merindukanmu kak." lirih Aurora.


Edward yang mendengar gumaman Aurora hanya bisa diam. Ia merasa sangat kasihan pada istrinya, dibalik sikap jutek dan kekakuannya, ternyata hanya kamuflase menutupi kerapuhannya. Bagaimana pun, dia hanya seorang wanita yang sangat lemah.


"Ehmm.. Sepertinya anda dekat sekali dengan asisten anda nona Aurora."


Aurora langsung membuka matanya begitu mendengar suara sindiran Kimura. Ia menoleh ke samping melihat Edward yang masih berwajah datar.


"Duduklah. Kenapa masih berdiri disana."


"Tuan Kimura. Bagaimana, apa yang anda lihat dari Kenta. Apa dia seperti yang anda harapkan?"


Kimura mendongakkan kepalanya menatap langit langit, tak dipungkiri ia merasa sedih melihat keadaan putranya.


"Aku akan mengganti biaya pengobatannya. Sudah berapa dolar yang kau habiskan. Zen akan mengurusnya."


"Apa! Sebanyak itu!" Kimura berdecak kesal.


"Anda harus ingat berapa kerugian yang kami alami gara gara ulah anda sendiri, terlepas biaya berobat Kenta. Anda pikir itu tak pakai uang?" Aurora menyeringai.


"Itu kerjaan Yudha! Lagian kalian sudah menutup perusahaanku. Aku bahkan kehilangan banyak uangku gara gara kalian. Bukankah itu sudah impas!" kilahnya.


"Ck! Bos macam apa anda. Licik! Aku tak akan membiarkan kau bertemu dengan anak itu lagi!"


"Hei apa yang kau katakan. Tidak seperti itu perjanjian diawal! Aku sudah membebaskan putramu!" seru Kimura tak suka.


"Bagaimana rasanya diliciki orang lain Tuan Kimura? Salah sendiri anda melukai putraku! Apa masalahmu dengan putraku, masalahmu denganku! Ingat Tuan Kimura, sekali lagi kelompok kalian membuat ulah dengan kami, aku tak segan segan menghancurkan kalian bahkan sampai ke akar akarnya. Aku tak peduli pada plakat dan perjanjian kalian, toh itu hanya perjanjian bersama GL bukan dengan Dark Queen. Sepertinya anda belum terlalu mengenal sepak terjang kami."


Kimura mengetatkan rahangnya. Tangannya mengepal menahan marah. Matanya menatap tajam Aurora, tapi wanita itu cuek tak peduli dan tak terimidasi.

__ADS_1


"Aku minta maaf."


Aurora tersenyum sinis mendengar kalimat itu keluar dari bibir Kimura. Tak menyangka seorang Kimura bisa merendahkan dirinya.


"Aku akan membayar semua kerugianmu. Tapi anda harus membebaskan putraku. Aku pastikan besok pengacara ku akan datang menemui anda."


"Apa anda berpikir aku sudah memaafkan anda begitu saja? Tidak Tuan Kimura. Anda salah besar. Setelah ini anda tidak diperkenankan menemui Kenta lagi. Aku akan menyembunyikannya lagi jika anda tetap bersikeras membawanya pulang." Tegas Aurora.


"Ck,sial. Apa maumu!" Kimura sudah mulai kehilangan kesabaran.


"Benarkah anda ingin tahu apa yang ku mau?" Smirk Aurora.


Kimura mengangguk pelan. Dalam hatinya ketar ketir, pasti permintaan Aurora bukan hal mudah untuk dilakukan, tapi apa boleh buat, ini demi anaknya.


"Aku ingin kalian menghancurkan markas Madam Yora."


"Apa! Kau gila!" Seru Kimura dengan suara tertahan. Ia bahkan sampai melotot saking tidak percayanya.


"Ck. Ini sama saja kamu mengumpankan kami. Apa bedanya kalian membunuhku terang terangan!"


Aurora menampakkan senyum tipis. Ia bangkit dan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Pikirkan baik-baik. Dan ingat jangan melampaui batasanmu. Aku sudah menyiapkan hadiah terbaik jika kalian nekat membawa Kenta. Oke, saya rasa ini sudah cukup, mungkin sebentar lagi dokter akan melakukan kunjungan, tanyakan apa yang ingin kalian ketahui. Besok temui Alex untuk membahas ini lebih lanjut. Aku pergi dulu."


Aurora memberi kode Edward untuk segera bangkit dan mengikutinya.


.


.


.

__ADS_1


#####


__ADS_2