Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
MUSIBAH


__ADS_3

Alex yang baru saja mengantar Zanitha pulang kerumahnya, dikejutkan alarm pada jam tangannya yang berkedip biru dan berbunyi nyaring . Alex membulatkan matanya, itu adalah alarm gawat dari markas. Entah apa yang terjadi , ia juga belum mengetahui.


Alex langsung memacu mobilnya kencang ke markas, hujan deras dan jalanan licin membuatnya harus beberapa kali tergelincir, decitan ban karena pengereman mendadak membuat mobilnya menarik perhatian pengendara jalan yang lain.


Ia kesal bukan main, jalan utama kemarkas masih cukup jauh. Mengumpat pun ia merasa tak guna. Di tengah fokusnya mengemudi, ponsel disakunya bergetar. Ia segera menggunakan headseat bluetooth pada telinganya.


"Hallo..!!" seru Alex


"Bos, Bos Lukas minta bantuan ke jalan Xxxd, apa yang terjadi, apa King dalam bahaya..!?" tanya anak buahnya mengkonfirmasi.


"Apa..!! Katakan yang jelas. Apa yang terjadi?!" pekik Alex mulai cemas.


"Kami belum tau, kami sedang melakukan persiapan keberangkatan. Apa kita perlu menerbangkan helikopter Bos, tapi Kapten Albar dan Raditya belum kembali kemarkas." ucap anak buahnya.


"Panggil Kevan saja, hati hati jangan sampai orang tua King mengetahui, kita belum tau keadaan yang sebenarnya. Satu lagi, bawa dokter dan alat medis dalam heli, kita tidak tau kemungkinan terburuknya. Lakukan protokol 1, lacak keberadaan mobil King. Kita bertemu disana." ucap Alex dan menutup panggilan.


"Baik."


Bertambah gelisah pula si Alex, ia takut terjadi hal buruk menimpa Edward. Ia tahu benar, kematiannya diincar oleh banyak orang. Ia bahkan selalu menempatkan bodyguard terbaik disisinya. Tapi apa, ini tidak seperti ekspektasinya, kemana kesepuluh bodyguard itu pikirnya.


Alex melajukan mobilnya bertambah kencang, la berkali kali menyalakan lampu Dim, bak pembalap profesional, ia salip kanan salip kiri, bahkan ia juga menekan tombol sirine untuk memecah kemacetan kendaraan didepannya, ia juga sedang bertaruh nyawa dijalan. Urusan tilang ia akan pikir belakangan. Bahkan umpatan pengguna jalan lainnyapun tak ia pedulikan. Satu fokusnya, agar segera sampai ditempat tujuan. Semoga tidak terjadi hal mengerikan seperti pikiran buruknya.


Drrrrtt...drrrrtt...drrrtt..


Ponsel Alex kembali bergetar, rupanya Lukas yang berusaha menghubunginya. Dengan cepat ia menjawab panggilan darinya.


"Ada apa!?" tanya Alex dingin. Ia tidak bisa membagi fokusnya. Ia sedang fokus dijalan.


"Sudah sampai mana, jemput aku dijalan Xxxd. King dalam bahaya. Sudah kau lacak keberadaan King? Mobilku pecah ban, tidak bisa digunakan. Mobil satunya juga entah kemana. Segeralah aku takut terjadi sesuatu pada King...!!" seru Lukas panik.


"Aku sedang dijalan Sssd, aku tidak bisa menjemputmu disana. Kau tunggulah mobil jemputan, atau kau lari saja. Anggap itu hukuman karena lalai menjaga King. Lagian arah kita juga tak sama. Pergilah ke jalan Yyyz, mobil King sedang berhenti disana. Kita bertemu disana.!"


"Alex,..kau tau suasana diluar..!!" Lukas menggeram marah.


"Hujan tak membuatmu terluka, paling juga basah. Bergegaslah sebelum terjadi sesuatu pada King. Aku sudah kirimkan banyak pasukan. Posisi kalian tak jauh dari sana. Segeralah Lukas..!!!" bentak Alex tak sabaran.


Lukas yang emosi, langsung menutup panggilan. Ia tidak mau berdebat dengan kawannya. Apa boleh buat, ia akan berlari mencari Edward, semoga ada tumpangan harapnya.


.


.


Disisi lain, orang yang sedang mereka bicarakan sedang menggenggam tangan mesra sambil mendengarkan lagu yang diputar . Sesekali Edward menciumi tangan Aurora. Pasangan yang sedang dimabuk cinta itu selalu saja menebarkan kemesraan dan keromantisan dimanapun. Seperti itulah cinta mereka.


Sayangnya, keadaan itu tak berlangsung lama. Seperti yang Lukas khawatirkan terjadi adanya. Musuhnya diam diam akan membunuh Edward dan keluarganya malam itu. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, ini adalah takdir. Ini ujian mereka. Bersabarlah menjalani ujian kawan.


Langit seperti menangis malam ini, bukti cinta mereka akan selesai sampai disini. Kebahagiaan yang baru saja direguknya harus kandas malam ini. Semoga Tuhan menyelamatkan mereka. Semoga ada jalan untuk kembali pulang.


"Sayang, fokuslah pada kemudimu." ucap Aurora mengingatkan.


"Aku tidak bisa fokus jika ada kamu disampingku." gombal Edward


Sayangnya Aurora menganggapnya dengan serius ucapan suaminya, "Menepilah, aku yang akan menggantikanmu mengemudi.!" jawab Aurora khawatir.


Edward tersenyum menggenggam tangan Aurora dan menciuminya. "Aku hanya becanda,"


Aurora mengulum senyum, dari tadi pikirannya terlalu serius, ia ingin segera sampai dirumah. Wajar saja dia tidak bisa diajak becanda.

__ADS_1


"Kak, sebaiknya kita salip truk didepan, bahaya sekali mereka dalam membawa muatan. Aku takut jika benda itu mengenai mobil kita." ucap Aurora pelan.


Sebuah truk besar bermuatan penuh besi beton eser tepat dihadapan mobil yang dikendarai Edward. Yang membuat Aurora khawatir adalah penataan besi itu yang pada bagian ujungnya menjuntai menggantung kebawah bukan keatas. Seperti memang disengaja, bahkan mereka tidak memasang tanda bahaya, apalagi ukuran besi itu terbilang cukup besar. Bagaimana jika mengenai kaca mobil mereka, bahkan mobil yang dibawanya saja mobil yang tergolong pendek dan tidak ada sunroof-nya.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Edward yang bersiap menyalip truk didepannya. Ia mengamati posisinya saat ini.


"Aku takut. Didepan truk ini ada banyak truk yang lainnya." Kata Aurora dengan nada bergetar, hatinya saja sudah tak karuan.


Edward terdiam fokus mengamati keadaan sekitarnya, dia jadi was was sendiri, ia sedikit memelankan laju mobilnya, melihat spion kebelakang. Mobil Lukas dan bodyguardnya sama sekali tak terlihat olehnya. Kemana mereka pikirnya. Semoga bukan musuhnya yang mengincar nyawanya malam ini. "Tuhan, lindungi keluargaku." pinta Edward dalam hati.


Edward menguatkan niatnya , ia menyalakan lampu sein dan memutar kemudi kekanan dengan cepat.


BROMM...!!!


Mobil Edward yang akan melaju kencang mendahului truk didepannya, naas... belum sampai menyalip , mobil Edward malah dihantam truk dari sebelah kanan. Truk itu rupanya juga hendak menyalip mobil Edward.


BRAKK...! BRAKK..!!! Edward langsung membanting stir kekiri.


"Aghh..!!


"Daddy..!!


Pekik mereka bersamaan, mobil Edward kehilangan keseimbangan tapi masih berada pada jalurnya, bahkan mobilnya masih melaju walau pelan.


Aurora memegangi kepalanya yang terbentur keras jendela, sedangkan Brian sudah terjungkal kebawah karena ia memang tak memakai sabuk pengaman.


"Aggh sakit mom.." keluh Brian.


Aurora langsung menoleh kebelakang, ia jadi khawatir pada putranya.


Brian mengerjap, pelan pelan dia bangun dan memasang sabuk pengaman, naas.. belum sampai terpasang benda itu, Mobil Edward sudah ditabrak sebuah Truk besar dari sebelah kirinya. Pengemudinya tersenyum miring.


BRAKK..


"Aghhh..!!" pekik mereka bersama.


"Sayang, lindungi diri kalian. Kita dijebak...!! Mereka memang sengaja akan membunuh kita. Lindungi Brian, Aku akan melindungi kalian, Ambil pistol di dasboard..!!Kita tidak bisa berhenti.,!! Satu satunya jalan melumpuhkan truk di sebelah kita...!!" pekik Edward panik.


"Ya aku mengerti.!!" seru Aurora


Perasaan Aurora tak karuan, ingin menangis takut membuat suaminya tambah panik. Ia kuatkan hatinya, merapalkan banyak doa dalam hatinya.


Bagaimana dengan keadaan Brian, anak itu duduk dibawah memejamkan mata, tangannya memegang erat sandaran kursi Aurora. Dia takut, dia menangis. Kepalanya bahkan sudah terasa pusing karena banyak benturan yang diterimanya.


BRAK... BRAK..


DOR ...DOR.. DOR...


"Aggghh...!!" jerit Brian


Mobil Edward sudah mengenaskan sekali, apalagi yang didalam. Lagi lagi mobil Edward ditabrak dari belakang, bahkan tembakan yang diluncurkan melubangi ban mobilnya. Mobil mahal itu akhirnya penyok sana sini. Edward menitikkan air matanya pilu. Dia tidak bisa berpikir lagi. Keadaan ini membuatnya syok, apalagi sekarang sedang membawa keluarganya.


Aurora bahkan sudah menangis, tak tahan melihat keadaan suaminya. Kepalanya sudah berdarah terantuk kaca mobilnya. Apa kehidupannya akan berakhir sekarang pikirnya.


"Sayang, apapun yang terjadi, ingatlah aku mencintai kalian, jika kamu masih hidup, tolong jaga anak anak , aku menyayangimu. Sampai jumpa dikehidupan selanjutnya. I love you" ucap Edward yang terdengar pilu.


Aurora menangis histeris, ia tidak tau harus berkata apa, suaminya sudah mengucapkan kata perpisahan untuknya. Jika mereka bisa berharap untuk hidup, tapi sayangnya tidak. Tidak ada harapan untuk itu. Keadaan mobilnya semakin terdesak. Truk belakangnya semakin merangsek maju dan mendorong mobil Edward kedepan. Edward sudah bersusah payah menginjak rem kakinya, nyatanya mobil yang dikendarai masih saja terdorong kedepan. Apalagi truk bermuatan beton eser sengaja berhenti tepat di depan mobil Edward.

__ADS_1


"BRIAN MERAYAP...!!!!" Pekik Aurora yang terdengar pilu, sambil menahan tangisan ia lepaskan sabuk pengaman dan menurunkan dudukan kursinya, dia juga akan bersiap merayap. Entah kejadian apa yang akan terjadi. Jika dirinya masih dalam posisi duduk, kemungkinan besi runcing itu akan menusuk dadanya.


Aurora menangis pilu melihat wajah tegang suaminya yang masih berusaha mengendalikan mobilnya. Mobilnya berkali kali ditabrak dari kanan, kiri dan dari belakangnya.


"EDWARD MERUNDUK...!!! LEPASKAN MOBILMU...!! Pekik Aurora dengan tangisnya.


"Ku mohon selamatkan Brian, berjanjilah padaku.!!" ucap Edward lirih.


Aurora semakin menangis pilu. Hatinya tersayat sayat, dirinya dihadapkan dengan kematian tepat didepan matanya.


"SAYANG PINDAH KEBANGKU TENGAH..!!" Seru Edward makin panik. Mobilnya semakin menuju kearah Truk muatan beton eser.


"Hiks..hiks..hiks.. Aku ikut bersamamu.." tangis Aurora pilu


"Aku mohon, selamatkan dirimu dan anak anak. Aku mencintaimu.." ucap Edward bergetar.


Edward tak kuasa menahan tangisnya, ia takut, sangat takut sekali, takut berpisah dengan mereka, orang orang yang dicintainya , tapi Ia juga tidak bisa menyelamatkan mereka. Sedih, sangat sedih sekali. Bahkan tangisnya sangat menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya. Ia sudah putus asa atas kehidupannya. Ia sudah bertekad untuk mengorbankan dirinya untuk melindungi nyawa mereka berdua.


"EDWARD LEPASKAN MOBILNYA,..!!!" Seru Aurora frustasi


Aurora langsung menarik rem tangan mobil dan segera menurunkan sandaran kursi Edward. Jaraknya sudah semakin dekat, tidak punya banyak waktu.


BRAKK... BRAK... BRAK


"AÀAAAAAAA...!!! "


"TIDAKKKKK....!!!"


"AAAAAAAAA.....!!!"


BRAKK..BRAK..BRAK...


KRAKK...


.


Gelap, semua menjadi gelap. Aurora tersenyum miris, badannya terasa sakit sekali. Ia membayang kehidupan dimasa kecilnya, ia menitikkan air matanya, kesadarannya menurun, dia pingsan.


Sedangkan Edward sudah tak bergerak, besi itu sebagian menancap di punggung dan tembus keperutnya. Dari mulutnya sudah mengeluarkan darah. Miris ,


Brian yang masih sadar karena dia berlindung di bawah jok kursi mobil, menggapai tangan Aurora. Dia menitikkan air matanya, mommynya yang sudah menyelamatkan tubuhnya dari kematian. Aurora menjadikan tubuhnya sebagai perisai tubuh Brian.


"Mommy.." panggilnya lirih.


.


.


.


###


Tetap dukung karya ini.


Love u All...


Arigatou Gozaimasu.

__ADS_1


__ADS_2