
Keesokan harinya, berita tertangkapnya putri sulung walikota tiba-tiba mencuat ke publik. Wajah Zanitha bahkan terlihat dan terekam jelas kamera paparazi yang memang sudah disiapkan untuknya.
Wanita itu tertangkap basah didepan apartemennya sendiri, saat membawa koper besar yang berisi mayat seorang laki-laki yang ia tembak waktu itu oleh tetangga apartemennya sendiri. Persis, kejadian ini sesuai dengan rencana Darion dan tidak meleset sedikitpun.
Apartemen Alex yang di huni Zanitha kini ramai orang walau sudah dipasangi garis polisi. Mereka ikut simpati akan kejadian yang menimpa wanita itu. Hanya tak percaya saja jika Zanitha bisa melakukan pembunuhan pada bodyguardnya sendiri.
Alex yang baru saja mengetahui berita itu dari anak buahnya, terlonjak tak percaya. Matanya bahkan seketika memerah. Sedih, kecewa, marah menjadi satu. Bagaimana bisa keadaan ini menimpa istrinya. Ia menyesal kenapa malam itu dirinya tidak pulang menemui Zanitha.
Alex kemudian menyalakan televisi, berharap tidak ada penayangan berita buruk itu, tapi sayangnya harapan tinggallah harapan. Hampir setiap stasiun televisi menayangkan berita tak mengenakkan itu.
"Kenapa Ze, kenapa kamu melakukan itu. Kenapa kamu tak menungguku. Sekarang aku harus bagaimana?"
Alex mengusap sudut matanya yang basah. Ia tahu alasan Zanitha sampai membunuh anak buahnya, tapi jika mengingat video syur itu, seketika membuat dadanya terasa begitu sesak. Laki-laki mana yang tidak sedih melihat istrinya bercumbu dengan pria lain. Kenapa nasib percintaannya bisa setragis ini.
"Reyhan. Lalu dimana anak itu."
Alex langsung mengendarai mobilnya secepat kilat usai memberitahu Lukas untuk datang secepat mungkin ke rumah Aurora. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Edward ketika dirinya tak berada disisinya. Ia hanya takut sakit kepalanya kambuh seperti semalam, apalagi Aurora memutuskan tidak pulang sementara waktu.
Pria itu menepikan mobilnya ketika hampir sampai di depan gerbang rumah mertuanya. Keadaan rumah yang ramai wartawan membuatnya berdecak kesal. Entah sudah sedari kapan tukang cari berita itu berada disana.
Tiba tiba seseorang mengetuk kaca mobil Alex. Terlihat jelas dimata Alex jika dia adalah seorang polisi walau ia tak memakai seragam dinasnya.
"Saya utusan walikota. Tolong buka pintunya." ujar pria itu begitu Alex sedikit menurunkan kaca jendelanya.
Alex mengangguk dan menekan central lock.
"Anda ingin menemui Tuan walikota bukan? Kita bisa lewat pintu samping. Saya akan menunjukkan jalannya."
Alex mengangguk saja. Dia juga kurang tahu seluk beluk rumah mertuanya.
Pria berusia sekitar 55 tahun berdiri termangu menatap kosong kedepan. Pandangannya suram, apalagi hatinya.
"Alex." Sapa pria itu tanpa menoleh ke belakang.
"Iya Ayah."
"Aku dulu mengijinkan kamu menikahi putriku karena kamu mempunyai kekuatan lebih untuk mendukungku di pemilihan gubernur nanti. Tapi kejadian hari ini membuatku sadar. Tak seharusnya aku melakukan itu untuk kepentinganku sendiri."
"Saya akan tetap mendukungmu." jawab Alex cepat.
Pria itu menggeleng. "Tidak. Reputasiku sudah hancur Alex. Percuma saja."
"Saya akan mencarikan pengacara terbaik untuk membebaskan Zanitha."
Pria itu tersenyum hambar. Tetap saja jika menyewa 10 pengacara terbaik sekalipun, mereka juga tidak bisa membebaskan Zanitha begitu saja. Rekaman itu sudah diterima pihak kepolisian. Siapa yang bisa mengelak dari tuduhan itu, apalagi putrinya juga mengakuinya sendiri.
"Ayah tenang saja. Saya akan mengawal kasus ini sampai selesai. Saya akan meminta bantuan Tuan Haidar."
__ADS_1
"Sebelum kamu meminta bantuan padanya, aku sudah lebih dulu menemuinya. Sebaiknya kamu fokus mencari Reyhan. Anak itu ikut menghilang entah siapa yang membawanya, tapi Ayah yakin kamu tau sesuatu."
Pria itu terlihat mengeluarkan secarik kertas dari dalam saku jasnya dan diberikannya kepada Alex.
...Alexander. Kamu mengabaikan peringatanku. Bebaskan Darius tanpa syarat dan aku akan mengembalikan putramu dalam keadaan utuh. Ingat! Aku akan mengawasimu....
...DN...
Alex terbelalak tak percaya. Pria itu menatap Ayah mertuanya dengan tatapan gamang. Darimana ayah mertuanya bisa mendapatkan kertas sialan ini.
"Siapa Darius. Kenapa cucu dan putriku yang dijadikan tumbal atas pekerjaanmu Alex. Apa kamu bisa menjelaskan padaku?"
Alex mendudukan dirinya di sofa dengan pandangan tertunduk. Tidak tau harus menjelaskan seperti apa pada mertuanya.
.
.
Aurora saat ini sedang berada di markas DQ bersama Mira, David dan Kiran. Keempatnya sedang membahas strategi pembebasan dua putra kembarnya. Kali ini ia akan bergerak sendiri tanpa bantuan Edward ataupun anggota GL.
Tampak Aurora membuka peta dilayar monitor. Wanita itu banyak menandai wilayah yang akan ia letakkan anggotanya untuk proses evakuasi jika misi mereka gagal.
"Oke. Aku percaya pada kalian. Kita berangkat dua jam dari sekarang." ujar Aurora setelah selesai menjelaskan strateginya.
"Queen, lalu siapa yang akan memantau kita jika kami semua berangkat. Kita butuh navigator yang memberitahu jika ada ancaman berbahaya. Kita tidak bisa melakukannya sendiri bukan?" tanya David.
David mengangguk mengerti.
"Anda yakin tidak akan melibatkan Tuan Alex maupun Tuan Lukas nona? Bagaimana jika,,"
"Tidak." Aurora memotong kalimat Kiran.
"Jangan bergantung pada mereka. Mereka punya masalah sendiri!" tegas Aurora.
"Tapi madam Yora,.."
"Jangan meremehkan kemampuanku Kiran. Aku pastikan aku akan menyeret tubuhnya dengan rambutnya sendiri. Dia itu manusia licik. Tidak mungkin dia pandai bertarung. Dia hanya pandai menghidar."
Kiran melirik David. Bagaimana pun dia tidak bisa meremehkan lawan. Bagaimana jika mereka lebih kuat darinya. Bisa jadi jam ini adalah waktu terakhirnya menghirup udara bebas.
.
.
BUGH
BUGH
__ADS_1
Alex terus menghajar Darius sampai babak belur. Pria yang tidak tahu apa apa itu mengerang kesakitan saat Alex tiba-tiba menghajarnya tanpa ampun.
"Brengsek!"
BUGH
"Kenapa. Kenapa menghajarku sialan!" teriak Darius.
Andai ia bisa melawan kegilaaan Alex, pasti ia akan ikut memukul wajah tampannya. Sayang sekali, tangan dan kakinya diikat kuat dan dijadikan samsak tinju oleh Alex.
"Siapa! Siapa yang membawa putraku! Jawab!" teriak Alex.
"Aku tidak tahu! kenapa bertanya padaku!" teriak Darius pula.
BUGH
"Sialan!"
BUGH
"Bunuh saja aku Alex! Untuk apa kamu repot repot mengurungku!"
"Hahaha. Tidak semudah itu!"
BUGH
"Katakan siapa orang yang kemungkinan bisa membebaskanmu dari sini! Katakan siapa sekutumu brengsek! Katakan siapa DN!"
Darius tertawa ditengah kesakitannya. Ia tak menyangka jika Alex ternyata menghajarnya hanya karena ada orang yang mengancamnya. Ternyata pria itu juga memiliki sisi lemah yang sama dengannya.
"Tutup mulutmu atau aku akan memotong lidahmu sialan!"
BUGH
Alex terengah engah usai puas menghajar Darius. Pria itu duduk disebelah Leon yang diam saja menonton kegilaaannya.
Dari jauh tampak Viona yang ikut memukul jeruji besi untuk memanggil Alex agar mendekat kearahnya.
Sayang sekali Alex hanya bergeming melihatnya. Malas sekali meladeni wanita itu. Jika saja Aurora tak menghalangi untuk menghabisinya, sudah sedari dulu wanita itu jadi tulang belulang.
"Sialan, semua ini juga gara-gara dia."
.
.
.
__ADS_1
#####