Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Kejadian tak terduga


__ADS_3

Hai hai para readers yang baik hatinya, yang masih menunggu kelanjutan jalan cerita ini, mohon maaf sebesar besarnya karena memang seminggu lebih ini saya baru up malam ini. Maaf karena mengecewakan kalian. Saya memang sedang super duper sibuk sekali. Sekali lagi mohon maaf sebesar besarnya. ๐Ÿ™โค๐Ÿ™๐Ÿงก๐Ÿ™๐Ÿ’š๐Ÿ™๐Ÿ’›๐Ÿ™๐Ÿค๐Ÿ™๐Ÿ–ค


\=\=\=\=\=ใ€‹ Back to the story.


"Bersabarlah sebentar nak. Daddy janji akan segera kembali. Jangan menangis seperti itu, hati Daddy sedih mendengar kamu menangis. Sedalam itukah kamu mencintai daddymu ini." Batin Edward memejamkam matanya dengan punggung bersandar di daun pintu.


Aurora yang baru saja membuka pintu kamarnya dari dalam terkejut melihat asisten barunya. Ia mengeryit heran apalagi saat mendengar tangisan Brian. Tidak biasanya ia mendengar Brian menangis. Ada apa pikirnya. Pikirkan buruk Aurora menghantuinya, takut trauma lamanya kambuh lagi. Ia bergegas menghampiri Brian.


Edward yang menyadari Aurora berjalan mendekat kearahnya langsung menegakkan badannya. Ia menatap Aurora datar, tak tau apa yang harus ia katakan.


"Apa yang kau lakukan disitu! Kenapa putraku menangis. Kenapa tak masuk melihatnya. Apa kamu yang membuatnya menangis?" cecar Aurora, tapi pria itu hanya diam tak menjawab satu pun pertanyaan yang dilontarkan oleh Aurora. Aurora sendiri seperti tak butuh jawaban dari asisten barunya itu. Ia langsung membuka pintu kamar Brian.


"Hei boy, ada apa? kenapa menangis? mana yang sakit hem? Apa tenggorokanmu masih sakit? kenapa menangis sekencang itu?" Aurora duduk dan memeluk tubuh Brian. Ia menepuk punggungnya pelan.


"Daddy..." Hiks hiks..


"Daddy..?" beo Aurora mengeryit heran.


"Apa dia sudah tidak menyayangiku mom. Di..dia jahat mom..." keluh Brian disela tangisnya.


Aurora mengusap kepala Brian dengan sayang. Menyalurkan ketenangan untuk anak itu. Pikir Aurora, Brian begitu karena terlalu merindukan Edward, karena memang setiap anak itu sakit ia lebih manja dan sensitif dengan perasaannya.


"Kita sudah membahasnya lama bukan. Mom tau, kamu begitu menyayanginya, tapi cobalah membuka hatimu untuk juga menyayangi ayah Yudha. Daddy Edward sudah tak bisa kembali kesisi kita, cobalah untuk menerima kenyataan ini. Daddy sudah menjadi cerita hanya untuk dikenang."


Brian semakin menangis terisak.


"Ush ush.. tenanglah, kamu pasti bisa melalui ini. Kamu anak kuat." hibur Aurora


"Berjanjilah tidak meninggalkan aku mom."


"Mom janji."


Aurora melonggarkan pelukannya dan menatap Brian dengan senyum tulusnya. "Istirahatlah. Om Kevin yang akan menjagamu. Adik adikmu hari ini akan di antar ke rumah utama. Mom harus pergi sekarang. Jika ada apa apa kamu bisa menghubungi mom."


"Mom."


"Hem_"


"Apa mom tidak ingin menyelidiki asisten baru mom. Dia itu daddy Edward mom."


Aurora tersenyum lalu mengacak rambut Brian. "Lekaslah sembuh, kamu selalu berpikiran macam-macam jika sedang sakit." Aurora beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Mom!" Brian merasa tidak puas dengan jawaban Aurora.


"Mom tidak ingin tau dan tidak ingin menyelidiki. Beban pikiran mom sudah terlalu banyak, mom tidak ingin menambah masalah dimasa depan, mom hanya takut kecewa. Mom sudah bersusah payah menata hati ini. Mom tidak ingin hati ini terluka lagi." Jawab Aurora apa adanya.


"Bagaimana jika itu kenyataannya? Apa mom akan marah?"


"Tidak. Untuk apa mom marah. Mom yakin itu sudah takdir untuk mom. Dan juga daddy pasti punya alasan yang baik sehingga menyembunyikan ini dari kita. Sudahlah kita jangan berharap berlebihan, itu mustahil terjadi. Daddy sudah tenang dialamnya. Tidurlah, jangan pikirkan apa pun dan jangan coba coba mencari tau lebih dalam. Mom tau kamu begini karena kamu terlalu penasaran dengan asisten mom. Jangan lakukan itu lagi."


"Tapi mom kemarin mendukungku,_" Brian mengerutkan bibirnya.


Aurora menghela nafasnya, "Itu kemarin, tidak mulai hari ini. Bersikaplah seperti biasanya, jika memang sudah jalannya, akan terbuka dengan sendirinya. Kamu mengerti maksud mom kan?"


"Oke." Brian terpaksa mengangguk malas.


Aurora tersenyum lebar."Anak pintar, mom berangkat dulu ya."


"Mom!"


"Apalagi sayang?" Aurora kesal, tapi ia tetap berbalik menatap Brian dengan separuh pintunya ia biarkan terbuka.


"Apa mom akan menikah lagi?"


"Tentu saja."


"Kau selalu kepo dengan urusan mommy. Tidak baik menjadi anak yang selalu ingin tau. Apalagi ini urusan orang dewasa."


"Apa itu Om Aldi?" tanya Brian dengan sedikit suara kerasnya. Ia tau jika asisten mommynya sedang mendengarkan pembicaraan mereka.


"Seperti yang adikmu inginkan. Dan kamu harus menyetujuinya."


Edward membesarkan matanya, terkejut sepersekian detik mendengar jawaban Aurora. Jantungnya tiba tiba terasa sesak seketika. Kenapa dirinya bisa melewatkan sesuatu yang sangat penting itu.


"Wow! ini berita sangat bagus. Aku mendukungmu mom. Tapi bagaimana ini bisa terjadi dan sejak kapan? Bukankah_"


"Sebaiknya kamu jangan kepo dan memberi tahu orang lain. Ini rahasia kita, mom akan umumkan setelah pernikahan tante Amelia, kau mengerti?"


Brian mengangguk setuju. Dalam hatinya bersorak senang, ia akan dengan mudah membongkar jati diri daddynya. Akan tetapi hatinya juga harap harap cemas , bagaimana jika hati mommy Aurora nya sudah sepenuhnya berubah dan sudah tak mencintai daddy lagi. Mungkin jika kejadian ini terjadi sebelum ia menemukan sosok orang yang dianggap daddynya, ia dengan senang hati mendukung keputusan mommy Aurora, tapi setelah kejadian ini? Entahlah, ia tak tau harus bagaimana.


"Oke jangan melamun. Mom pergi dulu. Jaga dirimu. Jika nanti malam sudah enakan, nanti malam datanglah ke rumah utama. Minta om Kevin mengantarnya."


"Oke mom. Hati hati."

__ADS_1


Aurora tersenyum lalu mengangguk sebelum menutup pintu.


.


.


Aurora dan Edward sudah di dalam mobil. Mereka berdua diam tak ada pembicaraan. Edward sibuk dengan kemudinya sedangkan Aurora sedang sibuk dengan ponselnya.


Dari spion tengah Edward mencoba melirik Aurora yang duduk di bangku tengah. Ia tersenyum masam melihat Aurora yang tengah tersenyum senyum sendiri, entah apa yang wanita itu kerjakan, yang jelas hatinya merasa cemburu apalagi setelah mendengar pengakuan Aurora.


"Sial! Tahan Edward. Tahan. Kau harus bisa menguasai dirimu sendiri. Jangan menjadi orang bodoh! Sial! tapi aku benar benar cemburu. Kenapa dia senyum senyum begitu. Awas saja kau Aldi, aku akan memberimu perhitungan setelah ini." Batinnya menggerutu.


"Fokuslah mengemudi jika tak ingin dihajar bodyguard di belakang mobil ini. Ada masalah denganmu?" tanya Aurora tanpa mengalihkan pandangannya pada layar ponselnya.


"Ah maafkan saya, tadi ada pengendara motor yang memotong jalan mobil ini. Anda tak apa bukan?"


"Hem.."


"Felix, tolong berhenti sebentar di butik mama. Ada yang harus aku ambil sebentar."


"Bukankah pagi ini anda ada rapat?"


"Jangan membantahku. Lagian aku cuma sebentar. Waktunya masih cukup jika kita berhenti sebentar."


Edward diam saja. Ia langsung menyalakan lampu sein kekiri, berbelok dan langsung memarkirkan mobilnya di halaman luas butik itu.


"Sudah sampai nona." Edward melepas sabuk pengamannya dan bergegas turun.


"Bagaimana kau bisa tau."


"Itu bukan hal sulit. Saya sudah mempelajari apapun tentang anda. Dan jika anda tanya dari mana saya tau, jawaban dari Lukas. Lukas sudah memberi tau apa saja yang harus saya ingat dan kerjakan, termasuk menghafal alamat alamat itu." jawab Edward saat membukakan pintu mobil untuk Aurora.


"Kerja bagus."


Aurora keluar berjalan lebih dulu. Tidak punya firasat aneh atau merasakan sebuah ancaman karena sebelumnya juga tak pernah ada kejadian yang mengancam nyawanya. Tiba-tiba __


DOR


.


.

__ADS_1


.


######


__ADS_2