
Ajeng pun memutuskan untuk menyusul Al ke dapur. Tapi langkahnya terhenti saat belum
sampai di dapur, ia melihat Al tidur di sofa ruang tengah.
“Mas Al!” pekik Ajeng.
“Mas Al benar-benar marah padaku, ia bahkan tidak mau tidur satu kamar denganku!”
Ajeng mendekati suaminya yang sepertinya sudah tertidur itu, wajahnya begitu damai
dan segar, tapi entah kenapa wajahnya menyimpan kesedihan.
Hiks hiks hiks
Tiba-tiba Ajeng menangis, air matanya mengalir begitu saja. Ia tidak menyangka karena
kelalaiannya telah membuat suaminya begitu terluka. Ternyata suara tangisan
Ajeng membuat Al terbangun dari tidurnya.
“Sayang!” Al menyesuaikan cahaya di matanya, ia segera bangun dan menakup wajah istrinya.
“Sayang …, kenapa menangis seperti ini?” Tanya Al penuh kebingungan saat melihat
istrinya menangis tersedu seperti itu.
“Maafkan aku …, maafkan aku ….!” Jawab Ajeng masih dengan menangis.
“Dengarkan aku Diajeng Kartika! Dengarkan!”
Al menarik tubuh Ajeng dan memintanya untuk duduk di sampingnya, di sofa yang
sama.
“Aku tidak marah padamu, sungguh …, aku tidak marah padamu!”
“tapi kenapa kau menghindariku?”
“Aku hanya takut!”
“takut apa?”
“Takut jika aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri, takut dengan rasa cinta ini,
cinta ini bisa menjadi buta dan menyakitimu! Jadi aku mohon jangan bersedih
seperti ini, maafkan aku!”
Al menarik tubuh Ajeng ke dalam pelukannya. Ia tidak tahu jika perlakuannya akan
membuat hati Ajeng terluka.
Pagi ini semuanya sudah kembali membaik, Al sudah pulang dari masjid saat Ajeng sedang
sibuk di dapur. Ajeng bukan wanita yang pandai memasak, ia malah cenderung
menyukai pekerjaan lainnya dari pada memasak, tapi karena cinta Al telah
berhasil mengubahnya menjadi wanita yang sedikit kalem.
Walaupun cuma sedikit tapi memiliki dampak yang besar, setidaknya ia menjadi lebih
bertanggung jawab dalam hidupnya.
“Assalamualaikum!”
“Wa’alaikum salam, mas …!”
“Masak apa sayang?”
“Sayur daun singkong dan ikan asin, apa kau suka?”
“Apapun yang kau masak aku pasti suka!”
“baiklah …, aku akan cuma masak air …, biar
kembung tuh perut!”
“Kembung…, aku rasa itu ide bagus, aku bisa minta kerokan sama istriku yang cantik
ini!” ucap Al sambil mencubit hidung ajeng.
Kring kring kring
Ponsel Al yang berada di meja makan tiba-tiba berdering membuat mereka menghentikan
pembicaraan manis mereka.
“Bentar ya aku angkat telpon dulu!” Ajeng pun mengangguk. Al segera berjalan menuju ke
meja makan, meletakkan sajadahnya di sana dan mengambil ponselnya. Telpon dari
kantor.
__ADS_1
“Hallo…!”
“…..”
“Saya senang jika seperti itu, rencananya kapan?”
“….”
“Sebentar …, saya Tanya istri saya dulu!”
“….”
“Iya baru satu minggu ini!”
“….”
“Terimakasih!”
“….”
“Sama-sama!”
Sambungan telpon pun terputus. Al meletakkan kembali ponselnya. Ia kembali menghampiri
ajeng yang sepertinya sudah selesai memasak.
“Dari siapa mas?”
“Dari kantor!”
“Ada apa?”
“Kantor memberikan libur satu minggu untuk semua karyawan, selain itu perusahaan juga
mengadakan liburan gratis ke puncak!”
“Mas Al mau ikut?”
“Aku terserah kamu saja, bagaimana menurutmu?”
“Kayaknya enakkan di rumah saja deh mas Al, aku pengen rebahan aja di rumah pumpung
libur!”
“Iya …, kita bisa berduaan saja di rumah!”
“Mas Al ih …., bawaannya ngeres aja ya!”
Siang itu al segera menghubungi kantor memberitahukan bahwa dirinya dan ajeng tidak ikut dalam acara berlibur itu. Bara yang begitu senang mengetahui akan ada
liburan gratis ke puncak, ia berharap ajeng juga ikut dalam acara itu.
Tapi saat melihat daftar nama peserta yang ikut, ia tidak bisa menemukan nama Ajeng
membuat Bara mengundurkan diri, ia tidak jadi ikut ke acara berlibur itu.
“Apa Ajeng akan menghabiskan hari libur dengan cowok yang ia maksud? Aku harus
memastikannya!”
Bara yang belum mendapat jawaban pasti dari Ajeng merasa penasaran siapa pria yang
di maksud Ajeng. Bara pun memutuskan mencari Ajeng di kontrakan Ajeng.
Sesampai di kontrakan lama Ajeng, ia mendapati kontrakan itu sudah berbeda penghuninya.
“Maaf, bukankah ini kontrakan Ajeng?”
“Saya sudah menempati kontrakan ini, tiga hari yang lalu!”
“Tiga hari yang lalu?”
“Iya …, mungkin mas bisa Tanya sama pemilik kontrakan ini, biasanya dia menyimpan
alamat baru penghuni kontrakan lama!”
“Makasih ya mbak atas informasinya!”
Bara pun mencari alamat pemilik kontrakan yang ternyata tidak jauh dari tempat itu,
hanya berjarak sepuluh rumah dari kontrakan Ajeng.
“Ada yang bisa saya bantu mas?”
“Saya temannya Ajeng, kebetulan saya mau mengirimkan barangnya yang tertinggal, tapi
saya lupa menanyakan alamat barunya, apa ibu bisa memberikan alamat barunya!”
Pemilik kontrakan itu sepertinya tidak percaya dengan ucapan Bara.
“jadi gini bu, saya lupa bawa ponsel, jadi saya tidak bisa menghubunginya!”
Akhirnya pemilik kontrakan itu mempercayai ucapan Bara. Bara pun mendapatkan alamat Ajeng yang baru. Ia pun segera mencari alamat rumah itu, ia tertegun saat sampai di
__ADS_1
depan rumah yang alamatnya berada dlam secarik kertas kecil itu.
“Apa benar ini rumah Ajeng? Rumah ini cukup besar untuk ukuran Ajeng!” Bara di buat
terkesima dengan rumah itu, memang tidak terlalu besar tapi untuk ukuran ajeng
yang baru merintis karirnya, ia tidak mungkin membeli rumah seperti itu,
kalaupun menyewa pasti biaya sewanya mahal.
Ajeng sedang menyiapkan makan siang untuk mereka sedangkan Al sedang mengerjakan
pekerjaan yang ia tinggal selama mengikuti Ajeng. Untung Al punya orang-orang
terpercaya untuk mengurus perusahaannya, walaupun tidak besar tapi hasilnya
cukup untuk menghidupi Ajeng dan anak-anaknya nanti.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menghentikan kegiatan mereka, Al yang berada lebih dekat dari pintu depan menahan Ajeng agar tetap di tempatnya.
“Biar aku saja sayang yang buka pintunya!”
“Tapi aku udah selesai, Mas Al!”
“Kamu istirahatlah …, mungkin itu tetangga!”
Al pun tidak mau mendengarkan protes dari Ajeng, ia segera menuju ke pintu dan membukanya. Ia begitu terkejut saat mengetahui siapa yang datang.
“Bara!”
“Pak Al, anda di sini? Bukankah ini rumahnya Ajeng?”
Belum sempat Al menjawabnya, Ajeng sudah keluar menghampiri mereka.
“Siapa tamunya mas? Kenapa tidak di_!” ucapannya terhenti saat melihat siapa yang
datang.
“Kak Bara!”
“Pak Al? Ajeng? Bagaimana kalian bisa?”
“Masuklah …, kami akan menjelaskannya di dalam!” ucap Al dan mereka pun masuk ke dalam rumah, ia tidak mau sampai masalah keluarganya menjadi konsumsi tetangga.
Ajeng membawakan minuman untuk mereka, setelah meletakkan minuman itu. Al meminta
ajeng untuk duduk di sampingnya.
“Apa ini pak Al?” Tanya Bara tak sabar.
“Kami sudah menikah, Ajeng adalah istriku. Jadi mungkin setelah ini saya minta,
jangan lagi mengharapkan hal lebih dari istriku!”
“Jadi …, pria itu?”
“Iya kak, pria yang aku maksud adalah mas Al, kami memang sudah saling kenal
semenjak saya SMA, mas Al adalah guru sekaligus mentor ku!”
Bara memejamkan matanya mencoba mencerna hal yang baru sekali ia ketahui, saat
hatinya sudah mulai mantap dengan seorang wanita, ternyata wanita itu sudah
menjadi milik orang lain. Ia pun menghela nafasnya sebelum kembali bicara.
“Ajeng …, jika akhirnya aku memang tidak di takdirkan untukmu, setidaknya aku merasa
bangga pernah bersamamu walaupun hanya sebagai teman yang bisa sabar dan
mengerti akan kekuranganku!”
“Terimakasih kak Bara, maafkan aku tidak bisa membalas cinta kak Bara!”
“Tidak pa pa, Ajeng. Aku akan menjadi kuat setelah ini. Semoga kalian bahagia, aku
pergi! Sampai jumpa lain waktu dengan keadaan yang lebih baik!”
Tuhan menempatkan seseorang dihidupmu karena sebuah alasan. Dan jika kamu kehilangannya maka karena sebuah alasan yang lebih baik. Jadi biarkan Tuhan menjalankan semuanya
dan menjadikanmu lebih kuat.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘
__ADS_1