Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Siasat Penculikan Reyhan.


__ADS_3

"Apa kalian sudah siap?" tanya madam Yora sesaat sebelum Darion keluar dari mobil bersama Hugo.


Darion dan Hugo serempak mengangguk.


"Bagus! Berhati-hatilah, tidak perlu membuat keributan besar, gunakan obat bius untuk membuat mereka pingsan dan segera ambil anak itu. Cepat waktu kita tidak banyak!" ujar madam Yora serius.


"Hugo! Jangan pernah coba coba berhianat jika tak ingin mati mengenaskan!"


CLEB


Hugo meringis ketika merasakan jarum itu lagi lagi menembus lehernya. Kenapa wanita ini begitu jahat sekali.


Madam Yora menyeringai, apa dia pikir bisa dikelabuhi begitu saja, tidak semudah itu.


"Obat apa yang kau suntikan padaku!" ujar Hugo dingin, pria itu menatap tajam madam Yora dalam kegelapan. Pria itu benci sekali keadaan ini.


"Seperti biasa, tapi aku campur sedikit formula di dalamnya. Jika kamu tak kembali tepat waktu dan tidak menjalankan tugas ini dengan baik, maka kamu akan merasakan sensasi berbeda dari biasanya. Jadi segeralah kembali karena usai tugasmu nanti, kau pasti membutuhkan sentuhan dan penawarku!" Madam Yora tersenyum miring.


Sial sekali hidupku! apa seumur hidupku harus melayani wanita ini. Sepertinya dia dendam sekali padaku! Sebenarnya apa salahku!


"Darion, lakukan tugasmu dengan baik jika tidak ingin aku berbuat lebih padamu!" ancam madam Yora.


Pria itu hanya mengangguk dan tidak terlalu menanggapi. Ini masih terbilang pekerjaan mudah baginya.


Usai Darion dan Hugo keluar dari mobil, Lauren segera mematikan seluruh cctv apartemen yang di huni Zanitha dan anaknya, lalu mengganti tampilan beberapa menit sebelumnya. Wanita itu bekerja dengan serius.


Hugo dan Darion masuk apartemen lewat lift basement, dua pria itu berpenampilan layaknya penghuni apartemen lainnya agar tidak terlalu dicurigai.


Mereka berjalan menyusuri koridor lantai dimana hunian Alex berada. Mata mereka awas mencari nomor yang akan dituju.


Ketika mereka sudah menemukannya dan mereka berdua sudah berada tepat didepan pintu, tiba-tiba..


Seorang pria menepuk bahu Hugo.


"Kalian mencari siapa?" ujar pria itu datar.


Bagaimana bisa ada dua tamu laki-laki yang berkunjung menemui istri Alex malam-malam begini. Ini mencurigakan pikir pria itu yang ternyata anak buah Alex yang ditugaskan menjaga Zanitha dan putranya.


"Kami hanya ingin memberikan ponsel ini pada Nyonya, Tuan Alex uring uringan karena sedari tadi tidak bisa menghubunginya. Kami orang baru yang ditugaskan Tuan Alex." alibi Darion yang diangguki Hugo.


Pria itu terdiam. Apa iya seperti itu. Tuan Alex saja sepertinya jarang menghubungi nyonya, masa iya pria itu uring uringan. Tuan Alex juga bukan pria yang bucin akut seperti Tuan Edward. Tidak masuk akal pikirnya.


"Ah kelamaan kau bos!"


DUAK

__ADS_1


Hugo langsung menyerang titik sadarnya hingga membuat lelaki itu pingsan sebelum dia mengaduh kesakitan. Merepotkan saja pikirnya.


Darion tersenyum tipis melihatnya.


Pria itu kemudian membunyikan bel yang ada di samping pintu dengan tergesa agar wanita itu segera keluar.


Zanitha mengerjapkan matanya ketika suara bel itu terus menggema di telinganya. Ia pikir ada apa hingga sampai sebegitunya.


Zanitha turun dari ranjang dan sedikit berlari untuk membukakan pintu.


"Ya ada apa! Apa kalian tidak tau malam waktunya istirahat!" ketus Zanitha karena kesal! wanita itu bahkan hanya membuka separuh pintunya.


"Maaf Nyonya! tapi ini gawat! Tuan Alex kecelakaan parah dan sekarang dibawa ke rumah sakit! Sedari tadi kami menghubungi ponsel anda, tapi tidak aktif. Jadi kami menyusul kemari!" bohong Darion cepat. Pria itu memainkan sandiwaranya dengan baik.


"Ah Benarkah!"


"Benar Nyonya! Dokter tidak bisa melakukan tindakan jika tidak ada ijin dari keluarga. Kami akan mengantarkan anda. Cepat!" ujar Darion lagi.


Raut wajah Zanitha mendadak panik, wanita itu segera masuk kedalam dan membiarkan pintu itu terbuka, ia ingin segera mengganti bajunya dan membawa Reyhan bersamanya. Wanita itu melakukan semua dengan tergesa.


Hugo dan Darion tersenyum bersamaan. Mereka ikut masuk kedalam dan mengunci pintu.


"Biar saya yang bawa. Anda pasti kesulitan jika ingin berlari." ujar Darion mengambil alih Reyhan dalam gendongan Zanitha.


Baru beberapa langkah berjalan, wanita itu tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri.


Lagi lagi Hugo yang melakukan itu. Pria itu memukul tengkuk leher Zanitha hingga pingsan. Dia tersenyum menyeringai. Akan ia apakan wanita ini, apalagi juniornya mulai on ketika melihat Zanitha yang berpakaian **** sewaktu membukakan pintu. Wanita ini menggairahkan sekali pikirnya.


Sedangkan Darion, pria itu sedang menyuntikkan obat bius pada lengan Reyhan agar tidak merepotkan ketika ia bawa. Ia meletakkan anak itu ke sofa lalu menghampiri Hugo.


"Bawa wanita itu ke kamarnya, aku akan membawa pria pingsan tadi kemari. Cepat!" ujar Darion.


Hugo membopong tubuh Zanitha ke dalam kamar dan meletakkan perlahan. Pria itu juga menyuntikkan obat bius dan sedikit mencampurnya dengan formula untuk membuatnya berhalusinasi dan bergairah. Pria itu tersenyum menyeringai.


Darion meletakkan kasar tubuh pria itu ke samping tubuh Zanitha. Dia sedikit terengah, karena bobot tubuh pria itu lumayan berat. Dia juga menyuntikkan obat bius pada pria itu sebelum melucuti pakaiannya.


Hugo menaikkan sebelah alisnya, untuk apa menelanjangi pria itu pikirnya, memangnya madam menyuruhnya begitu?


"Cepat lepaskan pakaian wanita itu. Kita bisa menonton pertunjukan setelah ini. Madam Yora pasti senang melihatnya."


Hugo menelan ludahnya susah payah.


Sial wanita ini sangat menggairahkan! sayang sekali jika pria itu yang menikmatinya.


Darion segera mengarahkan kameranya untuk memfoto dua manusia tanpa busana itu. Pria itu tersenyum jahat.

__ADS_1


Lihatlah kehancuranmu Alex. Ini akibat karena kamu telah menyiksa adikku.


"Apa aku boleh memakainya sebentar saja Darion. Sial! juniorku on setelah melihatnya, sepertinya obat dari madam mulai bekerja padaku."


Darion terbelalak. Apa Hugo akan menghancurkan rencananya! Tidak! ini tidak bisa dibiarkan.


Darion segera menarik keluar Hugo, sebelumnya pria itu memasang minicam diatas meja rias yang langsung mengarah pada ranjang. Pria itu kemudian menggendong Reyhan dan menutup pintu apartemen. Ia tidak bisa membiarkan Hugo merusak rencana malam ini.


"Apa itu sangat menyakitkan Hugo?" tanya Darion melirik kawannya yang diam saja sejak keluar dari apartemen Alex.


"Hem. Jangan menggangguku jika tidak ingin kau menjadi korbanku."


Apa maksudnya? Apa dia juga akan melakukannya pada pria. Mustahil.


"Tenang saja, madam akan segera memberimu penawar." ujar Darion menenangkan. Ia juga takut jika tiba-tiba pria besar itu menerkamnya.


Darion mengetuk kaca mobil, pria itu segera masuk setelah Roxi membuka kunci pintu mobil. Diletakkannya anak itu disebelah madam Yora lalu duduk di bangku belakang bersama Lauren, sedangkan Hugo duduk di depan bersama Roxi.


"Lauren, rekam kegiatan mereka lewat kamera yang aku letakkan di kamar Alex! ini sandinya!" ujar Darion pelan.


Lauren memicingkan matanya. Lalu mengangguk, memangnya apa yang terjadi? sayang ia tidak bisa memantau misi mereka berdua karena kamera cctv sedang mereka non aktifkan.


"Hugo bagaimana denganmu." ujar madam Yora datar.


"Tidak baik!" ujar Hugo dingin.


Madam Yora menyeringai. "Apa kau ingin menikmati tubuh wanita itu?"


Hugo diam saja. Memang seperti itu kebenarannya.


"Lakukan tugas terakhir kalian dengan baik! Aku tidak menerima kegagalan. Pastikan semua berjalan rapi seperti misi ini. Apa kalian mengerti!"


"Mengerti."


Hugo hanya bisa mendengus kesal. Ia juga tidak bisa berbuat apapun.


Lain kali jika ada kesempatan, aku akan menghabisimu Madam!


.


.


.


#####

__ADS_1


__ADS_2