Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Si Playboy


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺


Pagi ini Ajeng berangkat dulu ke kampus, di semester akhir ini kegiatan perkuliahan tidak terlalu full, Ajeng hanya akan mengunjungi perpustakaan untuk mencari literasi beberapa tugasnya, ia hanya akan mengerjakan beberapa tugas dan menyerahkan kepada dosen.


Tugas lain sudah sangat menunggunya, ia tidak punya banyak waktu hanya untuk sekedar main-main.


"Jeng ....! Jeng ...., tunggu!" Teriak seseorang, membuat Ajeng mengehentikan langkahnya, ia hafal suara siapa itu.


"Ada apa sih, dik?" Tanya Ajeng malas, ia banyak sekali tugas dan pekerjaan hari ini, ia hanya ingin buru-buru ke perpustakaan dan menyelesaikan tugasnya lalu ke tempat kerjanya, akan ada rapat besar, ia harus menghadirinya.


"Kenapa buru-buru sekali, aku ingin memberimu kabar gembira!" ucap Dika setelah langkahnya mampu mengimbangi langkah Ajeng, Ajeng dengan kaos yang di lapisi kemeja yang tidak dikancingkan dan celana jeans-nya, serta rambut yang selalu di kuncir kuda, menambah kesan tomboy pada gadis itu.


"Kabar gembira apa?" tanya Ajeng, ia sedikit melambatkan langkahnya. Pria dengan wajah tampan dan penampilan kece itu menatap padanya.


"Apa ya .....!" Dika malah berkilah saat Ajeng menanggapinya.


Aku harusnya tidak memberitahu Ajeng tentang bang Al ....


"Aku berhasil menaklukkan gadis tercantik di kampus kita ....!" Dika mencoba mencari alasan lain.


"Winda ...?"


"Bukan, tapi Angel!"


"Dasar Playboy .... kemarin Winda, ayu, Siska sekarang Angel, Kapan kau akan berhenti main main?" ucap Ajeng kesal sambil menoyor kepala sahabatnya itu, dan yang di toyor hanya bisa tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Sampai aku menemukan gadis yang sama persis sepertimu!" ucapan itu berhasil lolos dari bibirnya.

__ADS_1


"Ada .....!"


"Siapa?"


"Rita!"


"Hehhhh ....., Kenapa malah membahas dia!"


"Karena dia mencintaimu!"


"Itu nanti saat aku sudah siap!"


"Dasar aneh ...., Sudah jangan ganggu aku, aku punya banyak pekerjaan hari ini ....!"


Ajeng berlaku begitu saja meninggalkan Dika, Dika masih menatap Ajeng hingga gadis itu menghilang di balik tembok yang membentang di sudah jalan.


Dika memilih berjalan ke tempat lain, Dika memang tetap menjadi pria poluler di kampus, banyak sekali gadis yang berebut untuk bisa dekat dengannya, ia sudah hampir memacari semua gadis populer di kampusnya. Tak ada yang membuatnya bisa serius dengan hubungannya termasuk Rita.


Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di dalam perpustakaan, Ajeng segera menyimpan filenya di benda kecil berwarna putih itu, fasdisk Yang selalu ia bawa kemana-mana, setelah itu ia mematikan laptopnya dan memasukannya ke dalam tas punggungnya, ia tak lupa mengembalikan buku yang sudah sempat ia ambil.


Ajeng meninggalkan perpustakaan, ia juga keluar dari area kampus, ia menunggu bus yang melintas di depan kampus. Tak berapa lama bus yang di tunggunya datang, ia segera berlari masuk ke dalam bus, ia mencari tempat duduk yang kosong, tepat di samping cendela. Ia menatap keluar, hujan mulai turun, menciptakan rintik-rintik yang menempel di kaca bus.


Hanya dalam waktu lima belas menit, Ajeng sudah sampai di depan kantor, ia mengentikan bus dan menyerahkan selembar uang lima ribuan. Ia turun dari bus sambil menenteng tasnya, punggungnya sudah terasa kebas karena tasnya terlalu berat.


"Hay jeng ....!" Sapaan itu selalu sama, dari orang yang sama.


"Hay mas Bara!" Ajeng sebenarnya malas untuk bertemu dengan makluk yang namanya Bara, bukan karena dia bukan orang baik, tapi semakin dia menanggapi pria itu akan semakin mendekatinya, Ajeng tidak mau hal itu terjadi.

__ADS_1


Ajeng terus berjalan tanpa menghentikan langkahnya, ia berjalan menuju ke ruang kerjanya, dan ternyata pria bernama Bara itu tetap mengikuti langkah Ajeng.


"Gimana? Sudah siap semuanya!" tanya Bara lagi saat Ajeng mulai melangkah ke dalam ruangannya.


"Sudah mas!"


"Baguslah ...., Katanya hari ini Bu bos akan memperkenalkan ketua penyelenggara pameran, masih muda!"


"Benarkah!" Ajeng tidak tertarik dengan pembicaraan ini, ia lebih tertarik untuk cepat sampai di dalam dan menaruh tasnya di meja kerja, mendudukkan bokongnya sebentar sebelum rapat dimulai.


"Kenapa wajahmu seperti itu?"


"Maaf mas, aku capek sekali. Boleh aku istirahat sebentar?"


"Baiklah ...., Istirahatlah, aku akan mengambilkanmu minuman dingin!" Ajeng menganggu, ia memilih meninggalkan Bara.


Ajeng meletakkan tasnya di atas meja, ia segera duduk dan menelungkup kan kepalamya di atas meja, ingin sekali memejamkan matanya sebentar karena semalam ia hampir tidak tidur, ia harus menyelesaikan minimal satu designnya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2