Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Willi


__ADS_3

"Mas Willi...!!." seru Amel. Ia berlari memeluk kekasihnya.


Willi langsung merentangkan tangannya, menyambut pelukan dari Amelia.


"Mas Willi disini.. kenapa tidak bilang padaku. Ah aku merindukanmu..sangat sangat merindukanmu.." ucap Amel yang masih mendekap tubuh Willi.


"Bagaimana keadaanmu, kenapa tak memberi kabar jika keluargamu sedang mendapat musibah hemm,, " tanya Willi lembut, ia melonggarkan pelukan Amel dan menatap lekat wajah kekasihnya.


"Maaf..." cicit Amel.


"Sweety ,, matamu bengkak, kamu menangis seharian..? Maafkan aku, aku baru tau kabar mengejutkan itu. Bagaimana keadaan mereka,.?"


"Kak Edward belum sadar, dia koma,.tapi yang lainnya sudah berangsur pulih." Amel tertunduk sedih, matanya berkaca kaca jika mengingat kejadian semalam.


"Sshhh , tenanglah ada aku disini." Willi memeluk lagi tubuh kekasihnya. Ia menciumi puncak kepalanya dengan sayang. Ia juga merindukan gadis itu. Pekerjaannya yang selalu menahannya untuk bertemu dengan Amelia di Australia. Hubungan jarak jauh rupanya, sangat menyiksa mereka berdua. Mau bertemu di Indonesia, dirinya juga belum siap menghadapi keluarga Amelia, ia belum bisa menjanjikan pernikahan untuknya.


"Aku merindukanmu sweety, I love you.." bisik Willi yang masih mendekap erat tubuh kekasihnya.


"Aku juga merindukanmu. Aku rindu pelukan ini, dada ini tempat ternyamanku untuk bersandar.


I love you bee..''


"Ehemm.."


Jingmi mendengus kesal. Dia dijadikan penonton oleh mereka berdua. Adegan romantis yang mereka lakukan membuatnya merinding. Apa mereka tidak sadar jika ada dirinya dibelakang mereka. Dengan malas Willi membalikkan badannya, menatap kakaknya yang menatapnya aneh.


"Sweety, kenalkan dia kakakku. Aku kemari bersama kakakku." ucap Willi memperkenalkan, bibirnya mengembangkan senyum.


"Oh hai kak, maaf aku tadi tak melihatmu.." sapa Amel yang merasa malu sendiri.


"Panggil saja Kak Fe, sama seperti Willi." Jingmi tersenyum tipis. Ia merasa jika adiknya tak salah memilih pacar, dimatanya gadis itu terlihat cantik tapi sederhana.


"Boleh kami menjenguk keluargamu, Dimana ayah dan ibumu? Mereka tidak ada disini?" tanya Jingmi basa basi.


"Oh, mereka ada di R.S GL, ayah juga sedang sakit. Ayo, aku antar melihat mereka, mungkin kakak ipar sudah bangun." ucap Amel dengan senyumnya. Ia merasa merasa canggung.


Willi dan Jingmi mengangguk mengiyakan.


Sampai diruang luas itu, Jingmi menghentikan langkahnya menatap Aurora dari jauh. Hatinya ikut pilu melihat keadaan mereka.


"Jangan dibangunkan. Biarkan saja." ucap Jingmi pelan.


Amel hanya mengangguk.

__ADS_1


"Sweety,.. bisakah nanti malam kita keluar?" tanya Willi mulai mengalihkan perhatian. Ia mengkode kakaknya dengan matanya.


"Nanti malam.."


Willi tersenyum mengangguk.


"Aku besok harus kembali ke Seoul, liburanku sudah habis dihongkong." Rajuknya manja.


"Baiklah, tapi bisakah sebelum itu kita bertemu dulu dengan orang tuaku?"


Willi diam sejenak, pikirnya jika bertemu orang tuanya, berarti akan ada hal yang serius yang dibicarakan.


"Apa kau ingin kita segera menikah hemm, apa kau sudah tidak sabar aku menjadi suamimu.." ucap Willi menggoda kekasihnya. Ia menyukai pipi Amel yang memerah merona karena ia goda.


"Bu..bukan seperti itu.."


"Bukan,..!??? Apa kamu tak menginkanku jadi suamimu sweety..? Apa aku terlalu buruk jadi suamimu?" tanya Willi dengan senyumnya.


"Ti..dak.. jangan salah paham." cicit Amel malu.


Willi mengusap bibir Amelia, ia memberi kode, ia begitu merindukan rasa manis bibir itu. Ia mendekatkan wajahnya, lalu memagutnya bibir nan manis itu. Jantungnya bertalu talu, entah sejak kapan dirinya mencintai gadis didepannya.


"Ah, kau selalu membuat jantung ini berdebar debar, sweety.. tunggu aku, aku tak akan melepasmu, aku akan segera mengikatmu." batin Willi


Jingmi yang sudah selesai dengan misinya, ia menatap malas dua pasang manusia itu. Ia bersedekap dada, menonton aksi mereka. Mau melihat sejauh mana adiknya bisa mengendalikan diri.


Willi semakin lama semakin bergerak agresif. Sepertinya kali ini ia salah perhitungan. Ia terhanyut dalam arus yang ia mainkan sendiri. Dia tak bisa mengendalikan diri.


"Emmhh.." lenguh Amel yang membuat Jingmi tambah frustasi.


"Ekhmm hemm..!!!"


Jingmi berdehem keras. Dua manusia itu langsung tersadar dari perbuatannya. Amel menundukkan kepalanya malu. Sedangkan Willi sendiri hanya menggaruk alisnya canggung. Malu karena dilihat banyak orang disekitarnya, apalagi Aurora yang ternyata sudah bangun dan menyipitkan matanya melihat pemandangan horor didepannya. Ia tersenyum tipis melihat itu, ia juga pernah melakukan hal itu sebelum pernikahan mereka.


Amel keluar dari ruang itu, diikuti Willi yang mengekorinya dari belakang. Belum sampai membuka pintu, Aurora berseru dengan suara kerasnya.


"Tunggu..!! Kalian berdua kemarilah..!!"


"Dasar tidak tau diri.!! sepertinya mereka harus segera dinikahkan. Jangan sampai gadis itu hamil duluan." batin jingmi Frustasi, apa lagi ia melihat Aurora meliriknya sadis.


Amel berhenti dan membalikkan badan. Ia nyengir lucu,perbuatannya diketahui kakak iparnya. Sedangkan Willi langsung menggandeng tangan Amel dan membawanya mendekat kearah kakaknya yang masih berdiri mematung ditempatnya.


"Hallo kak Aurora, bagaimana kabarmu hari ini? Maaf kami mengganggu istirahatmu,.." ucap Willi dengan senyum ramahnya.

__ADS_1


Aurora tersenyum tak kalah ramah dengan Willi, ia duduk dan bersandar.


"Siapa namamu..?" tanya Aurora lembut.


"Saya Willi dan ini kakak saya, Kak Fe. Kami berdua datang kemari untuk menjenguk anda dan Tuan. Maaf tadi kami mengganggu istirahatmu Kak Aurora." ucap Willi


"Oh..kau yang disebut sebut mas Willi sama amel ya.., ah kau tampan sekali. Amel beruntung mendapatkanmu." senyum Aurora merekah.


Willi tersenyum canggung.


"Jika ada waktu, bertemulah kalian dengan ayah dan bunda . Ayah juga ingin bertemu denganmu Willi."


Willi mengangguk mengiyakan.


"Ayah..? Apa hanya ayahnya yang menyetujui hubungan kami? Gimana dengan bundanya? apa bundanya tak setuju?" batin Willi bertanya.


"Nanti malam kakak ipar,rencananya mas Willi mau aku kenalkan dengan mereka, mumpung ada kesempatan, mas willi setelah ini akan disibukkan dengan pekerjaannya kembali. Dia sudah jadi pria sok sibuk." Amel menjelaskan sambil mengerucutkan bibirnya.


Aurora tersenyum. Willi langsung mengecup bibir kekasihnya.


CUP


Mata Amel melotot tak percaya. Berani beraninya ia mencium dan menunjukkan kemesraan didepan kakak iparnya. Sedangkan Jingmi mengusap wajahnya, ia sangat malu sekali atas perbuatan adiknya. Willi terlalu agresif sekali.


"Bukankah itu, resiko punya kekasih seorang artis Amel?"


Amel hanya mengangguk.


"Willi apa kamu benar mencintai Amelia? Jangan mempermainkan perasaannya, dia adik kesayangan suamiku, ia tak akan membiarkan adiknya terluka sedikitpun..Dan aku juga akan membela adik iparku, jika kamu berani berbuat macam macam padanya. Apa kamu mengerti maksudku Willi..?!" Ancam Aurora sambil melirik suaminya yang masih betah tidur.


"Aku mencintainya Kak, aku tau, pekerjaanku saat ini akan beresiko dalam hubungan kami. Aku harap kamu sweety , kamu juga bisa mengerti keadaanku jika saat suatu hari nanti aku dilibatkan dalam skandal percintaan, kamu harus percaya padaku, aku akan berusaha keras menjaga hati dan cintaku hanya untukmu."


"Aku percaya padamu. Aku harap kau juga tak mengecewakan kepercayaanku. Kakak ipar, jika dia macam macam, aku harap kakak ipar tak segan segan hancurkan karirnya menjadi artis.!!Biarkan dia bekerja diperusahaan keluarganya..!!" Amel menyebikkan bibirnya mengejek


"Kau jahat..." Willi memasang wajah memelas.


Aurora hanya tersenyum menanggapi.


.


.


.

__ADS_1


####


__ADS_2