
"Jangan khawatir, bang Al sudah menunggumu di sana!" Dika menunjuk sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari mereka. Ajeng menghapus air matanya dan merapikan bajunya yang sempat berantakan, baju seragam putih abu-abu itu, akan segera ia tanggalkan.
"Silahkan !" Seseorang sudah menunggunya di samping mobil, tapi itu bukan Al, Ajeng menoleh pada Dika.
"Sudah ikut aja, mobil itu akan membawa kamu ke bang Al, dia sudah menunggumu terlalu lama!" Teriak Dika.
Ajeng pun tersenyum, walaupun sedikit ragu tapi Ajeng tetap masuk ke dalam mobil itu.
Mobil itu membawa Ajeng ke sebuah salon, di sana Ajeng di rias dan bajunya sudah berganti dengan baju yang sangat indah, gaun begitu indah.
Setelah selesai di make over, Ajeng kembali di antarkan ke suatu tempat, sebuah sertaurant dengan ruang khusus, di dalam ruang itu Al sudah berdiri menyambut kedatangan Ajeng, Al tidak hanya sendiri, ada pemain musik yang mengiringi mereka, Ajeng benar-benar di buat terpana.
"Ini untukmu!" Al menyerahkan seikat bunga berwarna merah.
"Mas Al, ini apa?" Ajeng malah terlihat bingung.
"Duduklah ....!" Al menggeser sebuah bangku untuk Ajeng.
"Kita makan dulu!" Di atas meja itu sudah begitu banyak makanan, jeng segera duduk, ia tidak mampu menggambarkan betapa senang perasaannya saat ini, tapi ia masih berusaha menerka-nerka apa yang sebenarnya ingin di sampaikan oleh Al.
Mereka pun makan hanya berdua saja,
"Buka mulutmu!" Perintah Al saat sendok itu sudah berada di dekat bibir Ajeng. Ajeng pun tak mampu menolah, ia menerima suapan dari Al.
"Sebenarnya ada apa sih mas?" Tanya Ajeng yang sudah sangat penasaran.
"Habiskan dulu makananmu!"
Mereka pun makan dengan di iringi alunan musik, begitu romantis, banyak bunga di sana, lampu dan musik, sangat sempurna.
"Selamat ya ....!" Ucap Al setelah pelayan menyisihkan sisa makanan dan piring kotor di atas meja, kini di atas meja yang semula penuh dengan makanan itu tinggal menyisakan bunga dan dua gelas minuman. Al menggenggam jemari Ajeng.
"Aku mas yang seharusnya berterimakasih, karena mas Al, sekarang jadi Ajeng yang lebih baik!"
"Semua karena kerja kerasmu jeng!"
Suasana kembali hening, hanya ada alunan musik di sana, Al tampak begitu gugup, ia sesekali meneguk air yang ada dalam gelas hingga hampir habis.
"Mas Al kenapa?"
__ADS_1
"Aku tidak pa pa! Bisa kita bernyanyi?"
"Bernyanyi?"
"Iya ...., Kamu yang nyanyi aku yang bermain piano!"
"Mas Al bisa main piano?"
"Demi kamu, aku bisa melakukan apa aja!"
Memang benar apa yang di katakan Al, setelah Ajeng mendapat tantangan dari Sisil, Al tidak mau tinggal diam, Al menyempatkan untuk belajar piano, ia tidak mau Ajeng berada di atas panggung seorang diri.
"Apaan sih mas Al ini, Ajeng jadi malu ...!"
"Ayo ....!" Al merentangkan tangannya, menyambut tangan Ajeng, ia sudah berdiri, Ajeng pun mengaitkan tangannya di telapak tangan Al, Mereka berjalan ke arah piano, Al duduk di balik piano, Ajeng pun mengambil microfon. Ajeng mulai bernyanyi dan Al mengiringinya dengan piano. Hingga mereka mendapatkan nada yang pas.
"Terimakasih ya mas, sudah mau membantuku!" Ucap Ajeng lagi saat mereka menyelesaikan latihan nyanyinya. Mereka sudah kembali duduk di tempat mereka semula.
"Sebenarnya ada lagi yang ingin aku katakan!" Al menatap Ajeng, menggenggam jemari Ajeng.
"Apa?"
Di sana Al menunjukkan masa kecil Ajeng, membuat Ajeng tercengang, saat itu ia masih anak SD. Anak SD yang ingusan dan banyak tingkah, kemudian pria kerempeng dan berkaca mata, dengan kulit hitam.
Banyak sekali gambar Ajeng di sana dari waktu ke waktu, Ajeng semakin tumbuh dan tumbuh, Ajeng takjub.
"Mas Al, dapat semua ini dari mana?"
"Kau masih ingat dengan anak laki-laki hitam dekit, berkaca mata itu, yang sering sekali datang ke rumah kamu dengan alasan meminjam tugas kakakmu atau sekedar bermain. Dia adalah aku!"
"Mas Al!" Ajeng menutup mulutnya tak percaya, anak laki-laki dekil, krempeng berkaca mata itu kini sudah menjelma menjadi pria dewasa yang begitu tampan dengan otot-otot yang menghiasi tubuhnya, tak berkaca mata lagi, kulit bersih, sungguh tak akan ada yang percaya jika melihatnya.
"Maafkan aku tak mengatakannya dari awal, tapi asal kamu tahu, setiap bertemu denganmu membuatku begitu senang, aku senang dengan segala kejahilanmu, aku merindukan saat aku jauh, aku selalu mencuri fotomu, menjadikan obat rindu saat jauh darimu!"
"Maksudnya . .., mas Al mengikutiku selama ini?"
"Maaf, tapi iya ...., Sejak saat itu, aku sudah menunggumu, membiarkanmu terus masuk ke dalam hidupku, hatiku, perasaanku!"
"Bagaimana mas Al bisa menemukanku kembali, mas Al, bukankah sudah enam tahun ini tak tinggal di sini?"
__ADS_1
"Aku meminta seseorang untuk mengawasimu, aku mencari tahu semua tentangmu, dan akhirnya aku tahu kamu satu sekolah dengan adikku, aku pun memanfaatkan kesempatan untuk menjadi guru di sekolah demi kamu!"
"Hahhh ....!" Ajeng menghela nafas sambil memegangi kepalanya. "Aku benar-benar tak percaya ...., Sampai sejauh itu!"
"Aku mencintaimu, Ajeng ...., Bisakah kau menikah denganku?"
"Menikah?" Kepala Ajeng semakin pusing di buatnya, ia benar-benar tak menyangka jika pria dewasa di depannya begitu mencintainya sampai segitunya. Bagaiaman bisa menikah, bahkan untuk memikirkan tentang pacaran saja, ia tidak pernah. Saat ini ia hanya bisa memikirkan tentang rencananya untuk masuk ke universitas negri.
"Ajeng kau tidak pa pa?" Al terlihat begitu khawatir saat melihat Ajeng seperti itu, ia mendekati Ajeng, menatap gadis itu.
"Aku tidak pa pa!" Ajeng membenarkan duduknya, meneguk minumannya, memastikan jika jawaban yang di berikan akan sangat benar.
"Mas Al adalah pria yang baik, aku pasti sangat beruntung jika mendapatkan pasangan seperti mas Al, tapi mas ...., Ajeng masih terlalu kecil untuk memikirkan soal pernikahan, untuk saat ini Ajeng masih ingin fokus ke pendidikan, biarkan aku sampai lulus kuliah, nantin saat waktu itu tiba aku akan memberikan jawaban yang tepat untuk mas Al."
"Aku menerima keputusanmu, aku akan menunggu sampai saat itu tiba!"
"Terimakasih atas pengertian mas Al!" Walaupun kecewa tapi Al bisa menerima dengan lapang dada, ia juga masih harus menyelesaikan pendidikannya, ia akan melanjutkan pendidikannya hingga meraih gelar doktor, tapi membayangkan hidup jauh dengan Ajeng membuatnya begitu berat.
Sebenarnya ia berencana ingin membawa Ajeng ke luar negri jika mereka sudah menikah dan sama-sama melanjutkan pendidikannya di sana.
"Apa kau benar-benar belum siap, atau kau punya alasan lain?" Tanya Al lagi,
"Tak ada alasan lain mas, nanti jika kita berjodoh, aku yakin kita pasti di pertemukan kembali!"
"Tapi setidaknya, sekarang terkmalah aku sebagai pacarmu!"
"Untuk apa mas, mas Al percaya padaku kan, cinta mas Al ini sudah lebih dari cukup untuk mengikat hatiku!"
"Aku percaya padamu!"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘
__ADS_1