
"Vin, suruh mereka berhenti . Cukup untuk hari ini. Besok kita lanjutkan lagi." ucap Alex memberi perintah.
Kevin mengangguk dan segera memberi tanda untuk menghentikan laju mobil Alex.
"Darius, bagaimana apa menurutmu rasa sakitnya sudah sebanding dengan King kami? Emm aku rasa belum. Baiklah esok kita latihan lagi. Lain kali larilah sedikit lebih cepat supaya tubuhmu tidak dimakan aspal. He he he.. sakit ya." ucap Alex memandangi Darius dengan tatapan sinisnya.
"Biadab kau Alex.. Lepaskan aku..!!" Teriak Darius marah. Walaupun tubuhnya sudah berdarah darah, ia masih saja punya tenaga untuk terteriak. Alex mengusap telinganya yang tiba-tiba gatal.
"Tenang, aku pasti akan melepaskanmu, tapi setelah King kami sadar. Selama King belum sadar, kau akan kami siksa setiap hari. He he he ..." Alex terkekeh senang.
"Laki-laki yang pegang ucapannya, kau sudah berjanji padaku." ucap Darius. Setidaknya ada harapan untuk hidup dan membalas pikirnya.
"Jangan senang dulu Bung, setelah King sadar, tentu saja aku akan melepaskanmu, tapi ke kandang Lion. Kau tahu Lion bukan? Bagaimana jika kita berkenalan sebentar dengannya? Kau pasti akan langsung menyukainya."
"Brengsek.!" umpat Darius
"Hahaha.. berdoalah semoga hari harimu menyenangkan di tempat ini. Aku akan mengunjungimu setiap hari. Pastikan esok tubuhmu sudah sehat dan kita akan melakukan permainan menarik kembali. Apa kau setuju?"
"Brengsek kau Alex! ingat! Kau tak akan pernah bahagia atas hidupmu! Kau tak akan pernah dicintai dengan tulus! Aku menyumpahimu Alex!!!" Teriak Darius.
Alex menggeram marah, rasanya baru kali ini ia disumpahi seseorang.
"Kalian..!! bawa orang ini ke penjara, biarkan dia menggila disana. Besok kita interogasi kembali pastikan keamanannya!! awas saja jika dia kabur, akan aku penggal kepala kalian sebagai gantinya." Alex menatap satu persatu anggotanya.
"Siap Bos."
.
__ADS_1
.
Ditempat lain,
Beni sedang mengunjungi Edward ditemani Lukas yang sengaja meninggalkan pekerjaannya karena kedatangan sahabat Tuannya. Tidak mungkin pria itu bisa masuk tanpa kartu akses miliknya, dan tidak semua orang memiliki kartu akses itu kecuali keluarga Edlyn.
"Bagaimana kondisi Edward saat ini. Ini sudah seminggu lebih, kenapa dia belum sadar."
Beni menatap sendu tubuh sahabatnya. Wajah Edward terlihat pucat dan tubuhnya sedikit mengurus.
"Doakan saja Tuan, semoga Tuan Edward segera sadar dan pulih." ucap Lukas. Dirinya juga tidak mengetahui mengapa Edward belum siuman sampai sekarang.
"Segeralah sadar Bro, apa kau tak ingin menghajar orang yang sudah mencelakaimu? Hah,, aku harap kau mendengarku, jangan lama lama tidur. Kasihan putramu. Bolehkah aku membawanya pulang ke Jerman? Ah anak lelakiku pasti senang sekali jika bertemu dengannya."
"Ayo Lukas, kita bicara disana saja. Biarkan dia istirahat. Mungkin dia sedang menunggu putri cantik untuk membangunkan dari tidur panjangnya." Seloroh Beni.
"Tuan, terima kasih karena anda sudah mengingatkan kami tentang bukti rekaman itu. Kami bahkan hampir seminggu tidak bisa menemukannya."
"Jangan berterima kasih padaku, harusnya berterima kasihlah pada Brian. Brian yang sudah bekerja keras dalam hal ini. Ah anak itu, selalu saja membuatku kagum."
"Anda benar, saya juga tak menyangka jika mobil Tuan Edward terdapat sepuluh kamera aktif, bahkan kamera itu tak disadari pihak kepolisian pada saat penyidikan. Kalau pun mereka menyadari ada banyak kamera disana, tentu mereka juga akan kesulitan membukanya, Brian bocah jenius itu memasang sandi rumit disetiap kameranya." ucap Lukas.
Beni mengeryit heran apa masalahnya jika rekaman kamera itu sampai jatuh ke tangan polisi, bukankah mereka juga melakukan permohonan untuk penangkapan pelaku. Dia hanya diam menyimak pemikiran Lukas.
"Tuan, apa anda tau latar belakang Darius?" tanya Lukas.
Beni menggeleng lemah, ia hanya tau jika musuh yang dicurigai Edward adalah pengusaha ekspor impor itu.
__ADS_1
"Dia adalah orang yang dulunya menyukai Viona, bahkan mungkin sampai saat ini."
Beni menaikkan sebelah alisnya, " Lalu.."
"Kami belum menyelidiki ini lebih jauh, tapi dari pengamatan saya berdasarkan bukti bukti di akun media sosial miliknya, sepertinya pria itu sangat mencintai Viona, lalu mencurigai Tuan Edward atas hilangnya Viona. Karena memang terakhir Viona dan Tuan Edward memang sedang berselisih. Anda masih ingat bukan , masalah video syur milik Tuan Edward? Nah itu kejadian terakhir kebersamaan mereka. Lalu Tuan Edward menyuruh kami mendeportasi Viona dari negara ini."
"Ya, aku ingat itu, tapi aku punya analisa lain darimu. Menurutku Darius hanya dijadikan pion oleh seseorang, entah mengapa aku tak begitu yakin jika pria itu berani melakukan percobaan pembunuhan terang terangan tanpa dukungan pihak lain. Aku rasa ada orang yang sengaja memanfaatkan keadaan ini, mengorbankan Darius sebagai pionnya lalu seseorang itu mengambil keuntungan atas kejadian ini. Intinya Darius sedang dimanfaatkan seseorang karena dendamnya pada Edward atau entah apa, dan sialnya Edward yang menjadi korbannya. Bahkan aku tak yakin jika Darius mengenal baik latar belakang Edward. Ah kasihan sekali, pasti saat ini ia menyesal sudah berurusan dengan King GL." ucap Beni
" Ya, mungkin analisa anda benar, saya hanya tidak habis pikir dengan cara percobaan pembunuhannya. Bukankah itu terlihat tidak elite? Dari penyidikan kami, Darius hanya pebisnis kecil diusaha legal, tapi memang salah seorang bos mariyuana, bukan seorang mafioso, bahkan bodyguardnya hanya sewaan yang kadang selalu berganti anggota. Otak dari masalah ini memang licik, memanfaatkan kelemahan Darius untuk menyerang kita, lalu melakukan misinya tanpa harus kena getah dari masalah ini. Yang sedang saya pikirkan, apa yang akan mereka inginkan setelah Tuan Edward tiada. Nyatanya sampai sekarang tidak ada masalah yang berarti."
"Semoga saja tidak ada masalah setelah ini, dan kejadian ini tidak berkaitan dengan dendam masa lalu, pelakor ataupun pebinor, bahkan masalah politik perusahaan. Itu mengapa aku menonaktifkan anggotaku, ini yang aku takutkan, saling dendam dan menuntut balas, lalu mau sampai kapan.." ucap Beni lesu.
"Itu sudah menjadi pilihan para pemimpin Tuan, Tuan Edward sebenarnya juga lelah dengan keadaan ini, beliau malah ingin terlahir dari orang biasa dan menjadi orang biasa. Menjalani kehidupan layaknya manusia normal lainnya. Apalah daya, beliau terlahir dengan sendok emas ditangannya. Mempertahankan kekuasaan adalah jalan satu satunya agar bisa bertahan di kehidupan yang keras ini. Menyelamatkan dan melindungi keluarga dari banyaknya bahaya yang mengancamnya."
Beni menghela nafasnya, memang benar yang dikatakan Lukas. Dirinya juga mengalami hal yang sama seperti Edward. Bahkan ia juga takut, jika hal buruk menimpa keluarganya. Sementara dirinya sekarang tak memegang kendali penuh anggotanya. Anggotanya sudah ia serahkan pada kendali Edward.
"Hah, aku harap masalah ini bisa terselesaikan dengan baik. Kamu sebagai asisten sekaligus sekretaris Edward , aku harap kamu menjaga sepenuhnya perusahaan , walaupun masih ada Tuan Admaja disana, jangan ragu untuk meminta bantuan dariku saat terjadi masalah. Kau bisa mengandalkanku. "
"Terima kasih Tuan, anda baik sekali. "
.
.
.
####
__ADS_1