Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Cerita Aurora


__ADS_3

Langit sudah berubah menjadi hitam, nyatanya Aurora belum kembali ke rumahnya. Wanita cantik itu rupanya masih bergelut dengan pekerjaan yang seakan tidak ada habisnya. Untung saja saat ini dua putra kembarnya sedang diasuh oleh papa dan mamanya, jadi ia tidak was was saat meninggalkan putranya.


Brian yang sedari pagi ikut Aurora ke kantor, kini dirinya sudah tidur nyenyak karena merasa lelah menunggu. Aurora tersenyum melihat putranya yang tidur sambil mendekap boneka poporo yang dibelinya saat di Singapura waktu lalu. "Kau begitu menggemaskan." gumamnya pelan.


Ia kemudian mengetikkan sesuatu diponselnya menyuruh Kevin untuk segera menjemputnya. Sembari menunggu, ia membereskan sisa pekerjaannya dan mandi sebentar untuk menyegarkan badannya sebelum pulang.


Kevin yang sudah masuk keruang kerja Edward hanya bisa menunggu dan duduk di sebelah tempat Brian tertidur. Matanya sibuk mengamati intrerior dalam ruang kerja Aurora.


"Hem, ruangan ini tak ada yang berubah. Masih sama seperti yang Tuan tinggalkan." gumamnya memberi penilaian.


"Eh, kau sudah disini? cepat amat sampainya." ucap Aurora


"Saya sedari tadi menunggu anda dibawah nona. Apa anda akan pulang sekarang?"


"Hem, tolong kau bantu gendong Brian ke mobil. Aku rasa aku sudah tak sanggup menggendongnya. Malam ini kita pulang ke rumah papaku."


"Baik nona."


Didalam mobil, Aurora hanya diam memandangi jalanan yang cukup ramai di malam itu. Ia tersenyum kecut saat melihat dua sejoli yang sedang berboncengan dengan motor sport dan memeluk erat pinggang kekasihnya. Ia jadi teringat kenangan bersama mendiang suaminya waktu itu. Pikirannya menerawang membayang masa lalu yang begitu sulit untuk dilupakan. Dan sebesar apapun ia berusaha tetap tegar, nyatanya jika sendirian ia selalu merasakan kesedihan itu lagi. Ia merasa tak bisa mengalihkan dunianya dan masih berpusat pada Edward seorang. Laki-laki yang sangat ia cintai bahkan laki-laki yang membuatnya patah hati sekaligus. Ia menyesal kenapa tidak dari dulu saja memutuskan untuk menikah selepas acara lamaran itu, dan malah memilih melanjutkan studinya ke London. Ia merasa menjadi wanita yang paling bodoh di dunia ini. Berkali kali ia menyalahkan dirinya sendiri, menyesali semua kebodohannya, tapi apalah daya menyesal sekarang pun sudah tiada guna, nyatanya waktu tidak dapat berputar kembali.


Diam diam Aurora menghapus bulir air matanya yang menetes tanpa permisi. Apalagi lagu yang diputar di dalam mobil seakan akan sedang menyindir atas kesedihannya saat ini.


"Aku merindukanmu. Seperti inikah rasa kehilangan itu? Harus berapa lama lagi aku harus menunggu? Jika saja kamu tak menitipkan amanah yang harus aku jaga seumur hidupku, percayalah aku pasti sudah menyusulmu kesana. Kenapa ini semua harus terjadi padaku. Kau meninggalkan cinta sekaligus luka yang besar di hati ini. Tidak kah kau tau, seberapa besarnya perjuanganku untuk bertahan selama ini. Aku selalu menangis sendirian dalam gelapnya malam dan saat turunnya hujan agar mereka semua tak mendengar kesedihanku selama ini, agar mereka tak tau hatiku yang sebenarnya. Tolong katakan padaku bagaimana cara mengubah kehidupanku agar kembali seperti dulu. Harta, kekuasaan, kekuatan, tidak ada artinya jika tak ada kamu disisiku. Bagaimana caraku membesarkan ketiga putramu jika aku saja masih tenggelam dalam keterpurukan ini." batin Aurora.


"Nona, anda baik baik saja!" tanya Kevin khawatir. Ia melihat dari rear-vision mirror jika Aurora sedang berusaha menutupi tangisannya.


"It's oke."


"Sampai kapan anda akan begini nona. Jika ada seseorang yang bisa meluluhkan hatimu aku pasti akan mendukungnya. Kasihan sekali kau nona, anda tampak kuat diluar tapi rapuh didalam. Tuan kenapa anda harus pergi secepat ini. Anda meninggalkan cinta sekaligus lara dalam hati nona." batin Kevin.

__ADS_1


"Nona, anda hanya perlu mengikhlaskan tanpa harus melupakan. Seberapa kuat anda melupakan, nyatanya akan sia sia saja. Belajarlah untuk mengikhlaskan, mungkin hati anda akan merasa lebih baik. Saya yakin anda bisa." ucap Kevan tak sadar dengan ucapannya.


"Apa yang kau katakan Vin, mengikhlaskan apa? Aku hanya merasa lelah saja. Aku menangis karena lagu yang baru saja kau putar itu, terlalu menyentuh hati." alibinya.


Kevin menggaruk keningnya, ia meringis ternyata tebakannya keliru. "Maaf nona, saya hanya berpikir jika anda sedang merindukan Tuan. Maafkan saya." ucap Kevin kikuk.


"Tak masalah."


Tak berapa lama, mobil pun berhenti di pelataran rumah Tuan Hardy. Aurora turun menenteng tas kerja sedangkan Kevin dibelakangnya sedang menggendong Brian yang sedang tidur tak terusik dengan suara berisik yang timbul.


"Tidurkan di kamar atas paling kiri. Setelah itu pulanglah, pekerjaanmu sudah selesai. Terimakasih sudah mengantarku." ucap Aurora sebelum pergi ke dapur menyelesaikan ritualnya sebelum tidur.


"Baik nona, saya permisi."


"Hem."


Mama Riyanti menyentuh pelan punggung tangan putrinya dengan senyum lembutnya. "Sampai kapan kamu akan mengaduk minuman itu hem."


Aurora kaget dan langsung menoleh. Lamunannya seketika buyar. "Mamah, sejak kapan mamah duduk disini."


"Kamu melamun ya. Ada apa? apa ada masalah di perusahaan?" tanyanya


"Nggak ada Mah, Mama belum tidur? Apa Al dan El rewel hari ini?"


"Tidak, mereka sangat anteng."


"Ooo."


"Nak, ada yang ingin mamah bicarakan sama kamu, tapi jika kamu capek, besok saja juga boleh."

__ADS_1


Aurora mengeryit heran, kenapa harus besok, sekarang kan juga masih berbincang.


"Katakan sekarang saja, jangan membuat Aurora tidak bisa tidur gara gara menerka nerka apa yang akan mama sampaikan." gurau Aurora, tak bisa ia pungkiri jika sebenarnya ia sudah lelah dan banyak pikiran, dari pada mati penasaran pikirnya.


"Mamah ingin kamu menikah lagi."


Deg


Satu kalimat yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Bola matanya bergerak gerak menelisik wajah dari ibu yang telah melahirkannya itu.


"Ada yang ingin mamah kenalkan denganmu agar kamu bisa move on dari suamimu itu. Namanya __"


"Cukup Mah! Aurora ngak mau dengar! Dan berhenti melakukan itu padaku!" seru Aurora dan segera berlari menuju kamarnya. Ia tak peduli dengan ucapan mamanya yang belum selesai. Hatinya sudah terlanjur kacau saat mamanya menginginkan dirinya untuk menikah lagi, tambah sakit ketika mamanya sedang berusaha untuk mengenalkan seorang pria padanya. Itu artinya ia akan dijodohkan lagi seperti dulu.


"Hiks..hiks.. Kenapa, kenapa mereka selalu memaksakan kehendaknya sendiri. Luka ini bahkan mengering."


Aurora menelungkupkan tubuhnya dan menangis sejadi jadinya. Ia menyesali kenapa mamanya bisa bicara seperti itu padanya.


"Katakan padaku bagaimana caraku membuka hati ini untuk pria lain. Katakan! hiks hiks.. mereka tidak mengerti perasaanku. Kalian jahat sekali."


"Tidak, aku tidak sanggup jika harus begini. Aku akan menjadi Aurora yang dulu. Kalian yang membuatku seperti ini. Jangan salahkan aku jika nantinya aku akan berubah. Sudah cukup kalian menorehkan luka ke hati ini. Cukup! Hiks.. hiks.." Aurora menangis memukuli dadanya. Dadanya terasa sesak akibat banyaknya guncangan dalam hidupnya. Ia merasa sudah tak mampu memikul beban berat ini.


.


.


.


#####

__ADS_1


__ADS_2