Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Masalah apa


__ADS_3

Claire yang saat itu membawa gelas berjalan lengak lenggok dengan sengaja menumpahkan isi gelas itu ke gaun yang dipakai Aurora.


"Ups.."


Namun siapa sangka, air merah itu malah mengenai jas milik Lukas. Lukas yang saat itu menatap Aurora tak jauh dari sana, langsung memasang badan untuk melindungi istri Tuan mudanya. Lukas menggeram kesal menatap wanita itu tajam.


"Apa anda berpikir bisa mempermalukan nona kami. Oh saya rasa telah salah menilai anda. Anda ternyata bukan orang yang berkelas dan berpendidikan tinggi. Sikap anda menunjukkan wanita rendahan." Geram Lukas pelan.


Claire tidak terima dikatakan wanita rendahan, ia melotot pada Lukas. "Kau!" Tuding Claire


"Siapa kau berani mengataiku. Kau hanya pesuruh! Ingat itu. Kau hanya anjing yang menurut pada majikanmu. Kau tidak selevel denganku. Kau pria miskin yang dipungut Tuan Edward dan dijadikan kacungnya. Kau pria yang lebih menjijikkan. Hidupmu bahkan dari belas kasihan orang lain. Cih!" Claire kemudian membuang muka.


Lukas mengepalkan tangannya erat. Wajahnya memerah, berusaha menahan emosinya agar tak membuat keributan ditempat itu. Rasanya ia sudah seperti ingin menonjok keras pipi wanita itu jika bukan ditempat itu.


Aurora dan Aldi menatap datar dua orang itu. Mulut Claire yang bersuara tanpa disaring membuat mereka berdua geram, apalagi mendengar asistennya dihina begitu dalam.


"Nona Claire, seharusnya anda tidak berkata demikian. Anda wanita berkelas tidak pantas mengucapkan hal itu. Jadi apa anda pikir bisa mempermalukan saya hem. Sayangnya tidak semudah itu." Ejek Aurora memanasi.


Aldi diam saja lalu menarik pinggang Aurora agar sedikit menjauh dari Claire karena ia tau wanita itu masih memegang gelas kosong. Ia hanya takut jika benda itu akan melukai Aurora. Dan perhatian itu membuat Claire semakin naik darah.


"Tuan Aldi bisa kita bicara sebentar." Kata Claire yang sudah tidak tahan melihat kemesraan mereka berdua. Padahal Aurora tak sekalipun merespon tindakan Aldi.


"Bisa. Tapi sebelumnya bisakah anda minta maaf pada Tuan Lukas. Anda telah merusak pakaiannya dan merendahkannya dengan mulut kotor anda. Itu tidak sepatutnya anda lakukan sebagai seorang wanita. Wanita yang baik itu anggun dalam berperilaku dan menjaga tutur katanya pada orang lain. Saya hanya menyukai orang orang yang seperti itu. Baiklah, saya tak perlu berbasa basi lagi. Saya rasa anda bisa memahami maksud saya. Setelah itu silahkan anda temui saya nanti di sana." Tunjuk Aldi dengan tangannya. Aldi mengulas senyum tipisnya.


Setelah mengatakan itu, Aldi segera mengajak Aurora menjauh dari Claire. Ia tidak ingin membuat keributan yang membuat dirinya dan Aurora tersorot kamera wartawan.


"Lukas, segera bergantilah. Temui aku setelah ini. Ada yang ingin aku bicarakan padamu." Kata Aurora sebelum berlalu dan hanya diangguki oleh Lukas.


.


.


"Apa yang ingin anda bicarakan nona Claire." Ucap Aldi tanpa basa basi. Aldi duduk bersedekap dada menatap lekat Claire didepannya.


"Bisakah kita tidak berbicara formal seperti ini." Claire menatap Aldi tanpa berkedip. Ia begitu terpesona dengan penampilannya malam ini. Wajahnya yang begitu mulus bak seorang wanita membuatnya begitu iri.


"Ok. Katakan maumu."


"Apa hubunganmu dengan wanita itu. Aku harap jawabanmu tidak membuatku marah kali ini."


Aldi menaikkan alisnya. Lalu terkekeh pelan. Ia memajukan dudukannya dan tersenyum menyeringai.


"Apa urusanmu. Kenapa kau selalu ikut campur urusanku hem, apa kau merasa bisa mengancamku dengan bukti murahanmu itu."


"Oke. Jika itu mau mu, kita lihat saja besok. Aku pastikan berita itu akan muncul di media sosial dan televisi nasional. Kita lihat , apa kau bisa bertahan dengan keadaan ini, atau malah menguntungkan aku. Aku pastikan kamu akan segera menikahiku. Jika kita hancur, mari kita hancur bersama sama." Claire terkekeh pelan.


Aldi menggertakkan giginya. Menatap marah pada Claire yang lagi lagi mengancamnya.

__ADS_1


"Apa maumu sebenarnya!" Ucap Aldi kesal.


"Aku ingin kamu segera mengumumkan pertunangaan kita dan jauhi Aurora Edlyn. Aku tidak suka melihatmu dekat dengannya. Apa kau mengerti baby." Claire tersenyum bangga bisa mengancam Aldi kali ini. Melihat wajahnya yang diam saja membuatnya senang, ia yakin jika pria itu sedang berpikir keras saat ini.


Aldi menghembuskan nafas kasarnya. Lalu berdiri. "Aku akan membalasmu jika kau berbuat nekat Claire. Aku tidak seperti yang kamu kira. Lakukan sesukamu tapi kau harus ingat akan akibat yang akan kamu tuai. Kau ingat perusahaan ini sebelum berpindah kepemilikan atas namamu? Camkan baik baik! Aku pastikan kau akan merasakan hal yang sama seperti yang dialami Tuan Kimura Yashimoto. Pertimbangan keputusanmu baik baik dan jaga dirimu. Aku tidak tau yang akan dilakukan GL akan tindakan cerobohmu tadi. Oke. Sekali lagi aku ucapkan selamat. Semoga kau tak salah dalam melangkah. Aku tunggu berita itu besok. Permisi!"


Aldi meninggalkan Claire begitu saja. Wanita itu menggertakkan giginya kesal. Lagi lagi ia tak berhasil mengancamnya. "Ayo berpikirlah Claire. Ayo, otak cerdasmu pasti punya ide yang bagus untuk menaklukkan pria itu. Ah harusnya aku hamil anaknya jika harus serumit ini. Sial!" Gumam Claire.


Aldi mendengus kesal. Bisa bisanya ia terjebak rayuan wanita itu. Hati kecilnya mengatakan jika dirinya sama sekali tidak melakukan hubungan terlarang saat itu, walaupun saat ia terbangun dalam keadaan polos dan ada Claire disampingnya. Pikirannya menerawang jauh.


.


.


Di sisi lain, Lukas bersama Aurora sedang berada di dalam mobil menuju markas besar GL dan diikuti dua mobil bodyguardnya. Aurora yang duduk dibangku belakang hanya diam dan memalingkan wajahnya kesamping. Entah apa yang sedang dipikirkan wanita itu. Sedangkan Lukas hanya fokus pada kemudi dan sesekali melirik kebelakang.


"Lukas, menurutmu apa sedang terjadi sesuatu pada Aldi? Aku merasa seperti ada yang tidak beres. Sepertinya Claire sangat cemburu padaku. Apa mereka menjalin hubungan?" Aurora berbicara sambil menatap spion tengah.


"Tidak tau nona, kita bisa menyelidikinya jika anda ingin."


Aurora mengangguk mengerti. "Lukas, bagaimana menurutmu jika aku menikah dengan Aldi. Orang tuaku lagi lagi menjodohkan aku lagi. Aku tak habis pikir dengan mereka. Apa tidak ada pria lain, Aldi sudah aku anggap sebagai kakak laki lakiku. Dan rasa itu tak bisa berubah sampai detik ini. Aku masih mencintai mendiang suamiku. Aku selalu berharap jika kejadian kemarin hanya sebuah mimpi lalu aku akan terbangun dan bertemu dengannya lagi." Aurora tersenyum menerawang.


Lukas yang sempat kaget mendengar Aurora akan menikah lagi begitu lega setelah wanita itu masih mencintai Tuan mudanya. Setidaknya pernikahan itu masih bisa diulur sampai Edward pulih dan kembali kesisinya.


"Segeralah pulih Tuan muda, lihatlah! Istrimu akan menikah lagi jika anda tak segera kembali. Jangan membuat saya berada dalam posisi yang sulit." Batin Lukas


"Ya, nona."


"Ck. Kenapa tidak menjawab pertanyaanku. Apa yang kau pikirkan!"


"Saran saya, tidak perlu terlalu buru buru dalam mengambil keputusan. Anda perlu waktu untuk memantapkan hati. Anda bisa menikah dua atau tiga tahun lagi, mungkin waktu itu cukup untuk membangun rasa. Jika sampai saat itu tidak ada rasa yang timbul, sebaiknya anda tidak memaksakan diri. Ini bisa dibicarakan baik baik. Saya yakin papa Anda bisa mengerti keadaan Anda. Dan satu lagi nona, bersikaplah ceria seakan akan Anda sudah melupakan Tuan muda, mungkin mereka pikir Anda belum bisa move on darinya. Saya yakin jika cinta akan menemukan jalannya sendiri. Kalau jodoh tak akan kemana."


Aurora tersenyum tipis mendengar jawaban Lukas. Pria itu seperti pernah memiliki kekasih saja.


"Lalu kapan kamu akan menikah? Usiamu tak lagi muda. Jangan bekerja terus, sesekali gunakan untuk nongkrong dan cari pandangan. Anggotaku juga banyak yang jomblo. Kau tak ingin mendekati salah satu dari mereka? Alex bahkan sudah menikah. Kau tidak ingin segera menyusulnya?"


"Saya akan menikah jika sudah ada calonnya nona. Anda tidak perlu khawatir, pria seperti saya masih banyak diminati wanita walau di usia saya ke 40 belum menemukan jodohnya. Hehe.."


.


.


Sampai di markas GL, Aurora disambut anggota yang berjaga malam itu. Mereka menatap Aurora tanpa berkedip. Mereka takjub dengan penampilan Aurora saat itu.


"Tundukkan pandangan kalian! Jika King tau kalian menatap Queen seperti itu, aku pastikan bola mata kalian akan dijadikan santapan makan malamnya!" Bentak Lukas dari belakang Aurora.


"Ampuni kami Queen." Para anggotanya serempak menunduk takut.

__ADS_1


"Hem. Dimana Alex." Tanya Aurora datar.


"Ada di ruangannya Queen." Jawab salah satu dari mereka.


Aurora mengangguk, Ialu menuju ruangan suaminya untuk berganti pakaian sebentar. Sedangkan Lukas memilih menemui Alex terlebih dahulu.


Aurora yang sudah selesai berganti dengan atasan dan bawahan warna hitam langsung menuju ruangan Alex. Setiap langkahnya, ia membayangkan ingin memukul wajah Alex yang mengabaikan perintahnya saat itu.


Ceklek


"Oh Queen, anda kemari. Maaf saya datang terlambat waktu itu." Ucap Alex tersenyum kaku. Ia hanya berharap tidak ada pukulan dadakan yang diterimanya.


"Hem, mengakui kesalahan ternyata. Tidak buruk. Tapi apa kau tau tentang hukuman membantah perintah dari pimpinan?"


Alex mengangguk pelan.


"Apa alasanmu sekarang." Aurora mengambil duduk disofa dan menyilangkan kakinya.


"Maaf Queen, istri saya sedang merajuk. Saya harus membujuknya lebih dulu. Saya siap dihukum. Saya memang bersalah." Alex berbicara dengan tegas.


"Oke. Aku memaklumi karena istrimu sedang hamil. Tak masalah kali ini, tapi kau harus menebus kesalahanmu Alex."


"Apa yang harus saya kerjakan Queen."


"Nikahi Zanitha secara resmi, dan bantu aku menyelidiki sesuatu." Aurora menatap Alex kemudian melirik Lukas.


"Tapi itu,.."


"Tidak ada tapi tapian. Turuti permintaanku, atau aku akan mengirimmu ke kolam buaya milikku."


Alex diam sejenak lalu mengangguk ragu.


"Lalu apa tugas selanjutnya? Menyelidiki kasus apa." Kali ini Alex menatap lekat Aurora dari duduknya.


"Selidiki Darius dan keluarganya. Aku rasa data yang kau dapatkan sudah dimanipulasi olehnya, tidak semua salah dan tidak juga sepenuhnya benar. Aku menduga jika Darius ini ada hubungannya dengan banyak kejadian. Dia tidak sepolos yang kalian kira. Aku bisa melihatnya."


Alex dan Lukas saling menatap seolah menyamakan jawaban.


"Lalu ganti sandi tempat tiga orang itu. Gara gara kau , aku tak jadi memuaskan kesenanganku saat itu. Menyebalkan sekali."


Alex mengangguk mengiyakan. Kemudian terkekeh pelan, mengingat akses untuk membuka pintu sel tahanan itu menggunakan sidik jarinya.


.


.


.

__ADS_1


####


__ADS_2