Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Siapkan surat cerai!


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Aurora dengan sabar menunggu Edward masuk ke dalam kamarnya kembali. Entah sudah berapa lama wanita itu duduk di teras balkon sambil melamun.


Beberapa menit kemudian, Edward masuk ke dalam kamar sembari membawa laptop kerjanya dan sebuah paperbag berwarna merah entah apa isinya. Pria itu meletakkan begitu saja diatas ranjang dan segera menemui Aurora.


"Sudah lama disini hem.." Edward berdiri di belakang Aurora dan membungkukkan badannya mensejajarkan wajahnya dengan kepala Aurora, lalu menempelkan hidung mancungnya ke pipi Aurora.


"Kemarilah, jangan begitu." ujar Aurora sembari menepuk sofa kosong di sebelahnya.


Edward menurut saja. Ia duduk di sebelah Aurora lalu merangkul bahu wanita itu dan membawa dalam dekapan hangat tubuhnya. Lama mereka saling berdiam dan saling menyelami pikiran masing masing. Aurora bahkan dengan nyamannya menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata sambil menghirup dalam dalam wangi tubuh Edward yang selama ini dirindukannya.


"Katakan apa yang ingin kamu ketahui dariku. Aku akan menjawab jujur padamu." Kata Edward pelan mulai membuka obrolan.


"Aku ingin tau semuanya, tapi terlebih dahulu katakan padaku apa alasanmu menjadi asistenku dan menyembunyikan identitas aslimu. Apa kamu berniat mempermainkan ku?" Aurora mendongakkan kepalanya menatap Edward sendu.


Edward tersenyum. Dengan gerakan spontan, Edward mengecup bibir Aurora yang selalu terlihat begitu menggoda di matanya.


"Aku tidak ada maksud mempermainkanmu nona. Aku hanya ingin lebih dekat dan mengenalmu saja. Aku ingin tahu seperti apa sosok istriku saat bekerja. Kamu ternyata mengagumkan, aku bangga padamu."


Edward mengusap pelan pipi Aurora dengan punggung tangannya. Pria itu menatap intens, kiranya ia telah terpesona dengan kecantikan yang dimiliki Aurora. Senyum sejuta watt-nya pun membingkai wajahnya begitu saja.


"Sungguh aku beruntung memilikimu. Entah kebaikan apa yang aku lakukan di masa lalu hingga aku bisa bertemu wanita sepertimu. Terima kasih telah menungguku."


Aurora menepis tangan Edward pelan dan menatap lurus ke depan. Matanya memanas saat teringat rentetan kejadian demi kejadian yang ia alami sejak kehilangan suami yang dicintainya. Bagaimana rasa terpuruk bahkan hampir depresi masih tergambar dengan jelas dalam ingatannya. Tapi apa, semua itu hanya sebuah drama, ia merasa dipermainkan seperti orang bodoh.


"Aku selama ini tinggal di Hong Kong bersama Kak Fe. Dia adalah salah satu orang yang paling berjasa paska aku koma hingga aku bisa sehat seperti saat ini."


Aurora menoleh dan menatap mata Edward sendu. Sebulir air mata pun lolos begitu saja saat ia berkedip.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Lirih Aurora

__ADS_1


Edward mengulum bibirnya, matanya menghiba, sedangkan tangan kanannya perlahan mengusap air mata Aurora.


"Aku koma selama hampir 2 tahun sejak kejadian saat itu. Aku bangun dari tidur panjangku dengan kedua kaki yang mengecil dan sulit digerakkan, lebih parahnya aku kehilangan ingatanku sebagian. Aku minta maaf Aurora, sebenarnya aku sama sekali tak mengingat tentangmu apalagi anak anak."


"Kamu tak mengingatku?" lirih Aurora.


Edward mengangguk membenarkan.


Sontak saja Aurora memalingkan wajahnya dan menangis. "Jika kamu tak mengingatku, kenapa kamu kembali pada kami? Bukankah kamu bisa membuka lembaran baru tanpa kami? toh kami sudah terbiasa tanpa kehadiranmu."


Edward bersimpuh di depan Aurora, mencoba meraih tangan Aurora walau sering ditepis wanita itu karena sibuk menghalau air matanya yang mengalir deras di pipinya.


"Aku minta maaf, tapi aku benar mencintaimu. Jika harus membuka lembaran baru, itu hanya denganmu seorang, dan kamu harus percaya itu."


"Bagaimana bisa kamu jatuh cinta pada orang yang kamu lupakan? Kamu pembohong Kakak." ucap Aurora disela tangisnya.


Edward tak bisa berkata kata. Ia menundukkan kepalanya di lutut Aurora. Diam diam pria itu meneteskan airmata.


"Aku hanya kecewa padamu. Kenapa setelah sekian lama, kenapa kamu baru muncul sekarang. Apa kamu sedang balas dendam padaku karena dulu aku meninggalkanmu?" tanya Aurora dengan berderai air mata.


" Tidak sayang, tidak seperti itu, aku.. aku hanya tidak ingin melihatmu mengasihani diriku waktu itu, aku ingin kamu melihatku sehat seperti sekarang ini. Tolong maafkan aku. Aku janji akan menebus kesalahanku padamu."


"Tidak, ini bukan salahmu, aku saja yang terlalu bodoh."


"Tidak sayang , kamu tidak bodoh. Aku saja yang terlalu egois padamu. Aku tak memikirkan perasaanmu. Ku mohon jangan menangis seperti ini, aku ikut terluka jika kamu seperti ini." Mohon Edward yang masih bersimpuh di depan Aurora.


Aurora mengusap bahu Edward dan memintanya untuk duduk kembali. Ia merasa tidak pantas Edward bersikap seperti itu, bagaimana pun dia adalah suami yang harus ia jaga kehormatannya.


"Aku akan pergi jika kamu tak senang melihatku berada disini. Aku mohon maaf jika selama ini aku selalu saja menorehkan luka dihatimu, aku selalu membuatmu menangis dan bersedih, aku akan pergi tapi berjanjilah untuk tidak menangis karena ku lagi."

__ADS_1


Aurora bergeming saat Edward masuk ke dalam kamar. Hatinya merasa sakit karena suaminya tak peka dengan hatinya. Lagi lagi ia harus mengalah.


"Kak Edward tunggu!" Aurora menatap datar Edward yang akan menarik handle pintu. Tangannya mengepal menahan egonya sendiri. Ia tak mungkin membiarkan Edward memporak porandakan hatinya lagi.


"Siapkan surat cerai jika kamu berani melangkah keluar dari pintu itu! Aku tak butuh pria yang tidak bisa memahamiku. Kamu egois. Kamu egois kakak!!" seru Aurora.


Edward mematung mendengar perkataan Aurora. Pria itu berbalik dan menatap tajam Aurora. Matanya memerah menahan marah. Bagaimana bisa wanita yang dicintainya bisa berucap seperti itu. Pria itu menarik nafasnya dalam dalam sebelum berbicara dengan istrinya.


"Aku hanya ingin memberimu sedikit waktu untuk sendiri, kenapa kamu malah mengatakan hal mengerikan. Jangan mengucapkan seperti itu lagi. Ini bisa dibicarakan baik-baik."


Aurora bergeming.


"Sudah hilangkah rasa cinta itu di hatimu hingga kamu berucap seperti itu? Oh ataukah hatimu sudah terisi dengan pria lain?"


Aurora masih bergeming.


"Aku kalah Aurora. Aku kalah jika hatimu sudah terisi cinta lain. Selama ini aku terus berjuang sembuh untuk kalian, tapi apa yang aku dapatkan... kamu malah meminta perpisahan?" Edward tersenyum masam.


"Kamu bodoh! kamu pria bodoh kakak! Bisa bisanya kamu selemah itu! Pergi! Pergi dan jangan pernah muncul dihadapanku. Kamu bukan Kak Edward ku. Hiks.. Kamu pengecut! Lalu apa gunanya kamu kembali pada kami. Pergi!" Teriak Aurora. Wanita itu sangat geram dengan kalimat yang diucapkan Edward. Bukan seperti itu yang ia inginkan.


Edward mendekat dan merengkuh tubuh Aurora dengan erat. Mana mungkin pria itu akan pergi. Ia akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Ia akan merebut apa yang menjadi miliknya termasuk hati Aurora. "Iya aku memang bodoh. Maaf. Maaf."


Aurora memeluk Edward tak kalah eratnya. Ia mencoba menerima keadaan walau hatinya sedang sangat kesal pada Edward, apalah daya, wanita itu masih sangat mencintai suaminya. Seberapa besar kesalahannya, ia akan mencoba memaafkaannya.


.


.


.

__ADS_1


#####


__ADS_2