Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Perdebatan kecil.


__ADS_3

Saat ini Aurora dan Edward tengah bersiap ke rumah Tuan JianYing. Keduanya tampak serasi dengan busana semi formal mereka.


Brian yang sedang menunggu mereka di sofa, menatap takjub pada keduanya. Tak bisa dipungkiri, mereka adalah pasangan yang saling melengkapi satu sama lain, terlihat selaras dan begitu mengagumkan di mata Brian.


"Kak, apa menurutmu ini sudah oke?"


Edward yang saat itu sedang memakai sepatunya, sedikit menoleh ke arah cermin yang memantulkan wajah istrinya. Ia tidak menjawab, tapi langsung menghampirinya begitu ia telah selesai mengenakan sepatunya.


"Istriku selalu terlihat cantik dimataku." ujar Edward dengan senyum sejuta watt-nya.


"Wow..wow.. Please hentikan drama kalian Mom, Dad. Kita sudah ditunggu paman Alex di bawah." ujar Brian begitu melihat pasangan itu hendak menunjukkan cinta mereka.


Ia pikir, jika tidak segera dihentikan, mungkin mereka tidak jadi berangkat dan ia bisa gagal bertemu Willi.


Edward berdecak menatap sebal Brian, tapi sepertinya anak itu tidak begitu peduli.


"Oke kita berangkat." ujar Aurora mengambil tasnya.


"Kak, kamu tak menggunakan wajah palsumu?" Aurora mengernyit melihat wajah suaminya. Sejujurnya ia sudah terbiasa dengan wajah Felix, walau wajah itu tak setampan wajah Edward. Baginya, wajah itu yang selalu menemani hari harinya, jadi terasa ada yang kurang jika belum melihatnya.


"Aku rasa akan menggunakan masker saja."Jawab Edward seadanya, ia mulai bosan dan merasa tidak nyaman menggunakan benda elastis itu.


"Bagaimana jika,.."


"Sudah biarkan saja. Semua bisa diatasi. Ah tunggu!" Edward mencekal tangan Aurora. Matanya menyipit dengan dahi mengerut.


"Jangan bilang kamu lebih menyukai wajah Felix daripada wajah tampanku ini! Apa benar seperti itu."


"Ck. Kamu sendiri yang menyembunyikan wajah aslimu. Aku hanya mengingatkanmu saja." alibi Aurora. Mana mungkin mengatakan yang sebenarnya.


Edward menaikkan bahunya, ia tidak ingin memikirkan apa pun saat ini.


Ketiga orang itu langsung turun ke loby dan segera masuk mobil. Alex sudah menunggu dan duduk manis di bangku kemudi.


Mobil melaju kencang begitu keluar dari area hotel dan bergabung dengan kendaraan lainnya. Aurora yang duduk di bangku tengah bersama Brian, memilih membuka laptopnya dan memantau grafik disana. Suasana tampak tenang, hanya suara deru mesin kendaraan yang terdengar, bahkan Alex pun enggan menyalakan audio pada mobil yang dikendarainya.

__ADS_1


"Kak," panggil Aurora memecah keheningan.


"Hem."


"Menurutmu, siapa yang membayar madam Yora untuk membunuhku ya. Apa kamu mencurigai seseorang."


Edward dan Alex saling melirik. Entah apa yang mereka diskusikan lewat telepatinya.


"Aku masih menyelidiki. Kita bisa tau setelah kita bisa menangkap wanita licik itu. Kita tunggu tanggal mainnya dan kita akhiri sandiwara kita. Kita bisa ke Paris atau ke London setelah itu."


Edward menatap Aurora dari pantulan kaca spion tengah. Bibirnya tersenyum tipis, tak ada kekhawatiran dalam ucapannya, seolah semua akan baik-baik saja.


"Kak, apa kau tau apa yang diucapkan Henry padaku malam itu."


Malam itu?


"Tidak!" ketus Edward, memalingkan muka ke arah jendela. Ia cemburu ketika ingatannya kembali pada adegan sok romantis mereka. Memangnya dia dianggap apa, beraninya pria itu mencium istrinya.


Sialan. Lagi lagi Henry. Sampai kapan kera itu hilang dari kehidupan ini. Membuat masalah saja!


Gerutu Edward dalam hatinya. Senyum yang sempat terlukis seketika lenyap ketika mendengar nama Henry.


Alex yang mendengar dan melihat itu hanya bisa menarik nafasnya dalam dalam, atmosfer di dalam mobil mendadak terasa panas. Ah pria itu sudah salah tempat lagi rupanya.


Brian yang mendengar nada tidak mengenakkan dari bibir Edward langsung menutup kedua telinganya menggunakan headphone, mendengarkan musik tentu lebih baik untuknya daripada mendengar obrolan orang dewasa.


"Dia bilang dia mencintaiku dan memintaku menikah dengannya. Lalu dia bilang, ..."


"Jangan diteruskan! Kamu benar-benar ya, tidak bisa ya membuatku tidak cemburu! Apa kamu pikir aku akan bangga, jika wanitaku dicintai pria lain! Apa kamu pikir aku tidak marah, saat kamu dicium pria itu. Apa kamu tidak memikirkan perasaanku hah! Beraninya kamu mengatakan hal menjijikkan itu padaku. Kamu tidak menghargaiku sebagai suamimu Aurora! Menjijikkan."


Aurora terdiam, padahal ia belum menyelesaikan kalimatnya. Bagaimana ia mengatakannya jika Edward sudah berang seperti itu.


Alex mengusap tengkuknya. Ia melirik sedikit dari rear-vision mirror, ia pikir akan menepikan mobilnya jika kondisinya tidak memungkinkan. Ini sangat menjengkelkan, kenapa dirinya harus mendengar semua ini. Apa mereka tidak malu terhadapnya? setidaknya hargai jika ada manusia lain diantara mereka. Rasanya ia ingin membuka vorteks dan melakukan teleportasi saja. Menghilang adalah solusi yang terbaik, tapi mana bisa. Alex merutuki dirinya sendiri.


"Dia mengatakan,..."

__ADS_1


"Cukup!" Lagi lagi Edward memotong kalimat Aurora. Ia sedang tidak ingin berdebat. Ia pikir ternyata mempunyai istri cantik itu sedikit merepotkan untuk dirinya.


Aurora menghela nafasnya. Wanita itu melirik Alex yang hanya diam saja.


"Kamu belum mendengar apa yang ingin aku sampaikan. Jangan memotong kalimatku. Ini tidak seperti yang kamu kira." ujar Aurora mencoba meluruskan.


"Jangan bicara jika masih membicarakan dia. Aku tak suka mendengarnya. Andai kita tak bertemu dia di Singapura waktu itu, mungkin kita sudah bahagia dan tidak ada masalah seperti ini. Kamu juga, ngapain punya hubungan kerja sama dengan pria itu. Menyebalkan."


Hentikan! Please hentikan perdebatan kalian. Agh kalian ini seperti anak kecil! Eh,


Alex memukul bibirnya sendiri saat mengumpati dua orang itu dalam hatinya. Ia rasa hubungannya dengan Zanitha jauh lebih parah dibandingkan mereka.


Aurora menggaruk ujung alisnya. Dia sama sekali tidak marah ketika suaminya berbicara seperti itu, ia mulai bisa memahami ketika Edward mulai posesif padanya.


"Oke. Maaf. Aku yang salah."


Aurora mencoba menatap Edward dari pantulan kaca spion tengah, lalu mengembangkan senyum kakunya. Ia tidak ingin Edward uring uringan sepanjang hari karena perkataan bodohnya.


Edward yang sadar ditatap Aurora malah pura-pura memejamkan matanya. Ia baru menyadari jika cemburu itu sangat mengesalkan.


"Alex, tolong bantu selidiki siapa yang sedang dekat pria itu akhir akhir ini ya. Dulu dia mengatakan jika aku menikah dengannya, maka nyawaku akan aman. Entah apa maksudnya, tapi aku yakin dia tau sesuatu. Dia tidak mengatakan siapa yang sedang menargetkanku, tapi aku rasa yang menargetkanku orang yang tidak bisa ia usik, entah itu keluarganya, kerabat atau relasinya. Aku belum bisa tenang jika pembuat masalah itu belum ditemukan. Bagaimana jika dia bersekongkol dengan orang yang dekat denganku."


Banyak spekulasi buruk meracuni otak Aurora. Sudah cukup, masalah ini harus segera dihentikan, tapi mengurai benang kusut juga tak mudah untuk dilakukan.


Alex menoleh ke arah Edward sekilas. Ia tidak ingin menambah masalah jauh lebih rumit lagi.


"Apa kita harus menculik dan mengintrogasinya bos. Jika iya, akan saya perintahkan anggota kita untuk segera mengeksekusinya. Ini bukan pekerjaan sulit."


"Jangan bertindak bodoh Alex! Itu bisa menjadi senjata makan tuan. Jika ingin menculik dan mengintrogasinya, kamu harus punya kelemahannya. Aku malas berhubungan dengan pihak aparat. Jangan lupa, dia juga bukan orang sembarangan." ujar Edward berwajah malas.


Sialan, jika kera itu bukan siapa siapa bagi Listy, sudah aku bereskan sedari dulu. Menyebalkan, kenapa juga aku harus terlibat dengan hubungan percintaan Jingmi.


.


.

__ADS_1


.


######


__ADS_2