Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Video rekaman


__ADS_3

"Hai sayang__ kau merindukanku hem... Jangan menangis begitu. Lihatlah, wajahmu jelek sekali. Mana nih Rara nya kak Ard?"


Edward diam sejenak menatap kamera. Kemudian ia tersenyum. Senyum yang sangat manis sekali dimata Aurora hingga menular pada wanita yang tengah meneteskan airmatanya.


"Jika kamu melihat rekaman ini, itu artinya aku sudah tak berada disisimu lagi. Aku sudah pergi jauh dari jangkauanmu. Maafkan aku, aku tak bisa berbuat apapun padamu."


"Sayang, aku sudah menyiapkan tabungan untuk kalian. Aku sudah menyiapkan pengacara untuk itu. Aku menghadiahkan saham perusahaan untuk anak anakku, mereka akan menerimanya kelak jika usianya telah mengijak 25 tahun. Sementara itu, kamu sebagai ibunya harus membantu mengelolanya. Kamu mau bukan.."


"Tidak, aku tidak mau. Yang aku mau kamu selalu berada disisiku. Aku tidak mau hartamu. Tidak." Lirih Aurora.


"Jangan menolak sayang. Kamu selalu keras kepala. Ini juga untuk masa depan anak anak. Dan tolong jangan menangis. Aku sedih jika melihatmu bersedih. Ayo tersenyumlah.."


Aurora menggelengkan kepalanya. Dadanya terasa sesak. Air mata kesedihan masih saja mengucur deras dari pipinya.


"Cup.. Sudah jangan menangis. Apa kamu begitu mencintaiku hingga kamu tak mampu membendung air matamu hemm."


Edward mendesah panjang. Kemudian menatap kamera tanpa berkedip seakan memandang wajah cantik istrinya.


"Aurora sayang, Bagaimana kabarmu hari ini? Apakah kamu baik baik saja. Apapun itu, aku harap kamu bisa hidup lebih baik tanpa kehadiranku. Maaf, aku mengingkari janji cinta kita. Aku tak sekuat itu melawan takdir kita. Aku mencintaimu sayang."


Edward menghela nafasnya. Ia juga berusaha keras agar tak menangis didepan kamera yang merekamnya. Ia mencoba untuk tersenyum kembali.

__ADS_1


"Sayang, aku bahagiaaaaa.. sekali. Terimakasih kamu sudah hadir menemaniku dikehidupan yang singkat ini. Aku bahagia karena wanita yang aku cintai masih saja menangisiku saat melihat video rekaman ini, itu artinya cintaku terbalas."


"Aurora ku sayang, menikahlah lagi jika saat waktunya tiba. Kamu berhak bahagia. Lupakan aku dan hiduplah dengan bahagia bersama pasanganmu. Aku akan bahagia jika melihatmu bahagia. Tetap jadilah wanita yang lembut, wanita yang kuat dan tegar."


Aurora menggeleng keras. Sebenarnya ia sudah tak sanggup melihat video itu. Hatinya semakin sakit ketika melihat wajah suaminya yang memerah menahan tangis setelah mengatakan itu.


"Hentikan omong kosongmu. Kamu sudah menyakiti hatiku. Kau sudah mengingkari janjimu. Hiks hiks hiks. Kamu jahat!Jahat Edward. Kau meninggalkan aku disaat putra putramu membutuhkanmu. Kau bahkan pergi tanpa melihat Al dan El. Kau bahkan tak sudi untuk menggendong nya. Kau jahat!Jahat! Ayah macam apa kau.!" ucap Aurora sambil menangis dan memukul dadanya.


Edward tersenyum. "Kamu cantik jika sedang mengumpatku sayang."


"Bagaimana bisa kamu tersenyum di atas kesedihanku . Tolong beri tau aku bagaimana menata hati ini. Aku.. aku tak bisa kehilanganmu. Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku membutuhkanmu." tangis Aurora


"Maafkan aku." Edward tertunduk seperti memikirkan sesuatu.


Alex hanya diam, sesekali matanya melirik ke arah Aurora yang sibuk mengusap air matanya. Ia hanya bisa mendesah pelan mendengar suara Edward. Ia sendiri sudah pernah menyaksikan video itu dan berhasil membuatnya menjadi pria yang cengeng.


"Alex, terima kasih sudah menyimpan flasdisk ini dengan baik. Aku tekankan sekali lagi. Bagaimana pun marahnya dirimu pada dua manusia itu, kumohon jangan membunuhnya. Ada rahasia besar yang belum terungkap saat ini. Dan kita masih membutuhkan kunci jawaban dari dua orang itu. Pasukan khususku sedang mencari jawaban dari misteri itu. Sayangku Aurora, biarkan Alex membuka jati diri Brian. Biarkan ayahnya tahu jika Brian adalah putranya. Tolong kalian jaga Brian dengan baik. Firasatku mengatakan jika Brian kelak akan menjadi orang besar yang akan mengangkat derajat kita. Tolong wujudkan semua mimpinya. Katakan padanya jika aku sangat menyayanginya."


"Tidak aku tak ingin mengatakannya. Katakan sendiri padanya. Lagian rahasia apa yang masih menjadi misteri. Apa Brian calon raja. Kalau iya, aku akan menjaga baik baik penerus kerajaan itu!" ketus Aurora yang melihat suaminya tersenyum lebar. Bisa bisanya pria itu tersenyum diatas penderitaannya.


"Terima kasih sayang. Baiklah, sudah dulu ya. Aku mencintaimu. Aku akan menjemput kalian jika saatnya tiba. Berhentilah menangis dan tersenyumlah selalu. Jangan lupa doakan aku.

__ADS_1


I love u my sunshine."


Video itu ditutup dengan lambaian tangan Edward dan mencium kearah kamera seakan akan sedang mencium Aurora. Lalu berubah menjadi tampilan slide foto foto kebersamaannya mulai dari jaman dulu hingga foto kebahagiaan saat pernikahan mereka . Foto yang selalu menampilkan senyum secerah mentari pagi.



Sontak saja Aurora langsung menangis keras saat suara suaminya tak lagi terdengar. Ia sangat sedih sekali apalagi melihat foto foto dirinya saat bulan madu di Paris. Ia sangat merindukan pria yang selalu memeluknya dari belakang dan mengecup keningnya. Pria terromantis menurut versinya, pria yang tiada duanya. Pria yang begitu mencintai wanitanya, dan pria yang begitu menyayangi keluarganya.


"Kenapa harus menguji cinta kita. Kenapa bukan orang lain, kenapa harus kita Kak Edward. Kamu jahat sekali... Hiks hiks.. tidakkah kamu tau rasanya kehilangan. Aku bahkan ingin ikut bersamamu pergi dari pada harus menanggung semua ini. Aku lemah, aku rapuh tanpamu."tangis Aurora.


Alex diam saja melihat Aurora menangis. Ia merasa kasihan pada wanita itu. Ia jadi bimbang sendiri. Ia ingin mengatakan jika Edward masih hidup, tapi ia tak punya keberanian untuk itu. Ia tidak bisa mengingkari janjinya pada Edward saat itu. Edward bahkan sudah merencanakan matang matang jika terjadi sesuatu padanya. Termasuk menyembunyikan Edward dari banyak orang termasuk istrinya. Alex punya kesempatan saat ada insiden Viona yang meracuni Edward saat itu. Ia bersyukur, rencananya berjalan dengan mulus. Yang belum diketahui oleh Alex adalah rencana menyembunyikan Edward, yang saat itu rencananya akan disembunyikan di Korea, tapi malah di sembunyikan Kwan di Hong Kong. Entah apa yang dilakukan Alex pada Kwan jika saat ia bertolak ke Seoul, ternyata Edward tak berada disana.


Aurora yang masih sibuk menangis, tiba tiba dikejutkan oleh wajah suaminya kembali memenuhi layar laptop itu. Edward seakan mengerti keadaan istrinya.


"Sudahlah istriku, jangan menangis lagi, hapus air matamu. Lupakan aku, dan hiduplah dengan baik. Aku menyayangimu. Aku mencintaimu. Sampai jumpa di waktu yang lain. Emmuahh..." Edward melambaikan tangannya . Dan berakhirlah tayangan dari video itu hingga muncul tulisan__



.


.

__ADS_1


.


######


__ADS_2